
Setelah memastikan Hasan pergi, Ranti pun keluar dari persembunyiannya kemudian mengetuk pintu kantor kelompok. dengan cepat Daus pun membukakannya, setelah mengobrol sebentar Ranti pun melanjutkan pekerjaan seperti biasa, selesai bekerja dia pun berpamitan kepada kedua remaja penjaga bangunan kelompok.
Sepeninggal Ranti tinggallah Daus dan Galih yang saling menatap, mereka masih kepikiran dengan pengaduan Hasan.
"Kalau dibiarkan begitu saja, Nanti usaha yang sudah kita bangun dan sudah kita rawat, bisa-bisa bangkrut Kang." ujar Daus mengawali pembicaraan.
"Iya us, akangjuga lagi berpikir bagaimana caranya agar Mang Sarman tidak menjadi ulat dalam pekerjaan kita."
"Coba kita tanya sama Kang Zuhri atau Pak RT. mungkin mereka bisa memberikan solusi, agar usaha kita tetap lancar." saran Daus.
"Benar juga, dengan apa yang kamu ucapkan. Ya sudah nanti sehabis zuhur temeni akang ya, untuk menemui Kang Zuhri sama Pak RT." pinta Galih mengambil keputusan.
Akhirnya mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaannya, menghitung uang pembayaran dari Ranti. lalu mencatatnya di buku Agar suatu saat ketika ada orang yang protes, mereka bisa menunjukkan bukti akurat.
Sedangkan Ranti setelah sampai ke rumah, dia dengan cepat menemui Mbah Abun yang sedang berada di samping rumah, sekarang dia membuat Saung sebagai tempat istirahat.
"Baru pulang Ranti?" tanya Mbah Abun setelah melihat anaknya menghampiri.
"Iya Abah, tapi tadi ada yang janggal."
"Ada yang janggal Bagaimana Nyai?" tanya Mbah Abun sambil membenarkan posisi duduknya.
"Tadi Ketika Ranti mengecek hasil kerajinan warga, ada salah satu anggota yang protes, karena merasa bahwa kelompok curang."
"Curang Bagaimana?" tanya Mbah Abun yang mengerutkan dahi.
"Katanya kita membeli hasil kerajinan mereka Rp900, padahal kita hanya membayar ke kelompok Rp750."
"Siapa yang bilang begitu?"
"Kang Hasan bah, dia dipengaruhi oleh Kang Sarman."
"Kurang ajar banget si Sarman, semakin dibiarkan semakin melunjak, semakin mengganggu ketenangan kita." gumam Mbah Abun sambil mengepalkan tangan, menandakan ada amarah.
"Terus kita bagaimana bah?" tanya Ranti.
"Nanti kita cari waktu untuk mengumpulkan semua anggota kelompok, untuk membahas tentang kebenarannya. Kasihan Jang Galih dan yang Daus yang mati-matian membela mereka, namun orang yang dibela Malah seperti itu." Jawab Bah Abun memberikan keputusan.
"Iya bah! kalau dibiarkan nanti bisa menyebar ke mana-mana, Untung tadi Kang Galih bisa dengan cepat menanggulangi Kang Hasan. Coba kalau tidak, mungkin sudah banyak dari anggota kelompok yang hendak keluar." ujar Ranti membenarkan.
__ADS_1
"Ya sudah, sana kamu istirahat, kamu pasti capek sehabis bekerja. Kamu jangan terlalu memikirkan masalah seperti ini, biarkan Abah yang mengurusnya." seru Bah Abun.
Mendapat perintah seperti itu, Ranti pun berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke rumah menemui ibunya yang sedang masak untuk makan siang.
Sore hari ke rumah Mbah Abun ada seorang remaja yang bertamu, dia pun mengetuk-ngetuk pintu rumah mbah Abun sambil mengucapkan salam. tak lama menunggu akhirnya pintu rumah itu terbuka muncullah Ranti yang tersenyum, menyambut kehadiran orang yang bertamu.
"Ada Kang Galih, Ada apa Kang, tumben tumbenan main ke rumah?" Tanya Ranti yang merasa kaget sekaligus senang.
"Mau main ke sini aja, dan boleh kan Akang main ke rumah Ranti?" jawab Galih sambil tersenyum membuat hati Ranti berdegup kencang, Entah mengapa bisa seperti itu dia pun tidak mengerti.
