
Melihat kejadian aneh yang ada di depan matanya, membuat hati Mas sujiman merasa sedikit berdebar, jantungnya terasa berdegup dengan kencang, Entah mengapa bisa seperti itu. dengan menguatkan hati dia mulai menatap kembali ke arah babi yang terlihat samar-samar, karena terhalang oleh kandang yang terbuat dari bambu geluntungan.
"Kamu mau selamat, mau kembali kewujud asli?" tanya Mas sujiman masih tetap menatap ke arah babi.
Ngork! Ngorok!
"Pasti mang....! aku ingin kembali ke bentuk asliku sebagai manusia, pengen normal seperti Mas....!" jawab Ranti sambil mengangguk-nganggukan kepala babinya. sebenarnya Ranti ingin mengungkapkan semua, yang sedang dia rasakan. namun sayang ketika dia berbicara, hanya keluar suara babi layaknya satwa liar pada umumnya.
"Ya sUdah, segitu juga sudah cukup, kamu jangan banyak bertingkah! nanti keanehanmu diketahui oleh orang lain. sekarang kamu sabar dulu...! nanti saya akan menyelamatkanmu dari sini. tuh...! lihat anak-anak Sudah pada datang lagi, Awas kamu harus berhati-hati! kamu harus bisa menjaga diri, jangan sampai kamu celaka..! Nasihat Mas sujiman mengingatkan. namun Walaupun dia berkata seperti itu hatinya tetap berdebar dan jantungnya tetap berdegup dengan kencang.
Sedangkan Ranti Mendengar pembicaraan Mas sujiman seperti itu, dia merasa gemas. karena tidak bisa berbicara layaknya seperti manusia, kalau bisa mungkin dia akan bercerita banyak menumpahkan semua keluh kesahnya kepada orang yang mengajak berbicara. Namun sayang yang dikeluarkannya hanya suara hewan hutan pada umumnya, membuat hatinya merasa kesal. namun meski begitu Ranti sekarang sudah memiliki harapan, karena ada salah seorang yang mengerti dengan kesusahannya. apalagi ketika mendengar perkataan Mas sujiman yang mau menolongnya, itu sudah membuat hatinya merasa tenang. "Terima kasih ya Allah, terima kasih atas semua kasih sayang yang telah engkau berikan...! sekarang aku sudah memiliki Seberkas cahaya, Seberkas Harapan...! semoga saja semakin lama Seberkas cahaya itu semakin terang, Terima kasih Mas....! Terima kasih banyak, Ternyata mas punya penglihatan yang lebih dari orang lain, sehingga Mas bisa tahu bahwa aku bukan babi hutan....!" begitulah gumam hati Ranti.
Hati Ranti merasa tenang, pikirannya tidak terlalu kalut. kembang harapan yang sudah mulai layu sekarang terlihat Mekar dengan begitu indah, memancarkan aroma yang begitu wangi, membuat tubuh Ranti terasa segar perbawaan harapan yang sudah mulai terang.
Sedangkan Mas sujiman dia melirik ke arah anak-anak yang baru datang, dengan membawa berbagai makanan sepunyanya seadanya di rumah mereka.
"Eh kamu bawa apa Buncir?" tanya Mas sujiman ke salah satu anak yang terkena penyakit cacing, karena perutnya terlihat sangat buncit mengkilap, apalagi bajunya tidak dikancingkan sehingga nampak jelas udelnya yang terlihat menonjol keluar
"Bawa cilok.... Mas!" jawab anak kecil itu sambil mengangkat bawaannya.
"Iya benar, bagus....! bagus...! kalau ke sini jangan bawa singkong atau talas, ke sini harus bawa yang seperti ini, makanan manusia. kalau kamu Tong, bawa apa?" tanya Mas sujiman menatap ke anak yang lainnya.
__ADS_1
"Saya bawa nasi sama sambal Mas!"
"Bagus....! bagus....! kalau kamu Dun?"
