
Harry menatap Anna, ia benar-benar bingung menyelesaikan masalah dengan Andreas.
"Kenapa kamu tidak menyukai Andreas?" tanya Harry.
"Bug" Sebuah pukulan mendarat di wajah Harry.
"Hengky" Anna dan Mama berteriak, Papa Hendrick hanya melihat santai, menyaksikan bagaimana putranya akan menyelesaikan masalah Anna.
"Apa tidak mengenal Andreas?" Hengky memegang kerah baju Harry yang terdiam.
"Hengky lepaskan" Anna beranjak dari kursi dan menarik tangan Hengky.
"Pa, nikahkan saja Anna dengan diriku" ucap Hengky menatap Papa Hendrick.
Semua mata melihat ke arah Hengky. Papa Hendrick tersenyum.
"Tanyakan pada Anna" jawab Papa Hendrick.
"Bagaimana Anna?" Hengky menggenggam tangan Anna.
"Apa kamu pikir masalah ini selesai begitu saja dengan pernikahan" Anna menatap Hengky sedih.
"Anna benar, apa kamu pikir Andreas akan melepaskan kamu dan Anna, yang ada Andreas akan menghancurkan hidupmu" Harry menarik tangan Anna dari Hengky yang terdiam.
"Sayang, apa yang harus kita lakukan?" Mama Riana menggenggam tangan Papa Hendrick.
"Anna, kamu tinggal bersama di rumah Papa Hendrick" ucap Harry.
"Mama" Anna menatap Mama Riana.
"Tidak apa Sayang, kamu tinggal bersama Papa, Mama bersama Jenifer di rumah kita" Mama beranjak dari kursi dan memeluk Anna.
Anna merasa mau gila dengan masalah yang dihadapi oleh dirinya.
"Anna Kakak antar kamu pulang" ucap Harry.
"Aku di sini saja, apakah aku boleh meminjam komputer untuk desain gedung" Anna hanya bisa menghabiskan waktunya dengan mendesain gedung.
"Tentu saja" Harry menarik tangan Anna menuju ruangan.
Anna melirik Hengky yang menatap sedih pada Anna.
Begitu sulitnya untuk bisa bersama Anna dan Andreas hadir dengan mudahnya menjadi pengacau.
Hengky mengepalkan tangannya, ia sangat kesal, Papa Hendrick memperhatikan Hengky.
"Hengky, sejak kapan kamu menyukai Anna?" tanya Papa Hendrick.
"Sejak Aku bertemu dengan dirinya di kampus" jawab Hengky.
"Kenapa kalian tidak berpacaran sejak dulu?" tanya Mama Riana.
"Anna tidak pernah memberi kesempatan kepada diriku dan pria lainnya untuk mendekati dirinya, ia menghabiskan waktunya untuk belajar dan mendesain" jelas Hengky duduk di Sofa.
"Anna hidup dengan keras, ia tidak pernah meninggalkan Asrama kampus, ia tidak menikmati masa mudanya, ia terus berada di dalam kamar sepanjang hari sejak selesai kelas di kampus" Hengky mengingat Anna yang selalu menolak ketika di ajak berlibur.
Ketika liburan, Anna bekerja di kamarnya, dengan mengirim desain dan ikut lomba, hingga ia terus bisa mendapatkan uang ketika kuliah.
Menjadi mahasiswi termuda dan tercerdas di kampusnya, tetapi Anna hampir tidak memiliki teman, karena ia tidak mengikuti gaya kehidupan anak kampus.
Menghabiskan waktu bersama komputer di dalam kamar Asrama.
***
Harry menyiapkan sebuah ruangan di samping ruangan Harry.
"Kemarilah, ini ruangan untuk sekretaris ku, tetapi aku belum punya waktu untuk mendapatkan orang yang cocok" Harry tersenyum.
"Ah, ruangan yang sangat besar, kakak membuat nyaman karyawan" Anna tersenyum dan menyentuh perlengkapan yang ada di ruangan, semuanya masih baru.
"Gunakanlah sesuka hatimu, perusahaan ini juga milik dirimu" Harry mencium dahi Anna.
"Terimakasih Kak, aku senang memiliki kakak seperti kak Harry" Anna memeluk Harry.
"Baiklah, Kakak akan kembali ke ruangan, semoga kamu suka" Harry tersenyum dan meninggalkan Anna yang mengangguk.
