
Hari sudah petang, Andreas menghabiskan waktunya di rumah Mama Riana, Anna tidak memperdulikan Andreas, ia sibuk dan fokus dengan desainnya.
Anna selalu fokus ketika belajar dan bekerja, ia tidak akan mempedulikan sekelilingnya.
Andreas memperhatikan Anna yang sibuk dengan komputer miliknya.
"Dia benar-benar merasa Dunia ini miliknya" Andreas tersenyum melihat kecantikan seorang wanita pekerja keras.
Andreas meninggalkan rumah Mama Riana dan kembali ke kamar hotel miliknya.
Anna menarik nafas lega ketika melihat Andreas telah pergi dari rumah. Ia meletakan komputer miliknya di atas meja dan segera mengunci pintu.
Anna mengambil ponsel dan menghubungi nomor Mama Riana.
Panggilan terhubung.
"Halo sayang, ada apa?" tanya Mama di sebrang.
"Mama kapan pulang?" Tanya Anna khawatir.
"Ada apa sayang?" Tanya Mama Riana yang bisa merasakan kekhawatiran Anna.
"Ma, tadi Andreas kerumah, Anna takut, Andreas terlihat berbeda" Jelas Anna.
"Mama, akan pulang sekarang" panggilan terputus.
Mama Riana bergegas meninggalkan Kantornya dan menuju rumah.
Mama Riana terlalu khawatir dengan Anna sehingga ia tidak menyadari sebuah Mobil berwarna hitam mengikuti mobil Mama Riana.
Mama Riana memasukkan mobil langsung ke garasi,dan mobil yang mengikuti Mama Riana berhenti di samping pagar.
Pria tampan tinggi kekar dengan pakaian rapi keluar dari mobil masuk ke perkarangan rumah Mama Riana.
Pria itu mengendap-endap di antara pohon-pohon rindang dan bunga yang indah.
Ia melihat seorang wanita yang tidak asing, wanita yang ia rindukan membukakan pintu untuk Mama Riana.
"Anna" ucap pria itu lembut dan mendekatkan diri pada jendela agar ia bisa melihat dan mendengarkan ibu dan anak sedang berbicara.
Anna menceritakan kedatangan Andreas dan apa yang telah Andreas lakukan pada Anna.
Anna benar-benar ketakutan, ia tidak tahu harus bagaimana, semua uang Anna telah di kembalikan oleh Andreas.
"Ma, Andreas terlihat aneh, apa dia punya dua kepribadian?" Anna duduk di depan Mamanya.
"Ma, kirim kan Anna kemana saja terserah, Anna mau pergi jauh dari kehidupan ini" ucap Anna sedih.
Ia kesal kenapa masalah bermunculan sejak tanda tangan kontrak kerjasama.
"Andreas" pria di luar rumah mengepalkan tangannya menahan emosi.
__ADS_1
"Sebentar Sayang, Mama akan mencari relasi Mama untuk agar kamu bisa pergi ke tempat yang tenang dan Mama juga tenang" ucap Mama Riana.
Riana seorang desainer ternama tentu saja ia punya banyak kenalan, berbeda dengan Anna yang hanya berkutat di kampus, rumah dan tempat kerjanya.
Anna memejamkan matanya, ia benar-benar kesal dengan apa yang telah ia alami, Kenapa ia begitu tidak berdaya ketika bertemu dengan pria-pria Dewasa.
Selama kuliah dan bekerja, Anna baik - baik saja, ia hampir tidak pernah berurusan dengan para pria.
Walaupun jurusan Arsitektur dipenuhi oleh mahasiswa Pria, tapi Anna sangat cuek dan semua sibuk dengan tugas masing-masing.
Selama kuliah Anna tinggal di Asrama, karena ia kuliah dengan beasiswa dan menjadi mahasiswi terbaik dan termuda.
"Ma, Anna mau pergi, Anna tidak suka dengan kehidupan Anna saat ini" Air mata mengalir dan membasahi pipi Anna.
"Sayang, ada apa dengan dirimu" Riana memeluk Anna.
"Anna hanya sibuk belajar dan belajar untuk memenangkan semua kompetisi desain, dan Anna tidak pernah punya waktu untuk jatuh cinta, Anna tidak pernah melihat pria, Anna hanya mencintai Kakek, Nenek dan Arsitek" Jelas Anna dalam tangisannya.
"Sayang" Riana mengeratkan pelukannya.
Berbeda dengan Riana yang bisa sekolah dan berpacaran dengan Hendrick.
