
Anna duduk di kursi dengan tenang, mereka akan kembali melakukan penerbangan menuju negara selanjutnya. Bulan madu keliling dunia.
Hans berjalan menuju tempat minuman dan mengambilkan untuk dirinya dan Anna.
"Hans duduklah!" ucap Anna.
"Tidak bisakah kamu memanggilku Sayang." Hans berjalan mendekati Anna dan duduk berdampingan.
"Aku akan belajar." ucap Anna mengambil minuman botol dari tangan Hans.
"Kenapa pesawat belum juga lepas landas?" Anna gelisah.
"Kami benar." Hans beranjak dari kursi dan membuka pintu.
Sebuah pistol dengan peredam suara berada tepat di kepala Hans yang dipegang seorang pria berseragam hitam.
Pilot dan co-pilot telah dibuat pingsan dan diikat di kursi mereka.
"Hans, Sayang." Anna beranjak dari kursi dan menyusul Hans.
"Nona Anna, sebaiknya Anda kembali duduk." perintah seorang pria.
"Hans." Anna terkejut memegang tangan Hans, seluruh tubuh Anna terasa lemas, ia ketakutan.
Anna memeluk tubuh Hans, membenamkan wajahnya di dada bidang Hans.
"Kamu membuat Anna takut." Hans memeluk Anna.
"Sebaiknya kalian kembali ke kursi, menunggu kedatangan tuan Andreas!" perintah pria itu.
Hans sangat mengkhawatirkan Anna, ia dapat merasakan tubuh Anna gemetar.
"Kemarilah." Hans membawa Anna kembali ke kursi.
"Hans, Aku takut." Anna mengeratkan pelukannya.
"Bisakah kamu melepaskan diriku sebentar." bisik Hans.
"Kenapa?" Anna menatap Hans.
"Kita harus berusaha melepaskan diri dari pria itu, Andreas akan membawa lebih banyak anak buah." bisik Hans dan Anna mengangguk.
Anna melepaskan pelukannya perlahan, tangannya masih gemetar.
"Bersembunyilah di kamar mandi, kunci pintu dan jangan pernah membukanya hingga kamu mendengarkan suara ku." ucap Hans pelan. Anna mengangguk dan berdiri.
"Anda mau kemana nona Anna?" tanya pria itu lembut.
"Aku mau ke kamar mandi." ucap Anna pelan.
"Silahkan Nona." pria itu bersikap sopan kepada Anna.
Hans melihat Anna sudah masuk ke dalam kamar mandi dekat kamar tidur.
Satu pria berdiri dekat Hans dan dua orang berjaga di pintu masuk, satu lagi berada di tangga pesawat.
Hans memiliki satu pistol kecil di saku bagian dalam jas miliknya.
Ia harus memperhitungkan sebelum bertindak, merobohkan satu orang didekatnya dan dua orang di depan pintu.
Hans tidak membawa banyak anak buah hanya mata - mata dan penyampai informasi.
Berbeda dengan Andreas yang bermain di dunia Mafia, ia memiliki banyak kenalan penjahat yang siap melakukan apa saja dengan bayaran yang mahal.
"Anda buka anak buah Andreas." Ucap Hans.
"Tentu saja, kami hanya pembunuh bayaran dan dilarang menyentuh Nona Anna." ucap pria itu.
"Berapa Andreas membayar kalian?" tanya Hans.
"Kami tidak berani melawan Tuan Andreas." tegas pria itu.
Hans menarik napas dan bersiap untuk bertarung.
Dengan sigap Hans menarik tangan pria berpakaian hitam memukul bagian belakang kepala tepat syaraf tidur.
Pria itu pingsan tidak sadarkan diri, Hans berpikir untuk menjatuhkan dua pria di depan pintu yang masih terbuka.
Mereka bersenjata, Hans tidak mau melukai orang tetapi jika terdesak Hans terpaksa melakukannya.
Senjata pria yang pingsan telah di ambil oleh Hans, ia berjalan mendekati dua orang yang berjaga di depan pintu.
Hans memukul bagian belakang salah satu pria dan menembak kaki pria satunya.
"Dor." pria yang tertembak menembak tangan Hans.
Hans mendorong dua pria hingga terguling jatuh ke tangga, dan menarik seorang pria yang masih pingsan, Hans lempar ke tangga, ia segera menutup pintu pesawat Jet.
