
Veronika melakukan penerbangan dengan pesawat malam hari, ia tidak mau bertemu dengan orang, dengan menggunakan masker ia berjalan memasuki bandara tanpa ditemani siapa pun.
Veronika memejamkan matanya, ia sangat marah Hans tidak mengantarkan ia ke bandara, malahan ia di mendapatkan amarah dari Hans.
Hans tetap menganggapnya sebagai adik, padahal dulu Hans pernah berjanji untuk menikah dengannya ketika sudah dewasa.
Veronika menangis, Rasanya ia telah jatuh dan tertimpa tangga.
Ia kehilangan kontrak kerja dan kehilangan orang yang ia cintai. Veronika tertidur dalam kegelisahan hati.
Pesawat mendarat dengan sempurna di bandara internasional. Veronika berjalan menuju parkiran mobil, Flow menunggu di dalam mobil.
" Kita kemana?" tanya Flow
" Ke apartment, malam telah larut, Aku lelah" Veronika merebahkan tubuhnya di sandaran kursi.
Flow segera mengendarai mobil menuju apartement.
Flow menurunkan Veronika di depan Apartemennya, ia memarkirkan mobil di parkiran.
Kamar Veronika dan Flow bersebelahan. Veronika membersihkan wajah, mengganti pakaian dan segera tidur.
***
Flow menekan bel pintu kamar Veronika. Ia segera menekan nomor sandi kamar dan pintu terbuka.
Veronika masih tidur nyenyak ditutup selimut tebal.
" Vero Bangunlah " Flow menggoyang tubuh Veronika
" Sebentar lagi Flow" Veronika menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya dengan selimut.
" Cepatlah, kita harus menemui Nona Riana" Flow mulai kesal.
"Kau tahu Flow wajah Riana sangat mirip dengan Anna" Veronika membuka selimutnya
" Siapa Anna ?" tanya Flow penasaran
" Wanita yang telah merebut Hans dariku " Veronika segera duduk mengepalkan tangannya.
" Baiklah, sekarang pergilah mandi ganti pakaian dan kita ke perusahaan Nona Riana" Flow menarik tangan Veronika.
Veronika segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Flow merapikan tempat tidur Veronika, ia berbaring di sofa panjang memainkan ponselnya, menunggu Veronika mandi, ganti pakaian dan berdandan.
"Flow aku sudah siap ayo berangkat " Mereka berjalan bersama meninggalkan apartement dan mengendarai mobil menuju kantor pusat Riana.
Flow Dan Veronika berada di lobi kantor, Flow menanyakan Nona Riana, Namun para karyawan resepsionis tidak tahu.
Flow mengajak Veronika duduk di lobi, ia kan menghubungi Merlin,
Nomor Merlin tidak bisa di hubungi sedangkan nomor Riana tidak aktif.
Flow mulai gelisah. Merlin berjalan masukin lagi dan akan menuju ke Ruangan Riana.
" Merlin " Veronika berteriak menghentikan langkah kaki Merlin, ia memutar tubuhnya dan tersenyum ramah.
" Ada yang bisa saya bantu Nona Veronika" Merlin mendekat
" Maaf Nona Merlin bolehkah kita bertemu dengan Nona Riana ?" Flow bertanya lembut dan sopan berbeda dengan Veronika yang Kasar dan Sombong .
__ADS_1
" Maaf Flow, Nona Riana tidak ada di kantor" Merlin tersenyum ia sangat bersyukur Bosnya tidak bertemu dengan Veronika.
" Apa, kemana dia pergi?" Veronika membentak Merlin yang mendapat balasan senyuman dari Merlin.
" Nona, melakukan penerbangan ke Negara C, ia liburan di sana, jika tidak ada keperluan lagi, saya permisi" Merlin segera memasuki lift.
Veronika menghempaskan tubuhnya di atas kursi, ia kembali ke negara T tapi Riana terbang menuju negara C, negara Dirinya.
" Apa - apaan ini Flow, Apa dia sengaja ?" Veronika sangat kesal
" Ayo kit kembali ke apartement kamu " Flow mengusap bahu Veronika untuk menenangkan agar ia tidak buat masalah di kantor. Itu akan sangat memalukan.
Flow menggandeng tangan Veronika kembali ke mobil dan memacu mobilnya menuju apartement.
***
Riana merasa gugup ketika berada di dalam pesawat, setelah 24 tahun ia pergi dan kini ia akan kembali menemui putrinya dan kedua orang tuanya.
Hati Riana sedih bercampur bahagia, Ia tidak memberitahu kedatangannya kepada Anna. Anna hanya mengatakan, ia dan kakek nenek masih di rumah yang dulu.
Kakek dan Nenek tidak pernah mau pindah, bagi Anna itu adalah alasan Kakek dan Nenek berharap Riana akan pulang, Mereka pasti sangat merindukan Riana.
Kakek pernah berkata kepada Anna, jika mereka pindah, Anak mereka tidak akan bisa menemukan mereka. Anna pikir itu adalah anak yang lain, ia tidak tahu anak yang dimaksud adalah ibunya, Anak semata wayang Kakek dan Nenek.
Riana membuka ponselnya dalam mode pesawat untuk melihat foto Anna dan kedua orang tuanya.
