
Anna menggandeng tangan Mamanya, hati Anna berdetak tak karuan, ia bingung harus bahagia atau sedih, Hendrick adalah Papanya dan Papa dari Hengky, seorang yang selalu dekat dengan adalah kakaknya, yang selalu menyatakan cintanya setiap bertemu.
Mereka telah berada di parkiran, Anna dan Riana menuju mobilnya.
" Kita satu mobil saja " ucap Hendrick
Anna melihat Mamanya, ia tahu masih ada cinta diantara keduanya.
" Mama pasti merindukan Papa " pikir Anna
" Ayo Ma, kita ikut mobil Om Hendrick " ucap Anna
" Papa, sayang ", Hendrick tersenyum bahagia, sangat bahagia, wanita yang dia cintai memberikan seorang putri yang sangat cantik.
Hendrick membuka pintu penumpang di samping sopir untuk Riana.
" Masuklah Ma" Anna meminta Mama menuruti Papanya duduk di kursi bagian depan. Anna berjalan dan membuka pintu bagian belakang untuk dirinya.
Hendrick melajukan kendaraannya menuju sebuah kafe berada di ujung jalan tempat para pekerja beristirahat melepaskan lelah.
Sebuah kafe di tepi pantai dengan pemandangan yang sangat indah, dapat melihat Matahari terbit di pagi hari dan Matahari terbenam ketika sore hari.
Ini adalah tempat Hendrick dan Riana menghabiskan waktu sepulang sekolah dan kuliah,
Mereka hanya bertemu di sekolah dan di kampus, Riana dilarang pacaran, jadi mereka berpacaran diam - diam, Hendrick Selalu mengantar Riana sampai di Halte sehingga Hendrick tidak pernah tahu rumah Riana.
Riana melarang Hendrick kerumahnya, pria yang baik itu selalu menuruti kemauan Riana, perhatian dan kasih sayangnya membuat banyak orang iri.
Riana wanita cerdas namun hidup dalam kesederhanaan dicintai oleh seorang Hendrick pria tampan dan kaya sejak lahir.
Hendrick selalu membelikan Riana barang - barang mewah, kemana saja selalu berdua.
Bahkan tidak ada orang ketiga yang berhasil memisahkan mereka kecuali orang tua Hendrick.
Hendrick memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
Riana terdiam menatap kafe tempat favorit mereka berdua. Anna telah keluar dari mobil, ia melihat Papa dan Mamanya, masih di dalam.
" Mereka butuh waktu " pikir Anna berjalan mengambil kursi tak jauh dari mobil Hendrick.
" Riana, aku selalu mencintaimu, selalu merindukan dirimu dan selalu menunggumu" Hendrick memegang tangan Riana dan menciumnya.
Riana terdiam ia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Ia sangat merindukan pria di depannya, pria yang sangat memanjakan, pria yang sangat mengerti dirinya, satu - satunya pria yang ia cintai seumur hidupnya.
Riana menoleh menatap wajah tampan Hendrick yang seakan tidak pudar oleh usianya.
Mereka saling tatap, tidak ada yang bisa menahan rasa rindu yang begitu dalam diantara dua insan yang saling mencintai.
Mereka adalah pasangan suami-istri yang sah, Hendrick menarik tubuh Riana dan melumat bibir Riana.
Riana tidak menolak, kerinduan 25 tahun terpendam di dalam hati dan jiwa akhirnya terlepaskan.
Hendrick tidak pernah menyentuh Lusiana setelah ia di jebak, dan Riana tidak pernah di sentuh pria selain Hendrick. Mereka hanyut dalam sentuhan kehangatan yang sangat dirindukan.Kesetiaan luar biasa di antara mereka selalu terjaga.
Anna mulai gelisah, ia merasa Papa dan Mamanya terlalu lama di dalam mobil dengan mesin yang masih menyala karena mereka membutuhkan pendingin.
Anna melangkah kaki mau mendekati mobil, dan langkahnya terhenti, ia dapat melihat jelas adegan romantis Papa dan Mamanya dari balik kaca bagian depan mobil.
