Babi Beranting

Babi Beranting
57. Bias


__ADS_3

Anjing anjing terus berlari mengikuti jejak yang anjing itu yakini. hingga membingungkan para pemburu, Karena anjing yang dijadikan pedoman penunjuk arah, malah berhamburan keempat mazhab, tanpa tentu arah tujuan.


"Hadeeeeeh....! anjing mana yang harus gua ikuti, gua bingung nih!" ujar seorang laki-laki yang berdiri sambil bertolak pinggang, matanya memindai area sekitar, mencari keberadaan anjing yang dianggapnya paling benar.


"Si Marih! anjing yang paling benar, karena anjing itu adalah anjing khusus buat memburu babi." jawab seorang kakek-kakek membanggakan hewan peliharaannya.


"Ke sini! babinya ada di sini." teriak seorang pemburu dari arah selatan.


"Ini ada di sini! tolong Cegat dari arah lembah." jawab seseorang yang berteriak pula, namun arahnya berbeda. orang yang berteriak itu berada di sebelah Utara.


Mendengar teriakan teriakan seperti itu, membuat laki-laki yang tadi bertolak pinggang. dia pun mendudukkan tubuh dengan menjatuhkan diri di atas tumpukan dedaunan pohon pinus. kemudian dia mengambil rokok lalu mencabut sebatang, tanpa ada pikiran, dia mulai menyalakan korek api kemudian menghisap rokok itu dengan dalam, lalu menghempaskan asapnya ke atas, sehingga tertiup oleh angin pegunungan. dia tidak ikut mengejar karena bingung harus mengejar ke arah mana.


Orang-orang yang masih berlari mengikuti anjing peliharaannya, mereka sangat kesal karena Anjing itu bukan mengejar babi hutan, melainkan mengejar tupai yang sedang berlari di semak-semak. membuat pemilik Anjing itu merasa kesal dengan anjing yang tidak bisa diandalkan. Akhirnya dia pun memarahi Anjing itu sampai puas, mungkin melepaskan kekesalannya. padahal Anjing itu hanya hewan, yang tidak akan mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh majikannya.


"Dasar anjing tol0l! anjing beg0! ngapain mengejar tupai, yang harus Lu kejar itu babi hutan. dasar beg0! beg0!" marah majikannya sambil menatap tajam ke arah anjingnya.


Anjing yang dimarahi,  Anjing itu hanya seekor hewan yang tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh majikannya. Anjing itu terus berlari terbirit-birit mengejar buruannya. melihat hewan peliharaannya mengejar tupai, pemiliknya pun pergi tanpa mempedulikan Anjing itu lagi, karena hanya sia-sia kalau untuk berburu tupai.


Waktu terus berjalan begitu cepat, hingga kira-kira waktu Ashar, mereka para pemburu pun berkumpul kembali, dengan membawa tangan kosong. bahkan bukan hanya itu mereka saling berdebat dengan keras, beradu argumen saling menyalahkan. karena warga yang tidak bisa berburu ikut berburu, sehingga jejak yang mereka susur hilang begitu saja. itu semua disebabkan Karena kurangnya pengetahuan pemburu pemula. padahal yang jelas anjing mereka yang tidak bisa mencium jejak babi hutan, anjing-anjing itu malah teralihkan oleh jejak jejak babi lainnya, karena di daerah itu sudah terkenal dengan daerah tempat pemburuan babi hutan.


Akhirnya orang yang paling tua yang ikut berburu, memberi keputusan mereka harus pulang ke rumah, mengingat waktu sudah mulai masuk ke sore hari. sedangkan babi yang mereka kejar entah ke mana larinya, karena jangankan mengejar atau menangkapnya. jejaknya saja pun hilang entah ke mana. karena anjing yang mereka andalkan untuk menjadi pedoman, teralihkan oleh jejak-jejak hewan-hewan hutan lainnya.


