Babi Beranting

Babi Beranting
100. Persetujuan Hamidah


__ADS_3

"Sebenarnya Akang mau ngomong apa?" tanya Hamidah sambil menatap lekat ke arah suaminya, seolah tidak mau ada yang terlewat sedikitpun, ketika suaminya berbicara.


Melihat istrinya yang tanggap, Surya Jaya pun membenarkan posisi duduknya, sebelum berbicara Dia terlihat menarik nafas terlebih dahulu, seperti orang yang sedang berpidato di khalayak ramai.


Surya Jaya pun mulai menceritakan apa yang akan dilakukan olehnya, dia menjelaskan dari awal hingga akhir tanpa ada yang terlewat sedikitpun, sembari menyelipkan harapan-harapan yang membuat Hamidah tertarik, agar istrinya menyetujui dengan apa yang dia inginkan. Hingga lama-kelamaan istri Surya Jaya itu mulai tertarik dengan apa yang disampaikan oleh suaminya. Apalagi ditambah janji-janji dan harapan-harapan yang begitu indah. soalnya Surya Jaya menyampaikan, ketika mereka bisa memiliki babi aneh itu, maka uang pun akan berjatuhan seperti hujan yang turun dari langit. intinya Surya Jaya terus mempengaruhi dan memberikan harapan agar istrinya tertarik. "nah, begitu rencana Akang Hamidah! sekarang silakan kamu pikirkan! kalau setuju ya alhamdulillah, Kalau nggak setuju ya nggak apa-apa. tapi kalau kehidupan kita ingin maju, dan ingin naik dari Yang sekarang kita harus berkorban."


"Apa usaha itu tidak akan gagal?" Tanya Hamidah masih ragu.


"Akang juga tidak tahu, karena kita sebagai manusia hanya bekerja dan berusaha. seperti yang kamu ketahui, yang mengabulkan itu hanyalah Tuhan Yang Maha Esa. kalau kita ingin hasil yang melimpah, maka kita harus sering berdoa dan sering meminta agar usaha kita dilancarkan. karena kalau kita sering berdoa pasti suatu saat Gusti Allah akan mengabulkan."


"Kalau babi aneh itu kita beli, kira-kira butuh uang Berapa Kang?" tanya Hamidah yang semakin lembut membuat Surya Jaya merasa senang, Bahkan bukan Surya Jaya saja, Mas sujiman yang sejak dari tadi memperhatikan, dia pun ikut merasakan hal yang sama.


"Kayaknya butuh uang Rp150.000!"


"Holoooh! Babi Apa itu, apa nggak kurang mahal?" tanggap Hamidah yang terlihat kaget.


"Jangan kaget seperti itu, karena itu hanya untuk persiapan saja. soalnya Harganya belum pasti, bisa saja harganya hanya Rp50.000, sama seperti babi babi pada umumnya."


"Kalau saya setuju setuju aja sih kang! tapi, uang segitu bukan uang kecil. terus, kira-kira mau uang apa yang akang mau pakai, untuk membeli babi itu. karena kita tidak punya uang sebesar itu, dan kalau harus meminjam meminjam sama siapa?"


"Kalau kamu setuju dengan niat Akang. bagaimana kalau kalung kamu akang pinjam dulu, kalau usaha Akang gagal, Si Jalu yang akan menjadi jaminannya."


Mendapat keterangan dari suaminya seperti itu, Hamidah pun terdiam seketika, seolah sedang memikirkan apa yang disampaikan oleh Surya Jaya, menimbang baik dan buruknya. namun lama kelamaan dia yang sudah tertarik dengan cerita yang dibawakan oleh sang suami yang begitu menggiurkan. akhirnya Hamidah pun mengalah, ia menyerahkan kalung yang melingkar di lehernya. wanita itu seperti sedang sholeh hati, pasrah jiwa, demi untuk memajukan niat suaminya yang hendak menjalani usaha kembali.


"Kalau Akang mau, ya sudah pakai saja kalung ini. tapi saya berpesan, Akang harus hati-hati menggunakan uang dan harus teliti ketika membeli barang. karena usaha itu tidak mudah, Jangan terpaku dengan keuntungan yang sangat menggiurkan. Akang juga harus memikirkan tentang kerugian dan kegagalan, karena keuntungan dan kerugian itu adalah dua ujung yang sama," nasehat Hamidah sebelum menyerahkan kalung yang sudah dilepas.


"Siap mid! Akang akan menuruti semua nasehatmu, Akang akan mengingat semuanya. yang terpenting, kamu jangan lupa mendoakan Akang, agar usaha kita lancar tidak ada gangguan dan bisa menghasilkan untung yang sangat banyak." jawab Surya Jaya yang terlihat sumringah, karena dia merasa bahagia ketika melihat istrinya setuju dengan apa yang dia inginkan. ternyata keinginan yang dianggap sulit untuk terwujud ketika dijalankan tidak sedikitpun menemui gangguan. Siang itu istrinya terlihat sangat sholehah, menyetujui apa yang hendak dia lakukan.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua pun terus mematangkan diskusi, disaksikan oleh sujiman. sehingga akhirnya mereka mendapat keputusan bahwa hari itu juga kalung yang telah diserahkan oleh Hamidah akan langsung dijual ke Kecamatan, karena uangnya harus ada sebelum jam 04.00 sore.


Melihat sahabatnya sudah mendapatkan uang, Mas Sujiman yang sejak dari tadi memperhatikan, dia mengajak Surya Jaya untuk segera pergi menuju Kampung Sela kaso, apalagi mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 siang.


