Arsitek Cantik

Arsitek Cantik
Jepang


__ADS_3

Jepang merupakan salah satu negara tujuan wisata yang paling terkenal di dunia. Untuk sebuah negara kecil, Jepang merupakan tuan rumah beragam keindahan alam dan keunikan budaya.


Tujuan Hans adalah kota Karuizawa


Karuizawa Berada di kaki Gunung Asama yang merupakan salah satu gunung api paling aktif Pulau Honshu, Karuizawa adalah kota resor yang menawan. Kota ini bisa ditempuh satu jam dari Tokyo dengan kereta berkecepatan tinggi.


Kota ini terkenal sebagai destinasi yang romantis karena sejarahnya. Dahulu di sinilah Kaisar Akihito bertemu calon istrinya, Permaisuri Michiko pada tahun 1957.


Selain romantis, kota ini juga merupakan tempat terbaik untuk pendakian dan menikmati sumber air panas. Wisatawan juga bisa berkunjung ke Yacho-no-mori atau Hutan Burung Liar yang merupakan rumah 60 spesies burung berbeda.


Mereka melakukan perjalanan selama hampir sembilan jam di udara.


Hans merasakan lengannya perih karena goresan peluru.


Menyentuh wajah lembut Anna yang tertidur lelap. Matanya yang bengkak karena menangis.


"Kenapa kamu harus bertemu dengan Andreas yang gila itu." ucap Hans mengusap wajah Anna.


"Aw, Aku harus ke Dokter." Hans menekan lengannya.


Pesawat telah mendarat di bandara Internasional Jepang.


"Sayang." Hans mengusap lembut pipi Anna.


"Mm." Anna membuka matanya perlahan dan menyentuh tangan Hans.


"Selamat pagi." ucap Anna lembut.


"Pagi Sayang." Hans mencium dahi Anna.


"Kita dimana?" tanya Anna melihat keluar jendela.


"Jepang." Hans menarik tangan Anna mereka segera turun dari pesawat.


"Hah Jepang?" Anna kaget.


"Aku sudah lama mau ke Jepang." Anna bersemangat dan memeluk lengan Hans yang terluka.


"Aw." Hans meringis dan memegang lengannya.


"Aah, maafkan aku Sayang." Anna khawatir.


Hans tersenyum dan mendekatkan pipinya kepada Anna agar mendapatkan ciuman.


Anna memberikan kecupan di pipi Hans dan tersenyum.


Sebuah mobil telah menunggu di depan pintu keluar menuju kota Karuizawan.


Hans telah memilih hotel terbaik di kota Karuizawan yaitu Mampei Hotel.


Hotel bergaya klasik ini mulai beroperasi sejak tahun 1894 dan saat ini usianya sudah lebih dari 120 tahun.


Sebagai seorang Arsitek, Anna sangat senang melihat bangunan bersejarah yang akan memberikan inspirasi untuk dirinya.


Mobil telah meninggalkan bandara dan menuju Mampei Hotel.


Anna dan Hans berjalan bersama memasuki hotel.


Mereka disambut oleh interior hotel yang begitu megah.


Lantai berlapis karpet merah, perabotan dengan seni ukiran Karuizawa, kaca patri berwarna-warni, dan interior lainnya mampu membuat pengunjung terpesona.


"Wah, Indah sekali." bisik Anna ditelinga Hans.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Hans tersenyum dan Anna mengangguk bersemangat.


Kamar tamu tersedia di beberapa bangunan berbeda yang berhadapan langsung dengan bangunan utama Alps building, yaitu Usui building, Atago building, dan Bekkan building.


Masing-masing kamar tamu memiliki ciri khas tersendiri.


Bagian belakang hotel adalah daerah vila tradisional yang masih asri dan ditemani dengan kicauan burung liar.


Kofuku no tani (Happy Valley) yang menjadi rute perjalanan yang terkenal di Karuizawa juga ada di dekat hotel ini.


Jadi, para tamu bisa menghabiskan waktu dengan efektif di wilayah hotel dan sekitarnya.


"Hans, kemarilah." Anna menarik tangan Hans dan duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa? Apa kamu mau bercinta?" Hans tersenyum.