Berjalan perlahan membuka ikatan pilot dan co-pilot.
__ADS_1
"Anda terluka Tuan Muda." ucap pilot.
"Segera lepas landas." tegas Hans menahan sakit pada lengannya.
Untungnya peluru tidak tepat sasaran hanya tergores peluru nyasar.
"Baik Tuan." Jawab pilot.
Hans berlari ke kamar mandi, untuk meminta Anna keluar dari kamar mandi.
"Anna, keluarlah." ucap Hans.
Perlahan Anna membuka pintu, wajahnya Anna terlihat pucat.
"Hans." Anna memeluk Hans.
"Tenanglah, semua baik-baik saja." Hans mengusap kepala Anna.
Hans menyentuh tangan Anna yang dingin bagaikan baru keluar dari ruangan pendingin.
"Kemarilah, kita harus duduk tenang, pesawat segera lepas landas." Hans menarik tangan Anna dan duduk di kursi mereka.
"Hans, kamu terluka." Anna menyentuh lengan Hans yang berdarah.
"Setelah kita berada di udara kamu bisa mengobati lukaku." Hans tersenyum dan mencubit dagu lancip Anna.
Hans memerhatikan wajah Anna yang terlihat sedih dan merasa bersalah.
"Kamu kenapa?" Hans mengusap pipi Anna.
Pesawat telah lepas landas dan meninggalkan lapangan terbang berada tenang di udara, bertemu dengan awan.
"Anna." Hans menyentuh dagu Anna.
Air mata mengalir membasahi pipi Anna, ia tidak berani menatap Hans.
"Hey, Sayang, Kenapa kamu menangis?" Hans mengusap air mata Anna.
"Bisakah kamu mengambil kotak obat." Hans mencium dahi Anna.
"Dimana?" tanya Anna.
"Di lemari di samping pintu ke kamar." jelas Hans.
Anna mengangguk dan beranjak dari kursi berjalan menuju tempat yang telah Hans jelaskan.
Hans membuka jas dan kemejanya dan hanya menggunakan kaos dalam tanpa lengan.
Dengan cekatan Anna membungkus lengan Hans dengan kain kasa, begitu rapi dan terlatih.
"Kamu seperti seorang perawat saja." Hans tersenyum.
"Aku hanya belajar melakukan sesuatu yang harus segera dilakukan pada luka." Anna tidak tersenyum.
Hans mengambil kotak obat dan meletakkan di lantai pesawat.
"Kamu kenapa, Apa kamu masih takut?" Hans menyentuh pipi Anna.
Anna menunduk dan diam, ia tidak mau melihat wajah Hans.
"Mana Annaku yang periang dan cerewet?" Hans mendekatkan wajahnya pada wajah Anna.
"Hans, semua ini karena diriku, kamu dalam bahaya dan terluka." Air mata Anna kembali mengalir.
"Aku mencintaimu, aku harus mempertahankan dirimu untuk terus bersama dengan ku." Hans mengusap lembut wajah Anna.
"Maafkan Aku." Anna kembali menunduk.
"Apa kamu mau aku memaafkan dirimu?" tanya Hans tersenyum menggoda dan Anna hanya mengangguk.
"Cium aku!" Hans menyentuh bibirnya.
Anna menatap wajah dan melihat bibir Hans, air mata masih mengalir membasahi pipinya.
Tangan Anna perlahan menyentuh leher Hans dengan lembut dan mendekatkan bibirnya pada bibir Hans.
Mencium lembut dan manis, Anna menutup matanya dan berusaha menikmati ciuman yang ia berikan.
Hans tersenyum hingga gigi mereka bertabrakan membuat Anna menghentikan ciumannya dan menjauhkan diri dari Hans.
Anna mengusap bibirnya dan menatap Hans.
"Jangan diusap!" Hans menahan tangan Anna dan tersenyum.
Hans meletakkan tangannya di leher Anna, mendekatkan wajah mereka.
Berciuman dengan mesra dan berhasrat, memejamkan mata menikmati indahnya bercinta dalam cinta.
Tidak ingin melepaskan, Anna dapat merasakan cinta diantara mereka, cinta yang pernah hilang karena terluka.
__ADS_1
Kini cinta itu kembali tumbuh karena kebesaran penuh kemesraan dan pengorbanan yang diberikan.