Mereka saling mencintai dan menikmati masa muda bersama tanpa ada orang ketiga.
Anna tidak pernah berpacaran, Tidak akan ada yang percaya wanita secantik dan secerdas Anna dapat menjalani masa mudanya tanpa ada Pria di kehidupannya.
Kehidupan tentang yang ia jalani tanpa pria hancur begitu saja sejak ia bekerja dan bertemu dengan banyak pria dewasa.
"Ma, Anna tidak mau lagi bertemu Andreas, ia mengerikan" Anna menumpahkan kesedihan dan terlihat lemah di hadapan Mamanya.
"Sayang, kamu jangan seperti ini, Mama mau lihat Anna yang kuat dan mandiri" Mama mengusap air mata Anna.
Ternyata Anna yang kuat dan mandiri tidak punya kemampuan jika harus berhadapan dengan para pria.
Anna terlihat sempurna tetapi kesempurnaan itu akan diselipkan sedikit kekurangan, agar tidak menjadi sombong.
"Anna selalu terpuruk ketika sendirian Ma, Anna selalu berusaha kuat dan sempurna demi Kakek dan Nenek, Anna tidak ingin mengecewakan mereka" Anna mencurahkan semua isi hatinya kepada Mama Riana.
Seorang pria di balik dinding hanya bisa terdiam mendengarkan curahan hati Anna yang telah tertahan begitu lama.
Wanita dengan senyuman manis itu ternyata menjalani kehidupan sempurna untuk membahagiakan Kakek dan neneknya.
Mama Riana menangis, semua ini karena ia meninggalkan Anna sehingga Putrinya harus hidup bayang - bayang kesalahan Riana yang telah membuat Kakek dan Nenek bersedih.
Anna harus menanggung penderitaan yang diberikan oleh Riana.
"Sayang, Maafkan Mama" Riana kembali memeluk tubuh Anna yang telah bergoncang sesegukan karena menangis.
Riana membawa Anna ke kamarnya agar Anna bisa beristirahat.
****
__ADS_1
Ponsel Hans pria di balik dinding bergetar, ia melihat layar ponsel dan berjalan menuju Mobilnya.
Sebuah nama yang sangat menyakitkan untuk di ucapkan.
"Andreas"
"Apa yang kamu inginkan Brengsek" Hans menjawab panggilan dengan bentakan.
"Wow, santai Bro, Aku mengundang dirimu untuk minum kopi di hotel di depanmu" Andreas mematikan ponselnya.
Hans segera memacu mobilnya menuju hotel tidak jauh dari rumah Mama Riana.
Mobil telah memasuki lahan parkir, Hans keluar dari mobil, Andreas telah menunggu di meja dekat dari pintu masuk.
Hans berjalan cepat, langsung menarik kerah baju Andreas dan memberikan pukulan di wajah tampan Andreas.
"Bug" Andreas tersungkur di lantai.
Para pengunjung melihat ke arah dua pria tampan yang tercipta begitu sempurna, membuat para wanita tidak puas melihat keindahan pria di depan Mereka.
Andreas tersenyum, ia beranjak dari lantai merapikan kemejanya dan menyentuh bibirnya yang pecah.
"Kenapa rekan bisnis ku menjadi kasar?" Andreas masih bisa tersenyum, ia memanggil seorang pelayan dan memesan dua gelas kopi.
"Apa maksud kamu memaksa Anna?" Hans kembali menarik kerah baju Andreas.
"Aku tidak memaksa Anna tetapi kamu yang menyerahkannya kepada ku sejak tanda tangan kontrak" Andreas menarik tangan Hans dari kerah bajunya.
"Aku kira pria cerdas seperti dirimu akan teliti dalam membaca kontrak" Andreas tersenyum menghina.
"Aku juga ingin mengatakan, aku sudah menyentuh Anna" Andreas puas mengatakan kalimat berbohong.
Emosi Hans kembali terpancing, ia memukul wajah Andreas yang tidak tinggal diam.
Pukulan Andreas mendarat di perut Hans. Baku hantam di antara duo orang pria terjadi di restoran hingga mereka dipisahkan oleh petugas keamanan.
Hans diusir keluar sedangkan Andreas di bawa masuk ke dalam kamarnya.
Wajah tampan dua orang pria merebutkan Anna terlihat memar.
***
**
*
*Terimakasih
*
**
__ADS_1
**
Love You Readers, thanks for Reading 🤗**