Babi Beranting

Babi Beranting
21. Prabu UWUL-UWUL


__ADS_3

"Kita sekarang sudah sampai di kerajaan babilosia yang dirajai oleh Prabu uwul-uwul. apapun yang Abah lihat, apapun yang Abah temui. jangan sampai membuat Abah terganggu,  atau bertanya. Abah harus fokus dengan tujuan Abah yang ingin bertemu dengan Prabu uwul-uwul." jelas aki sobani kembali memperingatkan Mbah Abun.


"Sampai kapan saya harus terdiam?"


"Sampai nanti kita kembali ke rumah kita!"


"Emang di mana letaknya kerajaan Prabu uwul-uwul?


"Tuh di sana!" tunjuk aki sobani ke salah satu bangunan termegah, terbesar dan tertinggi. meski jarak cukup sangat jauh, namun bangunan itu sangat terlihat jelas.


"Kita jalan kaki ke sana Ki?"


"Nggak!" sebentar lagi pengawal kerajaan akan menjemput kita."


Benar saja, setelah aki sobani mengucapkan kata itu. terlihat ada sebuah kendaraan yang mendekati ke arah Mereka berdiri. namun yang membuat mata Abah Abun terbelalak, ternyata setelah diperhatikan dengan teliti kendaraan berbentuk mobil itu.ternyata adalah tumpukan atau gabungan dari manusia-manusia yang dibentuk seperti mobil. melihat kejadian itu Mbah Abun sedikit brigidik ngeri.


"Ayo naik!" ajak aki sobani sambil masuk ke dalam mobil manusia, membuat Bah Abun yang masih melongok terperanjat kaget, kemudian dia ikut masuk ke dalam mobil.


"Aduh!" suara seseorang ketika Bah Abun mendudukkan tubuhnya di atas kursi. dengan penasaran Mbah Abun pun melihat ke tempat yang ia duduki, ternyata tempat yang diduduki olehnya, adalah kepala manusia.


Mbah Abun melirik ke arah Aki sobani, seolah bertanya sebenarnya ini ada apa? namun aki sobani hanya menatap tajam ke arah Mbah Abun. Memberi isyarat agar dia tidak banyak berbicara.


Mobil yang terbuat dari tubuh-tubuh manusia, perlahan melaju ke arah bangunan termegah, yang ada di kota itu. Dan ternyata bangunan-bangunan yang dilewati oleh Mbah Abun, yang terlihat dari kejauhan sangat megah. itu hanya susunan dari tumpukan tumpukan tubuh manusia hidup, namun mbah Abun tidak banyak bertanya, dia terfokus dengan niat awalnya.


Tak lama di perjalanan dengan kecepatan mobil yang begitu tinggi, sehingga mereka pun sudah sampai di salah satu bangunan termegah. sekarang pandangan Mbah Abun berubah kembali, dia tidak melihat lagi tumpukan tubuh manusia. Dia hanya melihat bangunan megah itu, seperti bangunan pada umumnya yang ada di alam manusia.


Aki sobani pun mengajak Mbah Abun untuk segera turun dari mobil, yang terlihat sudah normal kembali. mobil mewah yang sangat langka, yang Mbah abun tidak tahu namanya.


Setelah mereka turun dari mobil. perlahan aki sobani berjalan menapaki anak tangga. terlihat beberapa penjaga dengan persenjataan yang lengkap, berdiri di dekat pintu bangunan.


Setelah berada di pintu yang sangat besar, pintu itu perlahan terbuka. dengan cepat aki sobani berjongkok sambil menarik tangan Bah Abun agar mengikutinya. lalu aki sobani berjalan dengan berjongkok dan menundukkan pandangan, memasuki bangunan megah.


Setelah berjalan sekian lama, akhirnya mereka tiba di satu singgasana yang begitu mewah. singgasana yang terbuat dari berlian langka. setelah sampai di depan sang prabu, dengan cepat aki sobani pun menyembah junjunannya. Bah Abun yang melihat aki sobani menyembah, dia pun ikut melakukan apa yang dilakukan oleh kuncennya.


"Sembah saya kanjeng Prabu! Tolong terima Penghormatan saya yang sangat sederhana, untuk baginda Prabu yang begitu luar biasa." ujar aki sobani.

__ADS_1


"Bahagia sobani! Terima kasih atas semua pengabdianmu. Saya tidak meragukan kesetiaanmu yang sudah mengabdi berpuluh-puluh tahun. Siapa orang yang ada di belakang kamu, Sobani?" tanya Prabu uwul-uwul suaranya menggema memenuhi Aula kerajaan.


Mendengar pertanyaan dari sang raja aki sobani pun melirik ke arah Bah Abun.


"Saya Abun dari Kampung Ciandam Kanjeng Prabu, sembah saya bagi Sang Prabu." jawab Bah Abun sambil tetap menyembah.


"Abun mau kekayaan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya sang prabu seolah tahu dengan maksud kedatangan tamunya.


"Harta yang tidak habis-habis, Walaupun dipakai berfoya-foya setiap hari." jawab Mbah Abun.


"Hahaha! gampang itu, gampang sekali, Abuuuuun!" tawa sang prabu memenuhi Aula yang sangat besar.


"Terima kasih! atas kesediaannya membantu saya." jawab Mbah Abun.


"Mau berapa lama kamu menikmati kekayaan itu, 10 tahun, 20 tahun, atau selamanya?" tanya Prabu.


"Selama mungkin Kanjeng Prabu!"


