
Hans tidak mau pergerakan mereka terlalu mencolok, ia dan Anna menggunakan mobil Yuna.
Langsung menuju kantor catatan pernikahan, dan satu mobil pengawal mengikuti mereka.
Hans memilih jalan pintas, melewati gang dan jalanan sempit.
"Hans kenapa kita memilih jalan ini?" tanya Anna bingung dan khawatir.
"Menjauhkan dirimu dari Andreas, perhatikan setiap gedung, kita harus sampai di gedung dengan patung sepasang pengantin itu." Hans menunjuk gedung bertingkat terlihat masih jauh.
Anna memerhatikan gedung - gedung di sekitar mereka.
"Aku tahu lokasi ini, lurus saja kedepan!" perintah Anna.
Hans mengikuti perintah Anna, menginjak pedal gas hingga habis.
"Kita bukan mati ketemu Andreas tetapi mati dalam kecelakaan." ucap Anna dan Hans menghentikan laju mobil.
"Kenapa kamu berhenti?" tanya Anna.
"Karena aku tidak mau kamu mati." ucap Hans menatap Anna.
"Baiklah, bagaimana dengan pernikahan kita?" tanya Anna.
"Apakah kamu percaya aku akan membawa dirimu dengan selamat?" tanya Hans.
"Tentu saja, aku percaya kepada dirimu." Anna tersenyum dan Hans merasakan ada kekuatan cinta memenuhi dadanya.
"Berpeganglah!" Hans kembali menginjak pedal gas.
***
Andreas berada di rumah Yuna, ia telah menemukan mobil sport Hans yang terparkir di garasi.
"Rumah yang sangat sederhana." ucap Andreas berdiri di depan pintu.
Seorang pengawal mengetuk pintu, dan wanita tua keluar.
Ia terkejut, melihat ada banyak mobil dan orang di depan rumahnya.
"Dimana Hans?" tanya Andreas.
"Tuan Muda tidak ada di sini." jawab ibu Yuna.
"Geledah ruang ini!" perintah Andreas.
Seorang mendorong ibu Yuna hingga terjatuh ke lantai.
"Apa yang kalian lakukan?" Wanita itu menangis ketakutan.
"Tidak ada siapa - siapa Tuan." pengawal keluar dari rumah.
"Kemana Hans?" Andreas menarik kerah baju wanita tua.
"Saya tidak tahu tuan, Tuan Muda hanya menukarkan mobilnya dengan mobil Yuna." jelas wanita itu ketakutan.
Andreas mencari tahu detail dan plat nomor mobil, ia memerintahkan anak buahnya untuk segera melacak keberadaan mobil Yuna.
"Lapor Bos, mobil terlihat di dermaga nelayan beberapa jam yang lalu." seorang berbisik di telinga Andreas.
"Kirim orang secepatnya untuk menyelidiki dermaga!" perintah Andreas berjalan masuk ke mobilnya.
"Shit, Hans jangan bermain dengan diriku, Anna milikku." Andreas berteriak di dalam mobil yang masih diam menunggu perintah.
"Kembali ke ruangan komputer?" perintah Andreas.
"Baik Bos." Mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
"Apa pun yang terjadi aku akan tetap mengambil milikku." Andreas mengepalkan tangannya.
"Ciiiiittt." Mobil berhenti mendadak hingga membuat benturan.
"Ada apa?" bentak Andreas.
Reline keluar dari mobil dan berjalan mendekati Andreas.
"Ah, bagaimana wanita murahan itu berada di sini?" Andreas keluar dari mobil dengan emosi.
"Bos, wanita itu membawa senjata." bisik pengawal.
Andreas tersenyum, ia menatap wanita yang dulunya seorang model terkenal kini menjadi wanita penghibur.
"Andreas kamu gila, kamu jahat." Reline ingin menusuk Andreas dengan pisau ditangannya.
Para bodyguard telah menangkap tangan Reline dan di putar kebelakang.
__ADS_1
"Aaarg." Reline berteriak kesakitan dan pisau terjatuh ke tanah.
"Bawa masuk ke dalam mobil!" perintah Andreas dan mengambil pisau dari tanah.
"Singkirkan mobil Reline!" Andreas masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu.
Tangan dan kaki Reline telah di ikat dan mulutnya di sumbat dengan tisu dan lakban.
"Jalankan mobil, kembali ke Gudang!" perintah Andreas tersenyum melihat Reline.
"Aku sangat senang kamu datang menemui diriku." Andreas memainkan pisau di wajah Reline yang ketakutan.
"Kamu datang tepat waktu Sayang." Cress, pisau memberikan goresan di pipi Reline.
"Aku sedang Marah Karena merindukan Anna." Andreas memainkan pisau di paha seksi Reline.
"Sreeeet." Andreas menekan dan menarik ujung pisau menyobek paha mulus sebelah kiri Reline, darah segar mengalir.
Air mata Reline mengalir menahan pedih dan perih di pahanya. Kepalanya hanya bisa menggeleng memohon ampunan pada Andreas.
"Kedatangan kamu hari itu adalah penyebab aku kehilangan Anna ku." pisau berada di paha bagian kanan.
"Sreeeet." pisau kembali membuat goresan di paha Reline.
Sakit Luar biasa tidak tertahankan, gaun putih Reline telah berwarna merah.
"Kamu benar-benar iblis, Andreas." Reline hanya bisa mengumpat di dalam hatinya.
"Apa kamu menyesal bertemu dengan diriku?" Andreas menjambak rambut Reline.
Mobil berhenti di depan gudang usah perusahaan Andreas.