"Saya tidak punya apa-apa, cuma ada pepes ikan Impun." jawab Jang Dadun sambil menunjukkan pepesan yang dibawanya, membuat Mas sujiman mengulum senyum, merasa bahagia. kemudian dia menanyai satu persatu anak anak yang kembali untuk menonton babi yang ada didalam kandang. ternyata yang mereka bawa sangat beragam, ada papais tepung, jalabria, buah mangga, buah alpukat, ada juga yang membawa buah ****** jambu batu. intinya semua yang mereka bawa bukan makanan untuk babi, melainkan makanan manusia pada umumnya.
Setelah memeriksa, Mas sujiman memerintahkan salah seorang anak untuk mencari daun pisang. tanpa diperintah dua kali, dua orang anak pun bergegas memotong pelepah pisang, kemudian diserahkan ke Mas sujiman. mata kedua anak itu menatap penuh keheranan, karena yang mereka ketahui, ketika memberi makan babi, mereka tinggal melemparkan saja ke dalam kandang, tanpa harus memakai alas. tapi meski begitu, Anak itu tidak berani bertanya, mereka terus memperhatikan gerak-gerik Mas Sujiman yang sedang memasukkan daun pisang ke dalam kandang, kemudian dia mulai menyimpan makanan-makanan yang dibawa anak-anak kecil tadi.
Ranti yang Melihat ada makanan, dia perlahan bangkit kemudian mendekat ke arah makanan yang sudah disiapkan oleh Mas sujiman, makanan yang biasa dia makan ketika berada di rumah. wanginya tercium sangat khas, apalagi ketika mencium pepes Impun, ditambah dengan nasi putih yang sangat pulenn, itu sangat menggoda perutnya yang mulai bersuara meminta isi. Babi ngepet itu mulai mencoba mengunyah cilok sebisanya, semampunya, karena dia tidak bisa menggunakan tangan layaknya manusia. habis memakan cilok, dia mulai menyantap nasi bersama pepes Impun, hingga akhirnya semua makanan yang diberikan oleh Mas sujiman Habis tak tersisa, Hanya menyisakan daun pisang yang dijadikan alas makan.
Ngorrrrk!
"Terima kasih Mas...! nah, ini makanan yang aku suka, aku tidak suka makan singkong apalagi talas yang masih ada bonggolnya."gumam ranti sambil menatap nanar ke arah luar.
Mas sujiman bersama anak-anak kecil yang dari tadi memperhatikan tingkah laku babi yang berada di dalam kandang. mereka semua merasa aneh karena babi itu suka memakan jalabria, papais, bakwan, cilok dan makanan-makanan yang lainnya. ini adalah hal yang luar biasa, yang tidak bisa dimengerti oleh akal sehat, karena biasanya babi hutan lebih senang memakan singkong ataupun talas.
"Hahaha....! memang benar Kamu adalah babi yang sangat istimewa," ujar Mas sujiman sambil mengulum senyum kemudian dia bangkit dari tempat jongkoknya, lalu membagi tatap ke arah anak-anak yang masih menatap penuh keheranan ke arah dalam kandang.
"Heh denger, bocah-bocah....! kalian sudah lihat kan Bagaimana istimewanya babi ini. untuk itu kalian jangan mengganggu babi itu. nanti bisa-bisa kualat! kalau mau, kalian Mending cari lagi makanan yang seperti barusan." nasehat Mas sujiman sambil membagi tatap ke arah anak-anak.
"Kenapa emang Mas?"
__ADS_1
"Kalau kamu nggak nurut, Nanti malam kamu akan bermimpi dikejar-kejar babi ini, dan dia akan membalas seperti yang kamu lakukan sekarang sama babi itu. Kalau Mas Hanya mengingatkan saja, kalau mau kualat silakan lanjutkan!" ancam Mas sujiman menakut-nakuti.
