
Kira-kira matahari sebentar lagi mau berada di atas ubun-ubun, terlihat pak RT yang tadi diberitahu oleh Ayi dia datang bersama kedua orang tetangganya. akhirnya pekerjaan Bah Turo pun mulai banyak yang membantu, sehingga kira-kira pukul 01.00 gelanggang pengaduan babi selesai dibetulkan, ikatan yang longgar dikencangkan, bambu yang keropos sudah digantikan.
Lapang pengaduan babi milik warga kampung Sela kaso lumayan agak luas. lapangan yang sudah dikelilingi oleh pagaran, agar babi tidak kabur ketika diadukan dengan anjing, di tengah pageran ada kubangan air, untuk mandi babi. karena biasanya babi setelah lemas mereka akan mencari air untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Sehingga pertunjukan akan menjadi semakin seru.
"Mau pukul berapa acara ngadu babinya Bah?" tanya Pak RT sambil menatap ke arah Bah Turo yang sedang mengecek kembali hasil pekerjaannya.
"Kalau sudah beres seperti ini, Abah inginnya sehabis Ashar, agar tidak terlalu sore..!" jawab Bah Turo.
"Syukurlah kalau begitu. yang terpenting adalah pemberi beritanya yang harus baik, agar para warga Kampung tetangga datang berkunjung. Karena kalau pengumumannya bagus, saya yakin semua warga Kampung akan datang berbondong-bondong untuk menonton. itu bagus buat penghasilan Abah, ditambah di kampung kita sudah lama tidak ada pertunjukan adu babi dan anjing. Oh iya kabarnya babinya aneh ya Bah?" Ungkap pak RT yang diakhiri dengan pertanyaan.
"Bener Pak RT, silakan Pak RT lihat, untuk membuktikan!" ujar Bah Turo mempersilahkan.
Pak RT pun berjalan mendekat ke arah kandang babi, yang tak jauh dari gelanggang pertarungan babi dan anjing, diikuti oleh kedua tetangganya. Sesampainya di kandang babi terlihatlah babi itu sedang merebahkan tubuh, dengan mata terpejam, seperti sedang tidur yang sangat nyenyak. Pak RT terus memperhatikan babi itu dengan teliti, mencari keanehan keanehan yang diberitakan oleh para warga kampungnya. benar saja, karena tidak susah untuk mencari keanehan babi itu, di telinganya ada anting yang melingkar. "benar babi ini sangat aneh...!" gumam hati Pak RT, kemudian dia pun kembali ke tempat Mbah Turo.
Pak RT mulai mengatur strategi, menyusun rencana. agar ketika waktunya mengadakan pertunjukan adu babi, tidak Bingung lagi. mereka mulai menentukan Siapa yang menjaga babi, Siapa yang menjaga karcis, siapa yang mengontrol anjing untuk dimasukkan ke dalam gelanggang. Soalnya kalau tidak diatur dengan baik, orang-orang yang mempunyai anjing suka tidak beraturan memasukkan anjing-anjingnya. sehingga bisa-bisa membuat babi yang diadukan akan rusak, bahkan bisa mati di tempat. itu adalah kerugian yang sangat besar, karena tidak bisa dijual.
Setelah mematangkan musyawarah, Mereka pun pergi meninggalkan gelanggang babi, untuk beristirahat di rumah masing-masing. sedangkan Ranti, dia terus memikirkan cara, memutar otak, agar dia bisa bebas dari kandang yang mengurungnya. dia tidak mau kalau harus diadukan dengan anjing, keinginannya dia cepat pulang bertemu keluarganya.
"Kapan aku bisa pulang ke rumah, kapan aku bisa bertemu ambu dan Abah. nasib....! Kenapa kamu tega banget, sehingga aku harus mengalami hidup sesusah ini, hidup yang berbeda dengan orang lain....!" gumam Ranti dalam hati, karena hanya itulah yang bisa dia lakukan. soalnya hanya khayalan yang bisa terbang ke mana-mana, hanya keinginan yang bisa bergerak bebas, tanpa batas. sedangkan tubuhnya masih terkurung di dalam kandang, dengan lantai yang begitu becek, lalat-lalat mulai menggurumuni membuatnya sangat tidak betah.
Babi Itu terus terdiam, terhanyut dalam lamunan menghayal hal-hal yang indah untuk mengobati kesedihan yang sedang menimpa dirinya. Karena itu adalah hiburan yang dia bisa lakukan, namun walaupun memalingkan pikiran dengan berkhayal yang indah-indah, tapi khayalan itu akan hinggap di satu kenyataan di mana dia tidak menurut dengan apa yang dilarangkan oleh Mbah Abun, di mana dia dilarang untuk membuka lemari pakaian milik orang tuanya. namun dia tetap kekeh tetap penasaran ingin mengetahui sehingga larangan orang tuanya tak dihiraukan.
Akibatnya sekarang dia harus menanggung kesusahan yang tak terhingga, kesedihan yang tak berakhir. Hanya menyisakan penyesalan penyesalan yang memenuhi jiwa. selain penyesalan ada juga kekesalan terhadap orang tuanya, karena dengan kejadian seperti ini, Ranti sadar bahwa orang tuanya memiliki kelakuan yang salah, kelakuan di mana mencari kesenangan, kebahagiaan, dengan cara menjadi babi ngepet. dan sekarang dia sadar bahwa tuduhan-tuduhan para warga Kampung Ciandam yang dituduhkan terhadap orang tuanya, itulah kebenaran. "kamu tega abah....! tega banget....! berarti babi yang setiap malam diburu oleh para warga, itulah Abah sendiri. kenapa Abah.....? Kenapa Abah tega melakukan hal Salah seperti ini, hingga akhirnya anakmu lah yang menanggung akibatnya." gumam Ranti yang merasa kesal dengan bapaknya yang tega melakukan hal yang salah.
