
"Nggak repot kok Kang, cuma air teh ini. Kebetulan hari ini tidak membuat cemilan, soalnya di kampung selakaso akan ada sesuatu yang menggegerkan warga," jawab Ijah dengan muka datarnya, dia mulai menjalankan rencana suaminya.
"Apa tuh Dik yang membuat warga Geger?" tanya Surya Jaya sambil menatap ke arah yang berbicara.
"Warga kampung selakaso digegerkan oleh babi yang baru ditangkap oleh Mbah Turo dan Mang Karmin, karena babi itu sangat aneh."
"Aneh Bagaimana Dik?" tanya Surya Jaya yang terlihat semakin penasaran.
"Ya aneh lah kang, karena telinga babi itu memakai anting, makannya saja tidak mau memakan layaknya babi pada umumnya, babi itu lebih memilih makanan yang dimakan oleh manusia. seperti cilok, roti, kerupuk, papais, bala-bala bahkan jalabria sama combro juga babi itu makan."
"Oh begitu, pantas saja Mas Jiman memaksa Akang untuk datang ke sini, ternyata ada babi yang sangat aneh, kalau begitu Akang semangat untuk menontonnya. kira-kira kapan mulainya diadakan pertunjukan adu babi itu?"
"Sebentar lagi Kang! Bahkan anak-anak kecil sudah dari jam 03.00 mereka sudah berangkat menuju ke gelanggang adu babi. nah, kedengeran kan suara kendang pencak nya?"
"Waduh hebat juga, kalau sampai pakai gendang pencak seperti itu?"
"Iyalah Kang, agar lebih meriah! karena di kampung selakaso Sudah lama tidak ada hiburan, jadi ini adalah hiburan pertama. maka para panitia ingin mengadakan hiburan yang luar biasa untuk mengobati rasa kangen para warga tentang hiburan."
"Hebat! hebat! kira-kira bayar nggak tuh dik?"
"Bayar Kang, karena bahturo sama Mang Karmin mereka tetap Kekeh ingin mengadakan pertunjukan dengan bayaran, menurut pengakuan mereka agar ada upah buruh pelepas lelah Sudahlah setelah seharian berjuang menangkap babi. namun Akang tidak usah khawatir, karena harga tiket atau karcisnya sangat murah, kalau orang tua 300 perak, kalau anak kecil 100 rupiah," jelas Ijah dengan sangat lancar.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat untuk menonton pertunjukan adu babi! Jimaaan, mas sujiman...!" Panggil Surya Jaya.
"Apa kang?" jawab sujiman yang sudah dari tadi dia menyimak obrolan istri dan sahabatnya.
"Haduh....! kaget Akang. Kapan kamu ke sini?" ujar Surya Jaya yang terlihat mengelus dada, karena ternyata orang yang dipanggil sudah ada di sampingnya,.
"Hehehe, Maaf Kang! Lagian Akang Serius amat."
"Ya sudah, Jangan buang waktu ayo kita berangkat!" ajak Surya Jaya yang terlihat sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Sebentar saya mau ganti baju dulu, masa mau nonton pakai pakaian seperti ini. ya sudah airnya diminum dulu kang!" jawab sujiman.
"Halah kamu tuh lama banget sih, Man...! buruan sana ganti bajunya. Oh ya jangan lupa bawa uang receh, soalnya Akang nggak punya uang kecil.
"Setelah Sujiman ganti baju, akhirnya mereka bertiga pun berjalan menuju ke gelanggang adu babi milik Mbah Turo. terdengar suara gendang pencak dan terompet yang semakin lama semakin terdengar jelas, karena mereka bertiga semakin dekat ke gelanggang adu babi.
Sesampainya di lapangan. benar saja apa yang dikatakan oleh Mas sujiman, karena di tempat membeli tiket terlihat sudah banyak orang yang mengantri. tua, muda, laki-laki, perempuan, Bahkan terlihat kakek-kakek yang sudah rempo mereka hadir untuk menyaksikan pertunjukan adu babi dan anjing. Apalagi ditambah menurut berita Bahwa babi yang akan diadukan adalah babi yang sangat aneh, itu sangat mengundang antusias para warga.
Melihat kenyataan seperti itu, Surya Jaya pun mempercayai apa yang dikatakan oleh Mas Sujiman, Bahkan dia mendengar orang yang sedang berbicara, sedang mengobrol sambil dibarengi canda tawa.
"Wandi.....! Wandi! mau ke mana kamu? Masa iya, orang yang suka bermain di hutan tidak tahu babi? Asal kamu tahu pastinya babi itu sama saja, bibirnya monyong." ujar salah seorang anak muda yang sedang bercanda dengan temannya.
"Aku bukan mau nonton babi, karena memang benar kalau untuk melihat babi aku sering melihat di hutan. tapi untuk sekarang aku pengen melihat babi yang sangat cantik, menurut keterangan babi itu pakai anting segala, ditambah Makannya nggak mau makan singkong mentah, pengennya makan goreng oncom, sama gepuk."
