Arsitek Cantik

Arsitek Cantik
Kesehatan Kakek


__ADS_3

Pagi hari Anna telah bersiap berangkat ke rumah sakit menemani kakek untuk cek kesehatan.


Anna menggunakan celana jeans panjang dan kemeja polos berwarna Biru langit.


Hengky telah menunggu di depan pintu, tersenyum menyambut kakek dan Anna yang juga tersenyum manis.


Hengky membukakan pintu untuk kakek dan Anna.


Mobil segera melaju meninggalkan perkarangan rumah Anna menuju rumah sakit.


Anna menemani kakek di ruang tunggu dan Hengky melakukan pendaftaran.


Kakek terlihat sangat lelah, usia yang tidak muda lagi telah menguras kekuatan dan kesehatan yang selama ini Kakek jaga.


Kepergian Nenek membuat Kakek kehilangan separuh kehidupannya.


Hengky kembali dan tersenyum kepada Anna, Mereka segera masuk ke ruangan Dokter Raihan


Kakek di periksa oleh Dokter Raihan di bantu oleh perawat.


Raihan membiarkan Kakek beristirahat di kamar pemeriksaan dan meninggalkan Kakek di temani perawat.


Raihan berjalan mendekati Anna dan Hengky,


"Anna, Kakek kamu harus dirawat" ucap Dokter Raihan lembut.


"Apakah Kakek ku sakit?" tanya Anna


"Dia bukan sakit, tapi karena usianya yang sudah terlalu tua, membuat tubuhnya lemah, seperti almarhum Nenek kamu." jelas dr. Raihan


Anna terduduk diam, belum lama Nenek pergi meninggalkan dia, sekarang Kakek telah sakit.


Hengky memeluk Anna yang telah menangis di pundak Hengky.


Ia benar-benar merasa lemah, walaupun Anna telah bertemu dengan Mamanya namun ia tidak sedekat dengan Kakek dan neneknya.


Mama juga harus kembali ke negaranya, tempat ia bekerja, Anna akan sendirian.


"Anna, aku akan selalu bersama dirimu" Hengky mengeratkan pelukannya.


"Kakek telah kami pindahkan ke ruang perawatan kamar VIP nomor 1 " jelas dr. Raihan dan meninggal Anna dan Hengky.


Hengky menggenggam tangan Anna dan berjalan menuju kamar perawatan Kakek.


Anna menatap wajah pucat Kakek yang tertidur puas.


"Hengky, semuanya akan meninggalkan diriku." Anna menatap Hengky.


"Tenanglah Anna, Kakek akan baik-baik saja, ia hanya butuh istirahat" Hengky memegang pundak Anna.


"Kemarilah, kita duduk di sofa, kamu harus beristirahat" Hengky menarik tangan Anna menuju Sofa yang ada di dalam ruangan.


Anna menyenderkan tubuhnya di sofa, memejamkan matanya.


Terdengar nada dering panggilan dari ponsel Anna, ia mengambil ponsel dari tas punggungnya. Sebuah nama yang mengerikan muncul di layar ponsel.


"King" wajah Anna berubah khawatir dan takut, Hengky dapat melihat perubahan raut wajah Anna.


"Halo" suara lembut Anna menjawab panggilan.

__ADS_1


"Sayang, kamu di mana?" tanya King.


"Aku di rumah Sakit, Kakek ku di rawat" jawab Anna.


"Oh, kenapa kamu tidak mengabarkan diriku?" tanya King.


"Maaf, aku tidak terpikirkan." jawab Anna.


"Siapa yang menemani dirimu?" tanya King


"Hengky, dia Kakak ku." Jawab Anna pelan.


"Baiklah, biarkan kakakmu menemani dirimu." King memutuskan panggilan, ia tahu Hengky adalah anak Hendrick.


Andreas telah menyelidiki Hengky dan Anna saudara satu bapak, ia tidak tahu Hengky adalah anak dari Selena adik dari Lusiana.


"King tidak akan cemburu kepada Hengky" pikir Anna.


Ia bisa terus bersama Hengky dan merasa nyaman, berbeda dengan Hans, sepertinya King selalu mengawasi Anna ketika bersama Hans.


