
Hans tidur dengan memeluk Anna, ia masih belum di beri jatah ketiga karena Anna masih khawatir dengan tangan Hans.
Anna merasakan perutnya sakit, tetapi tangan kekar Hans memberikan kehangatan untuk dirinya.
Perlahan Anna memutar tubuhnya menghadap Hans, menatap wajah tampan pria dewasa yang masih tertidur lelap.
Anna melingkarkan tangannya di pinggang Hans menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya dan kembali tertidur.
Hans tersenyum dengan tingkah Anna yang seperti anak kecil memeluk papanya untuk mendapatkan kehangatan dan kasih sayang.
Hans mengeratkan pelukannya, ia berharap Anna akan memberikan satu kali permainan cinta di pagi hari.
Anna terlalu mengkhawatirkan tangan Hans, ia tidak mau ketika bercinta Hans akan kesakitan dan lengannya kembali berdarah.
Hans mencium dahi Anna dan kembali tertidur hingga Matahari pagi menyelinap masuk ke dalam kamar memberikan cahaya yang menyilaukan dan rasa hangat pada kulit.
"Sayang, sudah pagi." bisik Hans di telinga Anna dan meniupkan udara hangat dari mulutnya.
"Mmm." Anna mengusap telinganya karena merasa geli.
Hans mengigit jari Anna membuat Anna berteriak dan membuka matanya.
"Aw, Hans sakit." Anna mencubit hidung Hans.
"Aku mau bercinta." Hans mencium telapak tangan Anna.
"Tidak boleh." Anna mengeratkan pelukannya pada tubuh Hans.
"Kenapa tidak boleh?" Hans mencium dahi Anna.
"Karena tangan kamu masih sakit." Anna kembali memejamkan matanya, ia merasa nyaman dalam pelukan Hans.
Kebiasaan baru yang Anna dapatkan sejak ia menikah, mendapatkan pelukan dari suaminya ketika sedang tidur.
"Cepatlah bangun, Kita harus segera ke rumah sakit." Hans membuka pelukannya dan mendorong tubuh Anna.
"Aku masih mau tidur." Anna kembali memeluk Hans.
"Aku mau memastikan tangan ku sudah sembuh sehingga bisa memakan dirimu." Hans melepaskan tangan Anna dan segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Dasar laki-laki, dia semangat sekali untuk pergi bertemu dengan dokter seksi." Anna menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan membiarkan Hans mandi.
Hans telah selesai mandi, ia keluar dengan menggunakan handuk dan melihat Anna yang kembali tertidur dalam balutan selimut.
"Gadis kecil yang curang." Hans tersenyum dan berjalan menuju tempat tidur, menarik selimut Anna dan membuangnya ke lantai.
"Hans, jangan menggangguku." Anna memeluk erat guling.
Hans menarik bantal dan guling membuang semuanya ke lantai.
"Em, harumnya." Anna membuka matanya perlahan dan tersenyum melihat pria tampan dan seksi di depannya.
Hans naik ke tempat tidur dan menindih tubuh Anna.
"Jika kamu tidak pergi ke kamar mandi aku akan memakan kamu sekarang!" Hans tersenyum menggoda dan memainkan jarinya di telinga Anna.
"Baiklah, aku akan mandi." Anna mendorong tubuh Hans dan berlari ke kamar mandi.
"Kulitnya sangat sensitif, sentuhan sedikit saja seluruh tubuhnya begidig." Hans tersenyum ia beranjak dari tempat tidur dan berganti pakaian.
"Itu sangat berbahaya, jika pria lain menyentuh bagian - bagian sensitif, tubuh Anna akan langsung bereaksi." Hans menatap tubuh seksinya di depan cermin.
"Aku harus menjaga Anna, jangan sampai Andreas gila itu mengambil Anna." Hans telah berganti pakaian.
"Hans handukku." teriak Anna.
"Kenapa dia selalu lupa membawa handuk?" Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hans memberikan handuk kepada Anna yang tersenyum manis.
"Maafkan aku." Anna kembali menutup pintu.
"Ah segarnya." Anna keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari pakaian.
