
Malam Indah di Maldives.
Hans telah selesai mandi dan berjalan menuju lemari pakaian.
Pria dewasa dengan tubuh seksi terawat hanya menggunakan handuk berwarna putih yang melingkar di pinggangnya sebatas paha.
Anna mengambil handuk dari lemari dan segera berlari melewati Hans menuju kamar mandi, wajahnya panas melihat Hans yang dari tadi terus memperlihatkan tubuh berototnya pada Anna.
Hans tersenyum, melihat Anna yang terus menghindari dirinya.
Dengan tingkah Anna yang malu - malu menggemaskan membuat Hans semakin ingin menggodanya.
Hans menggunakan kemeja lengan panjang berwarna biru dan celana hitam.
Mereka akan makan malam romantis berdua di tepi pantai.
Aura seorang pria dewasa yang berkuasa terlihat jelas di wajahnya. Pria tampan yang sangat gagah.
Anna telah selesai mandi, aroma wangi bunga yang menggoda tercium tubuhnya. Ia tidak membasahi rambutnya karena sudah malam.
Rambut Anna di gelung tinggi agar tidak terkena air.
Melilitkan handuk di bagian dada yang tidak bisa menutupi pahanya.
"Ada apa dengan resort ini kenapa handuk anak kecil di letakkan di lemari?" Anna kebingungan, ia menunduk sedikit saja akan memperlihatkan bagian bawah tubuhnya.
Tubuh seksi sempurna dan proporsional miliknya tidak bisa hanya menggunakan handuk ukuran sederhana.
"Hans." Anna memanggil Hans pelan yang duduk di atas tempat tidur, ia memandang pintu kamar mandi.
Hans menunggu Anna keluar dari pintu kamar mandi, dengan handuk yang ada di lemari Hans yakin akan mengekspos keindahan tubuh Anna.
"Hans." Anna mengetuk pintu kamar mandi dari dalam.
Hans hanya tersenyum, ia pura - pura tidak mendengarkan Anna.
Hans yakin Anna pasti meminta handuk tambahan.
"Hans, kamu dimana?" Anna membuka pintu perlahan dan melihat tidak ada siapa-siapa.
Hans telah berlari ke samping kamar dan mengintip, ia akan masuk ke kamar jika Anna telah keluar dari kamar mandi.
"Apa di sudah pergi?" kaki panjang dan indah melangkah perlahan keluar dari kamar mandi.
Anna berjalan menuju lemari, ia memilih gaun sebatas paha berwarna biru terang dengan Kilauan bling-bling bercahaya bagaikan bintang di langit malam.
"Ah, gaun ini indah sekali seperti cerahnya langit malam di Maldives." Anna tersenyum ia meletakan gaun di atas tempat tidur.
Anna kembali ke lemari lemari untuk mencari pakaian dalam.
Ia kesulitan untuk menundukkan, bagian depannya hampir tumpah dari handuk yang terlalu pendek dan kecil.
Hans berjalan masuk ke kamar dengan santainya.
"Apa kamu belum siap?" tanya Hans pura-pura tidak melihat Anna.
"Aaarg." Anna terkejut, ia memeluk handuk yang telah terbuka lilitannya.
Anna kebingungan harus menutup bagian atas atau bawah.
Handuk telah berantakan tetapi masih melekat di tubuh Anna.
Hans menelan ludahnya, ia merasa kerongkongannya kering melihat tubuh Anna.
Hans berjalan mendekati Anna membantu merapikan handuk Anna.
Tubuh yang masih basah dengan aroma bunga seksi menggelitik hidung Hans.
Gelora pria dewasa dan normal mulai bergejolak.
Tangan Hans berada di leher jenjang milik Anna.
Mata Hans tertuju pada bibir merah yang basah.
Tanpa ada perintah, bibir Hans segera mendarat di bibir lembut Anna.
Jantung Anna berdetak kencang, tangannya masih memegang handuk yang tidak bisa menutupi tubuh seksi dan menggoda.
Hans terus menikmati bibir Anna, ia telah belajar cara berciuman hangat dan mesra.
__ADS_1
Anna tidak bisa memejamkan matanya, ia harus melihat wajah Hans.
Hans melepaskan ciumannya, dan melihat Anna yang kesulitan bernapas.
"Kenapa kamu tidak menutupi mata mu?" tanya Hans menatap Anna.
"Karena ketika aku menutup mata aku takut bayangan Andreas muncul dan membuat diriku tidak bisa berciuman dengan dirimu." Anna menunduk.
"Apa yang Andreas lakukan pada dirimu?" tanya Hans lembut.
"Dia selalu mencium paksa diriku." ucap Anna pelan.
"Hanya ciuman, Andreas tidak pernah menyentuh diriku." Anna menunduk.
Hans mengangkat dagu Anna menarik pada bola mata yang indah.
"Apa pun yang dia lakukan pada dirimu, aku akan menerima itu semua." ucap Hans tulus.
"Tapi aku tidak akan melakukan itu, karena aku tidak pantas." Anna membalas tatapan Anna.
"Sekarang kamu adalah istriku, kamu adalah milikku." Hans memeluk Anna.
"Lupakan semua apa yang telah Andreas lakukan padamu." bisik Hans di telinga Anna.
"Aku mencintaimu Anna." Hans melepaskan pelukannya.
Anna tidak sadar handuknya telah berada di lantai.
"Apa kamu tidak lapar?" Hans tersenyum menahan adik kecil yang telah berdiri melihat tubuh tanpa benang di depannya.
"Aku sangat lapar." ucap Anna cepat.
"Kenapa kamu menggoda ku?" Hans tersenyum.
"Aku tidak menggoda dirimu." Anna kesal.
