Arsitek Cantik

Arsitek Cantik
S2 Clara


__ADS_3

Seorang wanita dengan rambut bergelombang yang dikuncir kuda sedang melakukan latihan.


Clara mengunakan baju tanpa lengan dan celana panjang ketat dengan sarung tangan.


Ia meninju dan menendang samsak, seorang pelatih berdiri di samping Clara.


Wanita itu sangat bersemangat, ia ingin menghancurkan samsak yang ada di depannya.


Sebuah tendangan berputar dengan kekuatan penuh membuat tali samsak putus dan pecah.


Tepuk tangan dari gurunya, membuktikan kemampuan bertarung dan kekuatan diri pada tangan dan kaki Clara semakin meningkat.


"Kamu luar biasa Clara, aku kita menjadi seorang pembalap membuat kamu lupa untuk melatih diri." Pelatih tersenyum.


Mata tajam Clara melihat ke arah pelatih tanpa senyuman.


Clara memasang kuda-kuda, ia siap menyerang pelatihnya.


"Apa kamu mau melawan ku?" Pelatih tersenyum, ia merendahkan Clara.


Clara menyerang pelatih dengan gerakan yang sangat lincah, ia tidak memberikan kesempatan kepada pelatih untuk membalas pukulannya.


Pria itu tersungkur di matras, ia sangat terkejut dengan kemampuan Clara.


Wanita itu bagaikan pembunuh yang siap menghabisi nyawa lawannya.


"Apa yang kamu pelajari di Itali?" tanya pelatih berusaha beranjak dari matras.


"Semuanya." Clara tidak tersenyum.


"Aku berkeliling dunia untuk mempelajari semua kemampuan beladiri." Clara menatap tajam kepada pelatih.


Ia berjalan menuju kursi istirahat dan duduk, melihat beberapa orang yang sedang berlatih.


Pelatih menatap Clara dengan tatapan penuh tanda tanya, ia sangat penasaran dengan pelatihan yang Clara dapatkan selama di negara lain.


"Tuan, bagaimana jika Aku bertarung dengan mereka?" Clara menunjukkan jarinya ke arah para pelatih lainnya.


"Kenapa?" Pria itu menatap khawatir.


"Aku pernah bertarung dengan seorang pria dan aku kalah, kondisi tubuh ku yang masih belum baik karena dalam masa pemulihan setelah cedera." Clara mengingat pertemuan dengan Andreas.


"Apa yang mau kamu lakukan kepada mereka, kemampuan kamu luar biasa, berapa guru yang telah kamu miliki?" tanya pria itu panjang lebar.


"Aku memiliki satu guru pada satu negara yang aku kunjungi, latihan yang hampir membunuh ku." Clara tersenyum.


"Latihan itu membuat diriku berdarah dingin tanpa belas kasih." Clara meneguk air mineral dari botol.


"Apakah kamu masuk dalam pelatihan Mafia?" Pria itu mulai berpikir jauh.


"Tentu saja, itu adalah tempat pelatihan terbaik untuk bertahan hidup dalam kejamnya dunia." Clara beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruang pelatihan sebelahnya.


"Clara, mereka berbahaya." Pria itu menahan Clara.


"Tidak apa, selama musim liburan Aku akan bermain dengan pertarungan." Clara tersenyum dengan seringai mengerikan.


Wajah cantik itu menyimpan jiwa pembunuh, entah apa yang Clara cari dengan memperkuat dirinya melebihi pria.


Pelatih mengikuti Clara yang telah berada di tengah arena pertandingan.


Beberapa pria tersenyum melihat wajah cantik dan tubuh seksi Clara, mereka tidak tahu, jika wanita itu berniat untuk menghabisi mereka.


"Aku mau berlatih kekuatan, adakah yang mau bermain dengan diriku?" Clara tersenyum.


Seorang pria dengan tubuh kekar berjalan mendekati Clara.

__ADS_1


"Aku tidak mau menyakiti seorang wanita." pria itu tersenyum memandang bentuk tubuh Clara yang terlihat jelas dengan pakaian yang pas dibadannya


"Terimakasih." Clara telah siap bertarung.


Pria itu tersenyum meremehkan Clara, wanita dengan tubuh profesional seperti seorang model.


Mereka hampir tidak mengenali Clara yang seorang pembalap dan atletik.


Pertarungan terjadi, gerakan lincah Clara yang langsung menghantam organ vital pria itu, membuat tubuh kekar terjatuh, kekuatan bisa sebanding tetapi teknik akan menghancurkan pertahanan seseorang.


"Nona, anda bertarung dengan teknik berbeda." Seorang pria membantu pria yang terkapar di lantai.


"Untuk menang melawan musuh kita boleh melakukan gerakan, serangan dan teknik apapun." Clara tersenyum.


"Bagaimana jika bertarung dengan senjata Nona?" Seorang berjalan dan i belakang mendekati Clara.


"Senjata apa?" Clara memutar tubuhnya.


"Apapun." Pria itu tersenyum dan menunjukkan jarinya pada tempat penyimpanan senjata.


"Pertarungan tanpa aturan." Clara tersenyum, ia berjalan mendekati senjata latihan.


"Aku takut akan merusak wajah cantik dirimu." Pria itu menyentuh sebilah pedang panjang.


"Tidak apa, aku tidak mempunyai kekasih." Clara tersenyum cantik.


