
Ruang Pemantauan.
Andreas memperhatikan mobil hitam yang yang berhenti perlahan di samping Anna dan Jhonatan.
Melihat Anna yang ditarik paksa oleh dua orang pria bertopeng masuk ke dalam mobil.
Andreas mengepalkan tangannya, ia marah akan sentuhan dua orang pria kepada Anna.
"Aaaarrghh." Andreas membanting komputer yang ada di depannya, membuat terkejut semua yang ada di dalam ruangan.
Jhonatan menggendong tangannya, melihat Andreas dengan penuh rasa bersalah.
"Siapa? Siapa yang menculik Anna ku?" Andreas berteriak.
"Tuan, mobil berhenti di lapangan terbuka." ucap seorang pria masih muda.
"Dimana?" Andreas mendekat memerhatikan posisi mobil yang berhenti dan menghilang.
"Siapa yang berani menantang diriku, akan aku hancurkan." ucap Andreas.
"Bentuk Tim pencarian, selidik setiap orang yang berhubungan dengan Anna, kerahkan mata-mata sebanyak-banyaknya." perintah Andreas dan keluar dari ruangan.
Jhonatan mengikuti langkah kaki Andreas.
"Sebaiknya kamu istirahat, aku akan mencari Anna." ucap Andreas.
"Ssshhh." Jhonatan menutup mulut Andreas.
Jhonatan berjalan perlahan mendekati dinding diikuti Andreas.
Mereka melihat dan mendengarkan Reline sedang berbicara di ponsel.
"Buang wanita itu jauh dari kota ini, terserah mau kalian apakan." ucap Reline bersemangat.
"Nona, kami tidak menemukan wanita bernama Anna." ucap seorang pria di sebrang.
"Bukankah kalian telah berhasil menculik Anna." Reline meninggikan suaranya.
Andreas mengambil ponsel Reline dan memutuskan panggilan.
Reline terkejut, tangannya gemetar, keringat dingin mulai membanjiri wajahnya.
"Dimana Anna?" bentak Andreas dengan mata yang telah merah.
Tangan kekar Andreas mencengkram leher Reline dengan kuat.
Reline kesulitan bernapas, ia tidak bisa berbicara. Reline berusaha melepaskan tangan Andreas.
"Brug." Andreas menghempaskan tubuh Reline ke lantai.
"Jhonatan hubungi L & L Entertainment, katakan kepada Leo untuk black list nama Reline." perintah Andreas dan menatap tajam pada Reline.
"Tidak Andreas, jangan lakukan itu, aku tidak menculik Anna." Reline terbatuk dan memegang lehernya yang sakit.
"Dimana Anna?" Andreas kembali mencengkram kedua tangan Reline dengan kuat memberikan warna merah pada lengan yang putih dan menekan tubuh Reline ke dinding.
"Aww, Andreas lepaskan aku, tangan ku sakit." Reline meringis.
"Aku akan membuat kamu mengatakan dimana Anna." Andreas kembali melempar tubuh Reline ke lantai.
Kepala Reline terbentur vas bunga keramik, dahinya berdarah dan pingsan.
"Panggilkan bodyguard, bawa Reline ke penjara wanita." perintah Andreas.
Andreas berjalan kembali ke ruangan komputer, ia menyambungkan ponsel Reline dengan komputer.
__ADS_1
Melacak semua panggilan yang yang Reline lakukan dan menghubungi nomor terakhir dalam panggilan.
Beberapa bodyguard telah menunggu perintah Andreas.
"Lacak dan tangkap semua anak buah Reline!" Perintah Andreas.
"Siap." Bodyguard dan para pengawal segera bergerak.
"Sebarkan video Reline yang tanpa busana!" perintah Andreas pada ahli komputer.
Tangan cepat dan cekatan para ahli komputer segera bergerak,dan tidak butuh waktu lama, berita di internet segera tersebar.
Reline, model dan aktris terkenal merayu Andreas agar bisa menjadi terkenal, rela menjual tubuhnya demi popularitas.
Dalam hitungan detik reputasi Reline hancur tidak bersisa, semua perusahaan periklanan memutuskan kontrak kerja dengan Reline.
Kedua orang tua Reline kebingungan dengan kekacauan yang Reline lakukan karena berpengaruh pada perusahaan Papanya.
***
Andreas memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju penjara wanita, tempat ia para wanita malam menjajakan diri mereka.
Wanita yang dengan sendirinya menyerahkan diri untuk dapat bekerja sebagai wanita malam dengan bayaran fantasi.
Reline berada dalam kamar gelap dan pengap, ia membukakan matanya perlahan.
Merasakan sakit di kepalanya yang telah diobati.
