Babi Beranting

Babi Beranting
85. Cobaan Bertubi-tubi


__ADS_3

Crit! Crit! Crit!


Terdengar suara burung kacamata yang berbunyi, terlihat loncat-loncat di pohon harendong. kemudian burung itu terbang ke pohon gelabah yang di bawahnya ada Ranti. burung kacamata itu berbunyi kembali, terdengar suaranya yang begitu khas sangat kencang. sehingga membuat Ranti menggerakkan tubuhnya, hingga burung kecil itu terbang kabur entah ke mana.


Terlihat babi ngepet itu menarik nafas dalam, kemudian dia tengkurap kembali dengan posisi kaki dijadikan sandaran kepalanya. mata yang terlihat memerah terus berkedip, memikirkan nasib yang begitu sengsara. perutnya mulai terasa bergemuruh karena belum menemukan makan yang membuatnya kenyang, tenggorokannya terasa haus, ludah terasa kering, karena mungkin sering ditelan. "Ambu.....! kalau Ranti sekarang berada di rumah. jam segini, Ranti sudah dua kali makan nasi, diselingi dengan cemilan-cemilan ringan yang lain. apalagi kalau main ke kantor anyaman, Kang Galih suka membuatkan Ranti rujak tumbuk. rasanya sudah terasa di lidah," gumam Ranti dalam hati, merasa kangen kembali ke rumahnya, merasa kangen bebas mau makan apa saja.


Sedangkan sekarang dia berada di rerumpunan pohon gerabah. ketika melihat ke samping kanan hanya terlihat pohon Ilalang yang tumbuh subur. ketika melihat ke sebelah kiri terlihat tumbuhan jotang yang sudah meninggi. dari arah atas terlihat pohon Debu tibarau, kembangnya bergoyang-goyang tertiup oleh angin. membuat Ranti menarik nafas dalam, karena merasa bingung harus memakan apa, tidak ada yang menarik, tidak ada yang menggugah selera makannya. Yang ada, hanya terasa pusing, membuatnya putus asa, bingung, harus pergi ke mana. hingga akhirnya dia mulai melanjutkan kembali kegiatannya, yang sedang tertunda. Dia kembali memejamkan kedua matanya sambil menikmati tubuh yang terasa sangat sakit, tidak kuat menahan rasa capek.


Sedang asik menikmati angin yang sepoi-sepoi menerpa tubuhnya, terdengar dari arah yang tidak jauh dari tempat Ranti bertengkurap ada suara kresek, membuat babi itu dengan cepat membuka matanya kembali.


Ehem!


Terdengar suara orang yang sedang berdehem, membuat babi itu menatap ke arah datangnya suara. terlihat ada seorang laki-laki yang sedang mencari rumput dengan santai, bahkan sesekali terdengar siulan. laki-laki itu terfokus menatap ke arah rerumputan yang terlihat hijau Ranau, namun berbeda dengan jantung Ranti yang mulai berdegup dengan kencang.


Babi ngepet itu terlihat sangat kebingungan, dia bingung menentukan pilihan, antara kabur atau tetap tinggal di situ. kalau kabur Ranti takut kalau orang yang sedang mencari rumput memergokinya, hingga akhirnya dia akan diburu seperti yang sudah-sudah. kalau diam di situ, takut lama-kelamaan orang yang sedang mencari rumput menumukannya.


"Aduh....! bahaya besar, bagaimana nih bagaimana. kalau Arit yang digunakan untuk mengambil rumput menembus hidungku atau mengenai mataku," gumam hati Ranti yang terlihat semakin ketakutan.

__ADS_1


Sedangkan angin terus berhembus, seolah tidak peduli dengan apa yang sedang Ranti rasakan. daun-daun terus bergoyang-goyang melambai-lambai, seolah ikut merasakan ketakutan babi ngepet itu, seolah memberi pertanda agar Ranti Cepat pergi dari tempat persembunyiannya.


Namun sayang, dari arah atas terlihat ada Kembang gelabah yang jatuh dengan perlahan, Mungkin terbawa oleh tiupan angin. semakin lama, kembang gelabah itu semakin mendekat ke arah Ranti. hingga akhirnya kembang itu jatuh. Namun sayang jatuhnya tepat di hidung Ranti, karena hidung babi hutan tidak ke bawah, membuat Ranti tidak kuat menahan bersin.


Grokkk!


Suara bersin yang keluar dari mulut Ranti, berbeda dengan manusia pada umumnya. suara bersin itu terdengar seperti babi yang sedang membentak. membuat laki-laki yang sedang mencari rumput merasa kaget, hingga Arit yang sedang dipegangnya terjatuh entah ke mana. tanpa berpikir panjang dia pun berlari, sambil mengambil karung wadah rumput, tak lupa dia juga berteriak dengan sekuat tenaga.


"Ada babi....! tolong.......! ada babi.....! babi.....! tolong ada babi.....! babi.....! babi! babi tolong......! babi, ada babi......!"