"Hahaha! saya suka orang yang tamak seperti kamu, Karena itu adalah sifat saya! namun ada yang perlu kamu ketahui, wahai Abun!  tidak ada yang gratis, untuk mendapatkan itu semua. kamu harus tetap menentukan pilihan! Mau berapa tahun?"


"Ada! adaaaa! gini saja abun! kamu mau usaha apa, agar orang lain tidak curiga dengan kekayaan kamu. Karena kalau mereka curiga nanti mereka bisa iri!"


Ditanya seperti itu Mbah Abun pun berpikir sebentar, seperti orang yang sedang menimbang Usaha apa yang hendak ya lakukan.


"Saya pengrajin anyaman bambu! apa bisa dengan Saya berjualan anyaman bambu, kekayaan itu akan datang?" tanya Mbah Abun yang masih tetap menyembah.


"Apapun pekerjaannya boleh Abuuuuun, yang penting ada usaha!"


"Saya mau meneruskan berjualan anyaman bambu, kira-kira saya dapat waktu berapa tahun."


"Abuuuuuun karena saya suka dengan sikapmu yang tamak! saya akan memberikan pilihan terbaik buat kamu. bagaimana kalau kamu hidup selama benda yang saya pinjamkan sama kamu masih bisa terpakai. itu pilihan baik bukan? hahaha." tanya Prabu uwul-uwul.


"Benda apa, yang Kanjeng Prabu akan pinjamkan?


"Saya akan pinjamkan satu jimat berbentuk pisau, selama pisau itu masih bisa dipakai dan tidak rusak. Maka selama itu pula kamu bisa menikmati semua kekayaanmu, namun kalau waktumu sudah habis, kamu harus menjadi budakku di kerajaan babilosia."

__ADS_1


"Baik Kanjeng Prabu!" jawab bah abun yang mendapat angin segar. karena menurutnya syarat itu sangat mudah, sesuai syarat yang didapatkan oleh Mang sarpu.


"Kanjeng Patih Tolong bawakan persiapan penerimaan calon Warga Baru kita!" seru Prabu uwul-uwul ke Patih kerajaannya.


Mendapat perintah Raja seperti itu, dengan cepat sang Patih membawakan dua nampan. satu nampan itu berisi makanan mie dan roti, satu nampan lagi berisi pisau, bambu Tamiang dan beberapa lembar uang kertas. lalu kedua nampan Itu disimpan di hadapan Mbah Abun.


"Sebelum kamu meminjam benda kerajaan, kamu harus menghabiskan makanan itu terlebih dahulu. Jangan sampai ada yang tersisa!" Seru Prabu uwul-uwul kepada Mbah Abun.


Melihat makanan yang sangat nikmat, Mbah Abun pun tanpa disuruh dua kali, dia mulai mengambil mangkok berisi mie dan piring berisi roti.


"Makanan itu harus dihabiskan jangan sampai tersisa sedikitpun!" ancam Prabu uwul.


Mbah Abun hanya mengangguk, kemudian dia mulai memakan mie yang ada di dalam mangkok. namun setelah menghabiskan setengah dari mie itu, tiba-tiba perutnya terasa mual. Karena setelah diperhatikan mangkok yang awalnya berisi mie, sekarang berubah menjadi cacing cacing yang masih hidup.


"Hahaha!" terdengar tawa Prabu uwul uwul yang menggelegar.


Mbah Abun yang sudah membulatkan tekad dari awal, dengan menguatkan hati dia mulai menyantap cacing cacing yang ada di dalam mangkok. meski perutnya terasa mual, namun dengan perjuangannya yang begitu gigih, akhirnya Mi itu habis ia makan.


"Hahaha! rotinya makan Abun!" seru sang raja.


Mbah Abun pun menatap ke arah piring yang tadi berisi roti. sayang sekali roti itu sekarang sudah berubah menjadi talas mentah sebesar tangan. dengan menarik nafas pelan Mbah Abun perlahan memasukkan talas mentah itu ke mulutnya. meski lidahnya terasa sedikit gatal, namun dia tetap memaksakan agar makanan itu cepat habis. Demi tercapainya cita-cita.


"Hahaha! Abun! Abun!" tawa raja seolah sangat menikmati penderitaan Bah Abun.


Setelah menghabiskan makanan yang tadi disuguhkan, Mbah Abun pun kembali menyembah sambil tetap menundukkan pandangan. tak berani beradu tatap dengan raja yang begitu Agung.


"Bagus Abuuuuun! sekarang kamu sudah saya terima sebagai rakyat kerajaan babilosia.


"Terima kasih Kanjeng Prabu, sekarang Apa yang harus saya lakukan?"


"sekarang kamu boleh ambil jimat yang ada di nampan yang satunya lagi.jadikan itu benda pusaka yang harus kamu jaga kerahasiaannya, jangan sampai ada orang lain yang melihat. untuk cara penggunaannya kamu bisa bertanya ke si sobani." seru raja.


Mendapat perintah seperti itu Mbah Abun pun mengangguk, lalu mengambil pisau, bambu Tamiang dan beberapa uang lembaran. kemudian dia menyimpan uang dan pisau ke dalam saku Koko hitamnya, Sedangkan untuk bambu Tamiang dia genggam dengan begitu erat.


"Terima kasih Kanjeng Prabu!" ujar Bah Abun sambil menyembah kembali.

__ADS_1


"Sekarang kamu boleh pulang ke alammu, dan nikmatilahn kekayaanmu! saya akan selalu sabar Menunggu kedatanganmu kembali, untuk menjadi hamba saya!" ujar Prabu uwul-uwul.


__ADS_2