
Albern dan Lily saling memandang dari kejauhan selama beberapa saat. Keduanya tersenyum tipis, tampak sama-sama mengagumi penampilan satu sama lain.
Perlahan Albern melangkah mendekat ke arah Lily yang kini telah menjelma menjadi seorang putri cantik nan jelita. Dan saat ia tepat berada di hadapan gadis itu, Albern menghentikan langkahnya.
"Bersediakah Tuan Putri Lily menjadi partnerku ke pesta malam ini?" tanya lelaki itu dengan penuh harap.
Lily tertawa kecil sembari mengangguk.
"Dengan senang hati, Yang Mulia," jawabnya dengan dengan sedikit menggoda, mengikuti permainan Albern.
"Aku benar-benar merasa jadi pangeran dari negeri dongeng," ujar Albern.
Sekali lagi Lily tertawa kecil.
"Pestanya belum dimulai, tapi Kak Al sudah cosplay jadi pangeran. Sepertinya aku butuh sepatu kaca," gumam Lily di sela tawanya.
Mendengar itu, Albern tertawa.
"Jangan lupa, nanti tinggalkan satu sepatu kacanya. Supaya aku bisa mencarimu," timpal Albern.
"Tenang saja. Untuk Kak Al, bukan hanya satu, tapi sepatu kacanya aku tinggalkan dua-duanya. Bila perlu, aku kasih bonus satu pasang lagi."
Mau tak mau, Albern kembali tertawa.
__ADS_1
Tak lama kemudian, seorang pegawai salon datang dengan membawa makanan ringan dan minuman.
"Silakan dinikmati dulu sambil menunggu waktu," ujarnya mempersilakan.
"Ah, iya. Terima kasih," sahut Lily.
Sesuai dengan yang dikatakan Albern sebelumnya, disediakan makanan untuknya agar tak kelaparan.
"Kalau aku makan, nanti lipstiknya bagaimana?" tanya Lily dengan polosnya.
Sekali lagi Albern tertawa.
"Kenapa mesti mengkhawatirkan lipstikmu. Kalau lipstiknya hilang, tinggal minta pakaikan lagi," sahut Albern.
Lily pun akhirnya duduk dan menikmati makanan ringan yang telah disediakan.
"Kak Al mau?" tanya Lily sembari mengunyah sebuah biskuit coklat.
"Tidak. Kamu makan saja." Albern duduk di seberang kursi Lily, lalu memperhatikan gadis itu makan.
Senyum Albern terbit. Melihat Lily makan mengingatkan dia pada acara jalan-jalan berdua yang tempo hari mereka lakukan. Entahlah, Lily sebenarnya lebih sering memperlihatkan tingkah absurd khas anak muda yang masih labil. Tapi anehnya Albern suka.
"Kak Al sungguhan tidak mau? Nanti aku habiskan. Biskuitnya enak, lho. Sepertinya nanti aku mau tanya merk-nya apa. Mau beli juga," ujar Lily.
__ADS_1
Albern hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar itu. Bahkan saat ini ketegangan Lily menghadapi pesta teralihkan hanya dengan sepiring biskuit yang rasanya enak.
"Nanti aku belikan kalau kamu memang suka," ujar Albern. Jangankan biskuit, sesuatu yang nilainya fantastis juga akan dia belikan jika Lily memang menginginkannya.
"Tidak, aku bisa beli sendiri. Masa biskuit saja mesti Kak Al yang belikan," sahut Lily.
"Tapi biskuit yang ini agak sulit mendapatkannya. Tidak dijual di pasaran."
"Ya?"
"Aku meminta pihak salon menyiapkan camilan terbaik untukmu, dan katanya ini hand made. Seringnya mesti pesan dulu."
"Hah?" Lily tampak agak terperangah mendengar penjelasan Albern.
"Ish, ribet sekali mau makan biskuit saja. Kalau begitu, mending aku minta dibuatkan sama mamanya Kak Al saja," ujarnya lagi kemudian.
Albern terkekeh. Lily memang tak menyukai sesuatu yang rumit, agak berbeda dengan dirinya. Tapi mungkin itu juga yang membuat mereka merasa tertarik satu sama lain. Karena perbedaan kepribadian itu.
"Cepatlah habiskan. Setelah ini, kita akan berangkat ke pesta," ujar Albern.
Tadinya dia pikir suasana sebelum pergi ke pesta akan syahdu, ternyata tetap seperti ini. Tapi itu tidak buruk juga.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading ❤️❤️❤️