Babi Beranting

Babi Beranting
31. galih


__ADS_3

Keesokan paginya. kira-kira pukul 07.30, ke rumah Mbah abun ada dua orang anak remaja yang bertamu.


"Eh Kang Galih dan Kang Daus, Mau mencari siapa?" tanya Ranti yang kebetulan membukakan pintu.


"Abahnya ada Ran?" tanya Galih sambil melempar senyum.


"Ada, sebentar Ranti panggilin! Silakan masuk." jawab Ranti membalas senyuman Galih.


Setelah dipersilahkan Kedua remaja yang bertamu saling menatap, kemudian mereka masuk ke dalam rumah mbah Abun. sedangkan Ranti dia masuk ke dapur untuk memanggil orang tuanya, sebelum orang tuanya menemui mereka. Ranti sudah kembali sambil membawa nampan berisi air minum.


"Nggak usah repot-repot Ran!" Tolak Galih.


"Nggak repot kok, Kang! cuma air teh doang." jawab Ranti kemudian dia duduk menyambut tamunya, sebelum Mbah Abun datang menemui.


"Abahnya Ada Ran?" tanya Daus.


"Ada sebentar, katanya. lagi ada pekerjaan tanggung. Oh iya, ada apa kok akang-akang mau menemui Abah?" Ranti membalikkan pertanyaan, sambil membagi tatapan kepada dua remaja yang bertamu.


"Jadi begini Ran! kebetulan Akang dan Kang Daus ditunjuk oleh para warga untuk menjadi ketua pengurus  kelompok usaha, yang hendak Mbah Abun dirikan. awalnya Abah mau menjadikan Mang Zuhri untuk menjadi pengurusnya, namun Mang Zuhri yang memiliki kesibukan, beliau tidak bisa. jadinya akang dan Kang Daus yang mengurus." jawab Galih menjelaskan, tak lupa bibirnya diisi dengan senyum. sehingga membuatnya terlihat semakin menawan, apalagi kulit pria itu yang putih, ditambah pakaian yang rapi, ditambah badan yang tegap sehingga membuat para wanita akan betah berlama-lama mengobrol dengannya.


"Oh begitu, Iya Ranti juga sudah dengar dari Abah. Selamat ya, udah menjadi ketua pengurus." ujar Ranti membalas senyuman Galih membuat Daus merasa menjadi Tidak Dianggap.


"Eh ada tamu!" Sapa Mbah Abun, yang baru keluar dari arah dapur. kemudian dia menghampiri kedua tamunya itu lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Iya bah! Maaf menggangu," jawab Daus setelah bersalaman.


"Nggak, nggak menggangu! namun maaf Abahnya lumayan sibuk, maklum orang susah. hehehe" ujar Bah Abun sambil duduk di samping anaknya.


"Terima kasih Mbah!" jawab Daus.


"Ada apa kalian berdua menemui Abah sepagi ini? Abah agak kaget nih, kok tumben-tumbenan didatangi tamu oleh dua remaja tampan seperti kalian?" tanya Mbah Abun yang orangnya sangat ramah.


Dibilang remaja tampan, kedua hidung anak muda itu, terbang lepas dari wajah masing-masing.

__ADS_1


"Ah, Abah bisa aja! maksud saya dan Daus menemui Abah ke sini! sesuai yang diceritakan oleh Mang Zuhri. Abah hendak membuat kelompok usaha kerajinan anyaman. mohon maaf, Apa itu benar bah?" tanya Galih mulai membahas ke pokok permasalahan.


"Benar sekali Jang. soalnya orderan yang masuk dari para Bandar sangat banyak, sehingga Abah keteteran untuk melengkapi pesanan para bandar itu. akhirnya Abah memutuskan untuk mengajak seluruh warga Ikut andil dalam usaha yang Abah geluti. Terus kenapa Ujang Kok bertanya seperti itu?" jawab Mbah Abun membalikan pertanyaan, sambil membagi tetapan ke arah anak muda yang duduk di hadapannya.


"Syukurlah kalau begitu, Jadi begini Bah! kebetulan tadi malam. kami para warga mengadakan rapat untuk membahas tentang rencana kerjasama ini. namun setiap kelompok usaha harus ada pemimpin, agar ada yang bisa bertanggung jawab. nah, kebetulan saya ditunjuk sebagai ketua kelompok, sedangkan Kang Daus sebagai sekretaris. jadi maksud kedatangan saya ke sini, hanya ingin memberitahu itu." jelas Galih panjang lebar agar tuan rumah mengerti dengan maksudnya.


"Oh begitu, benar, benar jang! Setiap kelompok harus ada ketua. Karena kalau ada ketua atau pemimpin. perusahaan atau kelompok bisa terarah  selamat buat kalian berdua, semoga kerja sama kita bisa terjalin dengan baik."


"Amin!" jawab semua orang yang ada di situ dengan serempak.


"Oh iya, abah! saya mau bertanya lagi." ujar Galih.


"Silakan Jang, mau bertanya apa?"


"Menurut keterangan dari Mang Zuhri, Abah akan membayar semua kerajinan warga 750 Rupiah. 700 untuk pengrajin, 50 rupiah untuk pengurus, Apa itu juga benar Mbah."


"Benar! pokoknya semua yang dikatakan oleh Jang Zuhri, semuanya benar adanya. karena seperti yang kita tahu Kang Zuhri orangnya sangat jujur. jadi Ujang Ujang Jangan ragu!" jelas Mbah abun memberikan kepastian.


