
Clara kembali ke Apartementnya, dengan perasaan kesal kepada Andreas yang telah mengambil ciuman pertamanya, ia bahkan belum pernah berpacaran karena hampir tidak ada pria yang berani mendekati dirinya.
Clara membuka pakaiannya dan meletakkan di keranjangan baju kotor dan menenangkan diri di dalam bathup yang telah diberi susu dengan aroma terapi.
Ponsel Clara berdering, ia membuka matanya dan melihat panggilan dari nomor yang tidak dikenali.
“Halo.” Clara menjawab dengan malas.
“Halo Sayang, apa kamu sedang mandi.” Suara pria yang begitu familiar.
“Kamu, bagaimana kamu bisa mendapatkan nomor ponselku?” Clara semakin kesal, ia bahkan tidak bisa beristirahat di Apartementnya.
“Apa kamu tahu, aku sedang berada di rumah sakit.” Suara Andreas terdengar mengejek.
“Aku berharap kamu mati.” Clara membentak di ponselnya.
“Sayang sekali harapan kamu sia-sia dan kegagalan dirimu adalah sebuah bencana dalam hidupmu.” Andreas tertawa.
Clara segera mematikan dan meletakkan ponsel di meja samping bathup, ia sangat membenci Andreas, pria yang bahkan tidak bisa ia ingat.
Ponsel kembali berdering, sebuah pesan media masuk, dengan kesal mengambil ponselnya. Mata Clara melotot, ia melihat sebuah video dimana dirinya menikam Andreas dengan pisau kecil yang tajam sehingga Andreas terluka.
“Apa kamu mau menginap di penjara sayang?” Sebuah pesan tertulis di layar video.
“Siapa pria ini? Kenapa dia memiliki video di restauran?” Clara keluar dari bathup tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya, ia membersihkan diri dan berganti pakaian, dan segera menghubungi Calvin.
Tidak berapa lama bel berbunyi, Clara segera membuka pintu dan melihat saudara kembarnya berdiri di dengan senyuman tampan.
“Calvin, masuklah!” Clara menarik tangan Calcin masuk dan mengunci pintu.
“Ada ada dengan dirimu?” Calvin duduk di Sofa.
“Aku akan membuatkan kopi itali untuk dirimu.” Clara meninggalkan Calvin yang duduk memperhatikan ruangan.
“Silahkan.” Clara meletakkan kopi di atas meja dan duduk di depan Calvin.
“Kenapa kamu meminta ku kemari dan tidka biasanya kamu berkurung diri di rumah.” Calvin meneguk perlahan kopi itali nikmat yang disajikan adiknya.
“Bagaimana rasa kopi buatan diriku?” Clara tersenyum.
“Selalu yang terbaik.” Calvin tersenyum, ia meletakkan cangkir kopi di atas meja.
“Aku telah mengirimkan video ke ponsel kamu.” Clara duduk menyenderkan tubuhnya pada dinding sofa empuk berwarna merah terang.
__ADS_1
“Benarkah?” Calvin mengeluarkan ponselnya dari saku jaket dan melihat kejadian di kamar mandi restaurant.
“Kenapa kamu bermain dengan Andreas?” Clavin menatap adiknya yang belum lama kembali ke negaranya itu.
“Siapa pria licik itu?” Clara membalas tatapan Calvin.
“ Dia Andreas, seorang pembisnis yang sangat kuat dan memiliki gelar The King Of Andreas.” Calvin meletakkan ponselnya di atas meja.
“Apa aku pernah bertemu dengannya?” Clara membuka ponselnya.
“Kamu membuat dirinya menginap di penjara dan aku yakin dia pasti akan membalas semua itu.” Calvin kembali meneguk kopinya.
“Ah, aku melupakan semuanya.” Clara meletakkan ponselnya.
“Kenapa kamu menyerang Andreas, melihat video ini kamu yang bersalah.” Calvin memperhatikan Clara yang telah berbaring di sofa panjang.
“Video itu terpotong, dia yang mengganggu diriku terlebih dahulu, aku sangat malas bermain-main.” Clara melirik Calvin.
“Tidak ada yang tidak bisa Andreas lakukan, dia selalu mendapatkan semua yang ia inginkan bahkan memiliki banyak musuh tetapi itu tidak membuat dirinya takut.” Calvin melihat jam di tangannya.
“Apa kamu sibuk? Dan bisakah kamu membantu diriku jauh dari Andreas?” Clara menatap Calvin.
