
Setelah makan malam Hans dan Anna berjalan di pinggir pantai.
Melihat Anna berjalan tanpa alas kaki Hans ikut melepaskan sepatunya.
Hans membuka semua kancing kemeja, sehingga terlihat kaos dalam tanpa lengan.
Pantai terlihat Ramai ada banyak pasangan bulan madu.
Mereka berciuman dan berpelukan di pinggir pantai, berdiri, duduk bahkan berbaring di pasir.
Anna dan Hans hanya berjalan tanpa berbicara. Hans tersenyum melihat pasangan pengantin baru yang bermesraan, ia berharap Anna akan tergoda.
"Iih kenapa semuanya berciuman?" Anna berjalan menuju tepian pantai dan bermain dengan air.
Gaun birunya melambai-lambai bersama rambut panjang dan indah.
"Aku tidak menahan lagi." pikir Hans mendekati Anna dan memeluk dari belakang.
Anna terdiam, ia tidak tahu harus melakukan apa.
Hans meletakkan dagunya di atas pundak dan mencium leher Anna.
Bulu kuduk Anna begidig merinding, ia merasa aliran darahnya berhenti seketika.
Anna mengepalkan tangannya menahan gejolak yang Hans ciptakan.
"Hans." Anna melepaskan tangan Hans dari pinggangnya dan memutar tubuhnya menghadap Hans.
"Kenapa?" tanya Hans menatap tajam pada Anna.
"Sampai kapan kamu akan menyiksaku Anna?" gumam Hans dalam hati.
"Aku malu dilihat orang." ucap Anna pelan.
"Siapa yang akan melihat kita?" Hans memutar tubuh Anna agar melihat sekeliling.
Semuanya berpasangan dan sedang bermesraan, seakan dunia hanya milik berdua.
Hans memutar kembali tubuh Anna menghadap dirinya.
"Apa kamu akan terus menyiksa diriku dengan godaan yang kamu berikan setia detiknya?" Hans memegang lengan Anna.
"Maafkan aku." ucap Anna.
"Aku tidak akan memaksa dirimu, sebaiknya kita kembali ke kamar dan tidur." Hans berusaha tersenyum dan menggenggam tangan Anna untuk kembali ke kamar.
Anna tidak ikut melangkah hingga Hans menoleh ke belakang.
"Tidak usah takut Aku tidak akan memaksa dirimu melakukannya." Ucap Hans menarik tangan Anna untuk berjalan tetapi Anna masih membeku di tempatnya berdiri.
Anna benar-benar merasa bersalah kepada Hans.
"Kenapa?" Hans tersenyum mendekatkan wajahnya kepada Anna yang menatap Hans.
"Maafkan aku." ucap Anna lagi.
"Aku tidak marah, aku akan menunggu sampai kamu memberikannya kepada ku." Hans mencubit hidung mancung Anna.
Anna melangkahkan kakinya perlahan, mendapatkan hidung mereka berdua.
"Bagaimana jika kita berciuman saja?" Hans dapat merasakan hangatnya napas Anna yang begitu menggoda.
Hans tersenyum, ia tidak akan melewati kesempatan yang Anna berikan.
Hans menaruh tangan Anna di lehernya dan tangan Hans di leher Anna.
"Jangan lupa bernapas." bisik Hans dan menunggu Anna bereaksi untuk mencium dirinya.
Anna hanya menempelkan bibirnya pada bibir Hans yang tersenyum menampilkan gigi rapi dan putih.
"Kamu harus banyak belajar." ucap Hans.
"Apa berciuman juga harus belajar?" Anna mundur dan menatap Hans.
"Tentu saja." Hans menarik pinggang Anna dan mencium bibir seksi dan merah.
Berciuman di tepi pantai, dengan deburan ombak kecil, di bawah langit biru bertabur bintang.
Mereka memejamkan matanya menikmati ciuman pertama yang di lakukan dengan saling berbalas penuh hasrat.
"Ah, Aku tidak akan melepaskan bibir yang telah kamu serahkan kepadaku." gumam Hans dalam hati.
Bermain dengan lidah dan gigi, melupakan waktu, ciuman pasangan suami istri yang tidak pernah berpacaran sungguh nikmat dan bernafsu.
Satu tangan Hans di pinggang Anna menahan tekanan yang ia berikan dan satu lagi berada di leher belakang mendekati kepala Anna.