Harry berjalan Menuju ruangnya, dan duduk di kursi miliknya.
Ponsel Harry kembali berdering, nama Andreas muncul di layar ponsel.
Harry menerima panggilan dengan loud speaker dan meletakkan ponsel di atas meja.
"Apa yang kamu inginkan Andreas?" tanya Harry kesal.
"Kamu tahu, aku hanya menginginkan Anna" tegas Andreas.
__ADS_1
"Dia tidak menginginkan dirimu" ucap Harry.
"Aku tidak perduli, berikan Anna padaku atau kehancuran perusahaanmu dalam hitungan hari" ancam Andreas.
"Terserah dirimu" Aku tidak mau memaksa Anna untuk menerima dirimu.
"Aku rasa Anna sendiri akan datang padaku, ia tidak akan tega melihat keluarganya hancur hanya mempertahankan keegoisannya, hahaha" Andreas mematikan ponselnya.
"Kenapa Anna harus bertemu dengan Andreas" kesal Harry, ia tidak tahu Anna berdiri di depan pintu yang masih terbuka dan mendengarkan semua percakapan Harry dan Andreas.
Anna cukup puas mendengarkan pembelaan dari Harry, walaupun mereka berbeda ibu.
Anna mengetuk pintu membuyarkan lamunan Harry yang sedang memijit batang hidungnya.
"Ah Anna, apa kamu butuh sesuatu?" Harry tersenyum pada Anna.
"Tidak, apa kakak sedang ada masalah?" tanya Anna tersenyum dan pura-pura tidak tahu.
"Tidak, Dunia bisnis memang seperti ini, memusingkan kepala" Harry beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Anna yang duduk di Sofa.
"Kak Harry menyembunyikan permintaan Andreas dark diriku" gumam Anna.
"Kenapa, apa kamu tidak suka dengan ruangnya? atau kamu mau jadi Sekretaris Kakak?" Harry mengusap kepala Anna.
"Kau seorang Arsitek, tidak bisa jadi sekretaris" ucap Anna tersenyum.
Terserah ketukan pintu, seorang karyawati masuk dan memberi hormat, ia melirik Anna yang terlihat sedang bermesraan dengan Harry.
"Maaf Tuan Harry ada tamu" ucap karyawati yang berpikir Anna adalah kekasih Harry.
"Siapa?" tanya Harry, belum sempat karyawati menjawab Andreas telah masuk.
"Aku" Andreas menatap tersenyum pada Anna yang terkejut dan bersih.
"Andreas" Harry beranjak dari Sofa, kedatangan Andreas cukup membuat Harry terkejut.
Itu berarti Andreas telah berada di perusahaannya sejak lama dan melakukan panggilan ketika sudah berada di perusahaan.
"Halo teman, ah tidak kamu akan jadi saudara Iparku" Andreas tersenyum dan berjalan mendekat.
Andreas melihat Anna menggenggam erat tangan Harry, itu membuat Andreas tidak suka dan cemburu.
"Harry sebaiknya kamu lepaskan tangan Anna" ucap Andreas.
"Andreas, Anna adalah adikku" ucap Harry.
Andreas menarik tangan Anna dari Harry dengan paksa.
"Lepaskan Aku" Anna berteriak dan berusaha menarik kembali tangannya yang sudah merah di genggam Andreas.
Hengky berlari ke dalam ruangan dan memukul wajah Andreas hingga bibirnya berdarah.
Tangan Anna terlepas dan ia berlari ke arah Harry.
"Hengky" Harry berteriak, melawan Andreas sama saja menggali kuburan kehancuran.
Andreas menyentuh wajah dan bibirnya yang berdarah.
"Hengky, kamu hanya bisa bermain otot" Andreas tersenyum dan mengusap darah dari bibirnya.
"Dan kamu hanya bisa memaksa kehendak kepada orang lain" bentak Hengky.
"Aku punya kemampuan untuk itu semua" tegas Andreas.
"Aku tidak mau mengotori tangan hanya untuk memukul sampah seperti dirimu" Andreas tersenyum.
Hengky ingin kembali memukul wajah Andreas tetapi di tahan oleh Harry.
Jika wajah Andreas hancur, Hengky akan dipenjara dan disiksa oleh orang bayaran Andreas.
"Bagaimana Harry, aku berikan waktu satu jam untuk berpikir" Andreas duduk di Sofa dan Anna pindah ke kursi Harry menjauh dari Andreas.