“Aku sudah menyelidiki Andreas tetapi department kepolisian menghentikan diriku.” Andreas berdiri.
“Hubungi papa dan mama, mungkin mereka bisa membantu dirimu.” Calvin memeluk dan mencium dahi Clara.
“Bagaimana dengan dirimu, apa kamu mengunjungi mereka?” Clara menatap Calvin.
“Jika aku mengunjungi papa dan mama, mereka akan berpikir aku datang untuk menyelidiki.” Calvin tersenyum.
“Terimakasih, maaf telah merepotkan dirimu.” Clara menggenggam tangan Calvin.
“Berhati-hatilah, hubungi diriku jika butuh sesuatu, aku pergi.” Calvin mengusap kepala Clara dan meninggalkan Apartement adiknya.
“Aku harus menghubungi Mama dan mengatakan bahwa aku tidak bisa pergi ke tempat pelatihan.” Clara menutup pintu dan menghubungi Mamanya. Terdengar bunyi bel ia berpikir Calvin kembali lagi sehingga membuka pintu tanpa melihat terlebih dahulu.
“Calvin apa.” Kalimat Clara terputus ketika ia melihat seorang pria tanpa pakaian dengan balutan kain kasa di perutnya.
Andreas dengan cepat masuk kedalam Apartement melihat kecerobohan dari Clara yang kurang berhati-hati ketika menerima tamu.
“Halo sayang, apa kamu mau pergi?” Andreas tersenyum melihat Clara yang hanya menggunakan tank top dan celana pendek sepaha mempelihatkan tubuh indahnya.
“Ah tidak mungkin kamu keluar dengan pkaian seperti itu.” Andreas duduk di sofa dan melihat cangkir kopi.
__ADS_1
“Apakah ada tamu?” Andreas tersenyum melihat Clara yang masih beriri di pintu.
“Apakah kamu menjemput kematian dengan datang ke tempatku?” Clara menatap tajam pada Andreas.
“Aku datang untuk mejemput calon istriku yang sangat cantik dan agresif.” Andreas merebahkan tubuhnya di sofa.
“Kamu benar-benar gila.” Clara masih berdiri di depan pintu, ia tidak mau mendekati Andreas dan tidak mungkin keluar dengan pakaian rumahan yang seksi.
“Apa kamu tahu banyak kegilaan yang telah aku lakukan?” Andreas beranjak dari sofa dan mendekati Clara.
“Itu bukan urusanku, sebaiknya kamu keluar dari apartementku agar tidak membuat luka baru.” Clara menatap tajam kepada Andreas.
“Kamu adalah obat untuk lukaku dan aku mau memberikan dua pilihan untuk dirimu.” Andreas memainkan ramut bergelombang Clara.
“Jangan menyentuhku!” Clara menepis tangan Andreas.
“Baiklah, pilihannya adalah kamu menginap di penjara atau menjadi kekasihku?” Andreas tersenyum memperhatiakan tubuh seksi Clara.
“Ya Tuhan, pria ini benar-benar gila.” Clara menatap Andreas.
“Pilihlah, aku bukan pria yang sabar.” Andreas terus meneliti tubuh Clara yang begitu mengoda.
“Aku pilih di penjara.” Clara berjalan menuju lamari pakaian.
“Kamu akan dipenjara selama 7 tahun dan gelar juara yang kamu miliki akan hilang begitu saja, dipecat dari balapan, apa kamu telah memikirkannya?” Andreas menarik tangan Clara dan menekan tubuhnya ke dinding.
“Hentikan, aku sedang tidak ingin bermain dengan dirimu, aku lebih suka menyendiri.”Clara memijit batang hidungnya.
“Aku sedang tidak ingin bermain tetapi hanya ingin mempunyai seorang kekasih seperti dirimu.” Andreas menyentuh dagu lancip Clara.
“Aku menunggu jawaban dirimu hingga besok dan jangan mengecewakan diriku.” Andreas memainkan rambut Clara dan keluar dari ruangan.
“Apa yang harus aku lakukan, kenapa bertemu dengan pria itu memiliki kekuaatan yang tidak tersentuh oleh hukum, tunggu dulu kenapa dia menerima begitu saja kesalahan pada kecelakaan waktu itu, apakah itu jebakan?” Clara baru ingat dengan kejadian tabrakan mereka berdua.
"Dia pria yang tidak mudah untuk dikalahkan." Clara duduk di sofa.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Cinta Untuk Dokter Nisa” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.