
Matahari semakin tinggi, kabut-kabut yang menutupi pegunungan sudah mulai hilang. terlihat di salah satu rumah ada dua orang yang sedang mengobrol dengan alot. yang satu bertubuh tinggi namun kurus dengan kulit sudah mulai mengerut. yang satunya lagi masih terlihat muda dengan warna kulit kuning langsat, berbadan tegap, tidak sayang kalau dibilang ganteng.
Galih terlihat manggut-manggut, seolah mengerti dengan apa yang diceritakan oleh aki Makmun. cerita tentang babi aneh yang tidak mau memakan makanannya, Kalau tidak sama dengan makanan manusia. dari dasar itu, Galih mulai mengingat kembali apa yang sudah disampaikan oleh Zuhri tentang bahwa Ranti yang menghilang, kemungkinan besar Gadis itu menghilang berubah menjadi babi hutan. dan perkiraan bahwa Bah Abun melakukan pesugihan semakin mengganggu pikirannya, meski belum sepenuhnya Galih percaya. Galih masih membutuhkan bukti-bukti yang nyata untuk memperkuat prasangkaannya itu.
"Rasanya pengalaman aki hanya segitu Jang! pengalaman aneh yang berhubungan dengan babi hutan. karena pada umumnya kalau berburu babi hutan itu hanya begitu-begitu saja. kita pergi ke hutan sambil membawa anjing, lalu mengejar-ngejar babi itu sampai dapat. apalagi kalau bentuk babi hutan itu, dari dulu tidak pernah berubah, tidak pernah berevolusi, hewan itu mempunyai hidung pesek dengan bibir yang maju ke depan." lanjut aki Makmun menyampaikan pengetahuannya.
"Hehehe, benar Ki! dari dulu juga kalau babi hutan itu bibirnya monyong," jawab Galih sambil tersenyum merasa lucu dengan apa yang disampaikan oleh aki Makmun.
"Hehehe bener kan, emang seperti itu kenyataannya?"
"Iya Ki! Saya rasa untuk apa yang disampaikan oleh aki semuanya sudah cukup, tentang masalah pemburuan babi. namun saya masih ada satu pertanyaan lagi, yang masih mengganggu pemikiran saya."
"Pertanyaan apa itu Jang?"
"Apa benar seorang manusia bisa merubah wujudnya menjadi babi hutan. Kalau benar, bagaimana caranya?" tanya Galih mulai menyampaikan rasa penasarannya, rasa yang terus mengganggu pikirannya.
"Kok pertanyaannya seperti itu. Aki nggak tahu kalau masalah yang begituan jang! aki hanya suka sekedar berburu babi, bukan suka menjadi babi. Tapi walau begitu, kalau babi aneh itu memang ada, karena aki sudah melihatnya dengan mata kepala aki sendiri."
"Berarti benar aki udah Melihat babi aneh itu?"
"Benar, namun manusia atau babi aslinya aki tidak bisa memastikan, karena aki tidak memiliki ilmu untuk itu."
"Berati beneran ada Ki?" Tanya Galih seolah tidak bosan.
"Ada Jang! tapi kan sudah tadi aki bilang, kalau aki tidak tahu rahasianya seperti apa."
"Ya sudah, kalau seperti itu. Terima kasih banyak atas penjelasan dan ilmu yang aki berikan," ujar Galih yang terlihat raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan, karena dia sudah mulai yakin dengan apa yang disampaikan oleh Zuhri. bahwa Ranti menghilang bukan dengan wujud aslinya, melainkan Ranti menghilang berubah wujud menjadi babi hutan."
"Bentar Jang! Kalau aki boleh tahu, kenapa Ujang bertanya seperti itu sama aki. sedangkan aki hanya seorang pemburu, bukan seorang pawang babi hutan?" tanya aki Makmun sambil menatap penasaran ke arah jejaka tampan yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Kejadian sebenarnya seperti ini Ki. dua hari yang lalu pacar saya menghilang entah ke mana. karena saya sudah mencari kemana-mana saya tidak menemukannya, namun ada cerita dari salah satu tetangga saya, tapi saya belum bisa pastikan kebenarannya seperti apa," jelas Galih dengan jujur.
"Cerita apa itu Jang?"
"Desas Desus berkembang di warga Kampung Ciandam. Bahwa Bapak dari gadis kekasih saya itu melakukan pesugihan siluman babi. sehingga para warga beranggapan bahwa anaknya yang menghilang, bukan menghilang dengan cara yang wajar. anak yang menghilang itu gara-gara memakai baju jimat milik orang tuanya." jawab Galih menjelaskan penemuannya.
"Oh begitu ceritanya, jadi Jang Galih sekarang lagi mencari babi hutan?" tanya aki Makmun sambil membulatkan bola mata yang sudah cekung.
"Enggak Ki! saya nggak lagi mencari babi, tapi saya lagi mencari Ranti orang Ciandam. Barangkali aki pernah bertemu dengan gadis yang bernama Ranti?"
"Enggak lah Jang! ketemu di mana, aki dari kemarin tidak kemana-mana, aki di rumah saja. tapi bentar ujang Dari mana tahu kalau bapaknya, siapa tadi?
"Ranti aki!"
"Iya, Ujang Dari mana tahu kalau bapaknya Ranti melakukan pesugihan babi ngepet."
"Apa Ujang yakin dengan yang disampaikan oleh tetangga Ujang"
"Makanya saya menemui aki, Karena saya belum yakin. Saya ingin tahu penjelasan dari ahlinya. tapi saya tidak akan keras kepala, saya akan mempercayai kejadian aneh itu kalau ada bukti-bukti yang bisa meyakinkan."
