
Anna bergandengan tangan dengan Hans berjalan bersama menikmati pemandangan hutan yang alami ditemani kicauan burung yang sangat merdu.
Udara yang segar memberikan kesejukan pada rongga hidung.
Cahaya Matahari yang dilarang masuk oleh dedaunan membuat pengunjung merasa nyaman berada di sana.
"Hans, kita sampai disini saja," ucap Anna menarik tangan Hans untuk duduk di depan Villa kosong.
"Kenapa?" tanya Hans memperhatikan leher jenjang Anna yang telah berkeringat.
"Aku mengkhawatirkan luka kamu," ucap Anna.
"Apa kamu sudah bosan merawat ku?" Hans menatap Anna.
Anna menarik napas panjang dan membuangnya.
"Apa kamu mau aku menghubungi Dokter Iyana untuk mengobati luka kamu?" Anna balas menatap Hans.
Hans terdiam, ia bingung yang salah siapa yang marah siapa?.
"Jika kamu memaksakan diri dan luka kamu infeksi, berarti aku harus meminta Dokter Iyana datang ke hotel untuk mengobati dan merawat luka kamu." mata tajam Anna berkilat.
Hans memasang wajah cemberutnya, ia mau bermanja malahan mendapatkan omelan dari Anna.
Anna menahan tawa melihat wajah Hans yang seperti anak kecil.
Hans membuang pandangannya jauh ke dalam hutan, Anna tersenyum dan merebahkan kepalanya di lengan Hans.
Anna tahu Hans sedang marah karena Anna menyebutkan wanita lain di hadapan Hans.
"Bagaimana jika aku menyebutkan nama pria lain?" pikir Anna.
Hans masih diam, ia tidak bereaksi dengan Anna yang telah bermanja.
"kenapa kamu marah?" Anna melihat wajah tampan Hans.
"Kamu mau memberikan aku kepada wanita lain." Hans cemberut.
"Hahaha." Anna tertawa terbahak-bahak.
Mata Hans melotot, ia segera menutup mulut Anna dengan tangannya yang kekar.
"Mmmm." Anna menarik tangan Hans dari mulutnya.
"Aku susah bernapas, tangan kamu menutupi hidungku." tegas Anna dan tersenyum melihat Hans.
"Cup." Anna mencium bibir Hans sekilas dan meninggalkan Hans.
"Anna kamu mau kemana?" Hans berteriak.
Anna tidak memperdulikan Hans, ia memperhatikan bangunan kuno yang ada di sekitar villa.
"Anna, istriku jangan jauh-jauh dariku." Hans menarik tangan Anna.
Beberapa orang pria memperhatikan Anna, yang sedang mengambil gambar dengan kameranya.
"Hans lihatlah, aku bisa memodifikasi desain baru dari bentuk villa ini." Anna memberikan camera digital kepada Hans.
****
Rena berada di kamarnya, ia berbaring di atas tempat tidur menatap langit-langit kamar dan memutar ponsel di tangannya.
"Apakah Anna benar-benar telah menikah dengan Hans?" Rena berbicara dengan dirinya sendiri.
"Aku sudah tidak bekerja lagi di perusahaan Hans, jadi aku tidak tahu tentang Hans dan Anna." gerutu Rena.
Rena sudah searching tetapi ia tidak menemukan berita pernikahan Hans dengan Anna.
"Aku akan menghubungi Hengky." Rena mencari nomor ponsel Hengky dan segera melakukan panggilan.
"Halo Rena, ada apa?" Hengky menjawab panggilan Rena.
"Hengky, apa benar Anna telah menikah dengan Hans?" tanya Rena penasaran.
__ADS_1
"Ya, mereka sudah menikah." Hengky memutuskan panggilan, ia terluka setiap kali mengingat pernikahan Anna dan Hans.
"Apa sih Hengky, seperti itu saja emosi." Rena melempar ponselnya di atas tempat tidur.
Rena mengingat perkataan Anna yang mengatakan Andreas memaksa dirinya untuk bertunangan.
"Apakah Andreas sangat mencintai Anna?." Rena berpikir keras.
"Mungkin ia bisa memisahkan Anna dari Hans." Rena tersenyum.
"Ah, tetapi aku takut dengan Andreas, pria phycopat itu mengerikan." pikir Rena.
Rena memikirkan sebuah rencana, ia sangat ingin membuat Anna menderita, rasa iri dan benci sejak kuliah membuat Rena tidak tenang melihat Anna bahagia.
"Jika Anna bersama Andreas pasti ia akan sangat tersiksa." Rena tersenyum membayangkan Anna yang akan dikurung dalam penjara cinta Andreas.
Rena menghubungi papanya untuk meminta nomor ponsel Andreas.
Ia ingin mengetahui reaksi Andreas terhadap Anna.
Rena benar-benar ketinggalan banyak informasi tentang dunia Anna.
Karena selalu di tolak oleh Hans, Rena melakukan perjalanan keliling dunia.
"Halo pa, kirimkan nomor ponsel Andreas kepadaku," ucap Rena.
"Apa kamu mau berpindah ke Andreas?" tanya Papa Rena.