Mendapat ajakan Mas sujiman, Surya Jaya pun dengan bergegas dia masuk ke rumah, kemudian mengambil handuk untuk membersihkan badannya terlebih dahulu.


Selesai mandi Surya Jaya meminta surat kalung milik istrinya. dengan cepat Hamidah pun memberikan karena sudah sejak dari tadi ia persiapkan. setelah surat dan kalung emas sudah berada di tangannya, Surya Jaya memasukkan perhiasan milik istrinya itu ke dalam kantong celana.


"Doakan akan yah mid!" ujar Surya Jaya sebelum berangkat.


"Yah, Midah doakan! semoga usaha dan cita-cita akang diberikan kelancaran."


Akhirnya kedua laki-laki itu setelah berpamitan mereka pun berangkat hendak menuju ke kampung selakaso, namun sebelum ke kampung Mas Sujiman, mereka berencana untuk ke Kecamatan terlebih dahulu, untuk menjual perhiasan milik Surya Jaya. Tapi itu tidak susah, karena mereka hanya tinggal berjalan setengah jam, mereka sudah sampai di Kecamatan. Sesampainya di kecamatan, Mereka pun mencari toko yang menerima jual beli emas, disamakan dengan toko emas yang dimiliki oleh Surya Jaya.


Jual beli barang yang dimiliki oleh Surya Jaya tidak menemui kendala sedikitpun, karena begitulah ketika memiliki perhiasan yang sangat berharga itu, membelinya mudah, sama pula dengan menjualnya. akhirnya Surya Jaya pun mendapatkan uang sesuai dengan yang diharapkan, bahkan lebih, karena ketika menjual emas hanya dipotong beberapa ratus perak saja.


Perlahan matahari yang sudah condong ke sebelah barat, semakin sore matahari itu semakin turun, hingga pancaran panasnya tidak terlalu terik seperti ketika waktu siang. hingga akhirnya pukul 04.00 kurang, kedua laki-laki itu sudah sampai di Kampung Selakaso. mereka berdua tidak langsung ke tempat pengaduan babi, namun mampir terlebih dahulu ke rumah sujiman.


"Ijah....! Ijah.....!" teriak sujiman yang memanggil istrinya.


"Apa sih manggil-manggil! Berisik tahu...! ijah sedang di dapur!" jawab Ijah membalas teriakan suaminya, mereka berdua tidak memakai sopan santun layaknya seorang suami istri, mereka berbicara seperti biasa seperti seorang teman. Ijah tidak tahu kalau di depan ada tamu yang harus dihormati.


Kedua laki-laki itu pun masuk ke dalam rumah Mas sujiman. "Silakan duduk dulu kang! Saya mau mengambil minum dulu," ujar sujiman mempersilahkan tamunya.


"Terima kasih Mas...!" jawab Surya Jaya sambil duduk di papan yang sudah di ampari oleh tikar daun pandan. sedangkan Mas sujiman dia langsung pergi ke dapur menemui istrinya.


"Kamu tuh, kalau berbicara dengan suami harusnya pakai sopan santun. Malu dong sama tamu!" Ketus Mas Sujiman yang tak berpikir, bahwa dia juga seperti itu. Dia berbicara pelan dengan istrinya mungkin takut kedengaran oleh Surya Jaya.

__ADS_1


"Emang ada siapa?" tanya Ijah sambil menatap ke arah suaminya.


"Itu ada Kang Surya Jaya!"


"Walah...! Kirain Mas datang sendiri. sebentar saya akan menyiapkan air minum terlebih dahulu. Karena kalau air minum sudah panas, namun cemilannya yang nggak ada, soalnya tadi tidak sempat membuat ingin cepat-cepat menonton pertunjukan adu babi." ujar Ijah sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air yang terlihat masih mengepul.


"Kang Surya Jaya juga mau ikut menonton adu babi. sebentar kamu ke sini dulu!" bisik Mas sujiman sambil melambai-lambaikan tangan agar istrinya mendekat.


"Ada apa mas?" tanya Ijah sambil menatap penuh heran.


"Dengerin apa yang Mas mau sampaikan, Mas mau usaha. Kang Surya Jaya mau membeli babi Bah Turo, Akang mau mencari keuntungan dari penjualan itu. Awas...! kamu salah menjawab kalau ditanya oleh Kang Surya," ujar sujiman yang terlihat serius.


"Salah Jawab bagaimana, Mas?"


"Kamu tahu bahwa babi itu beranting?"


"Ya tahulah Mas, kan itu sudah menjadi rahasia umum."


"Nanti ketika Surya Jaya bertanya tentang keanehan babi itu, maka kamu harus menjawab bahwa babi itu memang benar-benar aneh."


"Siap mas...! Laksanakan...!" ujar Ijah sambil mengulum senyum karena mungkin dia sudah paham dengan apa yang dimaksud oleh sujiman.


"Yasuda, Sana kamu jamu Kang Surya, kasihan dia habis perjalanan jauh. karena sebelum ke sini dia menjual kalung milik istrinya terlebih dahulu ke Kecamatan. pasti dia sangat kehausan...!" usir Mas sujiman.


Ijah pun bangkit dari tempat duduknya, bibirnya tetap mengulum senyum merasa bahagia karena sebentar lagi suaminya akan mendapatkan untung. dengan giat dia mulai mengambil gelas yang sudah diisi oleh air, lalu disimpan di atas nampan, kemudian dia membawanya ke ruang depan untuk dihidangkan ke Surya Jaya.


"Nggak usah repot-repot Dik...! Akang kan bukan Tamu ini," ujar Surya Jaya ketika Ijah sampai di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2