Anna tertidur di pangkuan Hengky yang duduk di sofa. Hengky mengusap lembut rambut Anna, ia mengecup kening Anna.


"Aku mencintaimu sejak kita bertemu, aku senang selalu bisa berada di dekatmu, walaupun mungkin aku tidak bisa memiliki dirimu" ucap Hengky.


Hengky menyandarkan tubuhnya ke belakang untuk merenggangkan tubuhnya, ia merasakan paha yang mulai kesemutan.


Anna benar-benar tidur nyenyak karena semalam ia tidak bisa tidur terlalu khawatir dengan King.


Ketika berada di samping Hengky, Anna merasakan kenyamanan, ketenangan dan keamanan.


Anna bermimpi Indah bersama Hengky, namun Hengky merasakan kesemutan pada paha dan kakinya. Ia tidak ingin mengganggu tidur lelap Anna dalam senyuman.


***


"Pasti Bos galau karena Anna" Gumam Juanda yang dapat di dengarkan oleh Hans.


"Juanda hubungin Anna!" perintah Hans


"Kenapa Bos tidak menghubungi langsung?" tanya Juanda heran.


"Hubungi saja!" bentak Hans


"Baik Bos." Juanda segera menghubungi nomor Anna namun tidak ada jawaban.


"Maaf Bos, nona Anna tidak menjawab panggilan saya." jelas Juanda.


Hans mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menghubungi nomor Anna.


Tidak ada jawaban, karena Anna tidur Hengky merubah setting ponsel Anna menjadi silent, sehingga tidak tahu ada panggilan.


Hans bingung dan sangat khawatir.


"Apakah Anna marah padaku? pacaran dengan wanita yang usianya jauh lebih muda sungguh membingungkan." Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Juanda, apa yang harus aku lakukan?" Hans menghempaskan tubuhnya di atas sofa, ia tidak fokus bekerja.


"Datang langsung ke rumah Nona Anna Bos" Juanda serius.


"Benarkah?" tanya Hans meyakinkan diri.

__ADS_1


"Iya, bawakan banyak bunga dan coklat yang Mahal." Juanda menatap langit-langit ruangan seakan sedang berpikir keras.


"Apa? aku akan terlihat seperti anak remaja saja." Hans menolak.


"Bos, usia Anna belum genap 25 tahun, masih sangat muda berbeda dengan Bos yang udah kepala tiga" Juanda tersenyum menyinggung.


"Maksud kamu aku sudah tua?" mata Hans melotot ke arah Juanda.


"Aku tidak bilang tua Bos hanya udah kepala tiga" Juanda menahan tawa.


"Beda 10 tahun Bos" lanjut Juanda.


"Ah, baiklah, pesanan bunga mawar merah satu mobil dan juga coklatnya!" Perintah Hans.


"Siap Laksanakan" Juanda memberikan hormat dan segera melaksanakan perintah Hans.


Juanda menghubungi toko bunga dan toko coklat di pusat pembelajaran, agar mereka bisa menyatukan coklat dan bunga dalam satu Mobil.


Juanda telah memberikan alamat rumah Anna kepada orang yang akan melakukan pengiriman.


"Siang hari, paket telah siap Bos dan Bos ikut di belakang mobil yang akan mengantarkan paket." Juanda bangga idenya di pakai oleh Bosnya.


"Kenapa kamu memberikan perintah kepada ku? aku tahu itu " Hans melotot.


"Saya bukan memberi perintah Bos, hanya mengingatkan" Juanda serba salah.


"Baguslah" Hans tersenyum.


Hans kembali duduk di Sofa, ia merasa belum tenang, jika belum bertemu dengan Anna.


Kegelisahan Hans semakin menjadi, Anna tidak menjawab panggilan telepon dari Hans.


"Apakah dia benar-benar marah padaku?" Hans bergumam.


Juanda menahan tawa melihat kegelisahan Hans.


Usia boleh saja sudah dewasa tetapi jatuh cinta akan tetap membuat pria gila dan kebingungan.


"Aku rasa ini pertama kalinya Bos jatuh cinta" Juanda berbicara dalam hatinya dan tersenyum.


Memperhatikan Hans yang memijit batang hidungnya.


***


**


*


Terimakasih telah membaca Karya Author


*


**


***


Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇

__ADS_1


Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊


__ADS_2