Babi Beranting

Babi Beranting
38 NIAT SARMAN


__ADS_3

"Mita sakit hati Bu! hati Mita hancur! tolong Mita Bu! tolong balaskan sakit hati Mita." Raung anaknya Darmi sambil terus menangis di pelukan ibunya.


"Tenang! tenang kamu nggak usah menyalahkan Bapak. kita harus bersatu untuk menghancurkan keluarga si Abun." jawab Darmi sambil terus mengusap lembut rambut anaknya yang sudah basah oleh keringat.


Lama menangis Mita pun merasa capek, hingga akhirnya tangisan itu berhenti kemudian dia menatap ke arah ibunya. "bagaimana kita membalas sakit hati keluarga kita kepada si Ranti?" tanya Mita.


"Kamu nggak usah banyak berpikir, mendingan sekarang kamu cuci muka, lalu nyalakan lampu kamar, sebentar lagi bedug magrib." jawab Darmi sambil bangkit dari tempat duduknya. Kemudian dia berlalu pergi dari kamar anaknya.


Mita yang masih merasa sedih, dia tidak menurut dia masih berbaring di tempat tidur. namun lama kelamaan dia mulai merasa takut, karena keadaan kamarnya semakin gelap. Dengan malas dia pun bangkit mengambil korek gas, lalu menyalakan lampu Damar yang disimpan di kamarnya.


Malam hari, setelah mereka makan malam. keluarga Sarman berkumpul di ruang tengah, sambil menikmati cemilan disinari oleh cahaya lampu yang mereka tempelkan di dinding. dari arah luar terdengar suara-suara binatang-binatang malam, yang mencari makan menambah ngeri suasana di perkampungan.


"Kang!" Panggil Darmi memecah heningnya suasana.


"Ada apa?" tanya Sarman seperti membentak, karena dia kaget sedang melamun.


"Kenapa pakai ngebentak segala?"


"Maaf bu! bukan ngebentak, tapi akang kaget!" jawab Sarman sambil memukulkan sakar rok0k ke asbak.


"Jangan Melamun terus nanti kesambet lagi! mending Akang sekarang berpikir bagaimana caranya membalas perlakuan keluarga si Abun, terhadap keluarga kita!" kompor Darmi mulai dinyalakan.


"Emang kamu kira Akang dari tadi terdiam lagi ngapain? Akang lagi berpikir bagaimana cara menghancurkan keluarga si babi itu." jawab Sarman sambil menghisap r0kok yang ada di tangannya, kemudian asapnya disemburkan ke arah atas sehingga memenuhi ruangan tengah.


Uhuk! uhuk!


"matiin apa rokok itu! bikin sesak nafas aja." gerutu Darmi sambil mengibas-ngibas asap dengan telapak tangannya.


"Jangan mengganggu kesenangan orang!" Jawab Sarman yang terlihat cuek. kemudian keluarga itu terdiam kembali mengantar lamunannya masing-masing.


"Kang!:


"Apa sih dari tadi manggil-manggil, kan jarak kita sangat dekat." jawab Sarman.


"Bagaimana kalau kita menghancurkan keluarga Bah Abun dengan mempengaruhi orang lain." saran Darmi yang sudah mempunyai ide.


"Maksudnya bagaimana?"


"Kita kasih tahu orang-orang, bahwa usaha yang si Abun lakukan itu usaha yang tidak benar. para warga masih menyambut baik si Abun, karena mereka tidak mengetahui tentang kebusukannya."


"Terus kalau orang itu terpengaruh dengan hasutan kita, apa usaha si Abun akan hancur?"

__ADS_1


"Pasti Kang! soalnya si Abun bisa seperti sekarang itu gara-gara bantuan para warga, yang memiliki keahlian menganyam. kalau sebagian dari pengrajin anyaman itu Berhenti bekerja, maka penghasilan si Abun juga akan berhenti."


