
Ruang Keluarga Rumah utama Hans.
Papa, Mama dan Veronika menunggu kedatangan Hans.
Hans berjalan perlahan memasuki ruangan, dan melihat tiga orang menunggu dirinya.
Berdiri terdiam memandang Papa dan Mama dari ujung pintu.
"Kemarilah Hans." sapa Tuan Roberto.
Hans berjalan perlahan menuju Papa dan duduk jauh dari Mama dan Veronika.
"Hans, kemarilah." sapa Mama.
"Aku disini saja." ucap Hans melirik Veronika yang memasang wajah sedihnya.
"Hans, kapan kamu akan menikah? usia kamu sudah 35 tahun." tanya Papa.
"Secepatnya." tegas Hans dan beranjak dari kursi.
"Tunggu Hans!" sapa Papa menghentikan langkah kaki Hans.
"Kamu akan menikah dengan Veronika." tegas Papa.
"Hahaha." Hans tertawa, ia menatap tajam pada Veronika.
"Aku tidak akan pernah menikahi saudara ku sendiri." tegas Hans.
"Veronika bukan adik kandung kamu." ucap Mama yang telah berdiri.
"Aku mencintaimu." ucap Veronika memelas.
"Hans, kamu tidak pernah dekat dengan wanita manapun, bagaimana kamu bisa memiliki istri?" tegas Papa.
"Aku akan menikah secepatnya dengan wanita yang aku cintai." tegas Hans.
"Baiklah, jika dalam waktu dekat kamu tidak segera menikah dengan wanita pilihan kamu berarti kamu akan menikah dengan Veronika." tegas Papa.
"Papa Hans harus menikah dengan Veronika segera." ucap Mama memeluk Veronika yang telah menangis.
"Ma, Hans berhak menentukan pilihannya." tegas Papa.
Hans berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, ia harus mempersiapkan pernikahan dengan Anna tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Rencana Hans adalah melakukan pernikahan sah secara hukum.
Veronika berlari mengejar Hans yang sedang membuka pakaiannya.
Hans telah bertelanjang dada, ia memilih pakaian yang akan ia bawa ke rumah barunya.
"Hans, jangan tinggalkan Aku, aku mau bersama dirimu selamanya." Veronika memeluk Hans dari belakang dan mencium punggung Hans.
"Veronika, lepaskan!" Hans menahan emosinya, ia tidak mau berbuat kasar Kepada Veronika.
Jari - jari lentik Veronika, menyusup ke dalam celana Hans, menyentuh bagian paling sensitif.
Tubuh Hans bergetar, Hans menarik kasar tangan dan mendorong tubuh Veronika ke tempat tidur.
"Apa kamu sudah gila?" bentak Hans.
Adik kecil Hans telah berdiri dan siap menyerang.
Hans mengambil kemejanya dan keluar dari kamar meninggalkan Veronika yang berharap disentuh oleh Hans.
Keluar dari kamar dengan bertelanjang dada, membuat heran Papa dan Mama.
"Hans kenapa kamu tidak berpakaian?" tanya Mama.
"Mama mau aku menikah dengan wanita yang tidak tahu malu masuk ke dalam kamar pria dewasa yang sedang berganti pakaian dan berusaha menggodaku." ucap Hans kesal dan berjalan keluar menuju garasi mobil.
Papa dan Mama melihat Veronika turun dari tangga kamar Hans.
"Itu adalah pilihan kamu, apa kamu tidak mengenal Hans?" tanya Papa meninggalkan Mama sendirian di ruang tengah.
Mama Hans terdiam, ia tidak menyangka Veronika akan melakukan perbuatan yang nekat untuk mendapatkan Hans, bahkan ketika ada mereka di rumah.
"Ma, Maafkan Veronika." ucap Veronika sedih.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Mama kesal dan meninggalkan Veronika.
Hans melihat bagian depan mobilnya yang sedikit lecet karena ditabrak Andreas.
"Tuan, apakah mobil ini harus di bawa ke bengkel?" tanya seorang pengawal.
"Kenapa kamu tidak melakukannya dari kemarin?" tanya Hans dan baru mengancing bajunya.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu." pengawal menunduk.
"Perbaiki segera dan periksa semuanya!" perintah Hans yang segera masuk ke mobil sport miliknya.
"Oh Shit." Hans kesal dengan perbuatan Veronika yang telah membangunkan adik kecilnya.
