Babi Beranting

Babi Beranting
75. Retak


__ADS_3

Daus setelah meninggalkan pos ronda  dia bergegas menuju ke arah rumah Galih. beruntung ketika dia sampai terlihat orang yang dicari sedang duduk di teras, terlihat raut galih wajahnya seperti orang yang sedang kelelahan.


"Eh ada Daus....! Sudah lama di rumah us?" tanya Galih sambil mengulum senyum, menyambut hangat kedatangan sahabat sekaligus sekretarisnya itu.


"Iya Kang....! saya cuma semalam mencari keberadaan Ranti, kemudian pulang kembali ke rumah. bagaimana dengan pencarian tentang Ranti, apakah Akang menemukan petunjuk tentang keberadaan gadis itu?" tanya Daus setelah duduk di kursi yang berada di samping Galih.


Daus bertanya seperti biasa, tak menunjukkan sedikit raut kekesalan. padahal dalam hatinya Dia sangat kesal terhadap Galih, karena sudah berani mengaku-ngaku bahwa Ranti adalah kekasihnya.


"Akang sudah mencari ke berbagai tempat Us, Mulai dari Kampung Ciaul, Limus Nunggal, Cikaso, Cisarua, Lembur situ, lembur Batur, Lembur Kuring. Akang sudah menjelajah semua kampung-kampung yang memungkinkan Ranti bisa berada di sana. Namun sayang perjuangan Akang sia-sia, Ranti sampai sekarang belum ketemu. jangankan bertemu dengan orangnya langsung, jejaknya pun hilang entah ke mana," Jawab Galih menjelaskan pencariannya.


"Aduuuh.......! Akang kayaknya sangat bersemangat mencari keberadaan Ranty, kayaknya Akang ada udang di balik batu, sehingga mencari keberadaan anaknya Mbah Abun dengan begitu giat," ujar Daus yang terlihat menyindir, raut wajahnya tidak terlihat seperti orang yang sedang bercanda dengan sahabatnya.


"Ya harus dong us! karena ini sudah menjadi tanggung jawab kita, yang harus menolong keluarga Mbah Abun yang sedang merasakan Lara Hati, karena kehilangan anaknya."


"Menolong itu sangat bagus, tapi akang harus ingat dengan janji Akang...!" ujar Galih dengan nada sinis.


"Sebentar....! Janji apa ya?" tanya Galih yang mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan yang dimaksud oleh sahabatnya.


"Jangan pura-pura lupa seperti itu kang. Akang sudah janji bawa Akang tidak akan mendekati Ranti lagi, Akang sudah menyerahkan sepenuhnya anak Bah Abun untuk saya," ujar Daus mengingatkan.


"Hehehe, Dauuuuus! Daus! kamu kalau ngomong itu seperti anak kecil yang baru berumur lima tahun, tidak dipikir terlebih dahulu. Bagaimana akang mau mendekati Ranti, sedangkan orangnya pun belum ketahuan rimbanya di mana, apa Akang salah mencarinya, apa akan salah membantu orang yang sedang kesusahan?:


"Nggak....! nggak salah kang! tapi."

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Tapi kelakuan Akang sudah kelewat batas, AKang sudah menghianati saya sahabat akang sendiri."


"Maksudnya berkhianat?"


"Halah......! sudah nggak usah pura-pura polos seperti itu kang. akang sudah jelas menghianati saya."


"Buktinya berkhianat?"


"Sudah akui saja kang! nggak usah kebanyakan ngeles. akang sudah mengobrol dengan aki Makmun, kalau Akang mengakui bahwa Ranti itu adalah kekasih Akang," jelas Daus tanpa ada yang ditutup-tutupi, dia menumpahkan semua kekesalan yang sudah ditahan beberapa hari terakhir.


Galih terlihat menarik nafas dalam, seperti mau menjawab tuduhan Daus. namun Galih tidak jadi mengeluarkan perkataan, karena Daus dengan cepat melanjutkan ucapannya. "pantas saja akang mau berpisah dengan saya, karena Akang mau mencari Ranti sendirian, Mau menemukannya sendiri, mau memilikinya sendiri. kalau saya tahu akan punya niat sejahat itu, mendingan Akang nggak usah mengajak saya, mendingan Akang cari sendiri keberadaan Ranti!"


"Masih bebas Bagaimana Kang? sudah jelas-jelas akang menyerahkan Ranti kepada saya, kenapa sekarang akan menghianati ucapan sendiri?" susul Daus tidak mau kalah.


"Menyerahkan bagaimana Us, Akang dulu berbicara seperti itu, karena Akang tidak mau diganggu oleh Mita. itu semua akang lakukan demi kelancaran kelompok usaha anyaman kita. sekarang seperti yang kamu ketahui akang dan Mita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa, jadi Wajar dong kalau Akang menyukai Ranti yang cantik itu," jawab Galih sambil tersenyum, matanya menatap ke arah halaman, mengantar Lamunan Lamunan bahagia bersama Ranti.


Galih tidak sedikitpun melihat ke arah Daus yang hatinya terasa panas, mendengar ucapan sahabat sekaligus ketuanya. kalau dia mampu dia akan memarahi Galih dengan semarah-marahnya, mengeluarkan unek-unek yang sudah tertahan selama beberapa hari. Namun daus masih memiliki takaran, agar dia tidak keterusan. wajahnya yang putih terlihat memerah, begitupun dengan matanya tidak jauh beda.


Setelah menarik nafas dalam dan dirinya kembali agak tenang, Daus pun berkata. "kalau begitu akang sangat licik, Akang ingin menang sendiri, tanpa melihat persahabatan. mulai sekarang Ayo kita bersaing, siapa cepat, dia dapat. kita akan bersaing memperebutkan hati gadis itu."