"Ah, jika kamu kalah melawan diriku, kamu harus menjadi kekasih ku, bagaimana?" Pria itu tersenyum, ia memperhatikan Clara dari atas hingga bawah.


"Setuju." Clara menggunakan sebatang besi panjang.


"Kenapa kamu tidak menggunakan pedang?" Pria itu menatap heran.


"Aku menyukai alat yang tidak tajam." Clara memutar-mutar sebatang besi panjang di tangannya.


Dengan besi panjang itu, pedang tidak akan bisa mencapai dirinya.


Senyuman cantik telah hilang dari wajah Clara berganti dengan tatapan tajam seorang pembunuh yang membaca akurat setiap gerakan lawannya.


"Wanita dululah!" Pria itu masih tersenyum tampan.


Belum selesai kalimat pria itu Clara telah melayang di udara memberikan pukulan dari atas dengan menggunakan sebatang besi.


Secepat kilat Clara naik ke pagar pembatas memberikan dorongan pada tubuhnya untuk menambah kekuatan.


Pria itu benar-benar terkejut, ia pikir Clara akan bertarung dengan santai saling pukul dan balas.


Namun, yang terjadi, Clara hanya mau menghabiskan dan menghancurkan lawannya.


Pedang panjang bahkan tidak sempat digunakan, batangan besi telah mendarat di pundak pria itu memberikan rasa nyeri yang menyakitkan.


Yakinlah, jika tidak patah, engsel lengan telah berpindah dan adanya retakan.


Pria yang berusaha bangkit untuk mengambil pedang langsung mendapat tendangan bertubi-tubi di dada dan perut.


Batangan besi menjadi tumpuan Clara untuk menyerang dengan tendangan berputar.


Tubuh tidak berdaya terus mendapatkan serangan dari Clara, ia mengayunkan batangan besi di udara dan memukul tubuh pria yang terbaring di lantai dan berusaha menghindar.


"Clara cukup!" Suara dari lantai atas menghentikan gerakan Clara, ia tersenyum melihat sepasang suami istri pemilik tempat latihan.


Papa dan Mamanya petarung hebat di dunia hitam, melakukan pertandingan secara ilegal ke beberapa negara di dunia.


Dari kecil Clara dan Calvin didik dengan sangat kejam untuk menghasilkan tubuh yang kuat dan memiliki kemampuan.


Clara melempar batangan besi ke lantai memberikan bunyi yang kuat dan mengejutkan.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah?" tanya Papa Clara.


"Aku hanya jalan-jalan." Clara mengambil tasnya.


Semua orang yang berada di ruang menundukkan kepala memberi hormat kepada ketua mereka.


Mereka tidak tahu, wanita itu adalah putri ketua yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Naiklah!" teriak Papa Clara yang melihat seorang pria terkapar di lantai.


Clara berjalan menaiki tangga menuju lantai atas, dimana papa dan mamanya telah duduk menunggu dirinya.


"Clara sayang." Mama berjalan mendekati dan memeluk Clara.


Clara hanya terdiam, ia tidak membalas pelukan Mamanya, ia sudah lupa dengan hangatnya pelukan seorang ibu.


Mama melepaskan pelukannya dan menatap sedih pada mata Clara yang tajam.


"Kapan kamu pulang sayang?" Mama menyentuh wajah cantik Clara.


"Seminggu yang lalu." Clara duduk di kursi menghindari Mamanya.


Mama kembali duduk di samping papa dan merasakan kekecewaan dengan perlakuan Clara.


"Clara, apa kamu sudah merasa kuat?" Papa berdiri dan menatap tajam kepada Clara.


"Belum." Clara tersenyum, ia sangat ingin melawan papanya.


"Apa kamu mau menjadi lebih kuat lagi?" tanya Papa.


"Tentu saja." Clara tersenyum.


"Pergilah ke penjara penghianat, kamu akan mendapatkan pelatihan, tetapi jika kamu tidak sanggup kamu akan hancur." Papa menatap Clara dengan tatapan khawatir.


"Pa." Mama menegang tangan suaminya.


"Aku akan pergi." Clara mengambil tasnya.


"Kamu tinggal di mana sayang?" Suara Mama terdengar lembut, ia sangat merindukan putrinya.


"Apartement." Clara menuruni tangga dan meninggalkan tempat latihan.


"Kenapa kamu mengusulkan penjara untuk latihan Clara?" Mama semakin khawatir.


"Apa kamu tidak melihat gaya bertarung Clara, ia lebih seperti seorang pembunuh daripada petarung." Papa memegang pundak Mama.


"Dia putri kita." Mama meninggikan suaranya.


"Tenanglah, aku akan mengawasi dirinya, beristirahatlah, kita harus membayar biaya pengobatan pelatih yang terluka." Papa menggandeng tangan Mama menuju ruangan istirahat.


Clara menggunakan jaket kulit dan celana jeans serta sepatu, ia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.


Kembali ke apartemen untuk beristirahat dan mempersiapkan diri berlatih di penjara penghianat.


Ketika masih kecil Clara pernah mendengarkan tidak ada yang bisa keluar dari penjara penghianat.


Itu adalah tempat hiburan hukuman paling mengerikan.


"Aku akan menghancurkan tempat itu." Clara tersenyum.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Cinta Untuk Dokter Nisa” dan "Mengejar Cinta Ariel"

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2