"Anna Sayang, kamu akan menjadi milikku satu jam kemudian" Andreas tersenyum, ia menyilang kan kakinya dan memainkan Ponsel di tangannya.
Anna berlari keluar ruangan dan kembali ke ruangan Papa Hendrick.
Anna melihat Papa terlihat sibuk, dan mambantu Papa dengan memperhatikan layar komputer yang menampilkan grafik penurunan perusahaan.
"Apa yang terjadi?" Anna bingung.
"Anna panggilkan Harry dan Hengky, Kenapa perusahaan mengalami penurunan, bahkan kita akan kehilangan banyak uang" Papa terlihat panik.
"Kak Harry pasti belum tahu karena belum mengaktifkan komputer di ruangannya" pikir Anna.
Anna kembali berlari ke ruangan Harry, masih dalam posisi yang sama, menjauhkan Hengky dari Andreas.
__ADS_1
"Kak Harry dan Hengky dipanggil Papa" ucap Anna pelan.
"ooh, kebangkrutan terjadi lebih cepat, kamu benar-benar tidak siap Harry" Andreas tersenyum dan melirik Anna.
Harry segera berlari ke meja kerjanya dan mengaktifkan komputer.
"Hengky pergilah ke ruangan Papa Hendrick!" perintah Harry dan Hengky menurut.
Andreas berjalan mendekati Anna.
"Sudah Aku katakan, kamu tidak akan pernah bisa lari dari ku" Andreas menyentuh pipi mulus Anna.
"Kehancuran perusahaan Papa mu untuk ditukar dengan dirimu" bisik Andreas di telinga Anna.
"Apa maksud Dirimu?" Anna menatap Andreas penuh kebencian.
"Aku sedang menghancurkan perusahaan Papa Hendrick dan Harry" ucap Andreas mainkan rambut hitam Anna.
"Aaah, satu lagi menghancurkan karir Mama Riana" Andreas mencium wangi rambut Anna.
" Andreas ini belum satu jam" kesal Harry.
"Itu buka. salahku tetapi para ahli yang bergerak terlalu cepat" Andreas tersenyum dan duduk di Sofa.
Anna diam mematung memperhatikan Harry yang sangat khawatir.
"Kembalikan semuanya" ucap Anna menahan air matanya.
"Benarkah, apa yang akan kamu berikan kepada ku?" Andreas tersenyum, ia mulai melihat pertahanan Anna yang hancur.
"Apa saja yang kamu mau" suara Anna tertekan.
"Anna, Kakak akan berusaha" ucap Harry.
Anna menangis, kedatangan dirinya ke perusahaan Papa Hendrick hanya membawa kehancuran untuk keluarganya.
"Anna" Harry ingin memeluk Anna tetapi Andreas telah lebih dulu melakukannya.
"Jangan menangis Sayang" Ucap Andreas lembu
Anna mendorong tubuh Andreas hingga kembali jatuh ke Sofa.
"Kamu sangat jahat" bentak Anna dan berlari meninggalkan ruangan Harry.
Anna terus berlari di temani air matanya, ia masuk ke lift dan menekan nomor lantai paling dasar.
Harry mau mengejar Anna, tetapi ditahan Andreas.
"Aku akan mengembalikan perusahaanmu seperti semula" Ucap Andreas dan menyusul Anna.
Ketika memeluk Anna, Andreas telah meletakkan alat pelacak di kerah baju Anna.
Andreas bisa mengetahui lokasi Anna melalu ponselnya.
Anna berada di taman kota, duduk di bawah pohon rindang yang melindungi dirinya dari teriknya matahari siang.
Air mata Anna terus mengalir, ia sangat membenci kehidupan yang ia jalani saat ini.
Kapan ia akan merasa bahagia, kenapa ia terus menderita sejak di tinggal kakek dan nenek.
Kebahagiaan Anna hanya Ketika ia bernama Kakek dan nenek dan ketika pertama kali ia memiliki Papa dan Mama.
Tidak bisakah ia berbahagia bersama orang yang ia cintai.
"Siapa pria yang aku cintai?" tanya Anna pada dirinya sendiri.
Ia bahkan tidak bisa merasakan rasa cinta yang sebenarnya kecuali cinta kepada kakek dan nenek.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
**Mohon dukungannya untuk selalu tinggalkan like komentar dan Vote, serta bintang 5 terima kasih.
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊**
__ADS_1