Albern & Lily

Albern & Lily
Galau


__ADS_3

Seharian Lily uring-uringan setelah mengetahui Albern akan pergi ke New York tanpa berpamitan padanya. Belum lagi pasal Briana yang menjadi rekan bisnis Albern kali ini. Briana yang menurut Darrel adalah perempuan cantik, anggun, cerdas, matang dan berkelas.


Zivanna tadi bahkan mengintip profil akun media sosial perempuan itu dan memperlihatkan foto-foto yang di upload oleh Briana.


"Haish, bisa cantik begitu pasti karena fotonya sudah difilter." Gumam Lily saat itu setelah melirik layar ponsel Zivanna sekilas.


Berganti Darrel yang melihat. Jarang-jarang pemuda itu merasa kepo. Biasanya dia tidak terlalu peduli dengan apapun yang dihebohkan orang-orang, apalagi jika itu berhubungan dengan gosip dan prasangka.


"Tidak terlihat seperti difilter. Sepertinya memang cantik asli." Gumam Darrel.


Dan Zivanna pun mengiyakan. Ingin rasanya Lily menelan kedua temannya itu bulat-bulat. Sudah tahu dia merasa galau, mereka berdua malah terkesan seperti ingin menambah kegalauan hati Lily.


Lalu yang membuat Lily semakin gelisah ialah saat dia berusaha menghubungi Albern, namun yang menerima panggilan justru asistennya, Dhani. Dhani mengatakan jika saat itu Albern sedang meeting dengan para petinggi Brylee Group dan tak bisa menerima telpon. Asisten pribadi Albern itu juga mengatakan jika Albern akan menghubungi Lily nanti setelah meetingnya selesai. Tapi masalahnya, setelah hari merambat malam pun Albern masih belum menghubunginya. Apakah ada sesuatu yang terjadi hingga Albern harus meeting hingga malam hari? Atau jangan-jangan Albern sibuk dengan hal lain, bertemu dengan Briana, misalnya?


Aarrrggghhh....!!!


Yang bisa dilakukan Lily hanyalah menjerit dalam hati karena saat ini dia sedang berada di meja makan bersama Mama dan Papanya. Seperti biasa, dia makan malam bersama kedua orang tuanya itu, meski kali ini tampak Lily tak terlalu menikmatinya. Nasi dan lauk serta sayur kesukaan Lily yang diambilkan Carissa ke dalam piringnya tampak hanya di bolak-balik saja tanpa ada niat untuk dimakan. Lily bahkan menusuk-nusuk ikan katsu di piringnya dengan wajah kesal.


"Menyebalkan..." Lily bergumam tanpa sadar.


"Lily." Evan dan Carissa memanggil putri mereka secara bersamaan.


"Hah?" Lily mengangkat wajahnya karena mendengar suara kedua orangtuanya barusan. Seketika apa yang dipikirkannya tadi pun buyar melihat tatapan aneh dari Mama dan Papanya itu.


"Kamu kenapa?" Tanya Evan sambil melihat kearah Lily dengan raut wajah khawatir.


Sontak Lily tersenyum dengan agak meringis.


"Tidak apa-apa, Pa." Jawab Lily sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia jadi sedikit salah tingkah saat menyadari jika telah bertingkah absurd di hadapan kedua orang tuanya karena galau memikirkan Albern dan Briana.


"Kenapa makanan di dalam piringmu tidak dimakan, Lily? Bukankah ini masakan kesukaanmu semua?" Kini berganti Carissa yang bertanya.


Ah, Lily langsung menengok kearah piringnya yang isinya belum berkurang sedikit pun, tapi sudah terlihat sangat acak-acakan. Seketika Lily membeliakkan matanya. Ikan katsu yang cantik dan menggoda, kenapa bisa hancur berantakan seperti itu?


'Astaga, memangnya aku apakan makanan ini tadi?'

__ADS_1


Lily kembali tersenyum meringis pada kedua orangtuanya. Gara-gara Briana, ikan katsu tak berdosa pun ikut jadi korban. Awas saja, kalau sampai Lily bertemu dengan Si Briana itu, akan Lily beri pelajaran dia.


Tapi pelajaran apa?


Lagi-lagi Lily kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pikirannya semakin absurd saja karena Si Briana ini. Sekarang ingin sekali rasanya dia mengacak-acak sesuatu, tapi tidak tahu apa yang mesti dia acak-acak. Dan akhirnya, pelampiasannya kembali tertuju pada ikan katsu yang ada di piringnya. Jika sebelumnya Lily menusuk-nusuknya dengan garpu, kali ini gadis itu memasukan makanan itu kedalam mulutnya dan mengunyahnya dengan penuh dendam, seakan yang dikunyah itu adalah Briana.


