Albern & Lily

Albern & Lily
Batu Sandungan


__ADS_3

Lily melambaikan tangannya dan memandangi mobil Albern yang perlahan hilang dari pandangannya. Senyuman tak kunjung memudar dari wajah gadis itu. Sejak sore tadi hal baik terus saja datang padanya. Mulai dari Zaya yang memintanya memanggil dengan panggilan mama, Albern yang begitu perhatian padanya di meja makan, hingga tawaran bantuan dari lelaki itu saat Lily kesulitan mengerjakan tugas kuliah.


Dada Lily terasa penuh dan hampir meledak karena perasaan bahagia. Meski dia tidak bisa menyimpulkan jika Albern juga memiliki perasaan yang sama padanya karena semua hal tadi, tapi setidaknya, Albern tidak mendorongnya menjauh. Itu sudah lebih dari cukup untuk Lily sekarang. Dia yakin, seiring berjalannya waktu Albern akan menyadari jika mereka telah di takdirkan satu sama lain.


Semua pemikiran indah itu terus berputar di dalam kepala Lily hingga dia masuk ke dalam rumah. Tapi kemudian, senyumnya seketika hilang saat mendapati lelaki paruh baya yang kini berdiri sambil menatapnya tajam.


"Papa..." Lily bergumam dengan agak takut. Seumur hidup Lily, baru kali ini dia melihat wajah Evan sangat tak bersahabat seperti itu padanya.


"Jam berapa ini, Lily? Kenapa baru pulang?" Suara Evan bahkan lebih menakutkan lagi di telinga Lily.


"Tugasnya baru selesai, Pa..." Lily memberi alasan asal yang terlintas begitu saja di pikirannya.


"Bohong!"


Lily agak memejamkan matanya mendengar Evan membentak. Tiba-tiba hatinya menjadi ciut. Dia jadi bertanya-tanya, kesalahan apakah gerangan yang sudah dia lakukan hingga Papanya jadi semarah itu.


"Maaf, Pa. Tadi sebenarnya aku makan malam dulu di rumah Kak Zi. Mama Zaya sudah mengabari Mama."


"Mama Zaya?"


"Ah?" Lily kelepasan menyebut Zaya Mama di hadapan Papanya. Tapi bukankah Zaya adalah adik angkat Papanya itu sendiri, kenapa lelaki paruh baya itu terlihat tidak senang saat Lily menyebutnya Mama.


"Itu...Tante Zaya tadi memintaku untuk memanggilnya Mama..."


"Tapi dia bukan Mamamu. Dia adik Papa, jadi sudah benar selama ini kamu memanggilnya Tante." Ujar Evan lagi dengan nada yang masih terdengar tak bersahabat.


"I-iya, Pa. Aku mengerti." Lily menundukkan wajahnya. Meski masih tidak mengerti kenapa Papanya marah seperti ini, tapi dia memilih untuk tidak membantah.


"Kenapa pulang diantar Albern, tidak meminta Papa menjemput?" Tanya Evan lagi.


"Eh, itu...tadi Mama...maksudku Tante Zaya menyuruhku pulang diantar oleh Kak Al, jadi aku tidak menelpon Papa." Lily menjawab dengan terbata.


Evan tampak menghela nafasnya dan terlihat semakin kesal.


"Lain kali kamu tidak boleh lagi terlalu dekat dengan Albern seperti tadi. Kamu boleh dekat dengan Zivanna, tapi tidak dengan Albern. Jika nanti kalian bertemu lagi, kamu harus menjaga jarak dengannya." Ujar Evan lagi.


Lily menautkan alisnya dan mengangkat wajahnya untuk melihat kearah Evan.

__ADS_1


"Kenapa seperti itu, Pa?" Tanya Lily tak terima. Dia benar-benar merasa heran kenapa Papanya ini selalu saja merasa tidak senang setiap kali dia berinteraksi dengan Albern.


"Kenapa Papa selalu melarang aku untuk dekat dengan Kak Al? Bukankah Kak Al juga anak Tante Zaya? Memangnya apa salah Kak Al sampai Papa begitu tidak menyukainya? Kak Al itu baik, Pa..."


"Lily!" Sekali lagi Evan menbentak putri kesayangannya itu.


Lily seketika bungkam dan kembali menunduk.


"Kamu bahkan sudah berani membantah Papa karena anak itu. Kamu bilang dia baik?"


