
Mobil Andreas melaju membelah jalanan kota mengantarkan Anna kerumahnya yang indah dan asri. Anna tersenyum bahagia melihat rumah masa kecil yang sangat ia rindukan.
Dengan cepat Anna keluar dari mobil Andreas, ia membuka gerbang kecil penutup pintu pagar rumahnya dan berlari menuju pintu depan.
“Anna, jangan lari – lari!” Andreas khawatir ia menyusul Anna.
Anna mengambil kunci yang tergantung di tempat rahasia dan membuka pintu rumahnya, tidak ada yang berubah, ia benar – benar sangat merindukan rumah bersama kakek dan nenek.
Anna berlari ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, memejamkan matanya, tempat tidur yang sangat sederhana tetapi terasa jauh lebih nyaman daripada hotel dan rumah Andreas sekalipun.
Andreas menyusul Anna berlari menaiki tangga hingga sampai ke kamar, Andreas melihat sekeliling kamar yang sangat sederhana, tidak ada satu pun barang mewah di ruangan itu.
Andreas melangkahkan kakinya perlahan memasuki kamar Anna, ia melihat satu persatu barang yang ada di dalam kamar Anna.
Anna tidak tahu Andreas berada di dalam kamarnya karena ia berbaring dengan posisi tengkurap dan menangis tanpa suara.
“Apakah ini kamar kamu?” tanya Andreas mengejutkan Anna.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Anna balik bertanya, ia segera duduk dan mengusap wajahnya.
“Mengikuti dirimu.” Ucap Andreas terus berjalan meneliti barang – barang Anna.
“Kamu benar – benar unik, isi kamar kamu berbeda dengan orang lain.” Andreas tersenyum melihat ada banyak miniatur gedung dan bangunan.
“Sebaiknya kamu keluar dari kamarku!” perintah Anna.
“Apa Hans pernah tidur di sini?” Andreas tersenyum.
“Andreas, aku mohon aku mau beristirahan di kamarku.” Anna menatap Andreas dengan tatapan tidak suka.
“Baiklah, apa ada kamar untuk ku?” tanya Andreas.
“Apa kamu tidak akan pulang?” tanya Anna.
“Aku mau menjaga anak dan istriku.” Andreas tersenyum dan keluar dari kamar Anna.
“Kami bukan anak dan istri kamu.” Anna berteriak dan mengunci pintu kamarnya
Andreas tidak memperdulikan Anna yang berteriak dan marah, ia mengelilingi rumah Anna, memasuki setiap sudut ruangan hingga ke perkebunan dan peternakan di belakang rumah.
“Rumah sederhana yang luar biasa.” Andreas berjalan di kebun belakang, ia melihat sayuran dan buah – buahan yang segar dan ternak yang tidak terawat lagi.
Andreas kembali ke dalam rumah, ia masuk ke dapur dan membuka lemari penyimpan makanan, semua kosong, rumah telah lama ditinggalkan.
Andreas meminta anak buahnya untuk berbelanja semua kebutuhan rumah tangga untuk keperluan sehari – hari.
“Kamu tidak mau tinggal dirumahku, jadi aku akan tinggal dirumahmu.” Andreas tersenyum dan merebahkan diri di sofa sederhana tetapi cukup nyaman, ia memjamkan matanya dan tertidur.
Anna tertidur di kamar yang dikunci karena ia tidak mau Andreas masuk ke kamarnya lagi tanpa izin.
Belanjaan telah penuh tergeletak di atas meja makan, Andreas bangun dari tidur kilatnya dan membuat makanan untuk dirinya dan Anna, para pengawal menyusun bahan makanan kedalam lemari penyimpanan.
Setelah pekerjaan selesai, para pengawal keluar dari rumah dan dilarang masuk ke rumah tanpa seizin dirinya dan Anna.
Andreas menghubungi petugas kebersihan untuk membersihkan rumah Anna dan mengurus kebun dan ternak di belakang rumah.
Semua pekerjaan telah selesai, rumah dan perkarangan menjadi bersih dan indah, Anna benar – benar tidur nyenyak di kasur kesayanganya.Aroma kamar yang sangat ia rindukan memberikan kenyamanan untuk Anna.
__ADS_1
Anna terbangun dari tidurnya dan ia merasakan lapar luar biasa, Anna menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.
Kaos oblong dan celana jeans sebatas lutut, rambut panjang yang disanggul tinggi, Anna terlihat seperti gadis remaja yang imut dan manis.
Anna membuka pintu kamarnya, berjalan menuruni tangga menuju dapur, ia mencium aroma enak makanan.
Andreas terlihat cool dengan kemeja putih lengan panjang yang ia gulung sampai siku dan menggunakan celemek berwarna biru, fokus dengan memasak dan membuat makanan dengan banyak menu.
Anna berdiri di pinggir kursi makan memperhatikan Andreas yang sangat serius dengan pekerjaannya menjadi koki di dapur milik Anna.
“Halo sayang, kamu sudah bangun dan terlihat cantik, duduklah, apa kamu lapar?” tanya Andreas memperhatikan Anna yang semakin cantik dengan wajah natural selesai mandi, ia membuka celemek dan menggantungnya.
“Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu tidak pulang kerumah dirimu?” tanya Anna yang masih berdiri dan memperhatikan Andreas.
“Aku sedang mengurus calon istri dan calon anakku.” Andreas tersenyum, ia menarik kursi untuk Anna.
“Andreas, sebaiknya kamu pulang dan biarkan aku sendiri!” Anna menatap tajam kepada Andreas.