"Ah, Aku bisa gila dekat wanita gila itu!" Hans menjalankan mobilnya dan menuju perusahaan, tanpa jas hanya menggunakan kemeja.
Mobil telah memasuki area parkiran khusus miliknya.
Hans berjalan menuju lobby perusahaan dan masuk ke dalam lift.
Semua karyawan terkejut dengan gaya santai Hans, kemeja putih bersih tanpa dasi dan jas dengan dua kancing terbuka.
Hans terlihat jauh lebih muda dengan rambutnya yang rambut acak-acakan.
Hans membuka pintu dengan kasar dan membantingnya, membuat Juanda terkejut.
"Ada apa bos?" Tanya Juanda.
"Wanita gila itu telah membangunkan adik kecilku." ucap Hans menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang.
"Haha." Juanda tertawa lepas sehingga mendapatkan tatapan tajam dari Hans.
"Ups" Juanda menutup mulutnya.
"Bagaimana persiapan pernikahan aku dan Anna?" tanya Hans.
"Aku menunggu berkas yang ada di Jenifer," ucap Juanda.
__ADS_1
"Cepatlah, Antarkan semua berkas ke kantor catatan pernikahan!" perintah Hans.
"Kenapa, apa adik kecil kamu sudah tidak tahan lagi?" tanya Juanda menahan tawa.
"Ya, aku sudah tidak tahan lagi." Hans menatap tajam ke arah Juanda.
"Tenanglah, Aku sedang menunggu Jenifer." Juanda tersenyum.
"Aku tidak bisa tenang lagi, usiaku sudah 35 tahun dan selama itu aku menjauhi wanita." ucap Hans memejamkan matanya.
Terdengar ketukan dan pintu terbuka, Juanda beranjak dari kursi dan menuju Jenifer yang menunggu di depan pintu.
"Bagaimana keadaan Anna?" tanya Jenifer khawatir.
"Ssshhh, jangan pernah bertanya tentang Anna, ada banyak telinga disekitar kita." bisik Juanda.
"Baiklah." Jenifer menenangkan dirinya.
"Dia baik-baik saja, tenanglah." bisik Juanda.
Jenifer kembali ke ruangannya dan memikirkan Anna, ia sangat merindukan Anna.
"Bos, Aku ini berkas yang harus di atas ke kantor catatan pernikahan." Juanda menyerahkan berkas Kepada Hans.
"Anda hanya perlu tanda tangan akta pernikahan, secara hukum kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri." Juanda tersenyum puas.
"Semudah itu." Hans tidak yakin.
"Ah, Berikan kepadaku, aku akan mengurus semuanya." Juanda mengambil kembali berkas dari tangan Hans.
Juanda men-scan semua berkas Hans dan Anna dan mengirimkan melalui email.
Tidak butuh waktu lama, Juanda telah mendapatkan balasan dari para pekerja di kantor catatan pernikahan.
"Selesai, Besok kalian berdua datang ke kantor dan menandatangani akta pernikahan." jelas Juanda.
"Kami sudah sah menjadi suami istri?" tanya Hans.
"Ya, silahkan Bos berbulan madu." Juanda duduk di Sofa penuh bangga.
"Jika besok aku sudah sah menjadi suami Anna, kamu dan Jenifer akan mendapatkan bonus dan kenaikan gaji." Hans membuka lemari dan mencari jas miliknya.
"Yeeeee." Juanda meloncat kegirangan.
"Hey Bos, Mau kemana?" tanya Juanda heran.
"Menemui calon istriku." Hans tersenyum, rasanya sudah sangat merindukan Anna.
"Bos, hati - hati, Andreas selalu mengawasi dirimu." Juanda menatap Hans khawatir.
"Aku tahu, aku akan meminjam mobil karyawan perusahaan." Hans berjalan keluar dari ruangannya.
Juanda segera menghubungi beberapa pengawal untuk mengikuti Hans pada kawak aman.
Hans pergi ke rumah keluarga Yuna untuk meminjam mobil Yuna dan mengganti pakaian sederhana yang telah ia siapkan di dalam mobilnya.
Mobil berwarna hijau dengan harga standar dan termasuk mobil murahan bagi Hans.
Hans memacu mobil dengan kecepatan tinggi menuju pelabuhan nelayan.
