Babi Beranting

Babi Beranting
26. hampir


__ADS_3

Mendengar ada warganya yang berteriak meminta tolong, para warga Kampung Ciandam dengan cepat berbondong-bondong dan mendatangi rumah zuhri dengan membawa perlengkapan tempur yang lengkap. ada yang membawa golok, pisau, Halu. ada juga yang membawa anjing karena mereka mendengar ada teriakan babi hutan.


Kentungan Ratok bersahutan dipukulin, menambah gentingnya keadaan malam itu. Mbah Abun yang masih syok atas kegiatannya yang diketahui oleh Zuhri. dia hanya menatap ke arah cahaya senter karena matanya terasa silau. namun setelah terdiam beberapa saat, dia mulai sadar bahwa bahaya sedang mengintainya. dengan cepat Mbah Abun dalam bentuk babi hutannya, dia berlari menjauh ke arah kebun.


"Ke kebuuuuuun! babinya lari ke kebun!" teriak Zuhri memberi tahu para warga kemudian mengejar babi hutan yang sudah kabur. Dia mengikutinya dengan cahaya senter membuat Bah Abun menjadi semakin Kalang kabut.


Anjing yang menggonggong terasa semakin mendekat, menambah ketirnya suasana malam di kampung Ciandam. Mbah Abun Terus Berlari semakin menjauh dari rumah Zuhri, melewati kebun yang nantinya akan sampai ke pesawahan.


"Ke Selatan!" teriak Seorang warga memberitahu yang membuat para warga lainnya mengikuti.


"Potong jalannya dari arah depan, pasti babi ini akan pergi ke sawah." saran seseorang yang ahli pemburu memberi komando.


Akhirnya warga pun terbagi dua, yang satu berlari ke arah ujung sawah, yang satu terus mengejar dari arah belakang.


Babi hutan itu jadi semakin Panik, di satu sisi dia ingin melarikan diri, namun di sisi lain dia bingung harus berlari ke mana. akhirnya mau tidak mau babi itu masuk ke dalam Pesawahan yang padinya sebentar lagi mau dipanen. Di mana sawah itu sudah dijaga ketat oleh para warga. setelah berada di tengah-tengah persawahan dia melirik ke arah belakang yang terlihat senter yang masih mengikuti, melihat ke arah depan sudah disiapkan senter, menandakan bahwa babi sudah terkepung.


"Celaka!" gumam babi itu di dalam hatinya.


"Babinyaa Di tengah-tengah sawah! Awas Jangan dibiarkan sampai kabur." teriak seorang warga memberi tahu, membuat babi hutan itu semakin panik. akhirnya dia masuk ke tengah sawah untuk bersembunyi dilebatnya padi yang sudah tinggi. Dan berharap tidak ada yang mengejarnya.


"Babinya masuk ke tengah sawah, warga warga Ayo mulai kepung terus!" Seorang warga membuat warga-warga lainnya mulai mendekat mengelilingi petakan sawah itu, tidak memberikan celah sedikitpun, untuk babi hutan itu bisa melarikan diri.


"Kepung! kepung!" jawab warga lainnya.


"Bagaimana nih Pak RT?" tanya Zuhri sambil menerangi tengah sawah dengan senter. terlihat ada benda hitam yang sedang terdiam.


"Masukin anjing! biar babinya keluar." pinta seseorang yang ahli berburu.


Anjing anjing yang ikut berburu babi hutan mulai dimasukkan ke tengah sawah, terdengar suaranya yang menggonggong begitu nyaring, membuat hati babi hutan itu semakin ketar-ketir.

__ADS_1


"Awas hati-hati! babi bayangan lebih berbahaya!" ujar seseorang memperingatkan orang lain.


Namun aneh setelah anjing-anjing itu sampai ke dekat babi, anjing itu seolah tidak mencium musuhnya, anjing-anjing pemburu malah mondar-mandir di dekat babi, seolah tidak melihat ada buruannya di sana.


"Masih ada nggak babinya?" tanya Seorang warga yang mulai ragu karena anjingnya tidak menggigit atau menyerang babi itu.


"ada, itu masih kelihatan!" jawab seorang warga sambil menunjuk dengan senternya.


"Ayo kita tangkap babi itu! dengan masuk ke tengah sawah. Tapi tetap hati-hati, siapkan senjata masing-masing, kalau babi itu menerjang maka jangan segan-segan untuk membunuhnya!" saran seorang yang ahli berburu.


"Emang nggak bahaya Jang Anto" tanya pak RT yang merasa ngeri kalau harus berhadapan langsung dengan babi hutan yang terlihat sangat besar.


"Ya makanya hati-hati Pak RT! kalau tidak dibunuh sekarang! hidup kita nggak akan tenang. apa mau Kampung kita terus dijarah oleh babi hutan ini?"  jawab orang yang bernama Anto.


"Para Warga warga Ayo mulai masuk ke tengah sawah, Tapi hati-hati!" seru Pak RT memberikan komando membuat para warga pun mulai turun dari galengan sawah, mulai mendekat ke arah babi yang berada di tengah-tengah.


