Arsitek Cantik

Arsitek Cantik
Khawatir


__ADS_3

Anna merapikan meja kerjanya, Jenifer mendekati Anna.


"Selamat Anna" Ia memeluk Anna, kemudian Lilly juga ikut memeluk mereka bertiga berpelukan, Joe mendekat ingin ikut memeluk tapi mendapatkan pelototan dari Jenifer, sehingga Joe kembali duduk di kursinya.


Rena tidak ada di ruangan sejak Anna datang.


Setelah mereka melepaskan pelukan, Joe mendekat mengulurkan tangannya kepada Anna, "Selamat Anna" ucap Joe.


"terimakasih" Anna membalas.


"apa kamu akan pergi?" tanya Jenifer.


"tidak Bu bos, hanya saja untuk 3 bulan kedepan aku ngak akan dapat kerjaan" jawab Anna tersenyum.


"maksudnya?" tanya Lily.


"Proyek Pembangunan hotel akan mulai di kerjakan 3 bulan lagi" jawab Anna.


"kita tidak bisa bersama-sama lagi" Lily memeluk Anna kembali.


"tentu saja bisa, cuma bisa datang ke kantor seperti biasa, tapi ngak punya kerjaan" Anna mencubit pipi chubby Lily.


"iih, nanti hidungku merah" Lily mengusap hidungnya.


Mereka tertawa bersama.


"Aku akan pergi sekarang, aku harus ke rumah sakit" Anna mengambil tasnya dan akan keluar dari ruangan. Jenifer menarik tangan Anna.


"kenapa kamu ke rumah sakit" tanya Jenifer


"maafkan aku lupa memberitahu, Nenek sakit" Anna menepuk jidatnya, dan dapat tambahan pukulan dari Jenifer.


"Baiklah aku akan mengantarmu" Jenifer kembali ke ruangannya untuk mengambil tas dan kunci mobilnya.


"tapi nanti bos Hans marah" ucap Anna


"aku akan izin sama Juanda" Jenifer menarik tangan Anna dan berlalu pergi meninggalkan ruangan.


"Dah, Lily, dah Joe" Anna melambaikan tangannya dan berlalu mengikuti tarikan tangan Jenifer.


Rena mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu yang tidak di tutup, ia tidak berniat untuk masuk. Ketika Anna dan Jenifer keluar ruangan, Rena bersembunyi di balik tembok pembatas dinding.


Mereka berdua berjalan masuk lif dan menuju parkiran mobil, Jenifer sudah mengirimkan pesan kepada Juanda, ia mengatakan akan menemani Anna ke rumah sakit.


Anna dan Jenifer masuk ke dalam mobil dan Jenifer segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat nenek di rawat.


****


Juanda melaporkan bahwa Jenifer pergi ke rumah sakit bersama Anna.


"Bos, Jenifer izin pergi menemani Anna ke rumah sakit" ucap Juanda


"Juan, apa Anna tidak punya mobil?" tanya Hans.


"Tidak Bos, ia pergi bekerja dengan Jenifer, kadang naik taxi dan pernah dengan Hengky" jelas Juanda


"Hengky?" tanya Hans


"ia kepala divisi Senior" jawab Juanda singkat


"Hana harus segera membeli mobil" Hans berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil jas hitam lalu mengenakannya.


"ayo kerumah sakit" Hans keluar ruangan dan diikuti Juanda. Mereka masuk lift dan menuju ke tempat parkir. Mobil dengan sopir pribadi milik Hans melaju menuju rumah sakit.


Rena tahu Hans akan ke rumah sakit. Rena mengirim pesan kepada Henky dan memberi tahu bahwa nenek Anna dirawat di rumah sakit.

__ADS_1


Hengky melihat jam tangannya, sudah waktunya pulang, ia membalas pesan Rena dan bertanya alamat rumah sakit.


"mari kita berangkat bersama" Rena


"kamu bawa mobil" Hengky


"nanti ada yang mengambil" Rena


"baiklah" jawab Hengky


Ketika Hengky keluar dari ruangan, Rena sudah menunggu di depan pintu, tersenyum manja. Hengky membalas senyuman Rena.


Mereka berjalan masuk lift dan menuju parkiran. Rena dan Hengky masuk mobil, Hengky mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


"bagaimana kabar ayahmu" tanya Hengky


"ayah baik" Jawab Rena tersenyum.


"Syukurlah, aku sudah lama tidak bertemu dengan ayah mu" ucap Hengky tanpa menoleh ke arah Rena, ia tetap fokus pada stir mobil dan menatap lurus ke depan.


"jika, ayah mengundang kamu makan malam ,apa kamu akan datang" tanya Rena lagi dan menggeserkan tubuhnya lebih mendekat ke arah Hengky.


"tentu saja" jawab Hengky


****


Anna dan Jenifer telah sampai di rumah Sakit, mereka segera menuju ke ruang rawat Nenek. Anna membuka pintu perlahan, ia melihat tempat tidur nenek kosong bersih dan sudah rapi.


Dengan cepat Anna mendekati ranjang.


"Dimana nenek ku?" Anna kebingungan


"coba telpon nomor kakek?" Jenifer menepuk pundak Anna.


Tut Tut Tut, tidak ada yang menjawab panggilan Anna, ia mulai khawatir, ia ingat dokter yang merawat Nenek.


Anna segera berlari menuju ruangan Dokter Riduan, ia mengetuk perlahan dan membuka pintu. Seorang dokter duduk dan tersenyum.


"permisi Dok, " sapa Anna.


"silahkan masuk" dokter Riduan mempersilahkan Anna masuk.


"terimakasih Dok," Anna duduk di kursi depan dokter Riduan dan diikuti Jenifer


"maaf Dok, nenek saya di mana?" tanya Anna.