"Oh begitu! cet! cet! ce! kalau begitu, Pantas aja Ujang pengen mengetahui tentang seluk beluk perbabian. namun yang harus Ujang tahu, aki tidak mempunyai ilmu seperti itu. naudzubillahimindzalik jangankan punya, belajarnya aki sudah membaca taudz. aki hanya suka berburu, tidak lebih dari itu. namun kalau babi aneh memang benar benar ada."
"Segitu saja sudah cukup Ki! Semua penjelasan aki sudah sangat saya mengerti. saya haturkan beribu-ribu Terima kasih atas kesediaan aki berbagi ilmu dengan saya"
"Sama-sama Jang! Terima kasih juga sudah mau mengunjungi aki, rasanya aki memiliki keluarga baru. dan kedepannya jangan sampai membuang aki ,Ujang harus sering berkunjung ke sini. satu lagi, kalau Ujang sudah bertemu dengan Ranti, Ujang harus cepat-cepat memberi tahu aki, karena aki juga penasaran kelanjutan ceritanya seperti apa."
"Nggak !saya nggak akan melupakan kebaikan hati aki. Oh iya ki!"
"Kenapa Jang?"
__ADS_1
"sehubung waktu sudah mulai siang, saya mohon pamit undur diri. Saya mau lanjut mencari keberadaan Ranti ke tempat lain, Siapa tahu saja saya bisa menemukan orang yang saya cari."
"Silakan jang! Aki doakan semoga Ujang bisa bertemu dengan orang yang sedang dicari."
Akhirnya Galih pun bangkit dari tempat duduknya, namun sebelum pergi dia mengeluarkan beberapa uang lembaran, lalu diserahkan kepada aki Makmun.
"Apa-apaan ini Jang?" tanya aki Makmun dengan menolak.
"Hatur lumayan buat membeli tembakau sama daun Aren. besar saya nggak punya, Tolong diterima Ki! dan semoga ini bisa menjadi penarik rezeki saya, agar saya bisa cepat menemukan keberadaan Ranti." jawab Galih sambil terus memaksa agar uang yang diberikan diterima.
"Ya sudah, kalau memaksa. Terima kasih banyak Jang!" jawab aki Makmun sambil mengambil uang itu.
Akhirnya Galih pun keluar dari rumah aki Makmun, dengan membawa pengharapan baru dan keyakinan Baru. ternyata manusia ketika tidak dibarengi dengan keimanan akan melakukan kesesatan. Mereka berani menggadaikan kehidupannya dengan berubah bentuk menjadi babi hutan. dari dasar itu, dia semakin yakin bahwa yang disampaikan oleh Zuhri dia tidak bisa membantah, bahwa Ranti kemungkinan menghilang bukan dengan wujud aslinya, melainkan Ranti menghilang karena berubah wujud menjadi babi hutan. dan sekarang Galih mulai memiliki pedoman pedoman untuk mencari keberadaan Ranti, dia tidak akan terfokus Mencari Manusia, namun dia juga akan mencari babi aneh, babi beranting sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Zuhri.
"Kalau benar Mbah Abun berbuat nyeleweng dengan melakukan pesugihan, sehingga anaknya yang menjadi korban berubah wujudnya menjadi babi. Aduuuh! kasihan banget kamu Ranti, kasihan sekali gadis cantik sepertimu harus berubah wujud menjadi babi hutan. akang berjanji akang akan terus mencarimu sampai ketemu. tunggu akang duhai kekasihku!" gumam Galih dalam hati. Dia terus berjalan meninggalkan rumah aki Makmun. semenjak dia mengungkapkan isi hatinya kepada Ranti, dia berjanji dalam hati, bahwa akan secepatnya memetik Melati yang sedang Mekar itu. namun belum saja terlaksana, sudah ada gangguan seperti itu, gangguan yang merubah kekasihnya menjadi babi hutan.
Dia terus berjalan menyusuri Jalan Setapak, mencari tanpa tujuan. namanya juga mencari yang belum pasti adanya, Galih terus berjalan mengandalkan arah angin. mendengarkan berita-berita, berharap dari apa yang dia dengar, dia bisa menemukan petunjuk tentang keberadaan Ranti.
Lama berjalan akhirnya dia tiba di salah satu kampung yang bertetanggaan dengan Kampung Ciaul, merasa lelah dia pun berhenti di salah satu warung.
"Permisi Bu!" sapa dalih sambil manggut menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua.
"Mangga....! Silakan..... duduk!" jawab ibu-ibu penjaga warung, seperti biasa mereka akan sangat ramah karena itu sudah menjadi SPK pekerjaannya.
Sebelum duduk, Galih pun mengisi gelas dengan air teh, kemudian gelasnya diputar-putar lalu airnya dibuang. kemudian diisi lagi, baru dia minum.
"Maaf Ibu! ini kampung apa?" tanya Galih sambil duduk di bangku panjang yang sudah disediakan bagi pelanggan.
"Ini kampung limusnunggal Jang! kampung kecil yang sangat rapi, repeh, gemah ripah loh jinawi. Aman Sentosa Kerto Raharjo. Kampung limusnunggal masih termasuk ke desa Karang Anyar, desa yang dipimpin oleh Kades yang jago main silat." jelas Ibu warung sangat cepat bak kacang yang tumpah ke atas Kajang bambu, Terukir di wajahnya menunjukkan rasa bangga, karena memiliki Kades gagah itu.
__ADS_1