Evan dan Carissa pun melanjutkan makan malam mereka sambil masih menatap aneh kearah Lily.


Beberapa saat kemudian, setelah melahap habis makanan di piringnya, Lily pun kembali ke kamar dengan perasaan yang masih belum juga terasa lega.


"Telpon, tidak. Telpon, tidak. Telpon, tidak." Lily bergumam sendiri sambil memandangi layar ponselnya. Dia kesal karena Albern tidak juga menghubunginya. Ingin rasanya menghubungi lelaki itu lebih dulu seperti tadi siang, tapi tiba-tiba dia merasa gengsi. Entah sejak kapan, tapi sebagai seorang gadis, tampaknya Lily mulai berpikir untuk menjaga harga dirinya. Dia tidak mau terlihat seperti dia yang tergila-gila pada Albern, meski kenyataannya memang seperti itu.


Huh, persetan dengan harga diri. Lily tidak mau mati penasaran dan berniat untuk benar-benar menghubungi Albern. Tapi sesaat sebelum jarinya menekan tombol panggil, Lily kembali mengurungkan niatnya.


"Ah, membuat kesal saja!" Ujarnya dengan nada putus asa. Dilemparnya ponsel tak berdosa itu ke atas tempat tidur.


Jika ingin berbicara pada Albern, yang paling tepat adalah berbicara secara langsung, bukan melalui panggilan telpon. Karena dengan begitu, Lily bisa melihat ekspresi wajahnya. Dan yang paling penting adalah Lily bisa langsung menghajar lelaki itu jika benar dia memang ada apa-apanya dengan Briana.


"Pantas saja Papa melarangku untuk menjalin hubungan dengan lelaki manapun, ternyata bisa membuat kepala jadi pusing seperti ini." Gumam Lily sambil ikut merebahkan tubuhnya juga ke atas tempat tidur, bersebelahan dengan ponselnya yang ia lempar tadi.


Lily bertambah galau. Tapi sejurus kemudian, matanya kembali berbinar sambil tersenyum mencurigakan. Entah apa yang kali ini ada di dalam otak gadis ajaib itu. Diraihnya kembali ponselnya dan segera dia men-dial nomor kontak seseorang. Bukan Albern, melainkan Darrel.


"Ada apa?" Tanya Darrel dari seberang sana tanpa basa-basi.


"Darrel, kapan terakhir kali kita menjadi Shinobi?" Lily balik bertanya.


Terdengar Darrel mendesah.


"Memang kamu mau mencuri apa?" Tanyanya lagi. Terlintas dalam ingatan pemuda itu saat mereka kecil hingga beranjak remaja, bermain ninja-ninjaan untuk mencuri buah mangga di pekarangan rumah orang adalah hal yang sering mereka lakukan, bahkan kadang bersama Zivanna juga.


Lily terkekeh dengan agak tertahan.


"Bukan mencuri, Darrel. Tapi menculik seseorang." Ujarnya kemudian.


Darrel terdiam sesaat.

__ADS_1


"Tidak tertarik." Pemuda itu akhirnya menanggapi.


"Kenapa?" Tanya Lily.


"Tidak tertarik saja."


"Wah, jangan-jangan ninjutsu-mu sudah kadaluarsa, ya." Lily bergumam dengan sedikit memprovokasi.


"Sembarang!" Sergah Darrel cepat.


"Kalau begitu, kamu harus menunjukkan padaku jika kamu masih menguasai ninjutsu."


"Huhh...." Darrel mendengus tak senang.


Mendengar itu, Lily kembali terkekeh.


"Masih punya kostumnya, kan? Datang ke kamarku dalam waktu lima belas menit. Kita punya misi penting yang harus diselesaikan."


"Aku tunggu!"


Bersambung...


Keterangan:


Shinobi \= Ninja


Ninjutsu \= Seni beladiri, strategi dan taktik yang digunakan oleh seorang ninja.


Nb : buat ibu2 komplek, momy2 kece dan perawan syantik kesayangan emak othor semua. Kenapa kalian begitu merisaukan pelakor, bahkan cerita Zaya dan Aaron yang bikin nangis kejer aja ga emak kasih pelakor di dalamnya, apalagi cerita Lily yang unyu2 ini.


Bagi yang udah ngikutin cerita emak dari novel pertama, pasti udah pada tahu kalo emak juga really hate pelakor, dan anti bgt nulis cerita dengan konflik pelakor, apalagi poligami. Kalo misalnya ada penelitian yang meracik vaksin buat membasmi dan mencegah berkembangnya para pelakor, emak adalah orang pertama yang bakal jadi donatur.(Canda, ga ada uangnya 😅).


Ya udahlah ya, sehat-sehat semuanya. Don't worry, emak akan hempaskan pelakor meski hanya di dunia novel.


Happy reading ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2