
Malam Indah di Villa pribadi, langit begitu cerah dihiasi bintang - bintang, angin laut berhembus lembut membuat kemeja putih tidak di kancing Hans melambai-lambai.
Hans memandang lurus kearah laut, melihat Kilauan Indah air dengan gelombang kecil.
Anna berjalan mendekati Hans yang menyenderkan tangannya di atas pagar pembatas bagian samping Villa.
Kehidupan dan pikiran Anna akhir - akhir ini sangat kacau. Haruskah ia menjadi wanita egois yang tidak memedulikan kehidupan orang lain demi kebahagiaan dan keselamatan dirinya.
"Hans." sapa Anna lembut, Hans memutar tubuhnya.
Rambut panjang Anna yang tergerai Indah, melambai-lambai seakan memanggil untuk di sentuh.
Kilatan kulit halus dan lembut serta wajah bersih tanpa polesan makeup bagaikan Dewi malam yang begitu menggoda.
Dress berwarna putih, sebatas lutut ikut melambai lembut menyentuh paha indah Anna.
"Aa, Kenapa Anna kemari?" gumam Hans dalam hati menatap lekat pada wajah cantik Anna.
Hans sengaja keluar untuk menghindari Anna, satu ruangan dengan wanita cantik yang dicintai, godaan untuk menyentuhnya menari - nari di telinga.
"Kenapa kamu keluar, angin malam tidak bagus untuk dirimu." tangan Hans refleks merapikan rambut Anna, menyelipkannya kebelakang telinga.
Wajah mereka begitu dekat, Hans memandang bibir kecil dan ranum, begitu menggoda.
Tangan Hans di leher Anna menjaga rambut panjang dan hitam menutup wajah Anna.
Perlahan mendekatkan bibirnya dengan bibir Anna, bibir mereka telah menempel tanpa ada reaksi mesra.
Hans seakan ragu mencium Anna, ia tidak ingin memaksa Anna untuk berciuman dengan dirinya.
Anna telah memejamkan matanya, tangannya bergetar, ada rasa trauma dengan ciuman paksa yang dilakukan Andreas dan King pada dirinya.
Hans menjauhkan bibirnya dan memperhatikan wajah Anna yang terlihat khawatir.
Perlahan Anna membuka matanya, ia menatap mata Hans.
"Apa kamu takut padaku?" tanya Hans dan Anna menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya," Cup, ciuman mendarat di bibir Anna.
Hans tidak bisa menahan, wajah Anna yang menggemaskan dan bibi imut yang terbuka begitu seksi.
Anna terdiam, ia tidak menutup matanya, memandang lautan luas.
"Maafkan Aku." Hans menghentikan ciumannya.
"Hmm." Anna menunduk.
"Sebaiknya kamu kembali ke kamar." Hans menggeser ke pinggir pagar.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Anna khawatir.
"Tidak," ucap Hans tanpa melihat Anna.
"Kamu terlalu menggoda." Hans tersenyum melihat Anna yang berusaha menahan dress-nya agar tidak terangkat.
"Apakah pakaian kamu semuanya seksi?" Hans memutar tubuhnya.
"Entahlah, aku tidak tahu siapa yang menyiapkan semua pakaian seksi yang ada di lemari," ucap Anna.
"Mungkin Yuna." Hans tersenyum.
"Aaah, benarkah, tetapi kenapa aku tidak pernah melihat ia menggunakan pakaian wanita." Anna memancungkan bibirnya.
"Jangan lakukan itu!" Hans menyentuh bibir Anna dengan lembut.
Hans menarik tangan Anna menuju Villa, ia tidak mau Anna sakit karena besok mereka akan kembali ke kota untuk menandatangani surat pernikahan.
Yuna duduk di Sofa, menunggu Anna dan Hans kembali.
__ADS_1
"Yuna, kamu temani Anna tidur!" perintah Hans.
"Tuan Muda, ada banyak kamar di Villa." Yuna berdiri.
"Jika Anna tidur sendirian akan membuat diriku tidak tenang." Hans melirik Anna.
"Selama ini, Nona Anna tidur sendirian." ucap Yuna lembut.
"Aku takut aku akan berjalan tidur dan pergi ke kamar Anna ketika dia sedang tertidur." Hans tersenyum berjalan menuju kamar paling ujung dekat dengan bukit.
Anna dan Yuna saling berpandangan bingung.
"Apakah Hans suka tidur berjalan?" tanya Anna.
"Tidak." Jawab Yuna tersenyum yang mengerti makna ucapan Hans.
"Ah Yuna, Apa kamu yang membelikan semua baju untuk diriku atau baju-baju ini sudah tersimpan di lemari dari dulu?" tanya Anna penasaran.
Jika bukan pertanyaan Hans tentang pakaiannya, Anna tidak akan mempersalahkannya, di pulau hanya ada Anna dan Yuna.
"Semua pakaian itu baru di beli sendiri oleh Tuan Muda." Yuna tersenyum.
"Anda sangat beruntung Nona, Tuan Muda memberikan semuanya untuk Anda." Yuna berbicara dalam hatinya.
"Hmm, Hans bilang kamu yang membelikannya." Anna memandang Yuna.
"Saya tidak berani, semua pakaian yang Anda gunakan adalah hasil rancangan desainer ternama Nona Riana." ucap Yuna.
"Hahaha, dan Nona Riana adalah Mama ku." Anna berjalan menuju tangga kristal, ia menoleh ke arah kamar Hans.