__ADS_1
Merasa kesal berbaring babi itu pun terlihat membangunkan tubuh, kemudian berjalan sambil memindai area di luar kandang yang terlihat sangat sepi. karena anak-anak sudah pulang, begitupun yang bekerja yang tak terlihat seorang. membuatnya leluasa memperhatikan setiap batang pohon bambu yang menjadi kandangnya, Ranti mencari pohon terlemah agar bisa didobrak.
"Kayaknya ini pagar terkecil, tapi kalau untuk keluar minimal harus ada 4 pagar yang harus patah..!" pikir Ranti sambil mengukur kekuatan pagar dengan mulutnya.
Setelah terdiam agak lama, babi itu mulai menjauh dari bambu, yang menurutnya paling lemah. dia mulai mengambil ancang-ancang untuk mencoba merobohkan bambu yang dibuat kandangnya. babi itu harus berkeliling karena dia tidak bisa berjalan mundur.
Setelah menjauh dan mengambil ancang-ancang, Ranti mulai berlari menerjang bambu yang tadi terlihat paling kecil.
Brukkkk!
Groook...!
Bambu yang ditabrak oleh tubuh Ranti, tidak bergeming sedikitpun. melainkan tubuhnyalah yang terbanting, terjungkal, menjauh dari bambu yang dia terjang, membuat tubuhnya terasa sakit karena menabrak bambu begitu keras.
"Bagaimana kalau kejadiannya seperti ini, apa aku akan dihajar oleh anjing-anjing pemburu yang akan diadukan denganku, dasar manusia serakah sudah menangkap malah dipertontonkan dan diadukan." gumam Ranti yang merasa takut, jangankan berhadapan dengan anjing, membayangkannya saja dia sudah meringis merasa ngeri.
"Semoga aja, Mas sujiman tidak bohong, dia datang kembali dengan menyelamatkanku." hanya harapan itulah yang menjadi penyemangat Ranti, agar tetap bertahan. karena hanya orang itulah yang bisa mengerti kesedihannya, mengerti dengan apa yang sedang dia rasakan.
Namun lama menunggu orang yang ditunggu pun tak kunjung datang, padahal waktu sore pun sebentar lagi menjelang. Hingga babi itu terlihat bangkit kemudian menatap ke arah luar, berharap orang yang tadi memberikan harapan datang membuktikan ucapannya. namun semakin lama semakin sore, orang yang ditunggu pun tak kunjung datang. membuat Ranti merasa gelisah apalagi mengingat waktu dia akan diadukan dengan anjing semakin dekat.
Sedangkan Orang yang ditunggu oleh Ranti. tadi, ketika dia pulang dari rumah Mang Karmin, dia terus berjalan dengan cepat menuju ke arah rumahnya. sesampainya di rumah dengan cepat dia pun mengambil handuk lalu membawa ember sabun menuju ke ****** umum, untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Dia terlihat sangat bahagia karena sesekali dia bersiul dengan riang.
Beruntung jam segitu para warga Belum pada pulang dari tempat kerjaannya, sehingga dia bisa leluasa mandi tanpa harus mengantri terlebih dahulu.
__ADS_1
Selesai mandi Mas sujiman pun bergegas pulang kembali ke rumahnya, kemudian dia masuk ke kamar mengganti baju dengan pakaian yang bersih dan rapi. melihat keanehan seperti itu, Ijah istrinya sujiman, merasa heran menangkap keanehan suaminya.
"Mau ke mana Kok sudah rapi?" Tanya Ijah penuh curiga.
"Mau bisnis Neng...! doakan mas agar mendapat hasil yang melimpah."
"Bisnis apa...? Jangan-jangan Mas mau...." ujar Ijah tidak melanjutkan perkataannya. begitulah perempuan yang selalu curiga, mereka selalu menangkap keanehan yang terjadi dengan suaminya.
"Sudah jangan berpikir ke mana-mana, kamu sebagai seorang istri cukup doakan...!" potong Mas Sujiman yang sudah tahu ke mana arah pembicaraan istrinya.
"Iya....! iya...! emang mau bisnis apa?"
"Kamu tahu kan Mbah Turo sekarang memiliki babi aneh, Akang akan menemui Kang Surya Jaya."
"Oh mau ke Kang Surya, Kirain mau ke mana. Ya sudah kalau seperti itu, Ijah doakan agar apa yang dicita-citakan oleh Mas dikabulkan oleh sang pencipta."
"Amin...! nah, begitulah seharusnya Seorang Istri, yang harus mendoakan suaminya. ya sudah, Akang berangkat dulu," ujar Mas sujiman berpamitan.
Setelah semuanya dirasa rapi Kemudian orang Purworejo itu keluar dari rumahnya, berjalan menyusuri jalan besar yang berada di tengah Kampung, menuju Kampung tetangga. matahari yang Begitu terik, tidak membuatnya merasa terganggu atau merasa risih, perbawaan hati yang dipenuhi dengan harapan, sehingga kenyataan panas seperti itu hanya rintangan kecil baginya.
Habis jalan besar, dia pun masuk ke Jalan Setapak yang menghubungkan dengan Kampung lain, melewati bukit-bukit kecil hingga akhirnya dia pun tiba di salah satu kampung cipelang. Mas sujiman terus berjalan hingga akhirnya dia tiba di salah satu rumah yang Tidak besar dan tidak pula kecil, namun rumah itu terlihat sangat rapi.
"Assalamualaikum....!" ujar sujiman setelah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1