
Rena telah menghubungi keluarga Hans, ia sangat bangga telah menyelamatkan hidup Hans, Rena yakin Papa dan Mama Hans akan memilih dirinya menjadi calon istri Hans.
Hans terbaring di ruangan perawatan pasca operasi, ia masih belum sadarkan diri setelah berjuang untuk hidup.
Papa, Mama dan Veronika tergesa-gesa menuju perawatan Hans.
Mereka melihat Rena yang sendirian terlihat sedih duduk di kursi tunggu.
"Rena." sapa Mama Hans.
"Tante." Rena beranjak dari kursi dan memeluk Mama Hans.
"Apa yang terjadi, bagaimana keadaan Hans?" tanya Mama khawatir.
"Ini semua karena Anna hingga Hans hampir mati terbunuh." Rena menangis sesenggukan.
"Bagaimana keadaan Hans?" Mama mengulangi pertanyaannya, ia terlihat sedih
"Hans Baru selesai menjalankan operasi, ia masih belum sadarkan diri." jelas Rena sedih.
Veronika melihat tidak suka kearah Rena, ia tahu Rena menyukai Hans.
"Dimana Anna?" tanya Papa.
"Dia sudah pergi entah kemana?" ucap Rena.
"Perempuan pembawa sial, aku telah melarang Hans menikahi Anna." Mama memeluk Papa.
"Kita belum tahu kebenarannya." ucap Papa mengusap kepala Mama.
Veronika dan Rena saling bertatapan penuh kebencian.
"Rena, Terima kasih telah menyelamatkan Hans." Mama menggenggam tangan Rena.
"Iya tante, kebetulan Rena menginap di hotel yang sama dengan Hans." ucap Rena menghapus air matanya.
"Anna, tidak ada lagi peluang untuk dirimu walaupun kamu masih hidup." Rena tersenyum puas.
Melihat kebencian Mama Hans kepada Anna memberikan kebahagiaan untuk Rena.
"Aku hanya perlu menyingkirkan Veronika." Rena melirik Veronika.
"Tante, Om, aku permisi ke kamar mandi untuk menyegarkan wajah, aku belum pulang ke hotel, lihatlah darah Hans masih di pakaianku." Dengan bangga Rena menunjukan darah yang telah mengering.
"Ya Tuhan, Mama akan menemani dirimu." ucap Mama khawatir.
"Tidak apa Tante, aku bisa tenang Om dan Tante telah berada di sini, aku permisi." Rena berjalan menuju kamar mandi.
"Hati - hati sayang." ucap Mama.
"Ma, Veronika mau ke kamar mandi." pamit Veronika.
"Iya sayang." ucap Mama.
Mama dan Papa Hans duduk di kursi tunggu, karena Hans belum dipindahkan ke ruangan khusus.
Veronika semakin benci kepada Rena, ia mengikuti Rena berjalan menuju kamar mandi.
Rena tersenyum menatap wajah sembab dan mata bengkaknya.
"Terimakasih Anna, kamu memberikan Hans kepada diriku." Rena membersihkan wajahnya.
"Apa kamu berpikir untuk memiliki Hans?" Veronika berdiri di belakang Rena.
"Ah adik ipar, tentu saja, tidak ada wanita yang mampu menolak pesona Hans." Rena tersenyum melihat Veronika melalui pantulan cermin.
"Tidak akan pernah aku biarkan." Veronika menjambak rambut Rena.
__ADS_1
"Aw, lepaskan Veronika, wanita gila." teriak Rena kesakitan.
"Jangan pernah berharap mendapatkan Hans, dia hanya milikku." Veronika menekan kepala Rena ke wastafel dan membuka keran air membuat wajah dan baju Rena basah.
"Aaaaarg." Rena berteriak kesal.
"Kamu harus kembali ke hotel dan mengganti pakaian." Veronika tersenyum dan meninggalkan Rena yang telah basah kuyup.
"Sialan, wanita gila, tidak mungkin Hans menyukai dirimu." kesal Rena.
"Aaa, Aku harus kembali ke hotel." Rena mengambil ponselnya dan menghubungi Mama Hans, ia harus pamit kembali ke hotel.
"Aku akan membalas dirimu Veronika, kita lihat Hans akan pilih dirimu atau aku?" Rena tersenyum melihat wajah berantakan di depan cermin.
Rena meninggalkan kamar mandi dan menunggu taksi yang akan membawa dirinya kembali ke hotel.
Veronika berjalan santai menuju Papa dan Mama.
"Akhirnya aku bisa menyingkirkan Rena." Veronika tersenyum.
Hans telah dipindahkan ke ruangan pasien, ia sudah sadarkan diri.
"Hans anak Mama." Mama mencium dahi Hans.
"Mana Anna ma?" Tubuh Hans tidak bisa di gerakkan.
"Untuk apa kamu menanyakan wanita pembawa sial itu?" Mama kesal.
"Anna diculik ma." Hans tampak sedih.