"Andreas memang tampan dan menggoda tetapi yang aku tahu ia seorang phycopat." tegas Rena.
"Untuk apa kamu meminta nomor ponsel Andreas?" tanya Papa Rena.
"Aku mau memberikan kejutan untuk Andreas, sepertinya dia akan suka." Rena tersenyum puas.
"Baiklah, Papa akan mengirimkan nomor Andreas."penggilan diputuskan.
Rena menatap layar ponselnya menunggu pesan dari Papanya.
Sebuah pesan masuk, nomor Andreas muncul di layar ponsel Rena.
Ponsel Andreas berdering, ia melihat sebuah nomor baru.
"Halo." Andreas menjawab panggilan.
"Halo Andreas, aku Rena." Rena sangat bahagia bisa berbicara dengan Andreas.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Andreas, ia ingat Rena pernah membayar orang untuk menculik Anna karena ia menginginkan Hans.
"Aku melihat Hans dan Anna." ucap Rena pelan.
"Katakan dimana?" Andreas meninggikan suaranya dan memberikan isyarat kepada para ahli komputer untuk menyadap percakapan ia dengan Rena.
Dengan begitu mereka dengan mudah menemukan lokasi Rena.
"Kamu menginginkan Anna dan aku mau Hans," ucap Rena.
"Tentu saja kamu akan mendapatkan Hans." Andreas tersenyum.
Mereka telah mendapatkan lokasi Rena melalui percakapan dengan Andreas.
"Kamu tunggulah di sana dan saksikan aku menjemput Anna." Andreas tertawa puas.
"Andreas kamu tidak boleh menyakiti Hans." Rena mulai gugup.
"Kita lihat saja nanti." panggilan diputuskan
"Wanita bodoh." Andreas menggenggam erat ponselnya.
"Tuan, Nona Rena berada di kota Karuizawa, Jepang." jelas seorang pemuda ahli komputer.
"Kita berangkat sekarang, bawa semua perlengkapan, aku yakin Hans tidak membawa pengawal." Andreas bergegas, ia Tidak mau kehilangan sedikit pun kesempatan untuk mengambil miliknya.
Rena sedikit khawatir, ia takut Andreas akan menyakiti Hans.
__ADS_1
Rena keluar dari kamar hotel, mencari Anna dan Hans.
"Kemana Hans dan Anna?" Rena duduk di depan pintu masuk hotel.
Ia melihat Anna dan Hans berjalan bersama menuju pintu masuk.
"Hai Anna." sapa Rena tersenyum ramah.
"Hai." Anna tersenyum, Hans menatap wajah dan tidak suka kepada Rena.
Anna dan Hans berjalan bersama masuk ke dalam hotel, Rena mengikuti mereka.
"Rena, Apa kamu sendirian?" tanya Anna lembut.
"Ya, aku sangat bosan." Rena melirik Hans.
"Sayang, kita duduk di sini saja." ucap Hans menarik tangan Anna.
"Apa aku boleh gabung?" tanya Rena dengan wajah penuh harap.
"Tentu saja." Anna tersenyum.
"Anna, maafkan aku." ucap Rena memelas.
"Lupakan, aku juga minta maaf." Anna tersenyum.
Hans memperhatikan Rena, ia sangat curiga dengan gelagat Rena.
"Rena maaf, kami harus kembali ke kamar untuk membersihkan diri." Anna melihat ke arah Hans.
"Ah, baiklah, aku tidak akan menggangu Kalian." Rena tersenyum melihat kepribadian Anna dan Hans.
"Semoga hari kalian menyenangkan." teriak Rena.
"Hari terakhir Kebersamaan kalian." Rena tersenyum.
"Aku tahu Andreas akan datang menjemput Anna dan mengurungnya di dalam kastil." Rena tersenyum sendirian di kursi panjang.
Anna dan Hans telah sampai kamar, Anna membuka perban tangan Hans.
"Wah, luka kamu sudah sembuh." Anna sangat bahagia.
"Benarkah?" Hans melihat lengannya.
"Ya, aku sangat senang." Anna membuang kain kasa di tempat sampah.
Hans memeluk Anna dari belakang dan mencium bagian belakang leher Anna.
"Hans aku harus mandi, tubuhku berkeringat." Anna melepaskan Hans.
"Kita akan mandi bersama." Hans berjalan menuju kamar mandi.
"Eh, apa tangannya benar-benar sudah sembuh?" Anna bingung, baru tadi pagi ia memandikan Hans.
"Tapi perasaan tadi pagi lukanya masih basah." Anna menyusul Hans.
"Halo sayang." Hans tersenyum.
"Duduklah, aku akan membantu kamu mandi, jangan basahi lengan kamu," ucap Anna.
"Aku sudah sembuh." ucap Hans manja.
Anna memaksa untuk tetap membantu memandikan Hans.
Hans tidak bisa menolak karena ciuman Anna membuat Hans menjadi patuh.
Besok Anna akan menemani Hans bertemu dengan dokter untuk memeriksa lengan Hans.
****
Semoga Suka 💓 Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan 🤗
Mohon dukungannya dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih
__ADS_1
Baca juga " Cinta Bersemi di Ujung Musim" dan Nyanyian Takdir Aisyah 🤗
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