
"Ayo tidur ambu!" ajak Mbah Abun sambil membenarkan posisi tidurnya dengan posisi miring lalu kakinya ditekuk.
Ambu Yayah yang melihat suaminya sudah berbaring, dia pun ikut berbaring di samping suaminya. suasana pegunungan mulai terasa dingin membuat Ambu Yayah semakin menekuk kakinya dan merapatkan punggungnya ke punggung Mbah abun. namun semakin malam semakin larut kantuk pun tak kunjung datang. Mungkin suasana yang berbeda dari biasanya, membuat Ambu Yayah tidak bisa memejamkan mata sedikit pun.
Dari arah luar terdengar suara jangkrik, ketydid dan belalang. dari arah kejauhan terdengar suara burung hantu dan burung gagak, bahkan sesekali terdengar suara desisan ular yang terdengar dari arah atas rumah. suara deru langkah kaki yang berjalan di arah samping. Membuat Abu Yaya semakin merasa tidak nyaman.
"Kenapa Ambu? Nggak mau diam kayak orang yang gelisah aja?" tanya Mbah Abun yang mengetahui istrinya dari tadi terus bergerak-gerak, membuat tidurnya terganggu sehingga dia bertanya seperti itu.
"Nggak bisa tidur Abah! Ambu takut!" jawab Ambu Yayah Yang berbisik takut mengganggu aki sobani.
"Jangan takut Ambu! di sini tidak ada apa-apa, udah ayo tidur lagi!"
"Jangan takut Bagaimana Abah? tuh! dengar suara di luar yang sangat mengerikan." seloroh Ambu Yayah yang merasa kesal dengan suaminya yang tidak peka.
Mendengar jawaban istrinya seperti itu, akhirnya Bah Abun pun terdiam. karena memang sangat sulit menenangkan orang yang sudah sangat ketakutan. dia mulai mengeratkan tekukan kakinya, menemani malam yang semakin terasa dingin. bahkan terdengar suara gigi Yang bertautan dari arah istrinya, Mungkin dia tidak kuat menahan rasa dingin yang masuk dari celah-celah lubang papan menembus sumsum Balung.
Keaaak! keeakk!
Suara gagak yang berteriak begitu nyaring, kemudian terdengar kepakan sayapnya yang mendekati rumah aki sobani, kemudian hinggap di atas wuwung rumah itu.
Klerek! kleterk! kletrek! Clik!
Suara batu kecil yang jatuh menimpa genteng, kemudian terdengar jelas jatuh ke arah comberan, membuat Ambu Yayah semakin merasa ketakutan.
Dari arah atas terdengar suara desisan ular, kedengarannya semakin malam semakin sangat jelas. seperti di tombokan ke telinga Abu Yayah. membuat orang yang sudah takut menjadi semakin ketakutan. akhirnya dia pun bangkit dari tempat tidurnya, kemudian memindai area sekitar rumah yang terlihat remang-remang, karena hanya disinari oleh cahaya Lentera kecil yang menempel di dinding.
"Mau ke mana ambu?" Tanya Mbah Abun yang sebenarnya dia pun tidak bisa tidur.
"Ambu takut Abah! Ambu takut!"
__ADS_1
"Takut apa?" tanya Mbah Abun seperti orang yang tak memiliki perasaan.
"Tuh dengar banyak suara aneh di luar, masa abah Gak dengar?"
"Nggak apa-apa! kan suaranya di luar, bukan di dalam."
"Bangunkan aki sobani! biar menemani kita."
"Nggak berani Ambu! kalau harus membangunkan akiĀ Sobani. udah ayo tidur lagi!" ajak Mbah Abun sambil menekuk kembali kakinya, menyembunyikan kaki itu dari rasa dingin yang semakin menusuk ke tulang.
Ambu yayah yang masih memindai area sekitar, kalau siang akan terlihat jelas wajahnya yang membiru kedinginan dengan giginya saling beradu, tak kuat merasakan Hawa pegunungan. kalau tidak mengingat dengan ketakutannya dan waktu masih siang, dia akan lebih memilih untuk pulang ke rumah, karena tinggal di rumah aki kuncen membuatnya semakin tersiksa. matanya yang tidak bisa terpejam karena papan yang ia tiduri terasa sangat dingin, apalagi angin berhembus terus menerus.
Terlarut dalam pemikiran-pemikiran dengan apa yang menimpanya, tiba-tiba dari arah bawah papan terdengar seperti ada orang yang memukul-mukul papan itu, sehingga terlihat papan pun bergerak membuat Ambu Yayah dengan cepat memeluk tubuh suaminya.
"Abaaaaah! Ambu takut Abaaaah!" ujar Abu Yayah sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
"Hadeeeeeeeh! ada apa lagi sih, Ambu! ganggu orang tidur aja. Abah ngantuk nih!" jawab Mbah Abun yang terlihat kesal dengan kelakuan istrinya, yang seperti anak kecil.
Kira-kira pukul 01.00 malam.