"Jadilah....! siap. siapa juga yang takut dengan kamu," jawab Galih sambil menyungginkan senyum sinis ke arah sahabatnya. Karena dia mempunyai keyakinan bahwa Ranti yang sudah menjadi kekasih gelapnya, sudah berada di dalam genggaman tangannya.

__ADS_1


Akhirnya kedua sahabat itu, mulai dari hari itu, Mereka berpisah menuju jalan masing-masing yang mereka yakini. tidak ada lagi kata Sehati, Senada, seirama. kedua pemuda yang awalnya bersahabat, sekarang renggang gara-gara Nyai mojang, anaknya Mbah abun. padahal keberadaan Ranti belum diketahui rimbanya di mana, namun persahabatan mereka sudah hancur seperti itu.


Mendengar kesiapan Galih, Daus pun hanya bisa mengeratkan gigi mengepalkan tangan. kalau berada di luar Kampung Mungkin dia sudah menerjang sahabatnya itu, melampiaskan kekesalan yang sudah memenuhi dadanya, namun dia tidak melakukannya, dia masih tetap menjaga ketentraman Kampung Ciandam.


Tanpa berpamitan terlebih dahulu, Daus pun bangkit dari kursi tempat duduknya. kemudian dia bergegas berjalan menuju ke rumahnya, dengan membawa hati yang sangat panas dan kecewa, dengan apa yang dilakukan oleh Galih.


"Kurang ajar kamu Galih...! gua hormati lu sebagai kakak gua, Namun lu berbuat seperti itu, menyakiti sahabat lu sendiri. Awas...! Tunggu saja pembalasanku," gumam Daus dengan suara bergetar, perbawaan amarah yang tak keluar.


"Lama banget menunggu malam Jumat keliwon, kalau sudah waktunya. gua akan menjalankan perintah Umi erot, Tunggu saja tanggal mainnya Galih, dan rasakan pembalasan dari gua. Ranti tidak akan jatuh ke tangan lo, Ranti akan jatuh ke pelukan gua," lanjut gumam Daus sambil terus berjalan ke arah rumahnya.


Sedangkan di rumah gadis yang diperebutkan, terlihat ada dua sosok pria dan wanita paruh baya yang terlihat sangat mengkhawatirkan. tubuh yang wanita terlihat kurus dengan mata masuk ke dalam, mata yang terus mengeluarkan cairan bening. kedua orang itu terlihat sangat kebingungan, karena yang jadi permasalahan anaknya yang menghilang sampai sekarang belum ketahuan keberadaannya ada di mana.


Mbah Abun yang merasa bingung, karena hilangnya Ranti bukan hilang seperti orang biasanya, Ranti menghilang dengan berubah wujud menjadi babi hutan. kalaupun ada yang menemukan Ranti, tidak bisa ditolong begitu saja. yang ada paling diburu. syukur-syukur kalau ditangkap, Coba kalau Ranti diburu sampai dengan dibunuh. Membayangkan kengerian seperti itu membuat hati Mbah abun teriris, merasa sakit tidak mampu membayangkan kengeriannya.


Ambu Yayah yang tidak jauh beda seperti Mbah Abun, Dia sangat bersedih memikirkan anak satu-satunya, yang sudah menghilang, dengan menghilang tidak wajar seperti hilang orang pada umumnya. pekerjaan istri bah Abun itu hanya terdiam, melamun membayangkan apa yang menimpa kepada anaknya. matanya sudah merah karena sering mengeluarkan cairan, tubuhnya sudah terlihat mulai berkurang, wajahnya yang semakin keriput, karena dia tidak sempat memikirkan kesehatannya. pikirannya terus tertuju memikirkan Ranti anak satu-satunya.


Sore itu, ketika mereka berkumpul berdua di ruang tenggah. Ambu yayah yang kesedihannya sudah melewati batas, dia menatap ke arah suaminya sambil berbicara. "Abah....! kok Abah diam saja, kenapa Abah belum mencari anak kita? Abah kelihatannya seperti senang ketika Ranti tidak ada di rumah. apakah Abah tidak merasa sedih dengan kehilangan anak kita?" cerocos wanita paruh baya itu, seolah menyalahkan suaminya yang terlihat masih santai.


"Heleh.....! Kalau ngomong itu dijaga Ambu. Siapa orangnya yang akan senang ketika ditinggalkan oleh anak satu-satunya. Abah sangat sedih kehilangan Ranti, ditambah Abah malu dengan kejadian yang menimpa keluarga kita, pasti para warga Kampung Ciandam sekarang sudah mengetahui kalau kita berbuat sesat."


"Loh.....! loh.....! Loh! kenapa Abah memikirkan perkataan orang lain, yang harus Abah pikirkan adalah keselamatan anak kita, keselamatan Ranti yang menghilang berubah wujud menjadi babi ngepet. Abah harus melakukan berbagai cara, Agar Ranti bisa cepat ketemu, jangan diam di rumah seperti sekarang."


"Abah bukan diam di rumah Ambu, Abah sedang menunggu laporan dari jang galih dan Jang Daus yang sedang mencari keberadaan Ranti."

__ADS_1


"Lah , kenapa Abah mengandalkan orang lain. orang yang seharusnya mengorbankan Pati dan jiwa raga itu adalah Abah sendiri. karena Abah adalah orang tua sahnya Ranti. bukan mengandalkan orang lain," ujar Abu Yayah yang terlihat sangat kesal.


__ADS_2