Arsitek Cantik

Arsitek Cantik
Pendakian


__ADS_3

(FAVORIT LIKE KOMENTAR VOTE BINTANG 5)


Hari ini jadwal Anna adalah mendaki bukit di belakang Villa, ia telah menggunakan pakaian yang nyaman untuk berpetualang.


Yuna memperhatikan Anna, ia heran dengan hobby Anna yang berbeda dengan wanita pada umumnya.


Banyak wanita yang suka menghambur uang untuk membeli sesuatu yang berharga dan bergaya.


Wanita sangat takut terkena matahari, mereka lebih suka merawat diri di salon-salon kecantikan.


Sedangkan Anna, hari ini ia akan membuat luka pada kulit mulusnya dengan mendaki bukit yang terjal.


Anna cukup betah berada di pulau jauh dari pusat kota, menghabiskan waktu dengan membuat desain gedung.


Ketika lelah Anna akan menyelam, jalan - jalan di pinggir pantai.


"Yuna, apa kamu ikut?" tanya Anna.


"Nona, sebaiknya Anna tidak mendaki, saya khawatir." ucap Yuna.


"Kenapa? kata kamu Tuan muda sering mendaki." Anna telah bersiap.


"Tuan sudah terbiasa." ucap Yuna.


"Aku juga sudah terbiasa." Anna tersenyum.


Yuna benar-benar kebingungan, ia tidak pernah mendaki. Ia pikir hanya menjaga wanita manja di pulau itu.


Tuan muda berpesan, jangan sampai Anna sakit apalagi terluka.


"Yuna, kenapa kamu diam?" Anna menepuk pundak Yuna.


"Saya tidak pernah mendaki." jawab Yuna jujur.


"Baiklah, kamu tunggu di sini saja." ucap Anna tersenyum.


Rambut yang selalu dikuncir kuda, Anna menggunakan pakaian berwarna hitam.


Anna sedikit heran dengan perlengkapan yang ada di Villa, semuanya pas dan cocok di tubuh Anna.


Namun, ia tidak mau memikirkannya, yang penting tidak ada pria di pulau itu.


"Nona, jika terjadi sesuatu, aku akan dihukum Tuan muda." Yuna terlihat khawatir.


"Jangan katakan apapun pada Tuan muda kamu." Anna tersenyum manis.


Anna berjalan ke belakang Villa, diikuti Yuna, ia ingin menghubungi Tuannya tetapi ragu.


Yuna tidak boleh melakukan panggilan, ia hanya boleh menerima panggilan dari Tuan muda kecuali keadaan darurat.


Anna mulai mendaki, ia tersenyum bahagia melihat bukit yang masih asri dengan rumput dan lumut.


Akar pohon yang menjalar, dan memegang teguh pada batu - batu pantai.


Yuna melihat beberapa kamera yang terpasang di belakang Villa dan bukit.


"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus berdiam di sini?" Yuna mondar-mandir di belakang Villa.


Anna sudah tidak terlihat, ia telah masuk kedalam hutan bukit berbatu.

__ADS_1


"Aw." tangan Anna tergores batu gunung yang tajam.


"Bukit di pinggiran pantai sangat licin." Anna melihat darah mengalir dari telapak tangannya.


"Ini bukit sudah seperti gunung, hanya batu dan sangat tinggi." Anna kembali mendaki, ia belum tahu dengan medan yang akan ia lewati.


Ponsel Yuna berdering, nama orang yang ia khawatir akan menghubunginya muncul di layar.


"Ya Tuhan, Tuan muda." Yuna segera menggeser kan icon hijau untuk menerima panggilan.


"Yuna, dimana Anna, apa dia di kamar, aku tidak melihat dia di setiap sudut ruangan." tanya Tuan muda.


"Tuan muda tidak akan melihat Nona Anna untuk hari ini." ucap Yuna berusaha tenang.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tuan Muda mulai khawatir.


"Nona Anna mendaki bukit." ucap Yuna.


"Apa? Kenapa kamu tidak melarangnya?" suara Tuan muda Terdengar Emosi.


"Aku sudah melarangnya, tetapi semua perlengkapan yang Tuan siapkan membuat Nona Anna bersikeras mendaki." jelas Yuna.


"Aku mempersiapkan itu agar kami bisa mendaki bersama." kesal Tuan muda.


Ia tidak mungkin muncul di Villa, karena ia sedang menyembunyikan Anna dari Andreas.


Tuan Muda sangat yakin gerak geriknya sedang diawasi.


"Anna, kamu benar-benar berbeda dengan wanita pada umumnya." gumam Tuan muda.


"Apa yang harus saya lakukan Tuan?" tanya Yuna.