"Tidak usah bercanda, tangan kamu harus segera diobati, dimana kita bisa menemukan Dokter?" tanya Anna memperhatikan lengan Hans.


"Tidak usah khawatir Sayang, aku sudah menghubungi seorang dokter kenalan Reyhan, ia akan datang sore nanti." Hans mencium dahi Anna.


"Istirahatlah, aku akan membersihkan tubuh kamu." Anna masuk ke kamar mandi mengambil air hangat dengan baskom dan handuk kecil.


Hans duduk tersenyum memperhatikan Anna yang dengan telaten membersihkan tubuh Hans menggunakan handuk kecil yang telah dibasahi air hangat.


"Apa kamu akan cemburu?" tanya Hans.

__ADS_1


"Cemburu pada siapa?" tanya Anna tanpa melihat Hans, ia terus mengelap tubuh Hans.


"Dokter yang akan datang kemari." Hans menatap Anna.


"Apakah dia seorang wanita?" tanya Anna.


"Ya." jawab Hans.


"Jika aku cemburu, apa kamu tidak akan mengobati luka kamu?" tanya Anna melihat Hans.


"Aku akan mencari Dokter lain." ucap Hans.


"Biarkan saja dia mengobati kamu, Dokter Reyhan lebih tahu yang terbaik untuk kamu." Anna membawa baskom dan handuk ke kamar mandi.


"Aku mau melihat dirimu cemburu." Gumam Hans dalam hati.


Hans menunggu Anna hingga ia tertidur di atas tempat tidur.


Anna membersihkan dirinya, merasakan segarnya air yang mengalir membasahi tubuhnya.


Rambut panjang dan hitam, tergerai bersama aliran air dari shower.


Anna telah menyelesaikan ritual mandi untuk membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk berwarna putih.


Aroma bunga mawar begitu seksi menggoda menggelitik indera penciuman Hans.


Perlahan Hans membuka matanya, ia melihat tubuh indah istrinya begitu menggoda dan menyapa untuk di sentuh.


"Ah." Hans kesal dengan tangannya yang terluka.


"Ada apa Hans?" Anna berlari mendekati Hans.


Aroma manis dan wangi dari tubuh Anna semakin menusuk ke dalam hidung Hans.


Air yang mengalir melewati leher jenjang dan indah membuat Hans harus menelan ludahnya.


"Hans." tangan lembut Anna menyentuh pipi Hans.


Hans menarik tangan Anna dan menciumnya.


"Kenapa kamu selalu menggodaku." Hans menyentuh bibir Anna.


"Jangan berpikir untuk bercinta ketika kamu sedang sakit." Anna mencium pipi Hans dan berjalan menuju lemari untuk berpakaian.


"Ah, Andreas benar-benar mengacaukan bulan maduku." kesal Hans.


Terdengar ketukan pintu, makan siang telah tiba.


Para pramusaji menata makanan di atas meja dengan rapi.


Setelah para pramusaji keluar Anna menutup dan mengunci pintu.


"Kemarilah, kita makan siang." Anna membantu Hans beranjak dari tempat tidur dan menuju tempat makan.


Hans yang tadi kesal dengan lukanya kini menjadi sedikit senang, karena Anna sangat perhatian.


Anna dan Hans makan bersama, mereka makan bergantian dari tangan Anna.


Terdengar ketukan pintu dan mereka mengentikan makan siang.


"Sepertinya Dokter kamu datang lebih awal." ucap Anna beranjak dari tempat duduknya dan mencuci tangannya di wastafel.


Anna membuka pintu dan melihat seorang wanita cantik dan seksi berdiri di depan pintu.


Wanita yang tidak menggunakan pakaian Dokter.


"Maaf, anda cari siapa?" tanya Anna memperhatikan wanita di depannya.


Wanita itu terlihat kecewa, karena yang membuka pintu bukan Hans.


"Maaf Saya Dokter Iyana, anda siapa?" tanya Iyana tidak suka.


"Aku Anna, silahkan masuk." Anna membuka lebar pintu.


"Sayang, siapa?" tanya Hans dan mengejutkan Iyana.


"Dokter Sayang." Anna berjalan mendekati Hans.