" Anda harus tentang, tubuh nenek semakin lemah karena tubuhnya sudah menolak makanan, bahkan hari ini air impuls saja tidak dapat di serap" jelas dokter Riduan


Anna tidak menjawab ia hanya terdiam, air matanya terus mengalir, Jenifer memeluk Anna.


"maaf dokter dimana nenek Anna dirawat" tanya Jenifer


"mari saya antar" dokter Riduan beranjak dari kursinya dan berjalan keluar.


"ayo Anna kamu mau ketemu Nenek" Jenifer memberi kekuatan kepada Anna dan membantu Anna untuk berjalan mengikuti dokter Riduan.


Mereka berjalan menuju ruang ICU, dari ujung koridor Anna bisa melihat kakek tertuduk sedih Duduk pada kursi tunggu di luar ruangan ICU.


Anna berlari dan memeluk kakeknya. Anna benar-benar merasa hancur melihat kakek dan neneknya. Ia menangis sesenggukan dalam pelukan kakeknya yang juga meneteskan air mata, menatap ke dalam ruangan berdinding kaca, nenek tak sadarkan diri. Jenifer ikut menangis melihat Anna yang biasa ceria kini terpuruk sedih. Dokter Riduan meninggalkan mereka kembali ke ruangannya.


Jenifer mendekati Anna yang tak bisa melepaskan pelukan kakeknya.


"Anna kakek pasti lelah" Jenifer mengusap punggung Anna, membuat Anna sadar ia telah membuat Kakek berdiri begitu lama. Anna segera mengajak kakek duduk di kursi, mereka saling menghapus air mata yang terus mengalir. Jenifer duduk di samping kakek.


"apa kabar kakek" Jenifer mengulurkan tangannya dan disambut Kakek dengan senyuman tanpa jawaban. Kakek merasa ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menjawab pertanyaan Jenifer yang dapat dimengerti oleh Jenifer.

__ADS_1


Jenifer meninggalkan Anna dan kakek, ia tahu Anna belum makan dan pasti Kakek juga sama. Jenifer pergi membeli makanan di kantin, ia berjalan menuju lantai bawah dan bertemu dengan Hans dan Juanda.


"Tuan Hans" Jenifer kaget


"kau mau kemana?" tanya Hans tajam


"aku akan membeli makanan untuk Anna dan kakek" jawab Jenifer


"tak usah kami sudah membawa makan malam" Juanda menunjukkan plastik berisi kontak makanan


"Antarkan kami keruangan Hana" perintah Hans.


"baiklah, nenek Anna masuk ruang ICU, Anna sangat terpukul" jelas Jenifer berjalan kembali ke tempat Anna dan kakek, yang diikuti Hans dan Juanda.


Anna duduk memeluk tangan kakeknya dan meletakkan kepalanya di bahu kakek.


"Anna" Jenifer menyapa, Anna Mengangkat kepalanya, ia Hans dan Juanda di belakang Jenifer. Anna berdiri menyambut kedatangan atasannya


"Tuan Hans, silahkan duduk" Anna memberi hormat dengan menundukkan sedikit kepalanya. Ada banyak kursi tunggu di depan ruang ICU, dan pasien rawat hanya nenek saja.


Hans mengambil bungkusan makanan yang di bawa Juanda dan memberikan kepada Anna.


"makanlah, jaga kesehatan kamu, Aku tidak mau proyek ini gagal hanya karena kamu sakit" Hans menyodorkan makanan kepada Anna dan ia duduk di kursi samping kiri kakek.


"selamat malam kakek, perkenalan saya atasan Anna" Hans mengulurkan tangannya dan disambut oleh kakek.


Anna memutar badan menghadap Kakek dan Hans.


"terimakasih Tuan Hans" ucap Anna dan duduk di samping kanan kakek.


"kakek, kita makan bersama ya" ajak Anna pada Kakek, sejak nenek masuk rumah sakit mereka sudah lama tidak makan bersama. Kakek mengangguk.


Anna membuka satu buah kontak nasi yang cukup besar dengan bermacam lauk pauk. Anna menyuapkan nasi ke mulut kakeknya dan setelah itu masukkan ke mulutnya begitu terus secara bergantian hingga mereka menghabiskan satu kotak nasi bersama.


Anna tidak memperdulikan ketiga orang yang melihat dirinya. Ia memberikan Kakek minum setelah itu ia meminum dark botol yang sama dengan kakek.


"Kita harus sehat supaya bisa menjaga nenek" Anna mengusap tangan keriput kakeknya lalu menciumnya.


Jenifer dan Juanda menatap Anna sedih, berbeda dengan tatapan Hans.


"Andai saja yang di suap dan di cium tangannya adalah diriku" pikir Hans menatap Anna.


***


Rena dan Hengky tidak menemukan ruangan


Nenek Anna di rawat. Hengky mengubungi nomor telepon Anna tidak mendapatkan jawaban, karena ponsel Anna mode silent, begitu juga dengan ponsel Jenifer.


Mereka berdua sudah bertanya kepada perawat tapi tidak ada perawat yang tahu, karena mereka tidak tahu nama nenek Anna.


Hengky gagal bertemu dengan nenek Anna, semua di luar rencana, Hengky harus mengantar Rena pulang ke rumahnya dan dengan paksaan Rena, Hengky harus ikut makan malam bersama dengan keluarga Rena.😊


Rena sangat senang akhirnya ia bisa membawa Hengky datang kerumahnya, dan ia merasa beruntung karena tidak bertemu dengan Anna.


***


Thanks for reading 😊


Dukung terus Novelku yaa😍


baca juga "Cinta untuk Dokter Nisa"


Terimakasih semuanya 🤗


love you readers 💓

__ADS_1


__ADS_2