
Keesokan paginya, di setiap rumah yang berada di kampung Ciandam. terdengar banyak perdebatan-perdebatan antara keluarga. Karena suami-suami mereka sudah terlihat berdandan rapih, ingin pergi mencari keberadaan babi ngepet. mungkin para suami itu tertarik dengan hadiahnya yang sangat menggiurkan. namun istrinya tidak setuju, karena istrinya tahu bahwa para suaminya mengikuti sayembara, bukan bertujuan untuk menaikkan taraf kehidupan keluarganya. tapi istri istri itu menyangka bahwa suaminya mengikuti sayembara, hanya untuk menikah dengan Ranti, hingga akhirnya perdebatan pun tak terhindarkan, memperebutkan pendapat masing-masing.
Laki-laki yang bisa menerima pendapat orang lain, Mereka pun tak melanjutkan niatnya, hingga akhirnya perdebatan pun berhenti sampai di situ. namun berbeda dengan para lelaki yang memiliki sikap keras kepala, gurat batu. di kasih tahu oleh istrinya, mereka semakin terlihat garang, bahkan ada yang berani melakukan KDRT. Dengan cara menampar istrinya. itu semua dilakukan gara-gara ingin mengikuti sayembara yang diadakan oleh Mbah Abun, hingga akhirnya istrinya menangis terkena tamparan, anak-anak yang melihat mereka pun berhamburan sambil menangis memeluk ibunya. tapi laki-laki yang memiliki sifat keras kepala itu, tidak memperdulikan, dia malah beranjak keluar dari rumahnya, kemudian pergi untuk mencari keberadaan babi yang sedang di sayembarakan.
Laki-laki yang sudah pergi meninggalkan rumah Mereka, terlihat membawa golok yang diikat di pinggangnya, serta bekal yang cukup, ditambah semangat yang bergejolak memenuhi dadanya. mereka berharap dengan mengikuti sayembara, taraf kehidupannya akan berubah. Namun sayang mereka meninggalkan keluarga yang masih membutuhkan nafkahnya, seperti orang yang sudah mendapatkan musang, tapi dia lepaskan, Demi mengejar elang yang belum pasti bisa didapat.
Kira-kira matahari mulai menampakkan wujudnya, terlihat orang-orang yang sudah berjalan ke sana kemari. ada yang Pergi menuju ke arah barat, Ada pula yang menuju ke arah utara, Semua mazhab mereka tuju menurut keyakinan masing-masing. bahkan ada sebagian orang, sebelum pergi mereka menemui orang tua yang bisa berhitung dan bisa meramal, untuk menanyakan mazhab mana yang harus mereka tuju. agar pencariannya tidak sia-sia dan pencariannya membuahkan hasil.
Orang tua yang ditanya, mulai memberikan petuahnya. ada yang bilang perginya harus sebelum tenggelam matahari, tujuan yang dituju adalah ke arah utara. namun tidak boleh membawa senjata tajam, yang harus mereka bawa hanyalah sisir, cermin, Arang, daun sirih, kapur barus dan lain-lainnya, yang tidak bisa dimengerti oleh akal. walaupun semua yang disarankan oleh orang tua itu belum tentu kebenarannya, Tapi orang yang bertanya dengan Sigap menuruti perintah kakek-kakek tua itu.
Singkat cerita, setelah Mbah Abun mengadakan sayembara. semua warga Ciandam terlihat sangat sibuk, semua orang ingin mengikuti sayembara, sampai dibela-belain bertengkar dengan istrinya. soalnya mereka pergi meninggalkan kewajiban, meninggalkan sawah yang sedang membutuhkan garapan, meninggalkan hewan ternak yang membutuhkan pakan. bahkan ada yang meninggalkan jualan. karena tergiur oleh hadiah yang sangat menggiurkan, yang membuat semua orang gelap mata, semua orang tersesat, mengadu nasib dengan benda yang belum pasti. intinya semua warga kampung Ciandam, mereka sedang digemparkan oleh sayembara. ini semua diakibatkan oleh Ranti yang menghilang.
__ADS_1
*****
Sedangkan orang yang dijadikan sayembara, yang sudah berubah wujud menjadi babi hutan. Semenjak dia diburu oleh para warga Kampung Ciandam, dia tidak berani pulang kembali ke kampungnya. takut dibunuh oleh para pemburu itu, karena dia Sadar diri, sekarang dia bukan dengan wujud manusia lagi, melainkan dengan wujud babi hutan, babi ngepet. yang diakibatkan oleh keteledorannya, karena berani mencoba-coba memakai baju jimat milik Sang Bapak.
Ranti atau babi ngepet terus berjalan tanpa memiliki tujuan. Dia berjalan mengikuti kaki, yang terus melangkah. turun gunung, naik gunung, menyusuri kebun-kebun, menjelajah lembah, melewati tegalan-tegalan serta hutan-hutan, hingga akhirnya dia sampai ke kampung yang bernama Ciomas.