Ranti, melihat kejadian seperti itu. dia sangat kaget, sangat ketakutan. takut ada orang-orang yang datang memburunya, dengan membawa senjata yang lengkap, membuat tubuh gadis itu terlihat bergetar, hatinya berdebar, jantungnya berdegup dengan kencang. "Ya Allah....! sampai kapan hamba dicoba seperti ini, Tolong kasih kekuatan, agar hamba bisa menjalani semuanya.... tolong...! Tolonglah! hambamu ini ya Allah," ujar Ranti dalam hati.


Dengan cepat dia pergi meninggalkan rumpun gelabah, menaiki tebing. terus dilanjutkan berjalan menggunakan jalan yang menurutnya aman, matanya terus bercucuran mengeluarkan cairan bening. hingga akhirnya dia sampai ke kebun Tepus, terlihat babi itu terdiam sesaat, sambil terus memperhatikan ke arah lembah, takut ada pemburu yang datang.


Namun setelah lama memperhatikan, ternyata tidak ada orang yang mengejar. hanya terdengar teriakan teriakan warga yang saling memberitahu, namun Ranti yakin bahwa teriakan itu bukan teriakan untuk memburunya. Melainkan teriakan teriakan para petani yang saling memberitahu bahwa ada babi hutan. Melihat kejadian seperti itu membuat Ranti sedikit agak tenang.


Babi ngepet itu memindai area sekitar, terlihat ada rumpunĀ  yang terlihat agak rimbun. dengan cepat dia pun berjalan menghampiri, hingga akhirnya dia masuk ke rumpun rumput, menjatuhkan tubuh yang terasa sangat lelah, perutnya semakin terasa lapar, kepalanya terasa berkenut, pening, tak tertahankan. hingga akhirnya babi ngepet itu mulai memejamkan mata, namun meski begitu hatinya terus berdoa ke sang pencipta, meminta jalan keselamatan. Sesekali dia memanggil-manggil nama kedua orang tuanya. halusinasinya sudah terbang ke kampung Ciandam, berkumpul kembali dengan keluarganya. begitulah kehidupan Ranti yang hanya bisa terhibur dengan melamun, karena dengan imajinasi seperti itu, dia terbebas dari belenggu yang mengikat tubuhnya.

__ADS_1


Lama melamun, sambil memejamkan mata, akhirnya Ranti melupakan kesedihan yang sedang menimpanya. mata babi ngepet itu mulai terbuka, kemudian memindai ke area sekitar, hingga matanya tertuju ke arah lembah, di mana ada seorang perempuan yang sedang berjongkok, sambil menggerakkan cungkirnya.


Setelah lama diperhatikan, ternyata perempuan itu sedang menggunakan cungkir membersihkan rumput-rumput liar, tangan kirinya digunakan untuk mencabut rumput-rumput yang tidak bisa terbabat oleh perkakasnya. wanita itu terlihat sangat tenang, dia terus bekerja tanpa mengetahui kalau dirinya sedang diperhatikan oleh seekor babi yang masih menatapnya.


"Ternyata pemandangan di sini sangat indah, apalagi melihat Si Bibi yang terlihat kehidupannya sangat tenang," gumam hati Ranti yang masih menatap ke arah perempuan itu.


Lama-kelamaan, timbullah rasa penasaran, ingin menyapanya. perut yang sejak dari tadi terus meminta isi, membuatnya ingin meminta belas kasihan orang itu, untuk sedikit berbagi makanan dengannya. "Iya benar, aku harus menemui si bibi Tani, Siapa tahu saja dia membawa bekal. tapi biasanya kalau orang bekerja di kebun seperti ini, mereka membawa makanan, sama seperti si Ambu ketika bekerja di kebunnya."


Akhirnya Ranti pun bangkit keluar dari rerumputan, sehingga menimbulkan suara kemresek, karena menginjak daun-daun yang sudah kering. dengan perlahan dia menuruni bukit, mulai mendekat ke arah orang yang sedang membersihkan rumput-rumput liar.


Setelah dekat Ranti pun terdiam di bedeng perkebunan, sambil terus menatap punggung wanita yang sedang terfokus dengan pekerjaan. Sedangkan Si Bibi yang ditatap dia tidak mengetahui bahwa di belakangnya, sudah berdiri seekor babi yang sangat besar, dengan menatap tajam ke arahnya.


Ranti terdiam agak lama, dia terus memperhatikan Si Bibi. karena ketika mau menyapanya dia takut mengganggu orang yang sedang bekerja. tapi kalau tidak menyapa, perutnya terasa sudah melilit tak kuat menahan lapar, sudah tidak bisa di tahan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyapanya.


"Bibi Maaf....! kalau saya mengganggu," ujar Ranti memulai sapaannya.


Namun sayang suara yang dikeluarkan oleh Ranti, bukan suara manusia, melainkan suara seekor babi yang terdengar membentak.

__ADS_1


__ADS_2