Tolooooooooong! tolooooooooong! tolooooooong!
Terdengar dari arah jauh, ada suara seperti seorang wanita yang berteriak meminta tolong. Memecah heningnya suasana malam yang terasa sepi, membuat telinga Bah abun terasa panas, jantungnya berdegup dengan kencang, hatinya terasa gelisah. membuatnya teringat dengan anak yang ditinggal di rumah.
"Ambu dengar suara itu?" Tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah istrinya.
"Dengar Abah! kan telinga Abu masih normal."
"Siapa ya malam-malam seperti ini meminta tolong?" tanya Mbah oban sambil menatap dinding, ingin menembus melihat, Melihat siapa yang meminta tolong.
__ADS_1
Tolooooooooong! tolooooooooong! tolooooooong! Tolooooooooong! tolooooooooong! tolooooooong!
suara wanita itu masih terdengar jelas di kedua telinga orang yang sedang memperhatikan suara itu.
"Tapi, Abah! kalau didengar-dengar, suaranya mirip suara si Ranti, anak kita.
"Ah, Mana mungkin! anak kita kan berada di Ciandam, sedangkan jarak dari Ciandam ke Gunung Karang, sangat jauh. mungkin suara yang berteriak itu, suara seorang wanita, Jadi terdengar mirip." Jawab Bah Abun menyembunyikan kegelisahannya.
"Iya, mungkin seperti itu." jawab Abu Yayah yang semakin merasa takut, karena dia pun merasakan hal yang sama. mengingat anaknya yang sedang berada di rumah sendirian.
"Abaaaaah toloooooooooong! Abaaaaaah! tolooooooong ambuuuuuuuuu.....!" jerit suara wanita itu yang terdengar agak bindeng. suara yang angin-anginan, kadang Terdengar sangat kencang seperti dekat, kadang pula Terdengar sangat pelan, seperti jauh. membuat hati Ambu Yayah semakin gelisah. tak jauh dengan apa yang dirasakan oleh suaminya. apalagi semakin lama suara itu semakin sering terdengar, Suaranya sangat mengkhawatirkan, seperti orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan.
Ambu yayah yang terus mendengar suara jeritan itu, membuat lamunannya terbang pulang ke rumah menerka-nerka apa yang terjadi dengan anaknya. suaminya pun merasakan hal yang sama, sebab wajah anaknya terus memenuhi kelopak matanya. beberapa kali membuang wajah, namun bayangan wajah Ranti semakin nampak jelas, sehingga membuat Mbah Abun berprasangka buruk.
"Ambu Kenapa Abah ingat si Ranti terus?" ujar Bah Abun sambil menatap ke arah istrinya.
"Sama abah! Ambu juga ingat sama Ranti, tapi bagaimana kan kita sedang berada di sini?"
"Abah takut terjadi apa-apa sama si Ranti, apalagi Bapaknya si Mita sangat membencinya. karena calon menantunya lebih memilih Ranti daripada anaknya. Abah takut dia berbuat tega seperti yang pernah dia lakukan sama abah."
"Tenang Abah! kan ada Zuhri Dan Galih yang menjaga anak kita, Abah Nggak bohong kan, meminta mereka untuk menjaga anak kita?"
"Enggak lah Ambu! tapi walaupun dijaga, namanya orang yang mau berbuat jahat, dia akan melakukan segala cara agar tujuan kejahatannya tercapai."
Mendengar penuturan dari suaminya membuat Ambu Yayah terdiam seketika seolah mencerna dengan apa yang disampaikan oleh Mbah Abun. "Bangunin aki sobani Abah! kita minta tolong sama beliau. siapa tahu saja dia bisa memberi solusi." ujar Abu Yayah setelah berpikir agak lama.
"Nggak usah Ambu! Lagian sebentar lagi kan siang. kita tunggu aja sampai besok, baru kita sampaikan kekhawatiran kita."
Akhirnya mereka pun terdiam kembali sambil terus mendengarkan suara-suara yang terdengar aneh dari arah luar rumah.
__ADS_1
Malam itu terasa sangat panjang bagi Mbah Abun dan Abu Yayah. karena suara-suara aneh terus mengganggu telinga mereka, ditambah kekhawatiran yang sangat membuatnya gelisah, karena ingat terus dengan anaknya yang ditinggal di kampung.
Namun dengan penuh perjuangan dan penuh kesabaran. akhirnya dari arah barat terlihat Sang Fajar sudah menyingsing menutup sayap-sayap malam untuk digantikan dengan siang hari. terdengar burung-burung yang mulai berkicau, dari arah bawah terdengar suara ayam jago yang berkokok menyambut Batara surya yang sebentar lagi akan menyinari Buana, membuat kedua orang itu menarik nafas lega. sedangkan tuan rumah dengan perlahan dia pun membuka matanya, lalu menghampiri Mbah Abun dan Abu Yayah. namun tak mengobrol terlebih dahulu, aki sobani langsung keluar dari arah dapur untuk mencuci mukanya.