Hans memeluk Anna dari belakang dan mencium lekuk leher Anna.
"Aroma yang menyegarkan dan menggoda." bisik Hans di telinga Anna.
Tangan Hans bergerilya di tubuh Anna, ia sangat suka melihat reaksi spontan dari Anna yang akan langsung menggeliat.
__ADS_1
"Hans, jangan lakukan itu." Anna mendorong tubuh Hans.
Rambut - rambut halus di tubuh Anna telah berdiri.
Hans tersenyum puas, ia tahu Anna sedang berusaha menahan hasrat di dalam dirinya.
"Anna, bagaimana jika pria lain yang menyentuh dirimu, apa tubuh kamu akan bereaksi seperti itu?" Hans menatap Anna.
"Kamu bisa membuktikan dengan meminta orang lain untuk menyentuh ku." kesal Anna.
"Maafkan aku Sayang, kau tahu reaksi spontan dari tubuhmu itu sangat menggoda." Hans memeluk Anna dari belakang.
"Dan itu terjadi sejak aku menikah dengan dirimu." Anna melepaskan tangan Hans dari pinggangnya.
"Apa kamu marah?" tanya Hans.
"Aku mau berpakaian sayang, jika kamu terus memeluk diriku aku tidak bisa berpakaian." Anna tersenyum manis.
"Baiklah." Hans duduk di sofa dan memperhatikan Anna yang sedang berganti pakaian.
"Kenapa dia begitu menggoda, setiap gerakannya seakan menyapa diriku untuk bercinta," gumam Hans dalam hati dan terus memandangi Anna.
"Apa kamu sudah lapar?" Anna menyisir rambutnya dan mengikat tinggi.
"Aku sangat lapar mau memakan dirimu." Hans tersenyum.
"Bersabarlah, aku tidak akan pergi darimu." Anna tersenyum, ia merapikan tempat tidur yang dibuat berantakan oleh Hans.
"Sayang, selama di Jepang kita belum pernah bercinta." Hans kembali memeluk Anna.
"Kita akan bercinta setelah dokter memastikan tangan kamu baik-baik saja." Anna meletakkan tangan di leher Hans.
"Berikan aku ciuman!" Hans mendekatkan bibirnya.
Anna baru akan mencium bibir Hans, terdengar ketukan pintu dan suara pelayan yang mengatakan makanan untuk sarapan telah siap.
"Ah, mengganggu saja." kesal Hans.
Anna tersenyum dan melepaskan tangannya dari leher Hans.
Hans tidak perduli dengan panggilan itu ia segera mencium bibir Anna.
Hans dan Anna berjalan bersama menuju ruang makan yang telah di siapkan untuk mereka berdua selama menginap di hotel.
Mobil hotel dan seorang sopir telah siap untuk mengantarkan Hans dan Anna ke rumah sakit tempat Iyana bekerja.
Anna dan Hans melakukan perjalanan ke rumah sakit, mereka berdua duduk di belakang sopir.
Bermanja dan bermesraan di kursi penumpang, tiada yang melarang.
Hans dan Anna langsung menemui Iyana karena mereka telah menghubungi Iyana terlebih dulu.
Diantar seorang perawat Anna dan Hans sampai di ruangan Iyana.
Anna mengetuk pintu dan memberi salam, seorang asisten dokter membukakan pintu untuk Anna dan Hans.
Iyana tersenyum cantik melihat ke arah Hans yang sangat tampan dengan tatapan dinginnya.
"Silahkan masuk," ucap Iyana.
Anna memperhatikan Iyana yang fokus pada Hans, dengan pakaian yang semakin seksi menampilkan belahan paha dan kemeja yang tidak dikancingkan pada bagian atas.
"Apakah dokter di sini selalu berpakaian seksi?" pikir Anna duduk di samping Hans.
"Hans, kemarilah aku akan melihat luka kamu." Iyana menarik tangan Hans menuju kamar pemeriksaan.
"Anna kemarilah!" ajak Hans.
"Nona Anna di situ saja, saya hanya sebentar." Iyana tersenyum.