"Benarkah, lalu kenapa kamu memperlihatkan semua lekuk tubuh seksi di hadapan ku?" Hans melirik ke bawah memberi isyarat kepada Anna.
Anna mengikuti gerakan mata Hans dan berteriak sekuatnya memekikkan telinga Hans.
"Aaaaaaa." Anna mendorong tubuh Hans hingga jatuh ke tempat tidur dan mengambil handuk yang tergeletak di lantai.
Wajah Anna memerah seperti kepiting rebus, ia benar-benar sangat malu.
Hans berjalan mendekati Anna dan tersenyum.
"Sampai kapan kamu akan seperti itu, apa Aku harus membantu Istriku berpakaian?" Hans berbisik di telinga Anna.
"Bisakah kamu keluar." Anna masih menutupi wajahnya.
"Aku sudah melihat semuanya." ucap Hans tersenyum dan berjalan keluar kamar.
Anna segera menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Aaaaaah, memalukan." Anna berteriak nyaring dan Hans tersenyum dari balik pintu.
"Aku sangat lapar, jika tidak, aku akan bersembunyi di dalam selimut." Anna menggerutu.
Anna segera berpakaian, ia menggunakan gaun yang telah ia siapkan.
Merias diri, memberikan sedikit makeup natural pada wajahnya dan vitamin bibir sehingga bibir Anna terlihat berkilau menggoda.
Anna mengurai rambutnya dan mengambil sedikit rambut pada bagian kiri dan kanan untuk ia kepang dan diikat di belakang.
Terlihat cantik dan elegan, dengan paduan sepatu heels model kristal tidak terlalu tinggi.
Anna benar-benar cantik sempurna dari atas hingga ke bawah mengalahkan seorang model internasional.
Hans duduk di sofa depan pintu kamar, mengingat ciuman dengan Anna dan tubuh Indah yang terus menari - nari di depan matanya.
Hans senyum - senyum bersama adik kecilnya.
Pintu kamar terbuka, seorang wanita cantik dengan gaun biru berkilau keluar dari kamar.
Hans berdiri, ia sangat terkejut melihat perubahan Anna.
Wajah yang tidak pernah ia rias sebelumnya, kini terlihat merah merona, bibir seksi semakin seksi dengan glossy
Mata Indah dengan Eyeliner berwarna hitam dan bulu mata panjang yang lentik semakin sempurna dengan maskara hitam.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya Anna berdandan sendiri yang tidak pernah Anna lakukan sebelumnya.
Anna merasa risih dengan tatapan Hans yang memandang dirinya tanpa berkedip.
"Sepertinya wajahku aneh dengan make-up." Ucap Anna dan bersiap kembali ke kamar.
Hans menarik tangan Anna hingga jatuh ke pelukannya.
"Aw." Anna terkejut.
"Kamu mau kemana?" Hans menatap wajah cantik di depannya begitu dekat.
"Aku mau melihat wajahku di cermin, mungkin aku terlihat aneh." ucap Anna pelan.
"Jika kamu kembali lagi ke kamar Aku akan mati kelaparan." ucap Hans tersenyum.
"Aku tidak mau nanti jadi bahan cemoohan orang dan membuat dirimu malu." ucap Anna.
"Tidak akan ada orang yang berani melakukan itu." Hans menarik tangan Anna berjalan keluar menuju tempat makan malam romantis yang telah di siapkan.
Mereka berjalan melewati jembatan penghubung antara resort dan dengan daratan.
"Tidak heran banyak pria yang tergila-gila kepada Anna, karena ia membuat orang gila." gumam Hans dalam hati.
"Waah, Indah sekali." Anna melihat langit cerah bertabur bintang.
Hans menggenggam tangan Anna berjalan bersama.
"Hans bolehkah aku lepas sepatu?" Anna kesulitan berjalan di pasir.
Hans berjongkok membuka sepatu kristal yang sangat malah dan membawanya.
"Aku bisa melakukannya sendiri." ucap Anna.
"Tak apa, kamu adalah tuan Putriku." Hans tersenyum.
Mereka telah sampai di tempat makan romantis.
Meja makan dengan sepasang kursi telah di siapkan di pinggir pantai dengan lampu hias di bentuk hati tergantung di tiang - tiang yang diberikan tirai lembut paduan warna pink dan putih.
Kain lembut sebagai atap melambai-lambai tertiup angin pantai.
"Aaaah, cantik sekali." Anna melepaskan tangan Hans dan berjalan menuju kursi, ia menyentuh lampu-lampu bergantung penuh warna-warni.
"Lumayan." Hans melihat hasil kerja pegawai resort.
"Hans Terimakasih, ini luar biasa." ucap Anna tersenyum Cantik.
"Duduklah." Hans menarik kursi untuk Anna.
"Terimakasih." Anna tersenyum dan duduk di kursi.
Bintang berkedip di langit yang biru dan lampu indah dari rumah - rumah di sebrang pulau.
Maldives terdiri dari pulau - pulau kecil berpenghuni.
"Aku sangat bahagia." ucap Anna tersenyum.
"Benarkah?" Hans menatap Anna.
"Hem." Anna mengangguk dan melepaskan pandangannya ke lautan.
Beberapa pelayan segera menata makanan di atas meja mereka.
Wajah Anna merah merona, ia benar-benar bahagia dengan perlakuan Hans.
Anna hanya merasa canggung dan malu, ia tidak pernah berpacaran begitu juga dengan Hans.
Hanya naluri yang mengajarkan mereka untuk bisa bercinta.
Anna dan Hans menikmati makan malam yang romantis di bawah langit biru yang cerah .
*****
Semoga Suka 💓
Mohon dukungannya dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih
Baca juga " Cinta Bersemi di Ujung Musim"
__ADS_1
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You All 💓 Thanks for Reading 😊