Sedangkan Galih yang menuju ke kampung Ciomas, dia sudah sampai di kampung itu, dia terus mendengarkan suara-suara anjing yang saling bertautan, dia menunggu hasilnya. karena kalau menyusul ke tempat pemburuan, dia takut tidak menemukannya. sehingga dia memutuskan untuk menunggu orang-orang yang pulang berburu. Akhirnya dia pun menjatuhkan tubuhnya di tepian jalan menunggu pulang orang orang yang sedang berburu.


Lama menunggu akhirnya Galih melihat orang yang berburu babi aneh itu datang, dengan cepat dia pun bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri orang-orang itu.

__ADS_1


"Maaf Kang, mau bertanya?" ujar Galih sambil manggut memberi hormat.


"Ada apa Jang! ada keperluan apa?" tanya orang yang ditanya oleh Galih sambil menatap ke arahnya.


"Mau bertanya tentang babi hutan, Apakah tertangkap atau enggak?"


"Nggak jang! nggak dapat."


"Kira-kira ke mana larinya kang?"


"Ya Mana saya tahu Jang! makanya nggak bisa ditangkap karena nggak tau arah larinya ke mana. kalau ketahuan arah larinya ke mana, maka kami akan terus mengejar sampai dapat." jawab laki-laki itu yang terlihat sangat kesal. kemudian tanpa berkata lagi, dia pun pergi meninggalkan Galih, karena mungkin orang yang ditanya merasa capek, ditambah rasa kesal sama Galih, sehingga tidak mau berlama-lama di tempat itu, nanti bukan obrolan lagi yang akan didapat, mungkin tangannya bisa-bisa melayang menuju wajah pemuda itu.


Melihat orang yang Ditanyanya seperti itu, Galih hanya terdiam berpikir, merasa malu karena tidak dianggap. namun dia tidak terus memikirkan hal itu, dia duduk kembali di samping jalan, sambil menatap ke arah orang-orang yang baru pulang berburu babi. terlihat wajah-wajah mereka sangat kelelahan, bajunya basah dengan keringat, anjing-anjing pembur pun berlarian saling mengejar, namun ada juga anjing yang berjalan di belakang pawangnya.


Lagi terdiam melihat orang-orang yang pulang berburu, terlihat dari rombongan paling belakang ada seorang kakek-kakek tua, dengan menggunakan tongkat di tangannya. terlihat sangat lemah, namun ketika di hutan Dia tidak kalah dengan anak anak muda yang lainnya. ketika kakek-kakek itu melihat Galih, dia pun berhenti sesaat sambil menatap ke arah orang yang sedang duduk.


"Eeee, emmmmm... euuuuu... Lagi mencari tahu tentang babi, yang baru saja diburu, ke mana larinya ya Ki?"  jawab Galih yang terlihat terperanjat, karena dia sedang anteng melamun memikirkan orang yang sedang dicarinya.


"Oh ternyata sedang mencari babi yang baru saja diburu, kenapa dicari Emang babi itu punya Ujang?"


"Bukan Ki! bukan milik saya. namun saya penasaran katanya babi hutan itu babi yang sangat aneh, Saya ingin tahu kebenarannya seperti apa, Jangan hanya mendengar cerita. apa benar itu babi hutan atau babi jadi-jadian?" jawab Galih menjelaskan.


"Nggak tahu lah Jang! Aki nggak tahu yang begituan. namun menurut pandangan aki setelah Melihatnya, babi itu memang benar benar sangat aneh."


"Kira-kira babi itu jantan apa betina ki?"

__ADS_1


"Lah kok nanya seperti itu? ya Nggak tahu atuh Ujang. aki kan nggak melihat ke arah tempat larangannya. Lagian kalau babi itu susah membedakan laki-laki apa perempuan, apalagi babinya sedang berlari seperti itu. babi itu bukan seperti manusia, kalau manusia bisa dilihat dari postur tubuhnya saja, sudah bisa membedakan mana laki-laki mana perempuan. Lagian kalau babi yang sedang diburu tidak bisa dilihat dengan jelas, karena babi itu terus berlari."