Sedangkan di Kampung ciandam, setelah suami suami mereka berhamburan keluar. para perempuannya pun pada berteriak histeris karena takut mendengar ada babi hutan masuk ke perkampungan. mereka saling memberitahu, sampai-sampai kampung Ciandam terasa begitu mengerikan.


"Ambu! Ambu! Abah!" Panggil Ranti setelah berada di ambang pintu kamar, dia tidak berani masuk karena itu adalah privasi orang tuanya.


"Ambu! Ambu!" Panggil Ranti sambil menggedor-gedor tiang pintu, karena kamar Bah Abun tidak memiliki pintu. pintu kamar itu hanya ditutup oleh gorden.


Ambu yayah yang ketiduran, menengar kegaduhan yang ditimbulkan oleh anaknya. dengan cepat dia pun membuka mata, dia menatap ke arah datangnya suara, mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya ampun!" dengan terperanjat Ambu Yayah menatap ke arah Lentera, Yang apinya bergoyang-goyang seperti tertiup angin. namun di area kamar itu tidak ada angin sama sekali. Abu Yayah melihat air yang berada di dalam baskom, yang sudah bergejolak seperti hendak mau tumpah.


"Maafkan Ambu Abah!" gumam Abu yayah sambil mematikan Lentera, kemudian dia membawa baskom berisi air keluar dari kamarnya, tak memperhatikan sedikitpun anaknya yang bertanya tanya. dia langsung pergi ke dapur untuk membuang air itu. Setelah air di dalam baskom terbuang, akhirnya Abu yayah bisa menarik nafas lega.


"Ini ada apa ambu, kok di luar pada rame?"

__ADS_1


"Rame kenapa?" Abu Yayah mengembalikan pertanyaan karena dia baru saja tersadar dari tidurnya sehingga tidak tahu apa yang terjadi di luar.


"Nggak tahu, Ambu! kayaknya ada babi hutan, soalnya terdengar beberapa orang yang mengobrol di samping rumah, dan terdengar suara anjing yang seperti sedang berburu." Jawab Ranti menjelaskan pengetahuannya.


"Kok bisa, babi Masuk ke kampung?" Tanya Abu Yayah pura-pura nggak tahu.


"Terus si Abah ke mana, abu? kok nggak kelihatan." Tanya Ranti yang tidak melihat Mbah Abun.


"Mungkin tadi keluar! ikut sama orang orang memburu babi." jawab Abu Yayah berbohong, sebenarnya hatinya sedang kalut memikirkan keselamatan suaminya. Kalau tidak ingat dia seorang perempuan, Mungkin dia sudah keluar untuk mencari keberadaan Mbah Abun.


"Kenapa ya, ambu! Kok bisa Babi hutan masuk ke kampung?" tanya Ranti mengulang pertanyaan ibunya.


"Nggak tahu, Ranti! Ambu bukan seorang pemburu." jawab Abu Yayah, telinganya terus mendengarkan suara-suara gaduh yang terdengar jauh di sana. meskipun jauh namun suasana malam yang sepi, membuat suara itu Terdengar sangat jelas.


Akhirnya kedua ibu dan anak terdiam, sambil terus mendengarkan suara-suara yang sangat mengerikan, dari arah Jauh. Namun Semakin lama, suara itu semakin menghilang dan akhirnya tak terdengar lagi.


Ceklek!


terdengar suara pintu yang terbuka, terlihat Bah Abun yang masuk ke dalam. dengan cepat Abu Yayah pun menyambut, lalu memeluk suaminya. "Maafkan Abu Abah!" bisik Abu Yayah sambil menitikan air mata.


"Sudah! sudah! nanti kita ngobrolnya." jawab Bah Abun sambil berbisik juga. takut ketahuan anaknya.


"Tumben-tumbenan! Abu pakai meluk-meluk Abah segala?" tanya Ranti yang menatap heran ke arah kedua orang tuanya.


"Emang nggak boleh? kan Abah suami abu!" jawab Abu Yayah sambil menedelik ke arah anaknya, matanya yang terlihat berenang dengan cairan kebahagiaan sekaligus penyesalan, terlihat jelas karena tersinari oleh cahaya lentera malam.


"Bagaimana Abah? Ada apa di luar kok kayaknya. kayak ada maling gitu?"


"Enggak ada maling! adanya babi hutan. tadi Abah terbangun karena mendengar suara teriakan-teriakan para warga. Abah langsung keluar." jawab Bah Abun berbohong.

__ADS_1


"Terus ke mana Babi hutannya, Bah?"


"Nggak tahu Ranti, kan Abah udah tua. Abah nggak kuat larinya. mungkin lari ke hutan. Ya sudah, ayo tidur lagi!" Mbah Abun mengajak keluarganya agar masuk ke dalam rumah, lalu masuk ke kamar masing-masing.


__ADS_2