
"Baik juragan saya akan mengingat semua yang diperintahkan oleh juragan," jawab si Bibi warung sambil manggut.
"Nama saya siapa?" tanya Mbah Abun mengetes kembali.
"Nama Abah, Abun!"
"Anak saya?"
"Bernama Ranti!"
"Orang mana?"
"Orang Ciandam.
"Bagus......! kalau bibi sudah hafal, kalau Bibi merasa jadi orang pelupa. Bibi ambil arang lalu tulis di dinding warung, agar orang-orang bisa membaca dan bibi tidak lupa," ujar Mbah Abun sambil tersenyum.
"Ya juragan..! Saya memang pelupa, saya akan tulis di dinding warung," jawab Si Bibi sambil tersenyum pula.
"Ya sudah kalau seperti itu, saya pamit undur diri. Terima kasih atas semuanya.....!" ujar pria paruh baya itu sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia pergi meninggalkan warung, diantar oleh tatapan si Bibi sampai pria itu tak terlihat lagi.
Setelah Mbah Abun berbelok, di belokan jalan. si Bibi pun menarik nafas kemudian masuk kembali ke dalam warung. dia terdiam sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi, dia melihat ke tangannya yang masih menggenggam uang. karena tadi belum sempat memasukkannya ke dalam laci warung. wanita itu terlihat mengulum senyum, karena dia mendapatkan rezeki yang sangat banyak.
Di luar warung matahari terlihat sangat terik, karena sebentar lagi sang surya akan berada tepat di atas ubun-ubun. dari arah belakang warung terdengar suara domba yang di sahuti dengan suara ayam berkokok, menambah suasana Asri di perkampungan.
Dari arah kejauhan, terlihat ada seorang laki-laki, umurnya tidak disebut tua dan tidak disebut muda, mungkin umurnya kira-kira 35 tahunan. dia terus berjalan mendekat ke arah warung si bibi, hingga akhirnya dia sampai ke warung itu. kemudian dia duduk di bangku panjang yang terbuat dari bambu gelondongan.
"Eh ada mang Saipul," ujar Si Bibi yang terperanjat kaget, karena dia sedang asik melamun membayangkan apa yang disampaikan oleh Mbah Abun. ketika dia memberi kabar dan ada orang yang menemukan anaknya saudagar itu. Sibibi menerka-nerka berapa persentase yang akan diberikan.
"Iya Bi, kenapa emang, kayaknya Bibi kaget melihat kedatangan saya," jawab pria yang bernama Saipul.
"Iya kaget lah....! kenapa sekarang Mang Saiful tidak membawa kerupuk?"
"Oooooh itu, saya lagi males kerja Bi, Saya ingin istirahat dulu."
__ADS_1
"Lah....! lah...! kok begitu, kenapa kok Mang Saipul pantang menyerah, usaha itu jangan ada kata malas, kecuali kalau mang Saiful Sudah malas makan. usaha itu harus giat, harus rajin, jangan kalah sama ayam, yang setiap hari ngoreh." ujar Si Bibi warung memberikan nasehat, namun sudut bibirnya terangkat ke atas. dia tidak berbicara serius, mungkin karena dia sudah sangat mengenal orang yang bernama Saiful, sehingga dia seberani itu.
"Bukan begitu Bi...! usaha sekarang banyak gangguannya. dulu susah tepung tapioka, sekarang Susah uang. Sehingga usaha kerupuk saya tidak bisa maju, tidak bisa diandalkan. kalau ada jalan lain, Saya pengen ganti jalan usaha Bi," ujar Saipul sambil menarik nafas dalam.
"Serius Mang Saiful mau menjalani usaha yang lain?" tanya si bibi sambil menatap ke arah orang yang sedang duduk di bangku panjang.
"Kenapa saya harus berbohong Bi, saya sangat serius dengan apa yang saya ucapkan."
"Emang mang Saiful mau ngambil jalan usaha seperti apa?"
"Dengar ya Bi....! semua orang kalau usaha itu pengen usaha yang tanpa modal, tapi hasilnya sangat besar. bekerjanya tidak capek, tapi untungnya sangat banyak."
"Oh seperti itu...! kalau mau yang seperti itu, saya punya jalan Mang!"
"Nah, nah, Jalan Apa itu Bi?" tanya Saiful yang terlihat serius, karena memang benar dia ingin merubah Jalan penghasilannya.
"Begini, tadi ada pelanggan baru Bibi yang makan di sini dia bernama Mbah Abun orang ciandam. pria itu membawa berita yang sangat bagus, dan sangat menyenangkan ketika mendengarnya."
"Berita apa Bi?" tanya Saipul seolah tidak sabar.
"Kalau istri rasanya saya masih cukup yang lama Bi, namun untuk yang kaya Mendadaknya, itu seperti apa?"
"Mbah Abun, akan memberikan uang sekarung, padi satu kamar, domba satu kandang."
"Hahaha.....!" Ketawa Saipul pecah, karena dia merasa lucu dengan apa yang disampaikan oleh penjaga warung, sehingga membuat sibibi warung keluar dari warungnya, kemudian menepuk dengkul Saipul.
