
"Masih! Emang Akang mau, kalau mereka berpisah?" tanya Darmi.
"Yey! bukan begitu, alangkah bahagianya kalau kita berbesan dengan Kang witra. karena beliau adalah salah satu orang terkaya di kampung kita. selain si babi itu!" jawab Sarman matanya menatap ke arah halaman yang penuh dengan tanaman bunga. membayangkan kebahagiaan anaknya ketika dinikahi oleh Galih.
"Iya yah! kenapa si Abun itu bisa sekaya sekarang, ibu harap suatu saat babi jadi-jadian itu bisa tertangkap, agar dia merasa malu!" jelas Darmi mengungkapkan kekesalannya. dan bisa dipastikan kelakuan Mita yang memiliki sifat jelek, itu menular dari sifat kedua orang tuanya.
"Iya Akang juga heran!" jawab Sarman.
"Kalau heran, kalau masih penasaran. nanti ketika ada orang yang berteriak babi hutan, akang bangun lalu ikut memburunya, dan jangan biarkan babi hutan jadi-jadian itu lolos! kalau bisa akang bunuh sekalian. kita nggak akan ditangkap oleh pihak yang berwajib, ketika kita membunuh babi hutan." jelas darmi sambil mengeratkan gigi, menandakan kebencian yang sangat dalam memenuhi jiwanya. padahal keluarga Mbah Abun sama sekali tidak perna mengusik kehidupan mereka. namun sifat iri, dengki yang dimiliki Sarman dan keluarga dibiarkan meluap begitu saja, sehingga mereka tidak bisa terkontrol hingga akhirnya menular ke anaknya.
Suami istri itu terus mengobrol, menjelekkan keluarga Mbah Abun, sehingga tak terasa bedug magrib pun terdengar dari arah mushola. Sarman meminta izin sama istrinya, untuk pergi ke masjid. sedangkan Darmi masuk ke dalam rumah untuk menyalakan lentera.
Setelah ruang tengah rumahnya tersinari oleh Lentera malam, dia pun mengetuk pintu kamar anaknya. "Mita! Mita! Ibu boleh masuk?" tanya Darmi.
"Mau apa?" tanya Mita yang terdengar malas.
"Ya nggak apa-apa! siapa tahu aja kamu butuh teman ngobrol." tawar Darmi.
"Ya udah masuk aja! Mita nggak kunci kok." jawab Mita.
Perlahan pintu kamar anak gadis itu didorong oleh ibunya. terlihatlah dengan remang-remang Mita yang sedang tengkurap, karena hanya tersinari oleh cahaya lampu yang berada di tengah rumah. dengan perlahan Darmi pun masuk ke dalam, kemudian mengambil lentera yang tergantung di dinding kamar.
Cekes! cekes!
Suara korek yang dinyalakan, kemudian api dari korek itu didekatkan ke arah lentera yang ada di kamar anaknya. sehingga ruangan itu menjadi terang.
"Kamu Kenapa Nak?" tanya Darmi sambil duduk di tepian ranjang anaknya, kemudian dengan perlahan dia mengusap lembut punggung Mita.
Ditanya seperti itu Mita tak menjawab, namun terdengar suara isakan tangis yang keluar dari bibirnya, membuat Ibu Mita semakin merasa heran.
"Kamu kenapa, kok kamu menangis?" tanya Darmi yang kebingungan.
"Galih Bu! Galiiiiiih!" jawab Mita di sela-sela isakkannya.
__ADS_1
"Kenapa dengan Galih, apa dia melukaimu? cerita sama ibu, biar Ibu mudah membantunya!"
"Kang Galih dia mulai tergoda sama anaknya babi hutan Bu." adu Mita sama Darmi.
"Sama si Ranti, anaknya si Abun?" tanya Darmi memastikan.
"Iya Bu!" jawab Mita sambil bangkit dari tempat tidurnya. kemudian gadis itu memeluk ibunya dengan begitu erat, sehingga tangisnya pun pecah kembali dengan agak meninggi. membuat Sarman yang baru datang dari mushola merasa kaget melihat anaknya menangis.
"Ada apa?" tanya Sarman sambil menyumbulkan kepala ke kamar.
Darmi pun tidak menjawab, Dia hanya menempelkan telunjuk agar suaminya tidak banyak bertanya. kemudian tangannya kembali mengusap lembut rambut anak gadis yang mereka sangat sayangi. mendapat penolakan seperti itu, Sarman pun duduk di tengah rumah, sambil melipat daun Aren lalu membakarnya.
"SUdah! sudah jangan bersedih! kamu kalau dibandingkan dengan si Ranti. itu sangat jauh berbeda, kamu berada di atas langit, sedangkan si Ranti ada di dasar bumi. mana mungkin Galih yang anak orang yang terhormat, bisa terpincut dengan anaknya si babi ngepet." ujar Darmi menenangkan anaknya.
"Tapi Bu!"
"Sudah percaya sama ibu! lagian bapak kamu dan bapaknya nak Galih Itu sangat dekat, sudah seperti keluarga. gak mungkin Pak witra membiarkan anak semata wayangnya berhubungan dengan anak orang yang melakukan pesugihan." jawab Darmi membesarkan hati anaknya.
"Apa benar seperti itu?" tanya Mita yang melepaskan pelukannya kemudian dia menatap ke wajah Darmi.