Beberapa anak buah Hans yang selalu berjaga dan menyamar sebagai Nelayan mengantarkan Hans ke Villa di pulau.
***
Perahu nelayan telah merapat di pulau, Hans turun dan perahu nelayan segera kembali ke Desa Nelayan.
Hans berjalan pelan ditemani senyuman bahagia, ia akan memiliki Anna, wanita yang telah membuat ia jatuh cinta.
"Tuan Muda." Yuna terkejut melihat Hans yang telah berdiri di depan pintu.
"Ssshh, dimana Anna?" tanya Hans.
"Di kamar," Jawab Yuna pelan.
Hans berjalan pelan menaiki tangga kristal menuju kamar Anna.
Anda hanya menggunakan tank top dan hot pan sepaha duduk di atas tempat tidur dan memangku Laptopnya.
Pandangan Anna fokus pada layar monitor, ia begitu konsentrasi ketika sedang menggambar, dan tidak menyadari kedatangan Hans.
Hans berdiri di depan pintu menyenderkan tubuhnya pada dinding, memperhatikan Anna dengan senyuman tampannya.
"Ah, Ternyata kamu suka berpakaian seksi ketika berada di dalam kamar," Gumam Hans.
Ketika berada di luar Anna selalu menggunakan celana dan kemeja panjang.
Anna mengambil gelas jus buah segar yang berada di samping tempat tidur.
"Ah, habis." Anna meneguk jus hingga tandas, meletakkan kembali gelas ke meja dan melanjutkan aktivitasnya.
"Pantas saja kamu mudah diculik, tidak ada tidak ada penjagaan diri." Hans berjalan mendekati Anna dan duduk tepat di depan Anna.
"Ada apa Yuna?" tanya Anna tanpa melihat orang di depannya.
"Aku merindukan dirimu," jawab Hans mengejutkan Anna.
"Aaah." Anna berteriak dan meloncat dari tempat tidur dengan sigap Hans menangkap Laptop.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Anna kaget dan segera mengambil kaos oblong panjang hingga ke lutut.
Ia terlalu seksi dengan tank top sejari memperlihatkan bagian depan tubuhnya.
"Apa Aku seperti pencuri?" tanya Hans heran dengan reaksi Anna.
Yang ada dalam pikiran Hans adalah Anna akan meloncat ke pelukannya karena terlalu bahagia karena kedatangan Hans.
Namun, kenyataannya Anna meloncat jauh menghindari dirinya.
"Ah, maafkan aku, aku hanya terkejut." Anna kembali mendekati Hans.
Selalu berdua dengan Yuna, tentu saja suara seorang pria akan membuat Anna terkejut dan takut.
Hans melepaskan Laptop yang ia pegang ketika Anna meloncat.
"Mmm, kenapa kamu kembali, bukankah kamu baru saja dari sini?" tanya Anna pelan.
__ADS_1
"Aku merindukan dirimu." Hans menatap tajam pada Anna.
"Sebenarnya kamu mencintai aku atau tidak, apakah ini reaksi seorang wanita bertemu dengan kekasihnya?" Ada banyak pertanyaan di dalam kepala Hans.
"Ooh, apakah kamu sudah makan?" tanya Anna tersenyum.
"Kenapa dia tidak bertanya tentang pernikahan?" Hati Hans berbicara sendiri.
"Belum, bagaimana jika aku memakan dirimu?" ucap Hans kesal.
"Apa, haha, kamu lucu." Anna segera keluar kamar menuruni tangga menuju ruang makan.
"Apa, aku tidak mendapatkan pelukan dan ciuman." Hans menghamburkan semua bantal dan guling yang tersusun rapi.
"Kenapa dia tidak romantis atau manja pada diriku." Hans berbicara sendirian di dalam kamar.
Melihat Hans yang belum turun Anna kembali ke kamar dan terkejut melihat bantal guling yang telah ia rapikan kini berantakan.
"Apa yang terjadi?" tanya Anna mendekat.
"Aaaaa, ada lebah dan aku berusaha mengusirnya." Hans merapikan bantal dan guling.
"Benarkah?" Anna mengambil selimut dan melipatnya.
"Arrrrrggg, kenapa dia begitu menggemaskan?" tangan Hans menggenggam guling.
Anna menarik guling dari tangan Hans, dan ditahan oleh Hans.
"Berikan kepada ku!" Anna menarik guling dari tangan Hans.
