Babi Beranting

Babi Beranting
55. sang Pemburu


__ADS_3

Mendengar jawaban aki Makmun, yang mengenal orang tuanya. raut wajah Galih pun terlihat bahagia, karena dia akan mudah ketika hendak menyampaikan tujuannya.


"Oh iya! Tadi Ujang mau menemui aki, katanya ada hal yang penting, yang ingin Ujang sampaikan. Kalau boleh Aki tahu, hal penting apa itu Jang?" tanya aki Makmun sambil menatap ke arah tamunya.


"Begini aki menurut keterangan Bapak. bahwa aki itu sangat ahli dalam memburu hewan liar, terutama dalam memburu babi hutan. Apakah itu benar?"


"Kalau ahli sih, nggak. Tapi kalau hobi, iya. karena aki sudah dari sejak remaja, aki sudah mulai berburu, bahkan sampai sekarang, aki terus melakukan kebiasaan aki itu. Emang kenapa Jang?"


"Begini aki! akhir-akhir ini saya memiliki hobi yang baru, yaitu berburu hewan liar, salah satunya berburu babi hutan. saya mendatangi aki, saya ingin berguru dan mau meminta ilmu tentang berburu." jawab Galih menjelaskan tujuannya.


Mendengar pertanyaan tamunya seperti itu, membuat aki Makmun terdiam seketika. karena dari sejak dulu, dia berburu Dia tidak memiliki ilmu apapun, dia hanya menyalurkan hobinya dengan berburu. karena ketika berburu dia akan menemukan kesenangan, yang tidak didapatkan dengan melakukan hal-hal yang lain.


"Berat Jang! kalau permintaan Ujang seperti itu. karena aki berburu itu hanya sekedar hobi. tidak ada ilmu khusus untuk melakukan pemburuan." jawab aki Makmun yang terlihat menarik napas, karena memang benar begitu keadaannya, dia hanya menyalurkan hobi dengan berburu.


"Maaf kalau saya membebani pikiran aki, namun yang dimaksud saya ilmu berburu itu adalah pengalaman aki. mungkin dari pengalaman-pengalaman itu ada ilmu yang tersirat. Jadi siapa tahu aja Aki memiliki pengalaman-pengalaman yang luar biasa, ketika berburu babi hutan." jelas Galih yang sangat pintar mereka-reka pembicaraan, agar maksudnya tidak ketahuan.


"Oh begitu! kirain aki beneran minta ilmu. jujur kalau minta ilmu berburu, aki tidak punya. tapi kalau pengalaman tentang pemburuan sangat banyak. Tapi walau seperti itu, jang Galih harus tetap berhati-hati, karena tidak semua pengalaman itu baik. ada pengalaman-pengalaman orang lain yang harus kita jauhi. Dan tidak patut untuk dicontoh.


"Benar Ki! tapi menurut saya alangkah baiknya semua pengalaman baik dan buruk harus diceritakan."


"Kenapa?"


"Karena kalau dari pengalaman baik kita bisa mengambil kebaikannya. dari pengalaman buruk kita bisa mengambil pelajaran, agar kita tidak terjerumus dengan kejadian buruk itu."


"Benar! benar! bagus. aki suka dengan pemikiran anak-anak muda yang seperti Ujang. Sebentar aki ingat-ingat dulu Pengalaman apa yang harus diceritakan." jawab aki Makmun sambil menatap ke arah luar jendela, mengingat-ingat kembali kejadian masa lampau, yang pernah dialami. Lama berpikir akhirnya dia tersenyum.


"Dulu. ketika umur aki masih remaja, kira-kira umur aki 25 tahun. Aki sudah sangat suka berburu babi hutan. satu waktu ada babi hutan yang sedang mogok. babi itu sangat besar, culanya saja sampai beradu, warnanya sudah hitam keabu-abuan. ketika babi itu bersuara, maka hati kita akan bergetar ketakutan. bahkan kalau orang biasa yang mendengar, bukan orang yang sering berburu, mereka akan berlari terbirit-birit, atau bisa pingsan di tempat.


"Babi hutan itu sudah dua hari tidak bergerak ke mana-mana. Aki bersama para pemburu lainnya terus mencari cara agar bisa membunuh babi itu. anjing anjing sudah habis puluhan ekor, ada yang isi perutnya keluar, ada yang lehernya putus, ada juga yang keinjak-injak oleh kakinya. awalnya Aki dan para pemburu itu mau menyerah, karena sudah kehabisan tenaga dan kehabisan akal untuk membunuhnya. tapi setelah di pikir-pikir dan berdiskusi bersama pemburu lainnya, kalau babi mogok dibiarkan begitu saja, biasanya akan berubah menjadi babi bayangan. takutnya kalau sudah menjadi babi bayangan akan menyerang ke kampung. alangkah ngerinya kalau kejadian itu terjadi. Hingga Akhirnya aki dan para pemburu berusaha membunuh babi itu, Namun sayang perjuangan kita sia-sia."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena aki bersama pemburu sudah mengerahkan semua senjata, mulai dari tombak, panah, dan senjata-senjata lainnya. namun satupun tidak ada yang menembus kulit babi itu, Entah mengapa babi itu bisa sekebal itu."


"Terus bagaimana lagi?"


"Tidak mempan menggunakan senjata, kita pun memutuskan untuk melempar babi itu dengan batu. di zaman aki muda, ada seorang yang kekuatannya melebihi orang lain. Dia mampu mengangkat batu sebesar ember cat. dengan kekuatan seperti itu, dia pun mengambil salah satu batu yang besar, lalu dilemparkan ke arah babi. namun tampak sedikit pun bergeming, babi itu masih berdiri sambil terdiam, tanpa meninggalkan tempat mogoknya."