"Tempat apa ini? apa yang akan Andreas lakukan kepadaku?" Reline menyentuh kepalanya.
"Brak." pintu terbuka dengan kasar.
Reline terkejut, melihat seorang pria bertopeng bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot kekar dan tubuh seksi.
Tangan Andreas memegang ikat pinggang kulit miliknya.
"Siapa Anda?" Reline ketakutan.
"Aku, kamu pasti mengenal diriku." suara yang sangat familiar di telinga Reline.
"Andreas." ucap Reline dengan suara gemetar.
"Aku tidak percaya kamu sangat berani bermain dengan diriku." Andreas mengikat tangan Reline dengan ikat pinggangnya.
"Tidak Andreas, aku tidak menculik Anna."Reline ketakutan.
"Sraaak." Andreas menyobek pakaian Reline, memperlihatkan tubuh seksi dan putih.
"Aku akan menghancurkan tubuh ini dan memberikan kepada serigala kelaparan di setiap malamnya." Andreas menyeringai.
Serigala kelaparan adalah para pria hidung belang yang mencari kenikmatan Dunia dengan membeli para wanita malam.
"Aa apa maksud kamu?" tubuh Reline gemetar.
"Ah, aku tidak mau mengotori tanganku dengan tubuh kotor milik seorang aktris yang suka menjual diri." Andreas melepaskan ikat pinggang miliknya dari tangan Reline.
"Andreas, aku tidak menculik Anna, orang lain yang melakukannya." Reline memegang kaki Andreas.
"Orang lain, tetapi kamu yang memerintahkan mereka." Andreas menginjak jari cantik Reline.
"Aaa." Reline kesakitan dan terisak.
"Malam ini, kamu akan menjadi santapan para Serigala kelaparan, semoga kamu menyukainya." Andreas keluar dari kamar dan mengunci Reline.
Reline menangis sesenggukan, ia tidak percaya Andreas adalah pria yang sangat kejam.
__ADS_1
Serigala kelaparan, Reline ketakutan, sebagai seorang selebritis tentu saja ia biasa mendengarkan istilah itu.
Reline menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan pakaian dalam saja.
Andreas berada di ruangannya, ia masih menunggu laporan dari anak buahnya.
Kekhawatiran semakin mengganggu pikiran Andreas. Ia melempar topengnya.
"Aaarrrrgg." Andreas mengacak rambutnya dan melempar semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya.
"Annaaaa, kamu dimana, kamu dimana Anna." Andreas frustasi.
Terdengar ketukan pintu dan dua orang masuk.
"Tuan, kami telah menangkap orang suruhan Nona Reline." ucap seorang pria.
"Dimana mereka?" tanya Andreas emosi.
"Di penjara bawah." jawab pria lagi.
Andreas mengambil topeng baru dari laci mejanya dan berjalan cepat menuju penjara.
Empat orang pria terikat rantai di dinding, wajah yang telah babak belur.
Andreas mengepalkan tangannya, ia siap memukul untuk melampiaskan kekesalan yang telah ia tahan agar tidak memukul Reline.
Berjalan mendekati seorang pria yang memiliki tubuh paling besar.
Andreas segera mendaratkan pukulan sekuat tenaga pada perut pria yang diborgol di dinding.
Pria itu muntah darah, hingga tidak sadarkan diri, tiga pria lain melihat ngeri pada Andreas.
Andreas berjalan mendekati seorang pria lain yang telah memejamkan matanya ketakutan.
"Dimana Anna?" Andreas mencengkram leher pria itu.
"Ka kami tidak berhasil menculiknya." jawab pria itu gugup dengan.ara terpejam.
"Apa maksud perkataan kamu?" Bug, Andreas mendaratkan pukulan di perut pria itu.
Pukulan keras dan kuat dapat menghancurkan organ dalam tubuh.
"Kami datang terlambat, orang lain sudah lebih dulu menculik Nona Anna." jelas seorang pria yang terlihat tenang.
"Jadi dalam satu hari ada dua penculikan yang ditujukan kepada Anna." Andreas mencekik leher pria yang telah berbicara.
"Habisi mereka semua!" perintah Andreas dan keluar dari penjara.
Andreas kembali ke ruangannya, yang telah kembali rapi.
Memutar otaknya dan berpikir, tentang musuhnya, menebak nama - nama orang yang akan menculik Anna.
Andreas membuat daftar nama-nama yang telah menjadi musuhnya dan nama pria yang mencintai Anna.
"Aku tidak bisa menemukan Anna tetapi Aku harus bisa menemukan penculik Anna." Andreas mengepalkan tangannya.
Ada banyak nama yang telah Andreas garis merah.
******************************
Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊
__ADS_1