
Sesampainya di rumah zuhri, terlihat tuan rumah sedang memberi makan bebek-bebeknya. melihat ada yang bertamu kerumahnya, dengan cepat Zuhri menghampiri.
"Aduh Abah! tumben-tumbenan punya waktu main ke rumah saya?" sambut Zuhri dengan ramah.
"Iya Jang! kebetulan Abah lagi senggang nih.Ya udah jangan terganggu, Abah nggak mau ngerepotin kok!" jawab Bah Abun berbasa-basi.
"Nggak! nggak ganggu kok mbah, Kebetulan saya sudah selesai ngasih makan bebek-bebeknya. ayo masuk ke dalam Biar ngobrolnya lebih enak!" Ajak zuhri sambil bangkit hendak berjalan menuju ke arah pintu.
"Udah di sini aja, jang! Di sini juga leluasa, sambil ngeliatin bebek-bebek." tolak bah abun sambil mendekati Saung yang ada di dekat kandang bebek.
"Nggak di rumah aja bah! Kalau di rumah, air teh ada bah!" Tanya Zuhri yang merasa tidak enak.
"Nggak lah, Jang di sini aja! ayo lanjutin ngasih makan bebeknya. Jangan terganggu!"
"Udah selesai kok, bah! Oh iya Abah ada apa menemui saya?" Zuhri bertanya kembali sambil duduk di samping Bah Abun.
"Jadi begini Jang! seperti yang Jang zuhri ketahui, bahwa sekarang Abah sudah memiliki banyak pesanan kerajinan anyaman bambu. jadi Abah Mau mengajak aki tardi dan aki Tisna untuk bergabung. Abah ingin mereka berdua membuat kerajinan dan hasilnya dijual ke abah."
"Oh jadi abah, mau jadi bandar anyaman kerajinan begitu?"
"Iya seperti itu, Jang! Tapi lebih tepatnya Abah ingin memajukan kampung kita. karena anyaman bambu yang Abah buat, Lumayan sudah terkenal. Abah ingin kedepannya bukan Abah doang yang terkenal, tapi Kampung kita juga ikut terkenal dengan kerajinan anyaman bambu."
"Hebat! hebat! Terus kenapa Abah mendatangi saya, bukan mendatangi mereka?" tanya Zuhri.
"Abah mau minta tolong Jang! bisa nggak ujang ngobrol sama mereka. kalau bisa, ujang juga sekalian ikut di dalamnya, biar sama-sama bekerjasama dalam membangun citra kampung Ciandam." Jawab Bah Abun menyampaikan keinginannya.
"Bisa Mbah! bisa! saya usahakan pasti bisa." jawab Zuhri yang merasa tertarik dengan niat Bah Abun yang hendak memajukan kampungnya.
"Terima kasih banyak Jang zuhri. Ujang selalu membantu Abah!" ujar Bah Abun terlihat dari wajahnya terpancar raut kebahagiaan karena niatnya mendapat kelancaran.
"Nggak apa-apa bah! lagian kan kita tetangga, jadi Sudah seharusnya. antar tetangga itu saling menolong."
__ADS_1
"Bener itu Jang! kita sebagai warga yang baik, kita harus saling menolong antar warga lainnya."
"Ngomong-ngomong sistemnya mau seperti apa bah?" Tanya Zuhri kembali kepokok permasalahan.
"Abah mau membeli hasil kerajinan para pengrajin, jadi mereka yang membuat Abah yang membeli."
"Abah mau membeli hasil kerajinan mereka berapa? Awas jangan jangan Abah ingin mencari keuntungan sendiri?" tanya Zuhri sambil tersenyum, agar Mbak Abun tidak tersinggung.
"Tenang Jang Zuhri! Abah bukan orang yang seperti itu. Abah ngikut aja tergantung kemauan para pengrajin, yang terpenting Abah dapat untung walaupun sedikit. kan Abah juga sama-sama usaha." jawab Bah Abun sambil tersenyum pula.
"Iya berapa Bah! biar nanti saya enak ngobrol sama mereka. Kalau sudah ditentukan sama abah.
"Abah biasa menjual penanak nasi kepelanggan abah. Mulai dari Rp900 sampai Rp1000 Jang, tergantung jenis anyaman dan kualitasnya. Jadi Abah ingin membeli hasil dari para pengrajin itu Rp700. kalau bisa lebih murah, itu lebih baik Jang! hehehe." jawab Mbah Abun.
"Terus pembayarannya seperti apa? apa nunggu barang laku dulu, apa langsung dibayar?"
"Langsung dibayar Jang! pengrajin membawa anyaman ke abah, maka detik itu juga Abah akan langsung membayar. namun dengan harga yang dibicarakan barusan." Jawab Mbah Abun tegas.
"Sekali lagi, terima kasih Banyak Jang!"
"Sama-sama Mbah!"
