Babi Beranting

Babi Beranting
30. hasil Rapat


__ADS_3

"Terus bagaimana dengan orang yang mau menggunakan Modal sendiri, apa itu harus melewati saya juga mbah?" Tanya Zuhri


"Itu terserah Ujang, karena Abah sudah berjanji akan membayar Rp700, maka mungkin Ujang hanya dapat 50 rupiah. dan semua hasil dari kerajinan yang warga buat, baik dengan yang modal sendiri ataupun dengan modal dari kita, semua penjualannya harus melewati Ujang, jadi Abah tidak ribet lagi! Abah hanya berurusan dengan Jang Zuhri," jawab Bah Abun memberikan ketegasan.


"Baik! kalau seperti itu, nanti saya akan rundingkan dulu dengan para warga, Maaf kalau saya akan sering bolak-balik ke sini untuk bertanya!"


"Nggak apa-apa Jang! Abah yang harusnya berbicara seperti itu karena Abah selalu merepotkan Ujang terus."


Setelah dirasa pembicaraan mereka selesai, Zuhri pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya. namun setelah berada di jalan, dia pun berbelok menuju rumah Pak RT, karena dia menganggap Pak RT lah yang lebih mengerti dengan masalah seperti ini.


"Assalamualaikum!" Sapa Zuhri sama orang yang sudah bersiap-siap dengan membawa Arit untuk pergi ke sawah.


"Waalaikumsalam! tumben-tumbenan, pagi-pagi sudah datang ke rumah saya?" tanya Pak RT.


"Iya nih, pak! ada hal yang mau dibicarakan sama Bapak! Boleh nggak saya ngobrol dulu sebentar?" Pinta Zuhri.


"Boleh, mau ngobrol apa?" tanya Pak RT sambil menyimpan kembali barang bawaannya.


Akhirnya mereka berdua pun duduk di teras rumah, karena ketika Zuhri diajak masuk kedalam dia menolak, merasa tidak enak karena sudah mengganggu Pak RT.


"Jadi begini Pak RT  Barusan saya dari rumah mbah Abun untuk membahas hasil rapat kita semalam." ujar Zuhri mengawali pembicaraan.


"Terus Keputusannya bagaimana?"


"Mbah Abun, dia bersedia mengikuti saran para warga untuk mengurus semua kebutuhan para pengrajin. namun yang menjadi pemikiran saya, Mbah Abun menyerahkan kepengurusan itu kepada saya. Bahkan dia berani membayar lebih dari tawarannya semula, Mbah Abun berani membayar Rp750 untuk satu kerajinan. Rp700 buat warga, yang rp50 buat pengurus. Saya bingung Pak RT?"


"Yang jadi bingungnya?"


"Saya Tidak mungkin mampu mengurus kebutuhan para pengrajin, apalagi saya sama seperti Pak RT, punya hewan ternak dan sawah. Kayaknya kalau mengurusi usaha orang waktunya tidak akan cukup."


Mendapat keterangan seperti itu, Pak RT mengerutkan dahi. seolah Lagi berpikir dengan Langkah apa yang akan dia ambil.

__ADS_1


"Ya sudah begini aja Jang Zuhri, sekarang kita bekerja dulu. nanti malam kita adakan pertemuan lagi dengan para warga. tapi ajak Galih sama Daus." ujar Pak RT memberi keputusan.


"Untuk apa mengajak Galih dan Daus?"


"Nanti kita serahkan pengurusannya sama mereka yang masih muda. agar pemuda-pemuda Kampung kita menjadi lebih produktif sekaligus memberikan kesempatan agar mereka berkembang. lagian Ujang juga nggak terlalu butuh kan dengan uang itu."


"Benar Pak RT, benar sekali! Bukannya sombong tapi kalau melihat kesibukan kita masing-masing Saya rasa uang itu tidak terlalu berarti. Kenapa saya bela-belain seperti ini, karena saya ingin memajukan kampung kita. karena saya selalu berprinsip kalau tidak bisa menolong dengan harta, minimal dengan tenaga dan pikiran."


"Yah benar seperti itu! ya sudah, mohon maaf nih bukannya ngusir, soalnya saya harus buru-buru ke sawah kasihan orang-orang yang mau panen padi, nanti mereka kelamaan menunggu Kajang karungnya." Pinta Pak RT.


"Terima kasih Pak RT! sekali lagi mohon maaf saya mengganggu aktivitasnya." Ujar Zuhri sambil mengulurkan tangan mengajak ketua kampungnya bersalaman, kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Sama-sama! saya juga mohon maaf ya, bukannya ngusir." jawab Pak RT.


Setelah dirasa pembahasan itu selesai, Mereka pun berpisah kembali. Zuhri kembali ke rumahnya sambil memberitahu orang-orang untuk mengadakan pertemuan lagi nanti malam. sedangkan Pak RT dia meneruskan niatnya yang hendak memanen padi.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! saya mengumpulkan kembali para warga di sini, yakni untuk membahas tentang permusyawarahan kemarin. jadi Mbah Abun bersedia menyiapkan semua bahan-bahan anyaman, namun yang jadi permasalahan adalah Mbah Abun menyerahkan pengurusan itu kepada saya." Ujar Zuhri mengawali acara rapat itu


"Masalahnya apa Jang?" tanya aki Tardi.