Anna melingkarkan kedua tangannya di leher Hans, Ciuman yang begitu lembut dan hangat dari Hans berbeda dengan Andreas yang melakukan begitu bersemangat dan memaksa.
__ADS_1
Hans melepaskan ciuman di bibir Anna dan memindahkan ke leher Anna memberikan tanda kepemilikan.
"Iih geli." Anna mendorong tubuh Hans membuat Hans kehilangan keseimbangan karena tidak siap hingga mereka berdua jatuh ke pasir.
"Aaah." Hans hampir menimpa Anna dengan sikap Hans memutar tubuhnya hingga Anna berada di atas Hans.
Hans tertawa terbahak-bahak melihat Anna yang refleks berteriak dan mendorong tubuhnya.
"Hey, kenapa kamu tertawa semua orang melihat kita." Anna menutup mulut Hans dengan tangan lembutnya.
Hans menarik tangan Anna dan memasukan jari Anna ke dalam mulut dan menghisapnya.
"Hans kamu jorok banget." Anna menarik jarinya dan mengelap di kemeja Hans.
"Ya Tuhan, benar-benar tidak Romantis." Hans menepuk dahinya dan tersenyum.
"Apa?" Anna masih berada di atas Hans.
"Aku sudah kedinginan Sayang, pasir ini basah." ucap Hans menahan kesal dan lucu.
"Ah, maafkan aku." Anna beranjak dari tubuh Hans dan berdiri.
"Sebaiknya kita kembali ke kamar dan mengganti pakaian, aku sangat mengantuk." ucap Anna berjalan meninggalkan Hans.
Hans masih berbaring di atas pasir, ia mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hans, kenapa kamu masih di situ?" Anna melihat Hans.
"Aku akan menyusul." Hans beranjak dari pasir dan berlari menyusul Anna, ia menggenggam tangan Anna dan berjalan bersama kembali ke kamar.
"Hans sepatu kita." ucap Anna.
"Tunggulah di sini, aku akan mengambilnya." Hans berjalan menuju tempat makan untuk mengambil sepatu mereka.
Hans berlari mendekati Anna yang tersenyum manis.
Mereka kembali melanjutkan langkah kaki menuju kamar.
Hans membuka pintu, meletakkan sepatu pada tempatnya dan menutup semua jendela dan tirai.
Anna menutup dan mengunci pintu, ia berjalan menuju lemari mengambil handuk dan pakaian tidur.
"Hans, Apa Kamu tidak menyiapkan pakaian tidur untukku?" Anna membuka semua pintu lemari dan koper.
"Benarkah?" Hans pura-pura tidak tahu, karena ia hanya menyiapkan dress seksi untuk Anna, itupun Lingerie yang ia beli tidak ia bawa takut Anna marah.
"Hans,Tidak ada piyama semuanya hanya dress." ucap Anna.
"Kamu mau kemana?" tanya Anna melihat wajah jutek Hans.
"Mandi." Hans tersenyum.
"Senyuman kamu jelek." ucap Anna kembali mencari pakaian yang akan ia pakai untuk tidur.
"Tentu saja jelek, karena kamu terus menggoda ku tetapi menghentikan di tengah jalan." Hans menggerutu di dalam kamar mandi.
"Hah, adik kecil ku hanya bisa bangun dan tidur lagi tanpa makan." Hans melihat adik kecilnya.
"Hans, apa kamu sudah selesai?" Anna mengetuk pintu.
"Apa kamu mau mandi bersama?" goda Hans dari dalam kamar mandi.
"Ah, selesaikan saja mandi kamu aku akan menunggu." ucap Anna kembali ke tempat tidur.
"Apa yang akan aku pakai, kenapa semuanya dress, pada hal Hans tahu aku suka menggunakan celana." Anna duduk di depan cermin.
"Aah, aku harus keramas di malam hari, rambutku lengket dan terkena pasir." Anna membuka ikatan rambutnya.
Hans keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk, ia berdiri di belakang Anna.
Anna dapat melihat tubuh seksi berotot dari pantulan cermin.
"Aku sudah selesai." Hans tersenyum.
"Baiklah." Anna beranjak dari kursi memutar tubuhnya, Hans menahan tangan Anna.
"Ada apa?" tanya Anna.
"Apa kamu tidak mau menagih hutang?" tanya Hans tersenyum.
"Hutang? Hutang apa?" tanya Anna bingung.
"Membayar dengan yang sama yang telah aku lihat hari ini." Hans meletakkan tangan Anna di dadanya dan menarik ke bawah.