Lily bergeming masih dengan wajah menunduk.


"Tapi dia memang baik..." Gumam Lily pada dirinya sendiri. Jelas saja Evan mendengar itu dan menjadi semakin marah.


"Lily, jawab Papa dengan jujur. Apa kamu sedang menjalin hubungan dengan Albern?" Tanya Evan dengan wajah mengeras.


Lily menggeleng cepat.


"Tidak." Jawabnya.


Evan memandang wajah Lily lekat, seolah ingin menilai putrinya itu sedang berbohong atau tidak.


"Lalu, apakah kamu menyukai Albern?" Tanya Evan lagi.


"Hah?" Lily kembali mengangkat wajahnya dan agak terperangah.


"Jawab Papa, apa kamu menyukai Albern?" Ulang Evan dengan nada agak meninggi.


Lily tampak ketakutan dan tak mampu mengatakan apapun. Dia sangat syok. Seumur hidupnya, baru kali ini Papa marah dan membentaknya berulang kali.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Tiba-tiba terdengar suara perempuan paruh baya dari arah ruang tengah rumah. Tampak Carissa, Mama Lily datang mendekat.


"Kenapa kamu memarahi Lily seperti ini? Dia bahkan baru pulang." Ujar Carissa lagi sambil meraih pundak Lily yang bergetar dengan kedua tangannya.


"Apa kamu tidak lihat dia sudah ketakutan begini?"


Evan membuang nafasnya kasar.

__ADS_1


"Dia baru pulang jam segini, bagaimana mungkin aku tidak marah." Ujar Evan dengan nada lebih rendah.


"Tapi dia pergi untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Bukankah kamu sendiri yang mengantarnya ke rumah Zivanna. Dia terlambat pulang karena Zaya yang memintanya untuk makan malam di sana. Setelah itupun Lily langsung diantar pulang ke rumah tanpa mampir kemana-mana. Jadi di mana letak kesalahan Lily sampai kamu semarah ini?" Tanya Carissa lagi.


Evan diam tak menjawab. Dia tidak tahu bagaimana menyampaikan pada istrinya itu jika kekhawatirannya bersumber dari sosok yang mengantar Lily itu sendiri. Perasaan Evan jadi tak menentu saat melihat Lily yang tampak begitu dekat dengan Albern. Sosok yang dinilai Evan sangat berbahaya bahkan sejak dia masih bocah dulu.


"Lily, masuk ke kamarmu. Segera mandi dan langsung istirahat." Ujar Carissa pada Lily.


Lily mengangguk dan berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.


Sedangkan Evan tampak kembali membuang nafas kasar sambil memandang kearah lain, berusaha menghindari tatapan mata Carissa.


Carissa menyentuh punggung Evan lembut. Dia tahu suaminya ini sedang merasa resah.


"Aku tidak ingin dia terluka, Carissa..." Gumam Evan akhirnya. Dia berbicara sambil masih memandang kearah lain.


"Aku takut putri kita dekat dengan Albern dan memiliki perasaan khusus. Dia bukan lelaki yang sederhana. Tidak akan mudah bagi putri kita jika sampai dia menjalin hubungan dengan putra keluarga Brylee. Bahkan Zaya dulu harus menderita selama tujuh tahun sebelum diakui sebagai istri Aaron." Gumam Evan lirih.


"Dan aku tidak ingin Lily sampai menderita meski cuma sehari. Aku tidak akan pernah membiarkannya..." Ujar Evan lagi.


Carissa menghela nafasnya, lalu tersenyum lembut pada suaminya itu.


"Aku tahu kekhawatiranmu itu. Tapi aku rasa kamu berpikir terlalu jauh. Lily dekat dengan Albern hanya karena dia kakak Zivanna. Tidak ada yang spesial di antara mereka." Ujar Carissa menenangkan.


Evan menatap Carissa dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


"Kamu tidak melihatnya, bagaimana mata Lily begitu berbinar saat turun dari mobil Albern. Dan bagaimana senangnya dia saat melambaikan tangannya pada anak itu. Dia terlihat seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta, Carissa. Aku benar-benar takut saat melihatnya..."


Carissa tampak tertegun selama beberapa saat.


"Evan, sekarang Lily sudah dewasa. Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan dia seperti anak kecil. Mari kita beri dia sebuah kepercayaan."


Bersambung...


Jgn lupa like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2