
Mobil sport hitam memasuki area parkiran di kawasan perusahaan baru yang telah berjalan beberapa bulan.
Para karyawan dan karyawati telah berdiri rapi menunggu kedatangan CEO sekaligus pemilik perusahaan.
Hans membuka pintu mobil untuk istri tercinta dengan senyuman manis dan menggoda nakal.
"Silakan Nyonya Hans." Hans mengulurkan tangannya kepada Anna.
"Kamu kenapa Hans?" Anna tersenyum dan menyentuh tangan Hans.
"Kemarilah sayangku, hari ini kamu menjadi bos perusahaan arsitektur." Hans mencium dahi Anna.
Hans menggandeng tangan Anna berjalan bersama masuk ke dalam perusahaan semua pegawai menunduk dan memberi hormat.
"Selamat datang Tuan Hans." Sapa semua pegawai.
"Semua berkumpul di aula utama dalam waktu 10 menit." Hans menatap tajam kepada semua orang.
"Baik Tuan." Semua segera bergerak menuju ruang meeting.
"Hans." Anna mengeratkan genggaman tangannya.
"Sayang, ini adalah ruangan kamu." Hans membuka pintu.
"Wah, cantik sekali." Anna berjalan masuk ke dalam ruangan.
Hans tersenyum melihat Anna duduk di kursi kerja di balik meja, beberapa berkas tersusun rapi dan sebuah komputer.
"Lihatlah." Hans menyalakan komputer.
"Hans, ini semua desain yang telah aku jual." Mata Anna berkaca-kaca melihat desain ia ketika masih kuliah.
"Tentu saja Sayang, aku membeli semuanya." Hans memeluk Anna.
"Pertama aku jatuh cinta pada desainmu kemudian jatuh cinta kepada dirimu." Tangan Hans menyelinap melewati kemeja menyentuh perut Anna.
"Hans geli." Anna menahan tangan Hans.
"Hanya segitu saja bahkan kamu bisa hamil." Hans mencium kepala Anna.
"Hans dimana ruangan kamu?" tanya Anna.
"Aku akan duduk di sana." Hans menunjukkan sofa yang ada di depan meja Anna.
"Kenapa kamu duduk di sana?" Anna menatap Hans.
"Agar aku bisa memandangi kamu sepanjang hari." Hans mencium lembut bibir Anna.
Terdengar ketukan pintu seorang wanita menunduk karena tidak sengaja melihat ciuman hangat Hans dan Anna dari depan pintu yang terbuka.
"Maaf Tuan Hans, semua sudah menunggu di aula." Wanita itu masih menunduk tidak berani melihat Hans.
"Kami akan segera menyusul." Hans mencium leher Anna.
"Baik Tuan." Wanita itu keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Siapa perempuan itu?" tanya wanita dalam hatinya.
Semua telah berkumpul di lantai utama perusahaan, Hans menggandeng mesra Anna berjalan bersama. Juanda dan Reyhan berlari, menyusul Anna dan Hans.
"Ya Tuhan, aku sangat merindukan dirimu, sepupuku." Rey mau memeluk Hans.
"Jangan sentuh aku, ada sisa pelukan istriku." Hans mendorong tubuh Reyhan.
"Aku akan memeluk kakak ipar." Reyhan mendekati Anna yang tersenyum lucu.
"Jika kamu sudah siap menderita hingga mati, lakukan saja." Hans memeluk Anna menjauhkan dari Rey. Juanda tersenyum menahan tawa.
"Kamu pelit dalam semua hal." Reyhan memancungkan mulutnya.
Mereka berempat telah berdiri di bagian paling depan aula, ruangan menjadi tenang ketika Hans telah berdiri di atas.
Hans memperkenalkan dirinya dan dua orang asisten sekaligus sekretaris pribadinya, terakhir Hans memperkenalkan Anna.
"Perhatikan seluruhnya, perkenalkan wanita cantik ini, Hana Mariana istri dari Hans Roberto dan pemilik sekaligus CEO perusahaan ini." Hans memeluk dan mencium dahi Anna.
Tepuk tangan riuh dan terkejut dari semua karyawan, mereka tidak tahu jika Hans telah menikah dan memiliki seorang istri yang sangat cantik. Beberapa karyawati harus patah hati dan kecewa dengan berita yang mereka dengarkan.
Air mata Anna mengalir ia mengeratkan pelukannya dan tidak ingin melepaskan, merasakan kehangatan cinta dan kasih sayang suaminya.
"Sampai kapan kamu akan memelukku, kita bisa melanjutkan di rumah." Hans berbisik di telinga Anna dan tersenyum licik.
Anna segera melepaskan pelukannya dan mengusap air mata, Juanda memberikan tisu kepada Anna, Hans segera menepis tangan asistennya dan mengambil sendiri tisu untuk istrinya.