"Tunggu Anna sampai ia kembali." ucap Tuan muda, dan mengakhiri panggilan.


Jika wanita lain pasti sudah meminta segalanya kepada tuan mudanya.


Yuna hanya bisa duduk termenung menunggu Anna keluar dari balik hutan berbukit.


Dengan susah payah akhirnya Anna sampai di puncak bukit yang sangat Indah.


Ada banyak tumbuhan langka dan Indah di atas bukit, anggrek warna - warni.


"Ini adalah surga dunia." Anna tersenyum puas.


Anna membuka ransel berisi bekal makanan dan minuman yang ia bawa, serta kotak P3K.


"Uuh, perih sekali." Anna melihat siku, lengan, telapak tangan, lutut yang luka dan berdarah.


Anna membersihkan luka pada dirinya dan memberikan obat.


Keringat bercucuran dari wajah hingga tubuh Anna. Wanita pendaki terlihat seksi.


Selesai mengobati lukanya, Anna menikmati bekal yang ia bawa.


Mata Anna memandang sekeliling puncak bukit, ia merasakan kesejukan luar biasa.


"Aku akan mengambil bibit dari beberapa jenis Bunga dan rumput, agar bisa ditanam di Villa, pasti semakin cantik." Anna berbicara sendiri.


Anna bergegas memiliki tanaman yang bisa ia cabut bersama dengan akarnya agar bisa di tanam kembali.

__ADS_1


Ada beberapa jenis anggrek dan rumput yang Anna ambil dan ia masukan ke dalam tasnya.


"Ah, nyamannya, aku akan beristirahat sebentar." ucap Anna merebahkan tubuhnya di atas rumput yang dingin.


Anna kelelahan hingga ia tertidur di puncak bukit dengan nyenyak.


Angin berhembus lembut, bagaikan nyanyian Nina Bobo untuk Anna.


Matahari telah bersembunyi, sehingga bukit telah menjadi gelap. Udara dingin mulai menyentuh kulit dan menusuk tulang.


Anna membuka matanya perlahan, ia sangat terkejut, bukit terlihat remang - remang.


"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku melakukan kesalahan yang fatal." Anna menggerutu dirinya sendiri.


Anna segera membereskan peralatan dan tas milik, ia melihat jam di tangannya.


"Hari sudah sangat petang." ucap Anna.


Pohon-pohon rindang telah menghalangi cahaya Matahari yang telah berada di sebelah barat bukit.


Dengan mudah Anna menemukan jalan yang telah ia lewati ketika mendaki.


Yuna telah menghubungi Tuan Muda, ia tidak berani menyusul Anna untuk mendaki, bisa - bisa mereka berdua akan tersesat.


"Ya Tuhan, syukurlah akhirnya aku bisa kembali." Anna tersenyum kepada Yuna.


"Nona, apa anda baik - baik saja?" Yuna sangat khawatir, ia memeriksa tubuh Anna, ada banyak luka.


"Aku baik-baik saja dan merasa lapar." Anna merangkul pundak Yuna untuk kembali ke Villa.


Anna berjalan ke kamar untuk membersihkan diri dan mengobati lukanya.


Anna duduk di atas tempat tidur dan hanya menggunakan handuk berwarna putih terbatas paha.


Ada banyak luka di tubuh Anna, ia merasakan perih di sekujur tubuhnya.


Yuna segera menghubungi Tuan muda agar tidak khawatir.


Tuan Muda sudah sangat gelisah, ada banyak hal yang ia khawatirkan jika ia pergi ke Villa, Andreas akan mengetahui tempat persembunyian Anna, dan jika ia tidak pergi ke Villa tidak ada orang yang akan menolong Anna.


Tuan Muda segera mengendarai mobil dan menghubungi helikopter agar segera menunggu di landasan penerbangan.


Tuan muda berjalan mendekati helikopter, terdengar dering dari ponsel Tuan muda.


"Tuan Nona Anna telah kembali, ia baik-baik saja." ucap Yuna, ia tahu dilarang menelpon kecuali keadaan darurat.


Tuan Muda tersenyum, ia tidak jadi melakukan penerbangan ke Villa dan kembali ke rumahnya.


Untuk melihat kamera yang terpasang di villa.


"Yuna, kamu di mana?" Anna keluar dari kamar hanya menggunakan handuk, ia sudah lupa dengan kamera yang terpasang di setiap sudut ruangan kecuali kamar Anna.


" Iya Nona." Yuna terkejut melihat luka di tubuh Anna.


"Bisakah kamu mengobati lukaku?" tanya Anna.


"Tentu saja Nona." Yuna segera berlari ke kamar Anna.


***********************************

__ADS_1


**Thanks for Reading 😊 Love You Readers 💓


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇**


__ADS_2