"Ah, tidak usah, kamu tidak perlu membayarnya." Anna tersenyum dan menarik tangannya, berjalan menuju kamar mandi.
"Berapa usia kamu Anna, 25 tahun itu sudah dewasa." Hans melihat pakaian yang telah tersedia di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Wow, dia menyiapkan pakaian ganti untuk diriku." Hans tersenyum bahagia.
Hal sekecil itu cukup membuat Hans senang.
Anna keluar dari kamar mandi, ia tidak perduli lagi dengan handuk yang pendek, Hans telah melihat semuanya.
Anna duduk di kursi meja rias, ia mengeringkan rambutnya.
"Biar aku yang lakukan." Hans mengambil handuk dari tangan Anna dan mengeringkan rambut Anna.
Anna menutup pahanya dengan handuk yang tadi digunakan Hans.
Hans mengeringkan rambut Anna dengan serius, Anna memperhatikan Hans dari pantulan cermin.
Ia tidak pernah mendapatkan perhatian yang Hans berikan kepada dirinya.
Pria itu adalah atasannya, Bosnya dan Pria dingin yang angkuh sedang mengeringkan rambut Anna, seorang bawahan dan masih junior di perusahaan Hans.
"Kenapa kamu memperhatikan diriku, apa Aku terlihat tampan." Hans tersenyum melihat wajah Anna yang merah.
"Aku tidak percaya seorang bos besar sedang mengeringkan rambut ku." Anna tersenyum.
"Benarkah, aku bahkan mau memandikan dirimu." ucap Hans berbisik di telinga Anna.
"Kurasa rambutku sudah kering." Anna mengambil handuk dari tangan Hans.
"Bibir mu masih basah, cup." Hans mengecup bibir Anna.
"Terimakasih, kamu sudah pandai mengambil kesempatan." Anna tersenyum kecut dan beranjak dari kursi.
Anna memakai dress berwarna putih polos, ia tidak menggunakan bra ketika tidur.
Hans memerhatikan tubuh padat berisi, dengan bagian depan berbentuk bulat sempurna belum tersentuh.
Anna duduk di tepi tempat tidur, merapikan bantal dan guling.
Hans merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang.
Anna menatap tidak tega kepada Hans, seorang Bos tidur di Sofa.
"Hans kemarilah." ucap Anna lembut.
"Tidak apa aku terbiasa tidur di sofa ketika lembur kerja." Hans memejamkan matanya seperti anak kecil yang sedang marah.
Anna berjalan mendekati Hans, dan menarik tangan Hans.
"Ayolah, aku tidak tega melihat seorang Bos besar tidur di Sofa." ucap Anna kesulitan menarik tangan kekar milik Hans.
Hans memicingkan matanya melihat Anna yang menggemaskan, menarik tangan Anna hingga jatuh di atas tubuhnya.
"Hans, jangan bercanda aku sudah sangat mengantuk." Anna mencubit pipi Hans dengan kedua tangannya.
"Aow." Hans mengunci tubuh Anna dengan tangannya.
"Wah, wajah kamu sudah berkerut, berapa umur kamu?" Anna memainkan jarinya di wajah Hans.
"Ya Tuhan, dia menghinaku." Hans cemburu.
"Kamu akan semakin terlihat tua jika cemberut." Anna menahan tawanya.
"Baiklah, aku adalah seorang bapak dengan anaknya." Hans melepaskan Anna dan beranjak dari sofa.
"Eh, dia marah." Anna tersenyum.
"Hans apa kamu marah?" suara manja Anna menarik tangan Hans.
"Tidak, aku memang sudah tua, kita berbeda sepuluh tahun." Hans tersenyum dengan menarik salah satu sudut bibirnya.
"Kamu masih terlihat muda, tampan, seksi dan menggoda." Anna tersenyum manis.
"Benarkah?" Hans mendekat dengan gaya menggoda.
"Oh no, aku menggali lubang sendiri." Anna tersenyum paksa.
"Sebaiknya kita tidur." Anna berlari naik ke tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Hans tersenyum gemas melihat tingkah Anna, ia berjalan mengikuti Anna dan naik ke tempat tidur.
"Aku juga sangat kuat." bisik Hans di telinga Anna dan memeluk dari belakang.
Anna memaksa memejamkan matanya hingga mereka benar-benar tertidur lelap.
******
Semoga Suka 💓
Mohon dukungannya dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih
__ADS_1
Baca juga " Cinta Bersemi di Ujung Musim"
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