"Terima kasih Mbah! maaf kalau banyak bertanya. Jadi semalam kelompok yang baru didirikan, mereka bersedia dibayar Rp600 untuk pengrajin, yang menggunakan modal sendiri. Sedangkan untuk yang ditanggung oleh kelompok akan dibayar Rp500. namun Pak RT menyarankan agar para pengrajin menabung sebesar 50 rupiah." jelas Galih.


"Terima kasih kalau seperti itu, Namun ada satu masalah lagi." ujar Galih sambil tersenyum kemudian dia menundukkan pandangan.


"Butuh modal berapa?" tanya Mbah Abun yang mengerti Ke mana arah pembicaraan anak muda ini.


"Mungkin untuk tahap awal, saya butuh Rp30.000 aja bah. kalau kebanyakan saya takut tidak bisa membayar." jawab Galih malu-malu.


"Wah, itu sedikit sekali Jang. begini aja, Abah kasih Rp50.000, namun dalam waktu seminggu semua kerajinan harus sudah disetorkan sama abah. Kenapa Abah hanya memesan 50 buah, karena kalau mulai dari awal lagi, menganyam itu sangat sulit. Karena ada cara-cara yang mungkin lupa." jelas Bah Abun memberikan keringanan.


"Waduh, Terima kasih banyak Bah! terima kasih!" Jawab Galih menunjukkan raut kebahagiaan.


"Tapi ingat! Abah nggak mau menerima kerajinan anyaman yang cacat atau jelek. sebelumnya Abah minta maaf, kalau nanti ada barang yang tidak sesuai dengan yang sudah Abah tetapkan, akan dikembalikan dan tidak akan dibayar. Kenapa Abah tega, karena kita sebagai produsen harus menjaga kualitas produknya, agar semua pelanggan kita merasa puas dengan barang yang kita jual. Kalau Pelanggan puas, Siapa yang untung? semua orang yang ada dalam usaha ini."


"Siap Bah! saya akan utamakan semuanya perintah Abah." jawab Galih sambil manggut.

__ADS_1


"Nah, nanti. untuk mengecek hasil kualitas kerajinan para warga. Abah nggak akan turun langsung. nanti rantilah, anak Abah yang akan mengecek kualitas kerajinan, karena walau begini-begini juga, dia sudah sangat paham dengan kerajinan anyaman bambu."


"Siap bah!" jawab Daus yang dari tadi hanya menyimak, membuat pandangan semua orang tertuju kepadanya. "siapkan, Kang Galih?" tanya Daus melemparkan pertanyaan ke temannya, untuk mengusir rasa malu karena tidak bisa menjaga obrolannya.


"Iya siap!" jawab Galih sambil tersenyum.


Setelah dirasa selesai pembahasan. Mbah Abun pun bangkit dari tempat duduknya  kemudian dia masuk ke kamar tidur. tak lama Ia pun kembali  dengan membawa beberapa lembar uang berjumlah Rp50.000.


"Nanti ke depannya setelah barang dicek oleh Ranti, maka akan langsung dibayar. sekarang Abah mengeluarkan modal terlebih dahulu, agar para warga semangat dalam bekerja." ujar Bah Abun sambil memberikan uang itu kepada Galih.


"Terima kasih banyak atas kepercayaannya Bah! semoga kerjasama kita terjalin dengan begitu baik."


"Sama-sama Jang, kapan mau mulai bekerja?" tanya Mbah abun.


"Mungkin besok Mbah, karena hari ini saya atau Daus akan pergi ke kota membeli rotan sintetik, sesuai yang Abah ceritakan ke Kang Zuhri." jawab Galih memberikan kepastian.


"Begini aja Jang! daripada ribet-ribet ke kota, mendingan Ujang beli rotan sintetik punya abah, nanti ke depannya setelah konsisten dalam kerajinan, baru Ujang sendiri yang belanja ke kota." ujar Mbah ab7n memberikan keringanan.


"Aduh! Terima kasih banyak bah, Tadinya saya sudah bingung harus menyuruh siapa untuk pergi ke kota, karena kita tidak tahu tempat penjual rotan sintetik itu berada di sebelah mana." jawab Galih dengan wajah bahagia, karena dia tidak harus repot-repot pergi ke kota.


"Ranti! tolong ambilkan rotan sintetik milik kita, kayaknya itu cukup buat membuat 100 buah kerajinan." seru Bah Abun sama anaknya yang sejak dari tadi diam menyimak.


"Baik Abah!" jawab Ranti sambil bangkit dari tempat duduknya,  kemudian dia masuk ke dapur, untuk mengambil apa yang diminta oleh orang tuanya. tak lama dia pun kembali sambil membawa rotan sintetik buat pengikat anyaman, lalu rotan itu diserahkan kepada orang tuanya.


"Berapa ini bah?"


"100 helai lebih Jang!" jawab Bah Abun.


"Maksudnya harganya berapa bah? kan ini harus dibayar!"


"Hahaha, Abah suka dengan pola pikir Jang Galih. Usaha tetap usaha, tidak mementingkan Tetangga. dari sananya rp100/10 helai, sekarang Abah minta Rp150. karena harga 100 itu di kota, bukan di sini."


Mendengar jawaban dari Mbah Abun. Galih pun mengembalikan uang rp1.500 sebagai pembayaran rotan sintetik. kemudian dia menatap ke arah Daus. "nanti kamu catat ya semua pengeluaran kita!" seru Galih

__ADS_1


"Baik kang!" jawab Daus sambil menganggukan kepala.


__ADS_2