"Bener juga! tapi caranya bagaimana?" ujar Sarman yang mengakui kepiawaian istrinya.


"Ya, kalau caranya! akang pikirkan sendiri. Kita semua harus bekerja sama untuk menghancurkan keluarga si Abun. lihat Akang sampai berbuat kasar sama anak Akang sendiri, itu gara-gara siapa? Itu gara-gara keluarga si Abun. kalau dibiarkan mungkin keluarga kita akan dihancurkan duluan." ujar Darmi yang semakin ngelantur. begitulah sifat orang yang sudah dihinggapi oleh sifat hasud, orang tidak ngapa-ngapain tapi dia udah berburuk sangka duluan.


Mendengar penuturan Darmi, Sarman pun terdiam seketika, kemudian melamun kembali, membayangkan cara-cara untuk menghancurkan perusahaan Mbah abun. lama berpikir Akhirnya dia pun tersenyum persis seperti orang yang kurang waras.


"Kenapa senyum senyum?" tanya Darmi yang melihat perubahan sikap suaminya.


"Akang mendapat ide!"


"Ide bagaimana?" tanya Darmi yang mengerutkan dahi.


"Kita hancurkan usaha kelompok yang dipimpin oleh Si Galih. kalau usaha kelompok itu hancur, otomatis barang hasil kerajinan pun akan berkurang.


"Caranya?"


"Serahkan aja sama Akang! kamu tinggal tunggu hasilnya." ujar Sarman dengan Sombongnya.


Akhirnya mereka pun mengobrol sambil terus membahas rencana-rencana jahat yang hendak mereka lakukan, agar kehidupan Mbah Abun tidak tenang. pukul 09.00 Mita yang masih merasakan sakit hati, dia berpamitan untuk masuk ke kamar duluan, meninggalkan orang tuanya yang masih terlihat serius membahas strategi.


Kira-kira pukul 10.00, ketika Sarman bersama istrinya hendak masuk kamar hendak beristirahat. terdengar dari arah pos ronda suara Kentungan yang dipukul dengan cepat, menandakan ada bahaya.


"Jangan melamun! pasti babi hutan itu si Abun. Akang harus bisa membunuhnya! ingat kalau membunuh babi akang tidak akan dihukum." semangat Darmi sambil berjalan menuju ke arah dapur hendak mengambilkan golok.


"Kamu mau ngapain?" tanya Sarman sambil mengikuti istrinya.


"Nih bawa ini! Akang tebas langsung di lehernya." ujar Darmi sambil menyerahkan golok yang baru diambil. Menganggap enteng bahwa membunuh hewan buas itu sangat mudah.


"Kalau mau Membunuh babi jangan pakai golok! Bisa-bisa kita yang diseruduk."


"Terus?"


Sarman pun mengambil tumbak yang ada di dinding dapur, kemudian dia melepaskan sarung yang ia pakai, kemudian mengencangkan ikat celana. tanpa berpamitan kepada istrinya, Dia berlari menuju ke arah keramaian. Membelah gelapnya malam.


"Abun tunggu! Abuuuuuuun!" teriak Sarman berbeda dengan teriakan orang lain.


"Ke selatan! babinya lari ke selatan." teriak salah Seorang warga memberitahu membuat Sarman berlari ke arah yang disebutkan, dia terus berlari dengan membawa niat tersendiri. berbeda dengan warga Kampung lain, yang hanya ingin menyelamatkan kampungnya, Dari gangguan hewan hama itu.


Malam itu Para warga Kampung Ciandam, mereka disibukkan dengan mengejar babi yang masuk ke kampung, Entah mengapa beberapa tahun terakhir, Kampung mereka sering dijarah oleh babi hutan.

__ADS_1


Namun jangankan memburu babi di waktu malam, di waktu siang pun memburu babi itu sangat susah, sehingga para warga pun kehilangan jejak. hingga akhirnya mereka pun pulang dengan membawa tangan kosong, Sambil mengobrol dengan warga Kampung lainnya bertukar cerita tentang apa yang baru saja mereka alami.


