Albern & Lily

Albern & Lily
Nikahi Aku


__ADS_3

Cukup lama Albern menatap Lily tanpa bisa mengatakan apapun. Sesaat kemudian, dia menghela napasnya dan ikut tersenyum, meski senyumnya agak sendu.


Sungguh, Albern masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Gadis yang sangat dirindukannya selama tujuh tahun ini kini berada di hadapannya. Mimpikah dia sekarang?


"Hari-hari sebelumnya cukup buruk. Tapi hari ini sudah jauh lebih baik." Albern akhirnya menjawab dengan jujur tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Lily.


Lily kembali tersenyum, sama seperti senyuman yang sebelumnya terulas di bibirnya. Sama halnya dengan Albern, selama tujuh tahun ini dia juga menahan semua rasa demi agar bisa segera mewujudkan cita-citanya.


"Apa karena aku hari-hari Kak Al menjadi buruk?" tanya Lily dengan suara yang terdengar agak bergetar.


Lagi-lagi Albern tak menjawab. Ditatapnya Lily semakin dalam dengan mata yang tampak kembali. berkaca-kaca. Ada banyak keluhan yang ingin dia lontarkan pada gadis itu, namun tak kuasa untuk dia ucapkan. Akhirnya hanya sebuah helaan napas saja yang menjadi jawaban.


"Kemana saja kamu?" tanya Albern kemudian dengan lirih.


Senyum Lily memudar. Mata gadis itu kembali berkaca-kaca mendengar pertanyaan Albern yang hampir menyerupai bisikan itu. Meski begitu singkat dan sederhana, namun terdengar begitu dalam dan sarat akan makna. Lily bisa merasakan betapa tersiksa dan menderitanya Albern selama ini. Hal yang juga Lily rasakan selama tujuh tahun ini.


"Maaf," bisik Lily akhirnya menjawab pertanyaan Albern barusan. Hanya itu yang bisa dia katakan saat ini mewakili isi hatinya terhadap Albern.


"Kalau ingin lebih cepat bertemu lagi dengan Kak Al, aku harus fokus belajar sambil mulai berjuang mewujudkan impianku. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan muncul di hadapan Kak Al sebelum berhasil meraih impianku itu. Aku tidak tahu kalau akan menghabiskan waktu selama ini," sambung Lily lagi.


Albern hanya menanggapi ucapan Lily dengan sekali lagi menatap sendu ke arah gadis itu. Benar, bukan hanya dia yang mesti berjuang selama tujuh tahun ini, tapi Lily juga. Jika Albern berjuang untuk selalu memegang teguh janjinya menunggu Lily, gadis itu berjuang dengan menjadikan dirinya sosok yang pantas bersanding dengan Albern.

__ADS_1


Mereka berdua telah sama-sama berjuang untuk saling membuktikan diri satu sama lain. Dan kini akhirnya mereka kembali bertemu dengan masih memegang teguh tujuan mereka berpisah waktu itu.


"Apa Kak Al masih tetap menungguku sampai sekarang?' tanya Lily kemudian sambil mengurai pelukannya.


Terang saja Albern menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan konyol yang tak perlu dijawab karena jawabannya sudah sangat jelas.


"Menurutmu?" Albern malah balik tertanya dengan kening yang masih terlihat agak mengerut.


Lily tersenyum, lalu mendongak ke arah Albern. Tadinya dia sempat merasa khawatir jika dia pergi terlalu lama sehingga membuat Albern merasa bosan dan berpaling pada perempuan lain. Tapi kini dia yakin jika lelaki ini masih memegang teguh janjinya meski mereka telah berpisah dalam waktu yang tak sebentar.


"Tentu saja Kak Al masih menungguku. Kakak kan sudah berjanji hanya akan menikah denganku saja," ujar Lily kemudian.


"Aku kan sudah bilang, aku tidak sengaja melakukannya." Lily membela diri.


"Tetap saja kamu harus bertanggung jawab."


"Baiklah, aku akan bertanggung jawab. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Lily.


Albern tak langsung menjawab. Lelaki itu menghela napas dalam sekali lagi, seakan hendak melepaskan beban hati yang sedang ditahannya selama ini.


"Aku merindukamu. Lily," bisik Albern dengan suara pelan namun parau.

__ADS_1


"Kak Al pikir, aku tidak? Aku juga rindu, tapi aku hanya bisa menahan semua itu agar bisa datang pada Kakak dalam keadaan yang baik seperti sekarang," sahut Lily.


"Jangan pergi lagi. Kali ini aku tidak sanggup jika harus kembali kamu tinggalkan," ujar Albern lagi dengan nada penuh permohonan.


Lily menggeleng dengan mata yang terlihat sendu.


"Sekarang aku tidak akan pergi lagi. Aku juga tidak sanggup kalau harus kembali berpisah dari Kak Al," sahut Lily.


Suasana hening selama beberapa saat. Baik Lily maupun Albern, keduanya tampak sama-sama tengah menikmati momen pertemuan mereka. Masih ada rasa tak percaya di hati keduanya jika saat ini mereka bisa saling bersitatap lagi setelah sekian lama berpisah.


"Jadi ... bagaimana aku harus bertanggung jawab atas semua hak buruk yang Kakak rasakan selama tujuh tahun ini?" tanya Lily memecah keheningan.


"Hanya dengan melakukan satu hal saja," sahut Albern.


"Apa itu?" tanya Lily lagi penasaran.


"Nikahi aku."


Bersambung ....


Ga kebalik, Al? Mestinya kamu kan yg nikahin Lily?😅

__ADS_1


__ADS_2