“Apakah kamu mengusir pria yang telah menyelamatkan dirimu dari kematian?” Andreas memegang dagu Anna.
“Aku mendekati kematian karena dirimu.” Anna menepis tangan Andreas.
“Makanlah!” Andreas menekan bahu Anna agar duduk di kursi.
“Wanita hamil harus banyak makan agar bayi dalam kandungan dan ibunya sehat.” Andreas berbisik di telinga Anna.
Andreas duduk di depan Anna dan ia mulai menikmati makanannya, ia tidak mau membuat Anna tertekan tapi keinginan Andreas untuk memiliki Anna masih belum hilang.
Semua yang ia suka harus menjadi miliknya, apalagi telah menjadi yang ia cintai, obsesi yang tidak bisa ia hilangkan karena telah terbiasa mendapatkan semua yang diinginkan.
Makan berdua bersama pria keras kepala yang tetap tidak mau melepaskan Anna, walupun ia sudah tahu Anna hamil anak Hans.
Anna selesai makan, ia mau membersihkan peralatan makan tetapi Andreas melarangnya dan meminta Anna beristirahat di ruang tengah.
“Aku bisa melakukannya, pergilah beristirahat!” Andreas tersenyum kepada Anna yang melihat Andreas tanpa ekspresi dan berjalan menuju taman depan rumah.
Anna duduk di ayunan dan berayun pelan, ia menatap langit berharap bisa melihat Hans di sana, rasa rindu pada suaminya membuat Anna sangat sedih.
***
Hans tiba di bandara, Juanda dan Reyhan telah menunggu di pintu keluar dengan sebuah mobil tanpa iringan pengawal, karena ia tidak mau mencolok.
Mobil Reyhan melaju dengan kecepatan tinggi menuju klinik Reyhan, ia harus segera memeriksa luka Hans pasca operasi.
Juanda dan Reyhan sangat khawatir, melihat kemeja Hans yang telah basah oleh darah dan kain kasa putih telah berubah warna menjadi merah.
“Bagaimana keadaan Anna?” tanya Hans dalam pejam dan merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi penumpang.
“Kamu bisa mendengarkan rekapan pada penyimpanan suara pada ponsel kamu.” Ucap Reyhan.
“Tapi Tuan sebaiknya Anda menunggu sampai klinik saja.” Lanjut Juanda.
“Baiklah, tapi Anna baik kan?” tanya Hans menahan sakit di dada.
“Nyonya sangat baik dan sehat Tuan.” Jawab Juanda bersemangat.
Mobil memasuki tempat parkiran klinik milik Reyhan yang di danai oleh Hans, Juanda segera membuka pintu untuk Hans.
__ADS_1
Mereka turun bersama, Hans segera duduk di Sofa dan membuka bajunya yang telah terkena noda darah.
Reyhan segera mengambil perlengkapan medisnya dan berbagai obat untuk luka pasca operasi, ia membuka kasa yang telah berwarna merah dari tubuh Hans memberikan obat membalut kembali luka denga kain kasa yang baru dan memberikan sunttikan anti biotik.
“Apa kamu lari dari rumah sakit?” Reyhan membereskan peralatan medisnya.
“Aku harus bertemu Anna, aku hampir gila ketika mereka mengatakan Anna tela meninggal.” Hans merebahkan tubuhnya di sofa panjang.
“Anda akan segera sembuh Tuan.” Ucap Juanda.
Hans mengambil ponsel dari saku celana dan mengaktifkannya, ia mau mendnegarkan rekaman suara yang dikirim oleh Reyhan.
Hans memejamkan matanya dan memasangkan headset ke telinganya mendengarkan rekaman pembicaraan Anna dengan Dokter Kandunga.
Reyhan dan Juanda bersiap menunggu Hans terkejut bahagia dengan kabar yang akan ia dengarkan melalui rekaman.
Hans membuka matanya, ia duduk diam menatap Reyhan dan Juanda yang duduk di depan dirinya menunggu ekspresi Hans.
“Rey, apakah Anna hamil anakku?’ tanya Hans menatap tidak percaya kepada Reyhan dan Juanda yang mengangguk.
“Aku akan punya anak?” Hans berdiri dan mencengkram lengan Reyhan dengan mata yang berbinar.
“Iya.” Reyhan menahan sakit pada lengannya.
“Juanda, aku akan punya anak.” Hans mencengkram kerah leher baju Juanda.
“Iya Bos.” Juanda gugup.
“Kemarilah!” Hans menarik Reyhan dan Juanda mendekat dan memeluk mereka berdua.
“Aku akan jadi Ayah.” Hans berteriak di telinga Reyhan dan Juanda.
Hans tidak sadar dadanya kembali berdarah karena ia memeluk Reyhan dan Juanda dengan kuatnya, ia sangat bahagia.
“Rey, dimana Anna?” tanya Hans bersemangat.
“Dirumahnya.” Jawab Reyhan.
“Andreas bersama Anna.” Ucap Juanda.
“Berikan kunci mobilmu!” perintah Hans pada Reyhan.
“Kami akan menemani dirimu.” Ucap Reyhan.
“Cepatlah!” Hans mengambil bajunya dan berjalan cepat menuju mobil milik Reyhan.
Mobil Reyhan melaju menuju rumah Anna, mereka bertiga terdiam, Hans terus mendengarkan rekaman percakapan Anna dengan Dokter kandungan berulang-ulang.
***
Semoga Suka, Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote, Terimakasih.
Baca juga Novelku “Cinta Untuk Dokter Nisa” dan Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
Love You All and Thanks For Reading.
__ADS_1