"Masalahnya kalau saya mengurus kebutuhan para penganyam, Nanti usaha yang sudah lama saya geluti akan terbengkalai, karena waktunya Terbagi Dua. mungkin pak RT punya solusi?" tanya Zuhri sambil menatap ke arah Pak RT.


"Sejak dari tadi pagi saya sudah memikirkan Bagaimana cara pengelolaannya. Dan Kenapa saya mengundang para remaja kampung kita untuk ikut hadir dalam acara rapat ini. karena saya ingin memberikan kesempatan kepada mereka, agar bisa berkembang dan sama-sama memajukan Kampung Ciandam."


"Maksudnya bagaimana?" Tanya salah Seorang warga.


"Maksudnya begini! Jadi Biarkan para pemuda yang mengurus semua kebutuhan pengrajin, dan nanti hasilnya kerajinanya juga diserahkan kepada para pemuda, baru disetorkan kepada Mbah Abun."


"Oh begitu! kalau saya setuju setuju saja Pak RT! namun bagaimana mereka mau apa nggak?" Ujar akhir tardi sambil melempar pertanyaan.

__ADS_1


"Jang Galih, jang Daus dan semua para pemuda yang ikut hadir dalam acara malam ini. apa kalian mau mengurus semua kebutuhan para pengrajin, paling yang harus disiapkan yaitu mencari bambu untuk bahan dasar anyaman, sedangkan untuk rotan. menurut keterangan Kang Zuhri, kalian bisa membeli ke kota karena sekarang ada rotan sintetik. Selain itu, Kalian juga mengontrol hasil kinerja para pengrajin, agar Mbah Abun bisa terfokus dengan pemasaran." Tanya Pak RT sambil menjelaskan tugas-tugas para pemuda itu.


Mendapat pertanyaan dari ketua Kampung mereka. Para pemuda itu hanya saling menatap sama temannya mungkin masih bingung dengan apa yang dibicarakan.


"Jangan khawatir! karena kalian bekerja, bukan kerja bakti. ada imbalan dari Mbah Abun, sebesar rp50 per 1 buah kerajinan." lanjut Pak RT.


"Kalau tujuannya untuk memajukan kampung kita, jangankan dibayar, tidak dibayar pun, saya siap!" jawab Galih dengan tegas.


"Nah, Bagus! Saya suka anak muda yang seperti itu. jadi begini bapak-bapak, ada yang perlu bapak-bapak ketahui! Mbah abun menaikkan tawarannya menjadi Rp750. 700 rupiah buat pengrajin, 50 Rupiah buat pengurus. nah demi memajukan semuanya, maka saya akan memotong dari harga 700 menjadi 600 buat pengrajin dan 150 buat pengurus. Itu buat pengrajin dengan modal sendiri. sedangkan buat yang dibiayai oleh Mbah Abun, semua perlengkapan anyaman disiapkan oleh pengurus. maka akan dibayar Rp500, Kenapa, karena kita membutuhkan biaya untuk membeli bambu dan membeli rotan. Bagaimana setuju" jelas Pak RT diakhiri dengan pertanyaan.


"Setuju! setuju!" Jawab para warga kompak.


"Satu lagi! seperti tujuan rencana awal kita bahwa diadakannya pekerjaan ini adalah untuk memajukan Kampung kita. Saya berharap Setiap warga memberikan sumbangan sebesar 50 rupiah, untuk satu buah kerajinan."


"Buat apa itu Pak RT?"


"Buat uang kas perusahaan. nanti ketika ada orang yang sakit, Ada orang yang membutuhkan pertolongan atau ada kebutuhan-kebutuhan lain. kita bisa menggunakan uang itu! bagaimana paham?"


"Paham!" jawab warga serempak.


"Ya sudah, kalau semuanya sudah paham. Mungkin mulai besok atau lusa kita sudah bisa mulai bekerja. kita awali semua ini dengan mengucapkan Bismillah!"


"Maaf pak RT, saya menyela!" Ujar seorang pemuda sambil mengangkat tangan.


"Iya kenapa Jang Galih?"


"Setiap kelompok pengurus harus ada pemimpin agar ada yang bertanggung jawab. Saya berharap kalau malam ini sekalian kita menentukan siapa pemimpin pengurusnya"


"Benar kan? saya tidak salah memilih anak muda untuk menjadi pengurus, karena pemikiran mereka masih sagat encer. nggak kayak kita!" jawab Pak RT membuat para warga yang hadir pun mengakui hal itu.


"Ya sudah sekarang kita tentukan siapa pengurusnya!" Jawab Zuhri menimpali.

__ADS_1


Akhirnya malam itu semua warga yang tergabung dalam kelompok usaha kerajinan, mereka menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin mereka, untuk menjadi ujung tombak atau menjadi penghantar antara mereka dengan Mbah Abun.


__ADS_2