Anna kembali ke tempat duduknya, kakinya lemas, Anna belum pernah berciuman, dia tidak suka menonton bahkan tidak punya waktu untuk menonton, waktunya di habiskan untuk belajar dan mendesain gedung, rumah dan bangunan untuk ikut dalam berbagai kompetisi.
Jantung Anna berdetak tidak beraturan, ia segera masuk ke kafe meninggalkan Mama dan Papanya yang sedang melepas rindu dan telah lupa keberadaan putri mereka.
Anna memilih meja dan memesan minuman, dari tempat duduknya ia melihat mobil Papanya namun adegan mesra tidak terlihat karena terlalu jauh dan pantulan kaca mobil.
" Orang yang Jatuh cinta dalam Rindu ternyata benar merasa Dunia hanya milik berdua " Anna berbicara sendiri, sebagai wanita dewasa yang cerdas tentu Anna mengerti teori itu walaupun belum pernah merasakan langsung.
" Dilema Jomblo" pikir Anna tersenyum pada dirinya sendiri.
" Hallo Nona cantik, boleh saya gabung?" suara seorang pria mengejutkan Anna.
" Andreas apa yang kamu lakukan disini?" tanya Anna
" Kamu tidak akan percaya hari ini aku membuntuti kamu" Andreas menarik kursi dan duduk di depan Anna.
__ADS_1
" Maksud kamu?" Anna bingung
" Aku menghabiskan waktu untuk mengikuti wanita yang kucintai " Andreas melirik Anna yang menatapnya
" Baiklah jangan menatapku seperti itu " Andreas menutup wajah Anna dengan buku menu.
Anna hanya berpikir apa Andreas juga melihat apa yang dia lihat didalam Mobil.
" Hei jangan Marah" Andreas merasa ngeri dengan tatapan penuh selidik dari mata Anna.
" Dengarkan, aku mengikuti kamu dari proyek, menunggu kamu di depan rumah, melihat kamu shoping, hingga ikut masuk restoran, dan sampai kemari" jelas Andreas yang berpikir Anna menatapnya karena butuh penjelasan.
" Anna, berbicaralah" Anna masih diam kalut dan pikirannya.
"Anna" Andreas mencubit pipi Anna
" Aw sakit " Anna tersadar dari lamunannya.
" Aku berbicara panjang lebar dan kam hanya mendiamkan diriku, Oh Anna berapa banyak hati pria yang telah kamu hancurkan " Andreas kesal, ia sudah sangat lelah mengikuti Anna sepanjang hari.
" Aku tidak pernah menghancurkan hari pria " ucap Anna
" Benarkah?" tanya Andreas bersemangat
" Mmm" Anna mengangguk kepalanya
" Berarti kamu tidak akan menghancurkan hatiku" tegas Andreas
" Tentu saja" jawab Anna santai, seorang pelayan mendekati meja membawa pesanan Anna.
" terimakasih" Anna menerima pesanannya.
" Kamu tidak pesan minuman?" tanya Anna yang telah menyendok jus buah miliknya.
" Anna, jadilah kekasihku" tegas Andreas
Anna menghentikan aktivitasnya, ia melihat Andreas.
" Tahun ini hidupku di penuhi bunga cinta" suara hati Anna
Anna melirik mobil Hendrick, dan melihat Andreas.
" Tunggu dulu, berdasarkan isu yang aku dengar kamu punya banyak pacar" Anna menatap Andreas dengan mata indahnya.
" Aku tidak pernah pacaran mereka hanya mainan " Ucap Andreas.
" Iw, kamu bermain dengan banyak wanita, sudah tidak steril " Anna tertawa
" Hei aku masih bersih , aku tidak pernah menyentuh mereka, aku hanya membantu keuangan mereka"
" Benarkah "
" iya "
" Aku tidak perduli" Anna tertawa
Andreas kesal Anna tidak pernah serius ketika berbicara di luar pekerjaan.
***
Dua insan Dewasa yang larut dalam kerinduan masih berada di dalam mobil.
" Bisakah kita pergi sekarang" ucap Hendrick mengatur nafasnya.