"Boleh banget Kang, Silakan masuk!" ujar Ranti mempersilahkan tamunya.
Mendapat penyambutan seperti itu, Galih yang masih menggulung senyum, dia pun masuk ke dalam rumah. terlihat Rumah itu sangat sepi membuat Galih sedikit mengerutkan dahi.
"Kenapa Kang, Kayaknya seperti orang bingung?"
"Nggak, sepi amat nih rumah, orang tua Ranti pada ke mana?:
"Biasa Abah kalau sore begini ke sawah, kalau Ambu dia lagi ke air." Jawab Ranti.
"Aduh bagaimana ya, tadinya ada perlu sama abah, tapi nggak apa-apa, ada Ranti ini sama aja kan?"
"Perlu apa Kang, Ranti jadi nggak enak nih?" ujar Ranti
"Nggak Kok Kang, Mungkin sebentar lagi Abah Pulang. Akang tunggu aja! atau mau Ranti panggilin ke sawah?" tawar Ranti.
"Nggak usah Ran! Tunggu aja di sini, kebetulan Akang ada yang mau dibicarakan sama Ranti."
"Masalah apa lagi kang?" tanya Ranti sambil menatap penasaran ke arah Galih.
"Apakah Ranti sudah ada yang mendekati?"
"Mendekati bagaimana?"
"Ya mendekati, maksudnya Apakah sekarang ada orang spesial, yang dekat sama Ranti?" tanya Galih yang terlihat gugup, namun dia menyembunyikannya dengan senyum indahnya.
"Oh itu, kirain Akang mau nanya apa, sebentar ya Ranti ambil minum dulu! Akang pasti haus kan?"
"Nggak usah repot-repot Ran!" tolak Galih.
__ADS_1
"Nggak repot kok, Kang! lagian cuma Air ini." jawab Ranti sambil bangkit dari kursi tempat duduknya, kemudian dia pun pergi ke dapur, tak lama kembali sambil membawa nampan berisi air ditemani dengan cemilan.
"Lumayan kang daripada ngelamun!" tawar Ranti sambil menggeserkan gelas minum buat Galih.
"Terima kasih Ran! memang benar Akang haus." jawab Galih sambil mengambil gelas yang baru digeserkan oleh Ranti, kemudian dia mencicipi air itu dengan ujung lidah.
"Kok aneh ya, air di rumah Ranti rasanya berbeda?"
"Kenapa Kang, perasaan itu air bersih kok! nggak enak ya?" tanya Ranti yang merasa kaget.
"Airnya enak banget, rasanya manis lagi." jawab Galih dengan wajah datar.
"Masa sih Kang, perasaan Ranti nggak kasih gula." jawab Ranti yang mengerutkan dahi seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Serius! mungkin minumnya ditemani kamu, sehingga air ini terasa manis." jawab Galih sambil mengulum senyum kemudian dia meneguk air yang masih ada di tangannya.
"Iiiiiiiiih! apaan sih Kang!" jawab Ranti yang tersimpu malu, kemudian dia menundukkan pandangan menyembunyikan wajahnya yang berubah menjadi tomat.
"Oh ya, Ranti belum menjawab pertanyaan akang?"
"Pertanyaan apa kang." tanya Ranti yang tak berani menatap pria yang ada di hadapannya.
"Yang tadi, masa Ranti lupa?"
"Yang mana?" tanya Ranti sambil mengangkat pandangan, namun dengan cepat dia menundukkan kembali pandangan itu, karena ada desiran aneh yang mengalir di tubuhnya.
"Berarti Ranti, pelupa juga ya. Apakah Ranti sekarang memiliki teman spesial." jelas Galih mengulangi pertanyaannya.
"Spesial seperti apa?"
"Ya seperti pacar gitu?"
"Apaan sih Kang, Ranti masih kecil, mana mungkin Ranti sudah pacaran." jawab Ranti yang terlihat malu-malu.
"Berarti belum ya?" tanya Galih memastikan.
Ranti tidak menjawab, dia semakin tertunduk sambil menggelengkan kepala, sebagai Jawaban dari pertanyaan Galih.
"Maaf, kalau belum. boleh nggak akang mendekati Ranti?" tanya Galih yang semakin berani
__ADS_1
"Nggak boleh Kang! udah Akang duduk di situ aja?"
"Maksudnya bukan mendekat tempat duduk, tapi hati Akang didekatkan dengan hati Ranti!"