"Anna, Aku mencintai dirimu untuk pertama dan terakhir kalinya." bisik Hans melepaskan ciuman hangat.
"Jangan pernah tinggalkan aku!" Hans memegang kedua pipi Anna menatap ke lurus dalam mata Anna.
"Jangan tinggalkan aku." ucap Anna menatap Hans.
Hans tersenyum bahagia dan kembali mencium bibir Anna.
"Aku mencintaimu Anna." ucap Hans.
"Aku mencintaimu." ucap Anna dengan air mata kembali mengalir.
"Aku mohon jangan menangis lagi, kamu terlihat jelek." Hans tersenyum dan mengusap pipi basah Anna.
"Istirahatlah, perjalanan kita masih panjang." Hans menyenderkan tubuh Anna ke kursi.
"Apakah tangan kamu sakit?" tanya Anna lembut.
"Selama kamu berada di sisiku, aku tidak akan pernah merasa sakit." Hans mengusap kepala Anna.
"Tidurlah." Anna tersenyum dan memberikan ciuman sekilas di pipi kiri Hans.
"Sebelahnya." ucap Hans dan Anna mencium pipi kanan Hans.
Mereka berdua merebahkan tubuh di kursi dan memejamkan mata untuk beristirahat.
Pesawat masih berada di udara membawa sepasang kekasih yang saling mencintai.
Tidur dalam perasaan yang tidak tenang, karena harus mencari tempat yang tidak akan pernah di temukan oleh Andreas hingga Hans berhasil memikirkan cara mengehentikan Andreas.
****
Andreas tiba di Maldives dengan sangat Emosi ,ia melihat pesawat Hans yang telah terbang meninggalkan landasan.
Empat orang pembunuh bayaran yang dibayar oleh Andreas tergeletak di landasan dengan perasaan Takut.
"Apa kalian adalah penjahat kelas kakap atau penjahat dadakan?" Andreas mencekik leher pria yang menjadi pemimpin komplotan.
"Hanya seorang Hans kalian tidak bisa menangkapnya." bentak Andreas
Andreas menembak kaki pimpinan dengan pistol peredam suara.
Tidak ada ledakan, tidak ada bunyi sama sekali, pria itu terduduk di lantai landasan.
Darah mengalir membasahi celana panjang hitam miliknya.
"Aku hanya mau melihat Anna, dan itu tidak bisa kalian lakukan." bentak Andreas.
"Habisi mereka semua!" perintah Andreas kepada anak buahnya dan kembali menuju Jet pribadinya.
Andreas melemparkan pistol dari tangannya dan dengan sigap anak buahnya menangkapnya.
Beberapa bodyguard mengikuti Andreas, untuk siap sedia menjaganya.
Seorang pria komplotan pembunuh bayaran mengeluarkan pistol dari saku jasnya dan menembak Andreas.
Namun tembakan mendadak tanpa perhitungan hingga hanya mengenai bodyguard Andreas.
Seorang bodyguard tergeletak, pria itu langsung di tembak tetap di dadanya dari jarak dekat oleh anak buah Andreas.
Andreas menghentikan langkahnya dan kembali mendekati tiga orang pembunuh yang masih bernyawa.
"Tidak ku sangka kalian berani melawan the King of Andreas." Andreas tersenyum dan mengarahkan pistol kepada kepala seorang yang telah di tembak kakinya.
Tiga tembakan di kepala untuk tiga orang yang telah gagal menjalankan perintah Andreas.
Empat Mayat tergeletak di atas landasan pesawat terbang.
"Bersihkan semua kekacauan ini, jangan sampai tercium pihak berwajib." perintah Andreas.
"Baik Tuan." jawab anak buah Andreas.
Andreas berjalan kembali menuju pesawat Jet miliknya.
Duduk diam tanpa tujuan, ia tidak tahu kemana perginya Hans membawa Anna.
Andreas memijit batang hidungnya, duduk bersandar di kursi penumpang.
"Anna, Kenapa kamu tinggalkan aku?" gumam Andreas memejamkan matanya.
*****
Semoga Suka 💓
Mohon dukungannya dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih
Baca juga " Cinta Bersemi di Ujung Musim" dan Nyanyian Takdir Aisyah 🤗
__ADS_1
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You All 💓 Thanks for Reading 😊