"Astaga, over protective." Juanda mengusap tangannya.
Mereka sangat senang ternyata Anna adalah wanita yang ramah dan periang, ia selalu tersenyum ketika bertemu dengan semua orang. Tidak seperti bos wanita pada umumnya yang sombong dan angkuh.
"Hans, aku lapar." Anna menatap manja.
"Baiklah kita akan makan siang di restoran." Hans menggandeng Anna menuju ruangan sekretaris untuk memberitahu bahwa mereka akan makan siang di luar dan langsung pulang.
"Sayang, apa kamu lelah?" Hans membuka pintu untuk Anna.
"Tidak, aku merasa sangat nyaman." Anna tersenyum.
"Baguslah, kamu adalah wanita yang kuat." Hans menutup pintu dan mengendarai mobil menuju sebuah restoran yang sangat mewah.
Mereka telah di duduk di ruangan khusus untuk tamu VIP, yang hanya ada satu meja dan dua kursi seperti ruangan pribadi dan kedap suara.
Seorang pelayan meletakkan daftar menu di atas meja dan menunggu tamu untuk memesan. Anna dan Hans membaca buku tamu. Hans terlihat tenang tetapi tidak dengan Anna yang menolak balik buku menu.
"Sayang, apa kamu telah memilih makanan yang kamu mau makan?" Hans meletakkan buku menu dan memperhatikan Anna yang gelisah.
"Tidak ada yang aku suka." Anna meletakkan buku menu dan menatap kecewa.
"Apa maksud kamu, ini adalah restoran terbaik dan termahal di kota." Hans memindahkan kursinya dan duduk di samping Anna.
"Pilihlah, aku akan memakan apapun yang kamu pesan." Hans membuka buku menu.
"Bagaimana jika aku yang memilih tempat?" Anna tersenyum cantik dan Hans terlihat bingung.
__ADS_1
"Kamu mau makan dimana?" Hans menatap Anna khawatir.
"Apa kita bisa keluar dari restoran ini?" Anna menatap manja.
"Tentu saja, kemanapun dan dimana pun Akau akan menuruti dirimu." Hans tersenyum tetapi ada rasa khawatir di dalam hatinya.
"Maaf, kami tidak jari pesan makanan, saya akan membayar biaya ruangan." Hans memberikan kartu kredit kepada pelayan.
"Baik Tuan tunggu sebentar." Pelayan wanita menuju tempat pembayaran dan mengembalikan kartu Hans.
"Aku yang akan menyetir." Anna merebut kunci dari tangan Hans dan segera duduk di kursi pengemudi.
"Tidak Sayang." Hans menahan pintu mobil.
"Kamu sudah janji akan menurut." Anna tersenyum menggoda.
"Tapi tidak tentang mengemudi!" Hans melotot.
"Aku tidak mau makan." Anna merajut, ia keluar dari mobil dan duduk di lantai restoran.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Hans menarik tangan Anna lembut dan melihat sekeliling. Istri seorang pengusaha kaya duduk seperti seorang pengemis di depan pintu restoran.
"Aku tidak mau makan lagi." Anna memancungkan bibirnya.
"Baiklah kamu yang mengemudi tetapi hati-hati." Hans tersenyum terpaksa. Dengan cepat Anna masuk ke dalam mobil.
"Pelan-pelan saja." Hans duduk di kursi penumpang samping Anna.
"Aku tahu." Anna menjalankan mobil menuju sebuah warung pinggir jalan dan menghentikan mobilnya.
Hans melotot melihat tempat makan yang Anna tuju, sebuah warung yang terlihat tidak higienis karena terlalu dekat dengan jalannya.
"Sayang tempat apa ini?" Hans menahan tangan Anna yang akan membuka pintu.
"Tempat makan enak." Anna tersenyum, ia telah menelan ludah berkali-kali sejak datang ke tempat itu.
"Tidak Sayang, kamu dan anakku tidak boleh makan di tempat seperti ini." Hans melotot dan memegang erat tangan Anna agar tidak keluar dari mobil.
"Kemanapun dan dimana kamu akan menurut." Anna tersenyum licik.
"Ya Tuhan." Hans menepuk jidatnya dan melepaskan tangan Anna.
"Anna aku tidak ingin kamu menjalani kehidupan yang sama ketika kamu masih sendiri, aku mau kamu bahagia dan menjadi nyonya kaya bergelimpangan harta dan kemewahan." Hans memijit batang hidungnya.
Hans tahu semua tentang Anna ketika mereka melakukan transaksi jual beli desain karena Anna sering bercerita kepada dirinya melalui chatting.
****
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Cinta Untuk Dokter Nisa” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1