
"Terima kasih kalau seperti itu. kalau Mamang bersedia menghandle tugas dan tanggung jawab saya di kantor kerajinan." ujar Galih setelah mendapat kesanggupan dari Zuhri, yang mana orang itu akan bersedia menjadi penggantinya selama dia mencari keberadaan Ranti.
"Sama-sama Jang!"
"Daus!" Panggil Galih sambil menatap ke arah sekretarisnya.
"Iya ada apa kang?"
"Besok kita mulai mencari Ranti!"
"Siap Kang! jangankan besok, sekarang saja saya siap untuk mencari keberadaan Ranti, karena semakin cepat kita menemukannya, maka akan semakin baik untuk kelangsungan usaha kelompok." jawab Daus yang sedikit berbohong, karena sebenarnya dia sangat merasa kehilangan ketika gadis yang sangat ia cintai sekarang tidak bisa dia lihat. bagi Daus, jangankan cintanya diterima, melihat Ranti saja Hatinya sudah berbunga-bunga. semenjak hilangnya Ranti kalau dia boleh jujur, Dia sangat merasa kesepian, dia seperti kehilangan separuh jiwanya, walaupun Sebenarnya Daus belum pernah mengungkapkan perasaannya.
Setelah dirasa diskusi itu selesai, akhirnya Galih dan Daus pun berpamitan sama Zuhri. dan mereka berjanji bahwa besok akan mulai mencari Ranti. sedangkan Zuhri juga berjanji akan membantu mereka, untuk mencari keberadaan anak Mbah abun. namun dia tidak akan mencari ke tempat yang jauh, dia akan diam dirumah sambil menunggu kabar berita ada babi aneh dari kampung Tetangga.
******
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali. Galih dan Daus sudah berangkat untuk mencari keberadaan Ranti, sesuai dengan apa yang sudah mereka sepakati kemarin sore, mereka akan mencari Ranti ke kampung yang terdekat dengan Kampung Ciandam yaitu Kampung Ciaul. dua pemuda itu terus menyusuri Jalan Setapak, air embun masih berada di ujung daun, yang terlihat gemerlapan tersinari oleh sinar mentari pagi, gunung-gunung masih diselimuti embun, burung-burung berkicau menyambut riang datangnya waktu siang.
"Kang! kang! kita mau ke mana dulu sekarang?" tanya Daus yang berjalan di belakang.
"Begini Us! kita cari dulu ke Kampung terdekat dengan Kampung Ciandam yaitu Kampung Ciaul. Siapa tahu saja di sana kita menemukan jejak-jejak keberadaan Ranti, sekalian saya ingin mencari tahu dengan apa yang diceritakan oleh Mang Zuhri. Apakah benar di dunia ini ada babi jadi-jadian?" jawab Galih sambil terus berjalan.
"Kenapa kita menuju ke Ciaul?" tanya Daus yang masih merasa heran.
"Karena di daerah Ciaul, sebagian besar warganya hobi berburu babi hutan. dan siapa tahu saja ada babi aneh yang baru mereka tangkap."
"Berarti Akang percaya kalau Mbah Abun melakukan pesugihan?"
"Enggak lah Us! Akang nggak percaya hal begituan."
"Terus kenapa Akang bukan mencari Ranti, malah mencari babi."
"Akang Hanya penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Mang Zuhri kemarin. kalau benar ini bisa menjadi pengalaman yang luar biasa bagi kita. Karena kalau dipikir-pikir dan kalau kita perhatikan, apa yang disampaikan oleh Mang Zuhri ada hubungannya, dengan babi yang kamu temui dua hari yang lalu."
Mendengar jawaban Galih seperti itu, akhirnya Daus pun terdiam, Mungkin dia mulai mengerti dengan apa yang hendak dilakukan oleh temannya. Karena dalam hati kecilnya dia mulai percaya bahwa babi yang dua hari lalu dia temui, adalah Ranti yang sudah berubah wujud.
__ADS_1
Mereka terus berjalan hingga ketika ada pertigaan. mereka mengambil ke arah kiri, arah yang jalannya menurun. setelah menuruni Jalan mereka sampai di kebun bambu. keluar dari kebun bambu, mereka berjalan di tepian selokan yang airnya terlihat sangat jernih. hingga akhirnya mereka sampai di jalan desa, jalan yang besar dan lurus, di samping kanan kiri jalan terlihat Pesawahan yang membentang luas, dengan padi yang masih hijau Ranau, membuat siapa saja akan betah menatapnya.
Mereka terus menyusuri jalan besar itu, kira-kira pukul 07.30. akhirnya mereka tiba di pinggir Kampung Ciaul. namun mereka merasa bingung, bagaimana harus mencari keberadaan Ranti, karena setelah melihat Kampung Ciaul ternyata kampung itu lumayan sangat luas. hingga akhirnya kedua pemuda itu memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon yang rindang, yang tumbuh di samping jalan.
"Kalau sudah begini kita harus bagaimana Kang?" tanya Daus yang mengikuti Galih duduk di atas rerumputan.