" Mama, Papa, Riana kangen" Air mata Riana membasahi pipinya
" Riana takut pulang, takut Mama marah dan mengusir Riana" Riana berbicara dalam hatinya.
Riana tertidur dalam tangisan rindunya.
Pesawat telah mendarat di Bandara, Riana berada di depan pintu Bandara, ia melihat Bandara yang telah berubah dari 25 tahun yang lalu.
Sebuah taksi melesat membelah jalanan di sore hari, Riana telah menyebutkan alamat yang ia tuju, Matanya melihat pinggiran jalanan yang telah banyak berubah.
Taksi berhenti tepat di depan perkarangan sebuah rumah yang masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Perkarangan yang hijau dan sangat Asri.
Riana membayar biaya perjalanan, ia membuka pintu mobil dengan perlahan melangkah kakinya keluar.
Taksi telah meninggalkan Riana yang masih berdiri kaku di depan pintu pagar rumah.
Riana tersenyum namun butiran bening tanpa permisi terus mengalir deras melewati sudut matanya membasahi wajah cantik milik Riana.
Butiran bening telah menghalangi pandangan mata Riana, namun ia biarkan, ia ingin melihat bayangan masa kecil ia bersama dengan kedua orangtuanya.
Tak ada yang berubah, Rumah masih seperti dulu, bahkan warna cat yang masih sama.
Riana terbayang ketika ia berlari - lari di perkarangan bersama ayah dan ibunya. Ketika dengan keras kepalanya ia tidak mau mandi di sore hari sehingga ia membuat ayah dan ibunya kelelahan.
Riana sesegukan, ia sangat merindukan masa itu, masa kebahagiaan bersama kedua orang tuanya yang lengkap, tidak seperti Anna yang dibesarkan oleh Kakek dan Neneknya.
" Maafkan Riana Pa, Ma, Maafkan Mama Riana " Riana masih berdiri di depan pagar, seakan kakinya terasa berat untuk melangkah masuk.
Pintu Rumah terbuka Anna keluar dari rumah, Anna akan ke mini market terdekat untuk membeli beberapa keperluan.
Anna tertegun melihat seorang wanita sangat cantik, dengan wajah yang telah sembab karena menangis menatap perkarangan rumah.
Riana tidak menyadari kedatangan Anna, ia masih larut dalam kenangan bersama masa kecilnya.
Anna memandang Riana dari halaman rumah,
__ADS_1
" Mama" Suara lembut tak terdengar orang lain keluar dari mulut Anna, Butiran bening mulai berlarian ingin membasahi wajah cantik Anna.
Mereka masih terdiam di tempat masing-masing. Riana masih tertegun dengan wajah yang berantakan oleh air mata.
Anna berlari membuka pintu pagar dan memeluk Ibunya dengan sangat erat, pelukan seorang ibu yang sangat ia rindukan selama 25 tahun
" Mama " Teriak dan pelukan Anna menyadarkan Riana dari Dunia masa lalunya.
Mereka saling berpelukan di depan pintu pagar. Tidak ada yang berbicara, mereka hanya menumpahkan kerinduan dalam pelukan dan air mata.
Ibu dan anak menangis bersama seakan Dunia hanya milik mereka berdua. Mereka tidak perduli dengan orang yang berlalu lalang. Mata yang telah basah dan terpejam tak ingin terbuka dan melepas pelukan.
Mereka berdua menangis sesegukan.
Bik Yani berjalan keluar ingin memanggil Anna, ia terkejut melihat Anna berpelukan dengan seorang wanita yang sama-sama menangis.
Bik Yani kembali ke dalam rumah menemui Kakek yang sedang menonton TV. Ia menceritakan apa yang ia lihat di pintu gerbang.
Kakek kebingungan, dan penasaran.
" Siapa wanita bersama Anna ?" Kakek berjalan menuju pintu pagar.
Ia mendekati Anna dan wanita yang sedang ia peluk.
Kakek memperhatikan wajah yang menghadap ke arahnya, Namunia tidak mengenalinya, wajah itu tertutup rambut dan terbenam dalam pundak Anna.
" Anna " Sapa Kakek
Riana mengangkat wajahnya dan melihat seorang lelaki Tua yang ketiga ia pergi masih sangat muda, kini lelaki itu telah renta, berdiri di depannya.
Lelaki yang berjuang untuk membesarkan Riana.
" Papa " Anna melepaskan pelukan Mamanya, ia bergeser ke samping dan mundur beberapa langkah Kakek.
Riana masih Diam membeku, air matanya seakan tidak kering, terus mengalir.
"Papa, " Riana berteriak dan berlari memeluk papanya.
Kakek hanya terdiam, ia bahkan tidak sanggup membalas pelukan putrinya yang telah meninggalkan ia dan istrinya selama 24 tahun.
Ia tidak percaya Putri yang ia Rindukan dalam penantian kini berada dalam pelukannya.
Perlahan Kakek mengangkat tangannya mengusap rambut putrinya, dan menangis bahagia dalam pelukan kerinduan.
**
*
*
*
*
*
Thanks for Reading
Love you readers
__ADS_1
dukung terus Author yaa**