"Hahaha, Iya emang Kurang ajar tuh babi. aku juga tidak sebulan sekali makan sama gepuk," Timpal orang yang bertanya.
Sedangkan orang-orang yang lain, Mereka pun tersenyum karena memang benar kalau hanya untuk melihat babi, mereka sering bertemu di hutan. namun yang membuat babi itu terlihat aneh, adalah tingkah lakunya yang berbeda dengan babi pada umumnya.
"Dari mana aja Mas, Tega betul...., nggak ngebantuin Abah membenarkan gelanggang," sapa Bah Turo ketika melihat Mas sujiman menghampiri.
"Maaf bah, tadi saya ada kepentingan, jadi saya tidak bisa membantu Abah."
"Kepentingan apa mas?"
"Saya membawa Kang Surya Jaya untuk menonton adu babi. Siapa tahu saja dia tertarik dengan babi yang Abah punya. nanti kalau dia tertarik Abah harus menjualnya," ujar Sujiman yang terlihat berbisik takut terdengar oleh orang lain.
"Iya, siapa juga yang mau memelihara babi, kalau harga yang ditawarkan pas, maka akan Abah lepas."
"Tapi saya nitip ya Bah..!" ujar sujiman sambil mengulum senyum.
"Siap Mas, Abah juga ngerti!" Ujar bah Turo yang mengerti Ke mana arah pembicaraan sujiman.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu saya mau membeli karcis terlebih dahulu."
"Iya maaf nih, Mas! gak bisa gratisan."
"Nggak apa-apa, bah!"
Akhirnya sujiman pun kembali mengantri bersama istri dan Surya Jaya, untuk membeli tiket pertunjukan adu babi. sedangkan Mbah Turo dia melanjutkan pekerjaannya yang sedang memantau situasi.
"Dari mana saja Mas?" tanya Surya Jaya yang menatap penuh heran.
"Ngobrol sama Mbah Turo Kang, saya menitipkan pesan, kalau nanti dia mau menjual babinya, Maka jangan dijual kepada orang lain, karena Akang mau membelinya."
"Oh syukurlah kalau begitu, terima kasih Mas!"
mereka pun terus mengantri hingga akhirnya tibalah giliran mereka membeli karcis, tanpa berpikir panjang Ijah yang membawa uang dia pun membeli 3 karcis untuknya, suami dan Surya Jaya.
Setelah membeli karcis mereka bertiga pun menyela-nysla orang yang sudah memadati gelanggang adu babi, mereka mencari tempat terdepan agar bisa jelas melihat ke dalam pegaran.
Semakin lama gelanggang pertandingan adu babi dan anjing itu semakin penuh sesak dengan orang-orang yang hadir, yang ingin menyaksikan pertunjukan yang diadakan oleh Mbah Turo. Akhirnya orang yang mengantri di loket tiket sudah tidak ada lagi, melihat situasi yang sudah tidak ada orang lagi yang datang, Mbah Turo pun memberi aba-aba, agar Pak RT memberikan sambutan terlebih dahulu.
Orang yang di berikan komando pun manggut, seolah paham dengan apa yang harus dia lakukan. kemudian ketua kampung selakaso pun bangkit dari tempat duduknya, berdiri di atas panggungan gendang pencak.
Pak RT memberi isyarat, agar suara gendang yang sedang ditabuh berhenti sementara. hingga hanya terdengar riuh suara orang yang sedang mengobrol dengan orang yang lainnya, yang sama-sama sedang menunggu acara adu babi dimulai.
Prok! prok! prok!
Sebelum berbicara Pak RT menepuk tangan terlebih dahulu, memberi isyarat agar orang-orang berhenti mengobrol, sehingga suasana pun menjadi sepi.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya mewakili panitia adu babi mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kehadiran para hadirin sekalian. dalam kesempatan kali ini saya selaku panitia mengucapkan selamat menyaksikan dan menikmati tontonan adu babi ini, yang sudah lama kita tidak laksanakan. untuk para pawang anjing yang mau mencoba kekuatan anjingnya, silahkan menghubungi Mang Karmin di sebelah Selatan untuk mendaftarkan anjing yang mau diadukan. namun mohon maaf anjing yang masuk ke gelanggang akan dibatasi, karena takut merusak babinya. hanya segitu yang bisa saya sampaikan, sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya dan selamat menonton...! Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pidato pak RT yang diakhiri oleh tepuk tangan yang begitu meriah, sehingga gendang pencak yang tadi terhenti mulai ditabuh kembali.
Mata para penonton tertuju ke arah gelanggang, di mana ada satu kandang yang terbuat dari bambu. Mbah Turo sebagai pawang babi hutan, Dia mulai membuka pintu kandang itu, dengan perlahan membuat hati para penonton berdebar dengan kencang, tidak sabar untuk melihat babi aneh yang dikatakan aneh.
__ADS_1