"Kenapa ya? beberapa tahun terakhir Kampung kita sering didatangi babi hutan." tanya salah Seorang warga.


"Ya karena kampung kita dekat dengan gunung, apalagi sekarang tidak ada makanan di hutan. Wajar saja kalau babi Masuk ke kampung." jawab Seorang warga sambil terus berjalan menuju arah pulang.


"Bukan! bukan karena kampung kita dekat gunung, namun di kampung kita ada seseorang yang melakukan pesugihan babi, sehingga kehidupan kita tidak tentram."


"Kata siapa Kang Sarman, Jangan mengada-ngada. nanti kalau tidak terbukti, akang malu sendiri seperti kejadian tadi siang." jawab Salah Seorang warga, yang tidak terpengaruh oleh ucapan Sarman.


"Kok Kata siapa, ya kata Akang lah! buktinya di kampung kita ada orang kaya, namun hanya memiliki usaha sebagai penjual kerajinan anyaman, Bukannya itu patut dicurigai." jawab Sarman memberikan alasan


"Maksud Kang Sarman, Mbah Abun melakukan pesugihan babi?" Jawab yang lain memastikan.


"Iya begitu! kalian sadar nggak sih! setiap ada kejadian babi Masuk ke kampung Kita. pernah nggak si Abun itu ikut berburu sama kita? nggak pernah kan!" tanya Sarman yang menghentikan langkah agar penjelasannya bisa diterima.


"Emang bener tah seperti itu?"


"Bukannya Mbah abun juga ikut berburu sama kita." jelas seseorang.


"Gak mungkin! gak mungkin ikut berburu sama kita, karena yang menjadi babi hutan itu adalah dirinya sendiri. coba kalau kalian nggak percaya, silakan kalian cek kebenarannya!"


"Mbah Abun! Mbaaaaaah!" teriak Seorang warga memanggil orang yang dicurigai, untuk membuktikan apa yang disampaikan oleh Sarman.


"Bener kan nggak ada? si Abun itu masih muda, masa iya dia tidak mampu berlari untuk mengejar babi." jelas Sarman sambil tersenyum, membuat orang-orang yang berjalan beriringan dengan Sarman sedikit agak mempercayainya.


"Mbah Abun! baaaaah!" panggil orang yang tadi masih penasaran.


"Abah ada di sini! ada apa?" jawab seseorang yang berteriak dari arah belakang, membuat semua orang yang berada di dekat Sarman menatap ke arahnya.


"Hati-hati Mang kalau ngomong! buktinya Mbah abun ikut berburu sama kita, nanti kalau kedengaran sama orangnya pasti akan marah. Mending kalau marah doang, gimana kalau dia melaporkan Kang Sarman atas tuduhan fitnah." ingat seseorang.


"Siapa yang memanggil?" teriak Bah Abun yang tak mendapat jawaban.


"Nggak Bah! cuma ngecek aja, kirain Abang nggak ikut pulang." jawab orang yang memanggil sambil menatap penuh amarah ke arah Sarman.


"Kamu malu-maluin aja mang! kirain benar apa yang diucapkan." gerutu orang yang memanggil Mbah abun karena dia merasa malu.


"Makanya kalau ngomong itu dipikir dulu!"


Mendapat tekanan dari orang-orang yang ada di sampingnya, membuat Sarman kehilangan muka. tanpa meminta izin terlebih dahulu dia Berpisah Di pertigaan jalan, dia lebih memilih berjalan sendiri, sambil membawa kebencian yang semakin mendalam.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu Abun! awas aja suatu saat pasti semua warga akan percaya dengan apa yang aku sampaikan." Gerutu Sarman sambil memegang erat tombak yang ada di tangannya, kemudian menusuk pohon pisang yang ada di samping jalan. Mungkin dia melepaskan emosi yang sudah tak tertahan.


__ADS_2