"Maaf kami sedang makan siang." ucap Anna.


"Ah tidak apa-apa, Halo Hans." Iyana tersenyum kepada Hans.


"Kenapa kamu bisa terluka?" Iyana berjalan mendekati Hans.


"Bisakah aku menyelesaikan makan siang ku." Hans melirik Iyana.


"Tentu saja." Iyana melirik Anna.


"Sayang, suapi aku lagi." Hans membuka mulutnya.

__ADS_1


"Nona Iyana, apakah anda mau makan bersama kami?" tanya Anna sopan.


"Tidak, saya sudah selesai makan di rumah." jawab Iyana.


Anna kembali menyuapi Hans hingga mereka menghabiskan semua makanan yang ada di meja.


Iyana memperhatikan Anna dengan kesal. Siapa wanita yang telah berhasil mencuri hati Hans?


Anna membersihkan mulut Hans, ia segera menelpon pelayan kamar untuk membereskan sisa makanan mereka.


"Sayang, duduklah di sini." Anna membantu Hans duduk di sofa.


"Silahkan Nona Iyana." Anna menyapa Iyana.


Iyana berjalan mendekati Hans, Anna akan meninggalkan Hans tetapi tangannya ditahan.


"Tetaplah di sini, pegang tanganku." Hans memberikan tangannya yang tidak terluka.


Anna tersenyum dan menuruti perintah Hans. Ia duduk di samping Hans dan memeluk lengan kekar Hans memperhatikan Iyana.


Iyana kesal dengan tingkah manja Anna yang terus memeluk Hans membuat dirinya tidak leluasa mendekati Hans.


"Iyana, perkenalan Istri tercinta ku Hana Mariana." Hans mencium dahi Anna.


Iyana hanya diam, ia mengobati luka Hans hingga selesai.


"Kamu harus mengganti perban setiap hari dan jangan terkena air." Iyana tersenyum.


"Tentu saja, Anna akan merawat diriku." ucap Hans.


"Kenapa kamu bisa terkena tembakan?" tanya Iyana penasaran.


"Bertarung untuk memperebutkan wanita tercantik yang ada di samping ku ini." Hans mencubit hidung Anna.


"Baiklah, sudah selesai." Iyana membereskan peralatan medisnya.


Ia benar-benar merasa panas diantara pasangan mesra yang baru menikah.


Cemburu dan sakit hati yang dirasakan Iyana, ia tidak pernah menyangka Hans akan menikah.


Pria dingin itu tidak pernah jatuh cinta, Iyana berpikir Hans akan terus hidup sendiri tanpa pendamping.


"Aku akan mengirimkan biaya pengobatan ini langsung ke rekening kamu." ucap Hans.


Anna beranjak dari kursi.


"Mau kemana?" tanya Hans manja.


"Aku akan mengantarkan Nona Iyana ke depan." ucap Anna.


"Cepatlah kembali!" tegas Hans.


"Baiklah Sayang ku." Anna tersenyum dan mengikuti Iyana berjalan menuju pintu.


"Terimakasih, Nona Iyana." ucap Anna.


"Apakah kalian sudah lama kenal?" tanya Iyana.


"Belum." jawab Anna polos.


"Bagaimana kalian bisa menikah?" tanya Iyana penasaran.


"Entahlah, Hans tiba-tiba melamar diriku." Anna tersenyum.


"Sayang." Hans berteriak.


"Maafkan aku, Hans memanggil diriku, terima kasih." Anna menutup dan mengunci pintu.


"Sayang, kenapa kamu lama sekali." Hans menarik tangan Anna.


"Dia mengajakku berbicara." ucap Anna duduk di samping Hans.


Hans merebahkan kepalanya di pangkuan Anna.


"Usap kepalaku, setelah minum obat aku mengantuk." ucap Hans.


Anna mengusap kepala Hans dengan lembut, memainkan rambut berwarna hitam pekat.


Hans memejamkan matanya, memainkan jari-jari tangan Anna yang lainnya.


***


Semoga Suka 💓


Mohon dukungannya dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih


Baca juga " Cinta Bersemi di Ujung Musim" dan Nyanyian Takdir Aisyah 🤗


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇

__ADS_1


__ADS_2