Ditanya seperti itu Mita pun menggelengkan kepala, kemudian dia memeluk kembali ibunya. "Terima kasih Ibu! Terima kasih banyak! mita sangat sayang sama Kang Galih. Tolong bantu Mita, agar kita bisa cepat menikah! Mita takut, kalau kang Galih keburu terpincut oleh si Ranti. apalagi mereka sekarang sering bertemu, untuk membahas kerajinan anyaman." ujar Nita
"Tenang! kamu nggak usah khawatir, ibu dan bapak tidak akan tinggal diam, ketika ada orang yang menyakiti anaknya. Ya sudah, sana Cuci muka! kita makan bersama, kebetulan tadi ibu masak makanan kesukaan kamu." seru Darmi sambil melepaskan pelukan anaknya.
"Ayam goreng?"
"Iya, kebetulan kan ayam kita banyak, jadi sayang kalau dipelihara tanpa dinikmati." jawab Darmi sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak Ibu!" ujar Mita sambil memeluk kembali ibunya dengan manja. Tak lupa dia mencium kening wanita yang telah merawatnya sejak dari bayi.
Setelah Mita mencuci muka, Mereka pun menikmati makan malam bersama dengan lauk ayam goreng. walaupun keluarga mereka tidak terlalu kaya, namun tidak bisa dibilang keluarga mereka miskin juga. kehidupan mereka bisa dibilang pertengahan.
*****
__ADS_1
Keesokan paginya. siang itu Ranti yang hendak mengecek hasil kerajinan yang dibuat hari kemarin. dia sudah berdandan rapih di kamarnya, tak lupa Sebelum keluar dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Agar orang-orang yang berdekatan dengannya merasa nyaman.
"Mau ke mana nih. anak ambu pagi-pagi sudah rapi dan wangi seperti ini?" tanya Ambu yayah berbasa-basi setelah melihat anaknya menghampiri.
"Mau mengecek hasil kerajinan yang kemarin dibuat ambu. sekaligus membayar kerajinan." jawab Ranti.
"Bukan mau bertemu Galih?" Tanya Abu Yayah sambil menarik alisnya ke atas.
"Apaan sih Ambu! Ya iyalah mau bertemu dengan Kang Galih dan Kang Daus. kan mereka yang mengurusnya." jawab Ranti namun terlihat wajahnya memerah seketika, mungkin merasa malu. karena walaupun tidak diungkapkan, dia ada ketertarikan terhadap pria yang sudah memiliki kekasih bernama Mita.
"Apa jangan-jangan anak ambu sudah suka sama laki-laki?" Ledek Abu Yayah mencandai anaknya.
"Apaan sih, Ambu! udah ah, Ranti mau berangkat Nanti keburu siang banget." jawab Ranti tak mau memperpanjang pembicaraan dengan ibunya. dengan cepat dia mengambil tangan Abu Yayah lalu mengecupnya, sebagai bentuk Bakti terhadap orang tua.
Setelah Berpamitan Ranti yang sudah terlihat cantik, Apalagi ditambah dengan wangi yang begitu khas, membuatnya semakin terlihat sempurna. sebenarnya banyak pemuda yang menyukainya, namun mereka tidak punya keberanian untuk mengungkapkan hal itu. karena mereka senggan melihat Bah Abun yang begitu baik dan begitu kaya. sehingga perasaan kagum itu hanya dipendam di hati.
Ranti terus berjalan menyusuri jalan besar, menuju rumah Mang Zuhri. karena kantor usaha kelompok kerajinan berada tepat di samping kandang bebek, yang dulunya Saung buat istirahat. namun setelah dijadikan kantor, Saung itu Galih rubah menjadi tempat berdiskusi dan melakukan transaksi pembayaran.
"Eh anak babi! mau ke mana?" terdengar suara seorang wanita yang memaki Ranti, sehingga membuat Gadis itu berhenti, mencari dari mana arah datangnya suara.
"Eh Mita! Maksudnya apa Mit? Kamu memanggil saya dengan sebutan itu?" tanya Ranti sambil menatap tajam ke arah wanita yang menghampirinya.
"HAlah jangan pura-pura nggak tahu, semua warga kampung sini sudah mengetahui tentang keburukan yang dilakukan oleh bapak kamu." jawab minta yang semakin mendekat ke arah Ranti.
"Maksudnya?" tanya Ranti yang semakin bingung.
"Masa kamu nggak tahu, kalau bapak kamu itu melakukan pesugihan babi. makanya sekarang kehidupan kamu bisa kembali ke waktu dulu. masa kamu nggak sadar sih! dengan kekayaan orang tua kamu yang begitu instan?" tanya Mita sambil mengangkat satu sudut bibirnya.
Mendengar penuturan teman sebayanya seperti itu. Ranti mengerutkan dahi, mencerna apa yang disampaikan oleh Mitha.
"Kenapa kamu diam, baru sadar ya, kalau kamu itu adalah anak babi!" jawab Mita sambil tertawa sinis.
"Enggak! enggak mungkin orang tua saya melakukan hal keji seperti itu." jawab Ranti dengan suara pelan.
__ADS_1
"Alah, udah jelas-jelas terbukti, masih mengelak! udahlah Kamu tuh harusnya sadar diri, kamu tuh hanyalah seorang anak babi hutan, kamu tidak pantas tinggal di kampung Ciandam, kamu lebih pantas tinggal di gunung atau di hutan." Hina Mita yang semakin menjadi.