"Oh seperti itu, Terima kasih atas penjelasannya aki." jawab Galih sambil bangkit, namun kakek-kakek itu masih menghalangi.


"Bentar! bentar! Ujang buru-buru amat! Ujang dari mana? Kayaknya aki baru melihat wajah Ujang berkeliaran di kampung Ciomas?"


"Saya Galih Ki, dari kampung Ciandam. Saya sedang mencari seorang gadis cantik bernama Ranti, itu kekasih saya, Kekasih Yang sebentar lagi mau dinikahi, sekarang dia menghilang entah tahu ke mana."


"Ranti siapa?"


"Ranti anaknya Bah abun, Bandar anyaman dari kampung Ciandam."


"Oooooooh!" ujar kakek-kakek itu sambil mencembungkan pipi yang terlihat sudah keriput.


"Iya begitu! permisi ki!" jawab Galih tanpa menunggu pertanyaannya lagi dia pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Galih terus berjalan dengan membawa Hati Yang Kecewa, karena apa yang sedang dicari kembali kehilangan jejak. dia terus berjalan tanpa arah tujuan, diantar oleh tatapan kakek-kakek yang tadi bertanya. sebenarnya kakek-kakek itu masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi benaknya, namun Galih keburu jauh meninggalkannya.


"Ada-ada aja kehidupan di dunia ini. banyak keanehan-keanehan yang tidak bisa dimengerti oleh akal sehat. masa iya sedang mencari orang yang mau dinikahi, namun yang disusur seekor babi, benar-benar aneh!" Gumam kakek-kakek itu sambil menggaruk-garuk kepala yang tak terasa gatal. merasa tidak menemukan jawaban dari apa yang ada di benaknya, Akhirnya dia pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumahnya.


Sedangkan orang yang di umpat oleh kakek-kakek itu, dia terus berjalan mengikuti arah angin. "sayang aku nggak bisa melihat babi itu, kalau bisa melihat. aku mungkin bisa memastikan bahwa babi itu benar-benar babi jadi-jadian atau hanya sekedar babi hutan seperti biasanya ."


"Ranti, Ranti.....! Kamu ke mana Neng. Akang bingung mencarimu. namun Walau begitu, akang tidak akan menyerah, akang akan terus mencari Keberadaanmu Neng. Akang tidak akan pernah berhenti sebelum Akang bisa menemukanmu. Ranti....! Ranti....! Kasihan amat Kalau benar apa yang diceritakan oleh Mang Zuhri, kalau kamu hilang dengan berubah wujud menjadi babi hutan." Lanjut gumam Galih sambil terus menyusuri jalan desa, dia tidak berpikir ke mana Tembusnya jalan itu. yang terpenting dia sekarang terus melangkah untuk mencari keberadaan kekasihnya, mencari orang yang selalu Hadir Dalam Mimpi indahnya.


Hari-hari berikutnya Galih terus mencari keberadaan Ranti, dari kampung ke kampung ,dari desa ke desa, Bahkan dia sampai mencari ketegalan, di mana tempat itu bisa dijadikan tempat-tempat beristirahat para babi hutan. lama mencari namun dia tidak menemukan jejaknya lagi, sehingga kakinya yang sudah berhari-hari berjalan merasa pegal, tubuhnya merasa lemas, perbekalan yang dia bawa sudah mulai habis. Akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, dia ingin memberitahu bahwa dia belum menemukan keberadaan anaknya Mbah Abun, sambil beristirahat. nanti ketika badannya sudah pulih, dia Berencana untuk mencari kembali.

__ADS_1


Sedangkan Sahabatnya yang bernama Daus, setelah berpisah jalan dengan Galih, ketika memasuki Kampung Ciaul.


__ADS_2