"Dengar Hans, kamu harus melupakan Anna, sejak bertemu dengan dirinya hidup kamu menjadi hancur." Mama semakin membenci Anna.
"Hans mencintai Anna ma, hanya Anna tidak ada wanita lain, Aaarrh." Hans merasakan sakit di dadanya karena ia berteriak.
"Biarkan Hans beristirahat." Papa menarik Mama ke Sofa.
Hans memegang dadanya, memejamkan mata, ia sangat sedih, pikirannya hanya tertuju kepada Anna.
"Dimana kamu sayang, apa kamu baik-baik saja, maafkan aku tidak bisa menjaga dirimu." air mata mengalir dari pipi Hans.
Seorang mengetuk pintu dan membawa amplop coklat.
"Anda mau bertemu siapa?" tanya Veronika kasar.
"Maaf Nona, saya hanya pengantar paket untuk Tuan Hans Roberto." ucap pemuda dengan pakaian kurir pengantar.
Hans membuka matanya, ia merasakan kekhawatiran di dalam hatinya.
"Berikan kepada ku." teriak Hans menahan sakit di dadanya.
Veronika berjalan mendekati Hans untuk membantunya duduk.
Kurir berjalan mendekati Hans, Papa dan Mama hanya melihat dari tempat duduk mereka.
Hans memberikan tanda tangan sebagai tanda terima.
"Terimakasih Tuan, saya permisi." kurir meninggalkan ruangan Hans.
Hans menatap amplop coklat, ia merasa takut untuk membukanya, tangan Hans gemetar.
"Aku akan membantu dirimu." ucap Veronika yang mau mengambil amplop dari tangan Hans.
"Menyingkirlah dariku!" Hans menatap tajam penuh kebencian kepada Veronika.
"Hans." Veronika mau menyentuh Hans.
"Pergi!" teriak Hans.
__ADS_1
"Vero, kemarilah!" ucap Mama.
Dengan perasaan hancur karena bentakan Hans Veronika berjalan menuju Sofa.
Air mata Veronika menetes, Hans tidak pernah membentak dirinya.
Tangan Hans gemetar, ia berusaha membuka amplop coklat tanpa nama pengirim.
Hans memasukkan tangannya ke dalam amplop dan mengambil beberapa lembar kertas.
Mata Hans melotot dan terkejut, foto Anna yang tidak sadarkan diri tergantung di tiang.
Tubuh dan wajah Anna penuh luka dan berdarah.
Tangan Hans semakin bergetar, ia tidak sanggup melihat Anna tersiksa dan terluka.
"Annnaaaaa." Hans berteriak mengejutkan semua orang yang ada di dalam ruangan.
Tangan Hans mengepalkan foto Anna, air mata Hans menetes.
Sebuah kertas dengan satu kalimat, "Anna telah mati."
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Mama bingung.
Hans merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia kehilangan semangat hidupnya.
Mata Hans terpejam, butiran bening melewati sudut matanya.
Veronika tersenyum melihat foto-foto Anna yang disiksa dan secarik kertas yang mengatakan Anna telah mati.
"Pa, bagaimana ini? kita harus lapor polisi." ucap Mama khawatir.
"Tentu saja, Papa akan menghubungi kantor polisi terdekat." papa keluar dari ruangan Hans.
"Hans sayang, lupakan Anna, kamu harus berterima kasih kepada Rena yang telah menyelamatkan kamu." Mama mengusap kepala Hans.
Veronika tidak suka Mama menyebutkan nama Rena, ia mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Tidak ada gunanya aku hidup jika tidak ada Anna di sisiku." ucap Hans memejamkan matanya.
"Hans, kenapa kamu mencintai wanita pembawa sial itu?" kesal Mama.
"Karena Anna berbeda, dan aku hanya menginginkan Anna, dia adalah Istriku." ucap Hans pelan.
Kehilangan Anna berarti kehilangan kehidupannya.
"Anna pasti masih hidup, dia tidak akan meninggalkan diriku karena kami saling mencintai." Hans menenangkan hatinya.
"Lupakan Anna Hans, dia sudah tidak ada, lihatlah tubuh Anna yang penuh luka dan tidak bergerak lagi." Veronika mengambil sebuah foto Anna.
"Anna masih hidup, aku akan mencarinya sampai dapat." bentak Hans.
"Aku berharap Anna benar-benar telah mati dan tidak akan pernah kembali." Veronika tersenyum melihat foto Anna.
"Aku harus berterima kasih kepada orang yang telah menculik dan membunuh Anna." Foto di tangan Veronika hancur.
****
Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like, Komentar, Vote, dan Bintang 5 😘 Terimakasih.
Baca juga Novelku "Cinta Untuk Dokter Nisa"
Novel kakak ku "Cinta Bersemi di ujung Musim" & "Nyanyian Takdir Aisyah" (Fitri Rahayu)"
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Terimakasih yang sudah memberikan Tips, Vote, Like dan Komentar 😘
__ADS_1