"Bawa dan lempar wanita itu ke gudang!" perintah Andreas berjalan menuju gudang.
Reline ketakutan, kepalanya menggeleng - geleng.
"Brak." dua orang pengawal melempar tubuh Reline dengan kasar di atas lantai.
Andreas membuka pakaiannya, ia benar-benar akan menyiksa Reline untuk meluapkan kekesalannya, terlalu lama kehilangan Anna.
Andreas mengangkat tubuh Reline dengan cara mencekiknya satu tangan.
Ponsel Andreas berdering, khusus Jhonatan.
"Ada apa?" tanya Andreas menjawab panggilan.
"Dari sebelah dermaga ternyata ada pulau pribadi Hans." Ucap Jhonatan.
"Aaaarrghh, apa Anna ada di sana?" tanya Andreas keluar dari gudang.
"Mereka baru saja meninggal pulau." jelas Jhonatan.
"Kemana Hans membawa Anna?" Andreas emosi, ia benar-benar ditipu Hans.
Jhonatan diam, ia tidak berani menjawab pertanyaan Andreas, karena jika Andreas menyusul pasti sudah terlambat.
"Dimana Anna?" bentak Andreas.
"Kantor Catatan pernikahan." jawab Jhonatan gugup.
"Aaarrrrgg." Andreas berteriak.
"Praaakk." Ponsel di lempar Kedinding.
Andreas memakaikan kembali kemeja dan jasnya.
Ia segera masuk ke dalam mobil sport miliknya, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menembus perjalanan kota menuju Kantor catatan pernikahan.
"Aku akan membunuhmu Hans, jika kamu berani menyentuh Anna." Andreas menggila, matanya memerah.
***
Hans dan Anna telah sampai di kantor catatan pernikahan.
Mereka berdua lewat pintu belakang, dengan pakai seadanya.
Hans memegang tangan Anna dan masuk bersama.
Mereka melakukan dengan cepat dan terburu - buru.
Merapikan sedikit pakaian, dan penampilan untuk pengambilan gambar.
Setelah semua selesai Hans mengajak Anna masuk ke sebuah ruangan.
Ada Papa Hendrick, Mama Riana dan Jenifer yang telah menunggu lama di dalam ruangan.
__ADS_1
Seorang bos menikah dengan sangat sederhana tanpa keluarga dan tanpa pesta.
Anna sangat bahagia dapat bertemu keluarganya.
"Mama, Anna kangen." Anna berlari ke pelukan Mama Riana.
"Anna sayang." mereka menumpahkan kerinduan saling berpelukan.
Ponsel Hans berdering, panggilan dari Juanda.
Hans terkejut, Juanda melaporkan Andreas menuju kantor catatan pernikahan.
"Anna kita harus pergi Andreas menuju kemari." Hans menarik tangan Anna dan berlari keluar ruangan.
"Pakai mobil Mama saja." Mama Riana memberikan kunci mobil pada Hans.
"Jenifer di belakang mobil Yuna." Ucap Hans.
Anna benar-benar takut bertemu Andreas, ia menggenggam erat tangan Hans.
Mereka telah berada di dalam mobil Mama Riana.
"Hans, aku takut." Anna memegang tangan Hans.
"Aku akan menjaga dirimu." Hans tersenyum dan menyalakan mesin mobil.
Mobil telah melaju kencang meninggalkan Kantor catatan pernikahan.
Anna memperhatikan sekeliling, ia sangat mudah hapal dengan jalanan.
"Kita akan ke bandara." ucap Anna.
"Ya, sebelum bertemu Andreas, kita pergi bulan madu." Hans tersenyum dan fokus mengendarai mobil.
Mobil Hans berpapasan dengan mobil Andreas, tetapi Andreas tidak tahu Hans telah menukar mobil Yuna dengan mobil Mama.
Jhonatan telah menghubungi Andreas tetapi ponselnya telah mati karena ia banting ke dinding.
Beberapa anak buah Jhonatan menunggu Andreas di kantor catatan pernikahan.
Satu mobil telah mengejar mobil Hans dan Anna.
"Hans, aku rasa mereka mengikuti kita." Anna menoleh ke belakang.
"Berpeganglah." Hans menginjak pedal mobil menambah kecepatan.
"Mereka tidak akan melukai Anna." gumam Hans dalam hatinya.
Anak buah Andreas tidak bisa bertindak apapun, hanya bisa mengikuti karena Takut melukai Anna.
Mereka telah sampai bandara, Hans dan Anna berlari bersama dengan terus berpegangan tangan.
Sebuah Jet pribadi telah siap melakukan penerbangan.
"Wah." Anna kagum, mereka akan naik Jet pribadi milik Hans berdua saja.
"Cepatlah Anna." Hans dan Anna terus berlari hingga memasuki Jet.
Anna buah Hans telah menunggu dan menjaga Semua pintu masuk.
Beberapa polisi telah Hans siapkan, agar tidak ada yang berani bertindak.
Hans dan Anna tersenyum ketika pintu Jet telah ditutup.
Dengan refleks Anna memeluk Hans.
"Terimakasih." ucap Anna.
Hans tersenyum, ia menikmati hangatnya pelukan Anna.
"Beristirahatlah!" Hans menarik tangan Anna memasuki sebuah ruangan yang berisi kamar tidur.
"Cantik sekali." Anna tersenyum, dengan napas yang masih ngos-ngosan.
Anna duduk di tempat tidur, Hans membuka lemari.
"Ini pakaian kamu, dan handuk." Hans telah menyiapkan semuanya dengan sempurna.
*****
Mohon dukungan dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊
__ADS_1