"Apa, Nona Anna adalah putri Nona Riana, aah pantas saja wajah mereka sangat mirip, tapi tidak ada kabar tentang pernikahan." Yuna bingung.
Yuna melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar Anna.
Sejujurnya Yuna merasa tidak pantas tidur dengan Anna, karena Anna adalah calon istri Tuan Muda.
Anna akan menjadi Nyonya Hans Roberto, pemilik Villa dan beberapa aset lainnya yang telah Hans pindahkan atas nama Anna.
"Tidak mungkin aku tidur satu ranjang dengan Nona Anna." gumam Yuna dan berjalan menuju sofa besar.
"Jika kamu sudah mengantuk kamu bisa tidur duluan." Anna tersenyum kepada Yuna.
"Aku akan tidur di sini." Yuna tersenyum.
"Kenapa?" tanya Anna memandang Yuna.
"Aku tidak pantas tidur dengan Anda." ucap Yuna menunduk.
"Apanya yang tidak pantas, kita sama-sama wanita." Anna mematikan komputer.
"Kemarilah." Anna menarik tangan Yuna berjalan ke tempat tidur.
"Nona, saya tidak pantas." Yuna menarik tangannya dan menunduk.
"Baiklah, jika kamu tidak mau tidur di atas tempat tidur, aku akan tidur di lantai." ucap Anna menarik selimutnya turun ke lantai.
"Aku mohon jangan Nona Anna." Yuna menarik tangan Anna dan duduk di tempat tidur.
"Aku bukan wanita kaya seperti yang kamu bayangkan." Anna tersenyum dan merangkul pundak Yuna.
"Aku sekolah dengan beasiswa dan bekerja keras." Anna naik ke tempat tidur.
Yuna terdiam, ia melihat Anna yang memejamkan matanya.
"Aku tahu kamu wanita yang baik." ucap Yuna dalam hati dan merendahkan tubuhnya, memejamkan mata berusaha untuk tidur di samping Calon Nyonya besar.
***
Anna terbiasa bangun pagi, ia telah berada di dapur.
__ADS_1
Ia meminta Yuna untuk membiarkan dirinya memasak sendiri untuk Hans.
Yuna menuruti perintah Anna dan ia sengaja membiarkan Anna dan Hans berdua di dalam Villa, berharap Anna bisa mencintai Hans.
Hans keluar dari kamar, ia melirik pintu kamar Anna yang terbuka.
"Apa dia sudah bangun?" gumam Hans.
Hans melihat Anna sedang mempersiapkan sarapan sendirian di dapur.
Rambut Anna digelung tinggi memperlihatkan leher jenjang yang mulus.
"Aaah, Ketika ia sudah menjadi istriku, aku akan memeluknya dari belakang, mencium dan menggigit leher itu." Hans tersenyum berjalan mendekati Anna.
"Dimana Yuna?" tanya Hans duduk di kursi.
"Aku sengaja meminta Yuna untuk tidak membantuku." Anna tersenyum manis.
"Kamu khusus memasak untuk diriku?" tanya Hans.
"Ya." Anna telah selesai menata makanan di atas meja dan siap untuk sarapan.
"Aku akan memanggil Yuna." Anna berjalan melewati Hans, tangannya di tarik Hans.
"Ada apa?" tanya Anna.
"Tak apa." Hans melepaskan tangannya.
Anna melanjutkan langkah kakinya mencari Yuna agar bisa sarapan bersama.
Anna kembali ke ruang makan bersama Yuna, ada banyak makanan di atas meja.
"Nona Anna sangat ahli dalam memasak." ucap Yuna duduk di kursi depan Hans.
"Dia ahli dalam semua bidang." ucap Hans yang telah memulai menikmati makanannya.
"Setelah sarapan kita akan segera berangkat." ucap Hans.
Mereka sarapan bersama, Yuna membersihkan dan merapikan perlengkapan makanan.
Anna kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Anna menggunakan celana panjang jeans berwarna biru langit, kemeja putih dengan lengan panjang yang ia gulung sampai siku dan dua buah kancing terbuka di bagian atas.
Hans juga menggunakan celana jeans warna biru langit sebatas lutut kemeja putih tidak dikancingkan dan kaos berwarna putih di bagian dalam.
"Yuna, apa kamu sudah siap?" tanya Anna.
"Iya Nona." Yuna menunduk.
"Bisakah kamu bersikap biasa saja?" Anna tersenyum dan berjalan melewati Yuna.
"Kalian sangat serasi Tuan." Yuna tersenyum melihat Hans dan Anna yang menggunakan warna pakaian yang sama tanpa sengaja.
Anna dan Hans saling pandang dan tersenyum malu.
Mereka bertiga telah berada di pinggir pantai bagian ujung, untuk menunggu perahu nelayan.
Pengawal yang menyamar menjadi nelayan, untuk menyembunyikan identitas Hans dan Anna.
Tidak berapa lama perahu nelayan telah tiba, ada dua orang bodyguard, Anna dan Hans duduk paling belakang, Yuna di tengah.
Perahu kembali berlayar, berbalik ke arah awal, desa nelayan.
***********
Mohon Dukungannya dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘
Baca juga Cinta Untuk Dokter Nisa dan Cinta Bersemi di Ujung Musim Terima kasih 😘
__ADS_1
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You All 💓 Thanks for Reading 😊