"Hebat banget, babi itu ya Ki." ujar Galih yang terlihat kagum dengan kehebatan babi itu.


"Benar Jang! sangat hebat. di lempar pakai tombak gak mempan, digebuk pakai batu malah nyengir. berbagai cara telah kita lakukan."


"Terus kelanjutan Ceritanya bagaimana?:


"Aki punya kakek, bernama Miun. nah aki miun lah yang membunuh babi itu."


"Caranya bagaimana?" tanya Galih yang terlihat antusias menyimak cerita yang sedang dibawakan oleh aki Makmun.


"Mau ngapain?"


"Babi yang sedang berdiam dengan suara yang menggelegar. ditantang oleh aki Miun. "hai babi hutan, kalau kamu berani. sekarang ayo kita bertarung, dan Serang aku Kalau benar kamu itu adalah babi hutan yang sangat gagah." Tantang aki miun sambil menatap ke arah babi.


"Mendengar tantangan seperti itu, aneh babi yang dari tadi tidak memperhatikan, dia menatap tajam ke arah orang yang menantangnya, dengan mata merah yang membulat sempurna. suaranya semakin membuat orang ketakutan, babi itu seolah mengerti dengan apa yang diucapkan oleh aki miun, sehingga babi itu bersiap-siap hendak menerjangnya."


"Terus apa yang dilakukan?"


"Aki miun mengambil ikat kepalanya, lalu dililitkan ke telapak tangan. jadi ikat kepala itu membungkus tangannya, sampai sangat itu terlihat seperti buah mangga."


"Hehehe!"

__ADS_1


"Jangan ketawa! ini bukan cerita komedi, ini kenyataan yang terjadi." ujar aki Makmun sambil mendelik.


"Maaf Ki! silakan lanjutkan." jawab Galih yang menundukkan kepala, menyembunyikan perasaan ingin tertawa.


"Nah, setelah itu. babi yang tadi sudah bersiap-siap hendak menyerang aki Miun dengan cepat babi itu berlari menerjang ke arah aki miun. namun dengan santainya aki miun yang tangannya sudah diikat dengan kain. dia menonjok tekak babi itu, sampai babi itu mati melepaskan nyawa."


Mendengar cerita aki Makmun seperti itu, Galih hanya menarik nafas pelan. merasa kagum dengan kehebatan yang dimiliki oleh aki Miun. walaupun ceritanya tidak dimengerti oleh akal sehat, namun Galih sangat percaya. Karena yang bercerita tidak terlihat sedang bercanda. aki Makmun dengan santainya dia meneguk air, lalu mengambil daun Aren untuk diisi dengan tembakau. tanpa memperhatikan Galih, dia mulai menyalakan lintingan daun Aren itu.


"Hebat banget ya Aki! sekarang aki miun masih ada, apa nggak?"


"Udah nggak ada Jang! lihat aja cucunya sudah setua aki!"


"Kalau masih ada Saya ingin berguru ilmunya aki."


"Nggak ada, sdah meninggal Jang. Lagian meninggalnya juga udah lama."


"Oh seperti itu, masih ada cerita yang aneh yang Aki temui ketika berburu."


"Banyak Jang, kalau pengalaman berburu mungkin kalau diceritakan tidak akan habis berhari-hari."


"Apa aja itu Ki?"


Aki Makmun pun mulai menceritakan cerita yang kedua. ketika dia berburu babi hutan. Ketika aki Makmun bersama babi hutan masuk ke dalam parit jebakan.  hingga mereka berdua saling menatap saling kaget, karena bisa berada di lobang yang sama. dengan cepat ki Makmun naik ke atas Parit, namun setelah melihat aki Makmun naik, babi pun ikut-ikutan naik. kemudian mereka saling bertatap lagi. setelah sadar dengan keadaan aki Makmun pun berteriak, memberitahu rekan pemburunya bahwa ada babi hutan di dekatnya. Namun sambil berteriak sambil berlari. babi berlari ke arah timur, sedangkan aki Makmun ke arah barat, sehingga babi itu tidak dapat ditangkap.


Cerita yang ketiga Aki Makmun menceritakan kejadian ketika dia bertemu dengan babi aneh. karena babi itu tidak takut dengan anjing, bahkan anjingnya yang takut dengan babi itu. karena anjing hanya mencium babi, tanpa melakukan serangan, seolah penciuman anjing itu hilang seketika. dan yang lebih aneh makanan babi itu, tidak mau dikasih singkong atau talas mentah atau makanan-makanan yang biasa babi makan pada umumnya. Babi ajaib itu lebih suka memakan goreng bakwan atau lontong, atau ikan asin pakai sambal apalagi kalau ditambah nasi. babi itu akan sangat menikmati makanannya. melihat kejadian seperti itu warga pun memutuskan untuk menyimpan babi aneh itu ke dalam rumahnya, dan ternyata babi itu sangat senang ketika disimpan di dalam rumah.


Mendengar cerita ini, Galih pun terlihat antusias, karena memang dari tadi dia bertanya ke sana kemari, untuk mengetahui tentang kejadian babi aneh.


"Di mana itu kejadiannya Ki?"

__ADS_1


"Di Kampung Situ.bahkan kejadiannya belum lama, mungkin hampir sekitar setahun atau dua tahun yang lalu." jawab aki Makmun mengingatkan kita ke cerita Mang sarpu yang tidak bisa berubah kembali ke wujud aslinya. dan dari situ pulalah Mbah Abun mulai tergiur dengan kekayaan yang didapat,  hingga akhirnya sekarang anaknya lah yang menjadi korban keserakahan orang tuanya.


__ADS_2