" Anna " mulut Riana masih berdekatan dengan Hendrick hingga bisa merasakan hangatnya hembusan nafas mereka.
" kirimlah pesan aku akan meminta Hengky menjemput Anna" Hendrick melepaskan tangannya dari leher Riana agar Riana bisa leluasa bergerak.
Riana segera mengambil ponsel dari tasnya dan mengirimkan Anna pesan.
" Sayang, apa Mama boleh pergi dengan Papa Hendrick?"
" Tentu saja Ma "
" Hengky akan menjemputmu"
__ADS_1
" Tak apa, Anna bertemu teman di sini, ia akan mengantar Anna "
" Terimakasih sayang, jaga diri love you"
" Love you too, Ma"
Pesan berakhir, Hendrick segera memutar mobilnya meninggalkan kafe penuh dengan semangat, Anna dapat melihat kepergian mobil dari tempat duduknya.
" Kamu melihat siapa?" tanya Andreas menahan kesal akan sikap Anna yang tidak peka.
" Mama ku " jawab Anna singkat dan menarik nafas panjang ketika mobil Hendrick sudah tidak terlihat.
" Andreas maukah kamu mengantarkan aku kembali ke mall tadi ?" Tanya Anna
" Tentu saja, tapi aku haus, bisakah aku minum atau makan sesuatu, aku kehausan dan kelaparan mengikuti kamu" Andreas memelas ia hanya ingin menambah waktu untuk kebersamaannya dengan Anna.
" Apakah aku menyuruh kamu melakukan semua itu?" Anna melambaikan tangannya kepada pelayan untuk memesan menu lagi.
Andreas tertawa, ia senang dengan sikap Anna yang kadang terlalu jujur ketika berbicara, Anna selalu menjadi dirinya sendiri.
Sikap dan tingkah lakunya Tidak pernah dibuat - buat, itu adalah salah satu daya tarik Anna selain kecantikan dan kecerdasannya.
Anna juga bukan wanita genit yang suka menggoda, ia sangat cuek dengan lawan jenis, ia hanya berinteraksi dengan rekan kerja dan teman saja.
Pesanan telah tersedia di atas meja, Anna terkejut, Andreas memesan banyak makanan.
" Apakah kamu benar-benar lapar?" tanya Anna
" Tentu saja, aku terus memperhatikan dirimu tanpa berkedip Karena Takut kehilangan dirimu sehingga aku lupa makan dan minum" Alasan Andreas ia hanya ingin berlama-lama dengan Anna di kafe.
" Makanlah, hari sudah hampir sore" Anna menyenderkan tubuhnya ke kursi, ia melihat ponselnya.
" Anna bantu aku makan?" Andreas memelas.
" Kalau kamu lapar, habiskan semua makanan jangan ada sisanya " Anna tersenyum
Terdengar nada dering panggilan dari ponsel Anna. Terlihat nama Hengky muncul di layar ponsel. Anna segera menerima panggilan.
" Hallo"
" Anna kamu dimana, apakah masih di kafe?"
" ya "
" Tunggulah di sana aku akan menjemputmu"
" Tidak usah,aku bersama Andreas, kami akan pulang bersama "
Panggilan terputus.
" Apakah Hengky sudah tahu jika kami saudara ?" Anna berbicara dalam hatinya dan menatap layar ponselnya.
" Siapa ?" tanya Andreas
" Hengky" jawab Anna singkat
" Siapa Hengky?" Andreas menghentikan makannya.
" Teman satu kantor, makanlah atau aku akan meningkatkan dirimu" Anna meletakkan ponselnya ke dalam tas punggung miliknya.
" tidak ada taksi di sini" Ucap Andreas santai
" Anda benar tapi Hengky bisa datang kemari" Anna tersenyum
" Oh tidak, wanita ini mengancam ku" Andreas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Anna tertawa
**********************************************
โฅ๏ธThanks for Reading ๐ค
Jangan lupa Tinggalkan Like dan komentar setiap selesai membaca sebagai PENYEMANGAT AUTHOR ๐
Terimakasih ๐ Love You Readers ๐
__ADS_1