"Pergilah Hans, aku akan menunggu di sini." Anna tersenyum.
Hans mengikuti Iyana dan duduk di atas tempat tidur pasien.
Iyana tersenyum puas, akhirnya ia bisa berdua dengan Hans.
"Hans, kapan kamu menikah?" tanya Iyana lembut.
"Sekitar dua bulan." jawab Hans singkat.
__ADS_1
Wajah Iyana begitu dekat dengan Hans ketika ia membukakan perban di tangan Hans.
"Apakah kamu mencintai Anna?" tanya Iyana.
"Aku sangat mencintainya." Hans melihat Anna dari celah gorden yang sedang menggambar di atas kertas.
Iyana menatap Hans sangat dekat, ia sangat ingin mencium Hans.
"Bagaimana dengan lukaku?" tanya Hans membuyarkan lamunan Iyana.
"Kamu sudah sembuh." Iyana tersenyum.
Hans turun dari tempat tidur, ia berusaha menghindari Iyana.
"Hans, aku belum selesai." Iyana menarik tangan Hans.
"Apa lagi, bukankah lukaku sudah sembuh?" Hans menatap tajam kepada Iyana.
"Hans, bisakah kamu memberikan ciuman perpisahan untuk diriku?" Iyana mendekatkan wajahnya pada wajah Hans.
Ia berharap Hans akan menciumnya dan Iyana siap menarik gorden agar Anna bisa melihat mereka yang sedang berciuman.
"Maaf Iyana, ciuman ku hanya untuk Anna." Hans keluar dari ruangan perawatan dan mencium bibir Anna.
"Eh, apa yang kamu lakukan?" Anna terkejut dan mengusap bibirnya.
Iyana semakin kesal melihat kelakuan Hans yang seakan sengaja membuat dirinya sakit hati.
Ia yang meminta ciuman Hans tetapi Hans langsung mencium Anna yang bahkan tidak memintanya.
"Aku menginginkan ciuman kamu, apa tidak boleh?" Hans melirik Iyana.
"Tentu saja boleh, tetapi tidak di sini Sayang." Anna tersenyum malu.
"Maaf Dokter, bagaimana luka Hans?" tanya Anna.
"Lukanya sudah sembuh, kamu hanya perlu mengoleskan salep untuk menghilangkan bekas luka," jelas Iyana memaksakan diri untuk tersenyum.
"Terimakasih Dokter, kamu permisi." Anna tersenyum dan berjabat tangan dengan Iyana.
Hans tidak mengatakan sepatah kata pun, ia segera menarik tangan Anna dan keluar dari ruangan Iyana.
"Hans, kamu tidak bersalaman dengan dokter Iyana?" Anna bingung.
"Dia meminta aku untuk menciumnya." Hans menatap tajam ke arah Anna.
"Apa kamu menciumnya?" tanya Anna.
Hans menarik tubuh Anna dan kembali mencium bibir Anna tidak ingin melepaskan hingga Anna kesulitan bernapas.
Iyana dapat melihat itu dari balik pintu kaca ruangannya.
Iyana semakin kesal, ia mengepalkan tangannya.
"Kenapa Hans, kenapa kamu melakukan itu untuk menyakiti hati ku?" Iyana melihat Hans penuh kebencian.
"Hans, tidak bisakah kamu menunggu sampai di kamar?" Anna mengusap bibirnya.
"Baiklah, kita kembali ke hotel sekarang." Hans menarik tangan Anna.
"Hari ini jadwal kita jalan-jalan di kota." Anna protes.
"Tidak jadi." ucap Hans.
"Hans kamu sudah janji." Anna menarik tangan dan menghentikan langkah kakinya.
wajahnya cemberut seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Baiklah Sayangku." Hans mencubit hidung Anna dan berjalan bergandengan menuju parkiran, mereka akan pergi ke pusat kota Jepang.
****
Semoga Suka 💓 Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan 🤗
Mohon dukungannya dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih
Baca juga "Cinta Untuk Dokter Nisa" dan Cinta Bersemi di Ujung Musim" dan Nyanyian Takdir Aisyah 🤗
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
__ADS_1