Akhirnya mereka berdua pun ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari pertanian , Peternakan sampai pengalaman-pengalaman yang pernah mereka lalui, bahkan di tengah-tengah Obrolan mereka. Zuhri sempat membicarakan tentang Kejadian beberapa minggu lalu, di mana Dia melihat seekor babi di samping rumahnya. namun Bah Abun, Dia sangat pandai memerankan perannya. sehingga orang yang mengobrol dengannya tidak menaruh curiga sedikitpun, Bahwa babi hutan itu sebenarnya adalah dirinya.
obrolan mereka terhenti, sesaat setelah beduk magrib dipukul dari arah mushola, Bah Abun meminta izin untuk berpamitan pulang ke rumahnya. Dan Dia meminta agar Zuhri dengan cepat melaporkan hasil kinerjanya.
Setelah melaksanakan salat magrib, Zuhri bergegas memanggil aki Tardi dan aki Tisna. Bahkan dia mengajak beberapa pengrajin yang kira-kira bisa membuat anyaman bambu. Untuk melengkapi acara itu, tak lupa Zuhri mengundang Pak RT sebagai aparat setempat yang tidak boleh dilupakan. Mereka semua dikumpulkan untuk membahas tentang keinginan Mbah Abun, yang ingin mempekerjakan para pengrajin, agar mereka memiliki penghasilan tambahan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, maksud saya mengundang para Bapak sekalian, saya ingin memberikan kabar gembira?" ucap Juhri mengawali acara musyawarah itu.
"Kabar gembira seperti apa Jang Zuhri?" tanya aki Tisna yang masih belum paham kenapa dia dikumpulkan dengan warga yang lain. karena tadi yang ngasih tahu ada rapat bukan Zuhri langsung, melainkan tetangganya.
__ADS_1
"Tadi sore Bah Abun datang ke rumah saya. untuk meminta bantuan, agar mengumpulkan para pengrajin anyaman bambu. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Mbah Abun sekarang sudah menjadi pengusaha sukses di bidang kerajinan anyaman dari bambu. Dia kebanjiran orderan sampai tak mampu mencukupi kebutuhan para bandar."
"Terus?" Tanya Seorang warga yang mungkin tidak sabar.
"Mbah Abun menginginkan kampungnya, Kampung kita! menjadi semakin terkenal, dia tidak ingin sukses sendirian, dia ingin mengajak para pengrajin untuk bergabung ke dalam usahanya, yaitu dengan cara membuat kerajinan anyaman. untuk rencana pertama Mbah Abun, dia hanya mengajak para Bapak sekalian yang sudah memiliki keahlian itu. namun kedepannya Mbah Abun ingin mengajak seluruh warga kampung Ikut andil dalam usaha yang sedang ia tekuni." jelas Juhri menyampaikan Kepada para warga, yang memiliki keahlian dalam menganyam.
"Terus bagaimana?" tanya aki Tardi.
"Yah, kira-kira para bapak bersedia nggak membuat kembali anyaman bambu, lumayan kan buat penghasilan tambahan."
"Masalah gabung gampang jang! tapi Cara kerjasamanya seperti apa." Jawab Salah Seorang warga mewakili pertanyaan warga lainnya.
"Iya, Sistemnya dulu harus jelas seperti apa, nanti kita dibodohin lagi sama orang kaya."
"Hush! nggak boleh ngomong seperti itu." ujar Pak RT menengahi.
"Iya kan! harus jelas Pak RT." Jawab warga yang tadi tidak mau disalahkan.
"Mbah Abun sangat baik. dia akan mengikuti kemauan semua para warga, yang terpenting dia juga mendapat keuntungan meski sedikit. karena walau bagaimanapun ini adalah usaha, dan setiap usaha harus saling menguntungkan."
"Terus Mbah abun keinginannya kerjasama seperti apa?"
"Mbah Abun ingin membeli hasil kerajinan yang dibuat oleh para warga, dengan harga Rp700 untuk anyaman Aseupan, dan untuk anyaman anyaman yang lainnya nanti bisa mengikuti. Mbah Abun berani membayar dengan harga Rp700, karena menurut pengakuannya dia menjual kerajinan ke bandar, mulai dari Rp900 sampai Rp1000. tergantung kualitasnya." jawab zuhri menjelaskan, menghentikan perdebatan Pak RT dengan warganya.
"Bagus juga tawarannya, itu sangat bisa dimengerti. Benar apa yang dikatakan oleh Mbah Abun, kerjasama itu harus saling menguntungkan. namun rasanya kalau sudah tua seperti aki, untuk mengambil bambu ke hutan itu sangat menyusahkan, apalagi kalau mencari rotan buat pengikatnya, itu lebih susah lagi, selain sudah langka, rotan itu adanya juga di tengah-tengah hutan." keluh aki Tardi yang mulai tertarik dengan penawaran Mbah abun, namun di satu sisi Dia memiliki kelemahan.
"Benar! apalagi harus mikul bambu, sekarang aki sudah tidak terlalu sanggup, untuk melakukan pekerjaan berat seperti itu. namun kalau untuk menganyam, Aki Rasa, aki masih bisa!" tambah aki Tisna membenarkan pendapat teman sebayanya.
Mendapat saran dari para warga, membuat Zuhri terdiam, seolah Lagi berpikir dengan apa yang harus ia lakukan, karena tadi sore dia tidak membahas sampai ke arah situ.
.
__ADS_1