Hans menarik guling sekuat tenaganya, hingga Anna jatuh dalam pelukannya.
"Aaah, lepaskan aku!" Anna berteriak.
"Diamlah, atau adik kecilku akan bangun!" Hans tersenyum.
Anna terdiam, ia tidak bergerak lagi, matanya menatap Hans penuh khawatir.
Hans memandang wajah Anna, meneliti setiap sudut dari mata hingga bibir.
Wajah cantik sempurna dengan keunikannya tersendiri.
Anna beranjak dari atas tubuh Hans dan berlari menuruni tangga.
"Aaah, tanpa disentuh saja adik kecilku tetap terbangun ketika bersama Anna." Hans mengusap kasar wajahnya dan segera turun menuju ruang makan.
Mereka makan siang bersama, tanpa ada yang berbicara, Yuna merasa tidak nyaman diantara sepasang kekasih.
Selesai makan siang Anna dan Hans berjalan berdua tepi pantai.
Mereka berdua hanya terdiam tanpa suara, tidak ada yang memulai. Anna yang biasanya tidak berhenti bicara kini menjadi diam seribu bahasa.
Hans bingung harus memulai dari mana, Oa ingin mengatakan tentang persiapan pernikahan, tetapi Hans berharap Anna menanyakan terlebih dahulu.
Anna meletakkan kedua tangannya di punggungnya, berjalan di samping Hans, rambut panjangnya tergerai indah.
Berjalan di tepi pantai tanpa alas kaki, angin laut menyentuh lembut rambut Anna.
"Anna," sapa Hans.
"Hmm," jawab Anna tersenyum.
"Besok kita akan menikah," ucap Hans menghentikan langkah kaki Anna dan menatap Hans.
"Mama Riana dan Jenifer telah mengurus berkas-berkas dirimu," jelas Hans.
"Apa kabar Mama dan Jenifer?" tanya Anna.
"Mereka baik, Anna kita hanya akan melakukan pernikahan secara hukum tanpa pesta." jelas Hans.
"Tidak apa," ucap Anna tersenyum.
"Setelah sah menjadi suami istri, kita bisa melangsungkan pernikahan yang mewah dan meriah, aku akan mengumumkan pada Dunia tentang pernikahan kita." Hans memegang bahu Anna.
"Aku hanya mau kamu selalu melindungi diriku." Anna tersenyum.
Hans memeluk Anna, memberikan kenyamanan dan ketenangan.
"Anna Aku sangat mencintai dirimu, Aku merindukanmu setiap waktu." Hans berbisik di telinga Anna.
Anna hanya terdiam, ia tidak tahu apa yang ia rasakan kepada Hans, tetapi rasa yang lebih nyaman di bandingkan dengan Andreas.
Ketikan bersama Andreas, Anna merasa takut, sentuhan Andreas penuh dengan paksaan.
Anna merasa Andreas hanya ingin menjadikan dia sebagai boneka pajangan yang di simpan di tempat tidur.
Berbeda dengan ketika ia bersama Hans, ada kehangatan yang melindungi.
Hans tidak pernah memaksa Anna untuk melakukan sesuatu yang tidak Anna inginkan.
Sikap menghargai dan menghormati selalu Hans tunjukkan kepada Anna.
Anna hampir saja benar-benar jatuh cinta kepada Hans tetapi kedatangan Veronika membuat Anna takut untuk jatuh cinta.
Kisah cinta Mama Riana yang sangat tragis hingga dirinya harus dibesarkan oleh Kakek dan Nenek.
Walaupun Anna tidak kekurangan kasih sayang, tetapi tentunya tidak sama.
"Hans, maafkan aku." ucap Anna lembut.
"Untuk apa?" Hans melepaskan pelukannya dan menatap mata Anna
"Aku telah kehilangan rasa cinta." Anna terlihat sedih.
"Kamu bisa belajar mencintai diriku dari awal, aku akan menunggumu." Hans kembali memeluk Anna.
Air mata Anna mengalir, ia merasa telah memanfaatkan Hans untuk terhindar dari Andreas.
"Aku berharap, akan jatuh cinta lagi pada dirimu." Anna berbicara dalam hatinya.
****
Mohon dukungan dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih 🤗
Baca juga Cinta Untuk Dokter Nisa dan Nyanyian Takdir Aisyah"
__ADS_1
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You All 💓 Thanks for Reading ♥️