"Kenapa ketawa?" tanya si bibi sambil menatap tajam ke arah pria itu.
"Lagian Bibi, lucu cerita kok ngayal seperti itu..."
"Apa Mang Saiful tidak tertarik dengan kekayaan?" tanya si bibi masih menatap ke arah pria yang ada di hadapannya.
"Bukan begitu Bi, itu pekerjaan yang sangat tidak masuk diakal. masa iya, pekerjaan tidak membutuhkan modal, tapi bisa menghasilkan begitu banyak harta. kalau ada yang seperti itu, maka orang-orang di dunia ini semuanya akan kaya," jawab Saipul sambil tetap mengulum senyum.
__ADS_1
"Dengar ya mang Saipul! Tolong dipakai telinganya agar apa yang saya sampaikan tidak terlewat. di kampung Ciandam ada saudagar kaya bernama Mbah Abun, yang hartanya Tidak diragukan lagi. uangnya banyak tak terhingga, sehingga kalau dihitung akan membutuhkan waktu seminggu. kebunnya sebanyak tujuh pasir, sawahnya seluas mata memandang, hewan ternaknya berserakan di mana-mana.
"Lah.....! lah! emang ada tah orang sekaya itu, apa jangan-jangan Bibi sedang berkhayal, atau sedang mengigo? Sadar Bi, bangun Bi...! Ini masih siang."
"Saya tidak sedang menghayal, dan saya sedang terjaga. Mang Saiful, ini adalah kejadian yang nyata yang bisa kita alami sebagai orang miskin, yang minim pengetahuan. tolong Mang Saiful dengarkan...! diciandam ada seorang anak gadis yang sangat cantik, umurnya kira-kira 20 tahun lebih, kecantikan wanita itu mengalahkan kecantikan wanita-wanita yang ada di kampung Ciandam, bahkan bisa disebut bintangnya di kampung itu. mungkin bukan hanya di Ciandam, kecantikannya bisa mengalahkan seluruh wanita yang ada di dunia ini."
"Nah.....! nah....! potong Mang saipul.
"Ada apa lagi?"
"Ya bibi, sudah berbohong lagi, wanita yang begitu hanya ada di cerita dongeng dongeng sebelum tidur bi!"
"Makanya dengar dulu..., jangan dipotong-potong cerita bibi, biarkan bibi bercerita Sampai Akhir."
"Ya sudah, lanjutkan...!"
"Gadis itu yang intinya mah, sangat cantik, Dia adalah anaknya Bah Abun, yang sudah hilang hampir sebulan. orang tuanya terus mencari kemana-mana, dari kampung satu ke kampung yang lain, dari desa yang satu ke desa Yang lain. setiap daerah yang memungkinkan keberadaan anaknya, Mbah Abun selalu datangi untuk mencari anaknya yang bernama Ranti.
"Sekarang sudah ketemu orangnya Bi?"
"Belum mang, dia mencari ke mana-mana, namun Mbah Abun tetap tidak menemukannya. jangankan menemukan orangnya, menemukan jejaknya pun Mbah Abun sangat kesulitan. sampai akhirnya dia menyerah, dengan keadaan. sehingga dia memberikan amanat kepada saya."
"Amanat Apa itu Bi?"
"Dengar ya, mang Saipul, Jangan sampai pembicaraan saya ada yang terlewat."
"Ya, dari tadi juga saya dengerin."
"Barang siapa yang menemukan anaknya Mbah Abun, terus orang itu mau mengantarkan sampai ke rumahnya. maka dia akan memberikan hadiah yang sangat banyak, kalau dia laki-laki maka dia akan dinikahkan sama anaknya. kalau dia perempuan maka dia akan dianggap anak kalau tidak mau kedua-duanya, Mbah Abun akan memberikan uang sekarung, padi sekamar, dan domba sekandang, apa sekarang mang Saipul masih tidak tertarik, dengan apa yang Bibi ceritakan?"
"Eh! eh!"
"Kenapa lagi Mang Saipul?"
__ADS_1
"Bukannya saya tidak tertarik, tapi apakah benar apa yang diceritakan oleh Bibi, saya takut nanti berita yang disampaikan oleh Bibi, adalah berita bohong. bisa-bisa saya memburu Elang, melepaskan musang."
"Nah, kalau untuk itu Bibi tidak bisa memastikan. namun apa yang disampaikan oleh bibi, itu adalah berita yang akurat, langsung dari orangnya. dan orang yang memberikan amanat itu, menurut Bibi, adalah orang yang sangat terpercaya. karena dia sangat baik, Bahkan dia ngasih uang lebih dari apa yang dia makan. Namun untuk lebih jelasnya, Mang Saiful bisa datang langsung ke kampung Ciandam, untuk memastikan kebenaran beritanya. tapi kalau mang Saiful mau ikut mencari anak Bah Abun, Mang Saiful harus lapor sama saya terlebih dahulu!"