"Bentar us! kita berpikir dulu, kita harus menyusun strategi. agar kita tidak banyak membuang waktu. Akang Masih bingung."
"Bingung kenapa Kang?"
"Apakah sebaiknya kita harus mencari bersama-sama, atau mencari secara terpisah." jawab Galih sambil mengipas-kipas dadanya dengan baju yang ditarik tarik.
"Kenapa kita harus mencari secara terpisah kang."
"Karena kalau kita mencari bersama-sama, nanti Kampung Ciaul yang begitu luas, tidak akan terjamah semuanya. berbeda kalau kita mencari sendiri-sendiri, Daus ke sebelah timur, Akang ke sebelah barat. jadi semua Kampung akan terjamah oleh kita."
"Setuju lah Kang! tapi bagaimana nanti pulangnya, apa kita akan bersama-sama lagi atau pulang masing-masing?"
"Masing-masing aja Us! karena kalau kita menemukan jejak Ranti atau jejak babi aneh, kita harus terus menelusuri sampai ketemu. kalau kita saling menunggu, Nanti kelamaan. apalagi kalau ada jejak yang menunjukkan harus mencari ke kampung lain, Bukannya itu sangat ribet, membuang waktu."
"Ya sudah kalau seperti itu! saya akan menyusuri jalan ke sebelah timur. siapa tahu aja ada rezeki saya di sana." jawab Daus sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Baik kalau seperti itu. akang doakan semoga kamu berhasil menemukan Ranti. Akang mau mengikuti jalan ke sebelah barat." ujar Galih sambil ikut bangkit.
"Yah! kita sama-sama saling mendoakan saja."
Akhirnya kedua pemuda itu bersalaman, lalu berpisah. Daus menyusuri jalan yang nantinya akan tembus ke masjid, sedangkan Galih dia mengambil jalan yang berlawanan arah. dia menyusuri jalan yang sedikit agak menanjak, karena menurut keterangan dari orang tuanya di daerah situ ada orang yang sangat ahli dalam memburu babi hutan, yang bernama aki Makmun, bahkan di tempat itu pula sering diadakan pertunjukan adu babi.
Galih terus menyusuri jalan yang agak nanjak, hingga akhirnya dia Sampai Di pelataran Yang sedikit agak luas. di situ terlihat ada anak kecil yang sedang bermain dengan ayam.
"Maaf Jang! rumah pemburu di mana?" tanya Galih sambil menatap anak kecil itu.
"Tuh!" jawab anak kecil sambil melirik sebentar, kemudian dia kembali bermain dengan ayam. namanya juga anak kecil, dia tidak terlalu antusias untuk mengetahui kepentingan orang dewasa. melihat yang ditanya seperti itu, galih pun tidak bertanya lagi, dia terus berjalan menuju ke arah rumah yang ditunjukan.
"Assalamualaikum!" ujar Galih setelah berada di depan pintu rumah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." jawab seseorang dari dalam, kemudian pintu rumah itu terbuka. terlihatlah ada seorang kakek-kakek yang sudah sangat berumur.
"Maaf mengganggu aki!" ujar Galih sambil manggut memberi hormat.
"Mau ke siapa?" Tanya aki Makmun yang menatap heran ke arah Galih karena baru pertama kali bertemu.
"Apa benar ini rumahnya aki Makmun?" jawab Galih balik bertanya.
"Benar, Aki sendiri!"
"Syukur kalau begitu! saya sedang mencari aki Makmun, karena ada kepentingan yang sangat penting."
"Oh begitu, ya sudah! Silakan masuk Jang. tapi maaf rumah aki agak kotor." ujar aki Makmun mempersilahkan, sambil masuk kembali ke dalam rumahnya.
"Nggak apa-apa Ki! terima kasih." jawab Galih sambil masuk ke dalam rumah aki Makmun, kemudian dia duduk bersila dengan rapi, seperti orang yang hendak menerima ilmu.
"Sebentar kayaknya aki baru melihat Ujang. Kalau boleh tahu Ujang namanya siapa?"
"Saya Galih Ki!"
"Galih?"
"Benar! tidak salah, nama saya Galih!"
"Jang Galih ini orang mana?" tanya aki Makmun sambil terus memperhatikan wajah yang baru ia lihat.
"Saya dari kampung Ciandam aki."
"Oh Ciandam. Deket dong kalau Ciandam. Kalau boleh tahu siapa nama bapak Ujang?"
"Boleh aki! nama orang tua saya witra, Pak witra." jawab Galih tanpa ada yang ditutupi.
"Witraaa! witra!" ujar aki Makmun mengulang kembali memori otaknya terbang ke masa lampau, mengingat mengingat nama yang disebutkan. "witra yang dulu suka bermain kendang pencak bukan?"
"Benar aki, menurut sebagian orang seperti itu. karena seingat saya bapak sudah tidak melakukan pertunjukan gendang pencak itu."
__ADS_1
"Oooooh Witra, kalau Witra yang itu, aki kenal. karena dulu kita sering bareng ketika hendak membeli tembakau Ke Kecamatan."