"Iya Mas...! Kami tidak akan mengganggu lagi babi itu, bahkan kami akan mencari makan lagi."
"Bagus kalau begitu....!" jawab Mas sujiman sambil mengangkat jempol kemudian dia pun pergi meninggalkan kandang. dia tidak mau membantu Mbah Turo dan Mang Karmin yang hendak membetulkan gelanggang pertandingan adu babi, Dia mempunyai niat tersendiri yang tidak mau di ketahui oleh orang lain.
Laki-laki itu terus berjalan menuju ke rumahnya, Entah mengapa hari itu hatinya merasa sangat senang, sangat tenang. harapannya sangat besar hingga akhirnya dia pun tak terlihat lagi ditelan oleh belokan jalan.
anak-anak setelah ditinggal oleh Mas sujiman, Mereka pun mulai membubarkan diri, karena mungkin merasa bosan kalau harus terus bermain dengan babi. membuat Ranti sekarang terlihat sendirian, beristirahat dengan tenang, merebahkan tubuh di dalam kandang yang terbuat dari bambu geluntungan. kakinya diluruskan ke depan dijadikan sandaran kepala, bak tahanan yang sedang menunggu keputusan dari hakim.
Hari makin lama makin panas, suara-suara hewan ternak saling bersahutan seolah saling memberitahu bahwa di kampung mereka ada makhluk yang sangat aneh, babi hutan yang tidak suka memakan talas ataupun singkong, melainkan makanan kesukaannya adalah nasi putih, bersama sambal ditambah ikan asin. Suara hewan ternak itu disauti oleh suara burung-burung yang sedang mencari Ulat untuk dimakan, terlihat loncat loncat dari ranting satu keranting yang lain. Sehingga suasana Asri di perkampungan sangat jelas terasa.
Dari arah selatan, terlihat Ayi yang ditugaskan mencari bambu oleh Mbah Turo, dia mulai kembali ke kampung dengan membawa bambu yang akan dijadikan tali. setelah sampai di pekarangan rumah Karmin, dia pun menjatuhkan bambu itu dari pundaknya. kemudian dia duduk di salah satu batu yang terpayungi oleh pohon besar, kancing bajunya dibuka kemudian dia mengipasi dadanya dengan topi.
Belum Sampai Hilang Rasa capeknya, terlihat Mbah Turo dan Karmin pun datang menghampiri, mereka membawa perlengkapan yang sangat lengkap. mulai dari kampak, gergaji, golok dan linggis.
"ke mana Mas sujiman Yi..?" tanya Mbah Turo sambil memindai area sekitar, mencari keberadaan partner berburunya. Sambil membuka sebungkus rok0k lalu diambil satu batang untuk diserahkan sama Ayi.
MeLihat rok0k seperti itu, dengan Sigap Ayi pun mengambil rokok pemberian bah Turo, lalu membakarnya. sebelum menjawab pertanyaan terlihat dia menghisap dulu Rokok yang baru saja dia Nyalakan.
"Kurang tahu Bah...! saya juga baru datang, tadi pas saya ke sini Mas sujiman sudah tidak ada."
__ADS_1
"Oh biarin aja kalau begitu, Mungkin dia pergi ke sawah untuk mengecek pengairan. Ayo kita menuju ke gelanggang, agar Nanti sore kita sudah mulai bisa mengadukan babi itu," seru Bah Turo
Akhirnya ketiga orang pun berjalan menuju gelanggang adu babi, yang sudah lama tak terpakai gelanggang itu tidak terlalu jauh. sehingga mereka sudah mulai bekerja dengan begitu giat, walaupun tidak ada yang membantu, namun mereka tetap bersemangat bekerja. karena mereka memiliki harapan yang sangat kuat, mereka yakin bahwa usaha yang mereka jalani akan membuahkan hasil yang sangat melimpah. karena mereka sudah memiliki modal yang sangat besar, yakni babi aneh babi ngepet babi jadi-jadian.