Di kampung Ciomas, dia tidak sengaja bertemu dengan penggembala kerbau. sehingga penggembala itu berlari dan memberitahu para pemburu, bahwa ada babi hutan yang masuk ke tempat penggembalaannya. hingga akhirnya Ranti pun diburu oleh banyak warga. hampir hampir Dia kehilangan nyawa, namun dia masih bisa berlari secepat mungkin, takut digigit oleh anjing. Cuak dengan orang yang membawa tumbak, ciut dengan orang yang membawa celurit, timbok dengan orang yang membawa golok.
Dari Semenjak itu, kehidupan Ranti semakin sengsara, semakin sedih, semakin Tunggara. kalau malam tiba, dia terus menangis, sambil tengkurap di rumputan ilalang. ketika ada yang kemresek terdengar, hatinya sangat berdebar takut ada hewan buas yang mendekati. Ketika ada suara-suara aneh yang terdengar, jantungnya terasa berdegup kencang. karena walaupun wujudnya seekor babi, tapi perasaannya tetap masih manusia, tetap masih Ranti yang dulu. makanya ketika dia tidur di tegalan seperti itu, ketakutannya masih tetap sama seperti manusia pada umumnya.
Ketika siang hari, dia yang sudah berubah wujud menjadi babi hutan yang sangat besar. mau masuk ke hutan ketakutan, mau masuk ke perkampungan itu Bukan Pilihan, hingga akhirnya babi ngepet itu, terus berjalan di sekitaran kebun kebun warga, dengan sangat hati-hati, agar tidak ada orang yang mengetahui keberadaannya.
__ADS_1
Ranti terus berjalan sambil mencari makanan, karena perutnya sudah terasa melilit. semenjak keluar dari rumahnya, dia belum merasa kenyang ketika makan. hingga akhirnya dia menemukan tales bogor, perlahan dia pun menggigit talas itu. Namun ternyata bibirnya terasa gatal, hingga dia pun memuntahkan talas yang baru dikunyahnya.
Babi ngepet kembali melanjutkan perjalanannya, sambil terus mencari makan, hingga akhirnya dia menemukan pohon singkong, tanpa berpikir panjang Ranti pun mendorong pohon itu agar tercabut. beruntung tanahnya yang gembur, sehingga ketika Ranti mendorong pohonnya, umbinya pun keluar. terlihatlah singkong yang sangat besar, tapi setelah mencoba mendekati, Ranti merasa bingung, bagaimana cara mengupas Singkong itu. karena dia bukan babi hutan seperti pada umumnya, hingga akhirnya dia meninggalkan pohon singkong itu.
Ranti kembali melanjutkan perjalanannya, sambil memakan pucuk-pucuk pepohonan dan dedaunan yang bisa dimakan, Yang tidak membuatnya keracunan. sambil berjalan hatinya terus menangis, matanya terus mengeluarkan air mata, seolah kesedihan itu ingin menghabiskan air yang ada di matanya. Namun sayang air mata itu, seperti memiliki stok yang sangat banyak, sampai sekarang air matanya belum kering. mungkin kalau dalam wujud manusia, mata Ranti akan terlihat memerah dan masuk ke dalam, wajah yang pucat, tubuh yang kurus karena kurang asupan dengan tubuhnya.
Semakin lama berjalan, Ranti semakin merasa bahwa kaki dan tangannya terasa sakit, karena dia berjalan menggunakan kedua anggota tubuhnya itu. Badan terasa susah digerakkan seperti ada yang mengikat. Kepala terasa pusing, matanya terasa kesat, penglihatannya mulai kabur, hingga akhirnya Ranti memutuskan untuk beristirahat. dia menjatuhkan tubuhnya di bawah rumputan gelabah atau tebu tibarau. terlihat napasnya sangat memburu, pemikirannya terbang ke mana-mana. "Abah......! ambu......! ternyata beginilah rasanya menjadi babi. Abah Tolong saya....! masa Abah tega melihat Ranti yang begini. siang malam terlunta-lunta di hutan, tidak berani masuk ke perkampungan, karena suka diburu dan suka dikejar, bahkan suka di jadikan bahan candaan anak-anak kecil," begitulah gumam hati Ranti yang menyebut-nyebut nama orang tuanya, sambil air mata terus bercucuran.
Clak! Clak! Clak!
Air mata itu jatuh membasahi pipinya, lanjut jatuh ke tanah. air mata yang terlihat sangat jernih bak mutiara yang tersinari oleh Mentari, seperti jatuhnya cahaya kebahagiaan dalam diri Ranty, yang tersisa hanya rasa susah dan rasa sedih yang memenuhi diri Ranti, yang sudah berubah wujud menjadi babi ngepet.
__ADS_1
Tiupan angin terasa menerpa tubuhnya, seolah meringankan beban yang sedang dihadapi oleh gadis cantik itu. membuat tubuh Ranti terasa segar dan menambah kekuatan. daun tebu tibarau melambai-lambai, sama seperti pucuk ilalang yang bergerak-gerak, seperti hendak mengajak Ranti pergi.