Babi Beranting

Babi Beranting
99. Penjelasan Sujiman


__ADS_3

"Pekerjaan Akang dulu gagal, karena ada salah seorang yang tidak suka dengan kegiatan akan yang suka merawat hewan babi itu," ujar sujiman mengingatkan kejadian masa lampau.


"Iya, terus...?" tanya Surya Jaya yang masih belum mengerti kemana arah pembicaraan tamunya .


"Sekarang Akang jangan tanggung...! Akang harus meneruskan tapak lacak yang sempat ditinggalkan!"


"Sebab...?"


"Soalnya akan mendatangkan uang yang tidak sedikit, soalnya babi yang ada di kampung selakaso itu adalah babi yang sangat istimewa dan sangat aneh. jadi kalau akang berniat menonton pertunjukan adu babi, Akang harus sekalian membawa uang..! Akang harus membeli babi itu, walaupun berapapun harganya. Awas....!  jangan sampai tidak dibeli, karena kalau tidak dibeli, akang akan menyesal, bahkan sangat menyesal....! Nah, itulah maksud saya jauh-jauh mendatangi Akang. nanti setelah babinya dibeli, urus sama Akang dan rawat dengan baik. saya yakin babi itu akan mendapatkan keuntungan yang melimpah, kalau itu tidak kejadian, Telinga saya yang sebelah kanan menjadi taruhannya, asal jangan dua-duanya...!" ujar sujiman sambil mengangkat ngangkat telinga sebelah kanan.


"Aduh bagaimana ya Man, soalnya sekarang Akang sedang tidak memiliki uang banyak, lagi bokek....! tapi apa bagusnya, apa istimewanya babi yang berada di selakaso, sehingga kamu bisa berani berbicara seperti itu?"


"Begini Kang....! babi yang ditangkap oleh Bah Turo, babi itu sangat aneh, di telinga babi itu ada anting yang melingkar. makannya dia tidak mau makan singkong mentah, apalagi talas. tapi makanan kesukaannya adalah nasi putih ditambah sambal goang, apalagi dengan asin dan lalap-lalapan lainnya. kalau cemilannya dia lebih suka jalabria, bakwan, odading, kerupuk, bahkan cilok. pokoknya makanan babi itu adalah makanan yang suka dimakan oleh manusia. ditambah satu lagi, Babi itu mengerti dengan pembicaraan manusia."


"Kalau ngomong kamu itu yang benar, Mas!"


"Duuuuh! saya tidak berani berbohong kang, Kalau saya berani membohongi sobat saya sendiri, maka akang gak harus menyambut dan menyapa ketika bertemu saya. seperti yang sudah tadi saya bilang, telinga sebelah kanan saya menjadi taruhannya."


"Apa kamu sudah melihatnya sendiri?"


"Kalau Akang nggak percaya, Akang bisa buktikan sendiri. soalnya saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri, Bahwa babi itu sangat aneh dan sangat istimewa. Saya tidak meminjam telinga, tidak meminjam mata. saya menyaksikan sendiri dengan mata dan telinga sendiri!"


"Halah.....!" terdengar Surya Jaya menarik nafas dalam, kemudian dia terdiam memikirkan perkataan sujiman yang mulai mengganggu pemikirannya. khayalannya mulai melayang, membayangkan di mana ada seekor babi yang sangat jinak dan mengerti dengan perintah manusia. itu adalah babi yang sangat istimewa dan sangat langka. khayalan Surya Jaya pun berpindah membayangkan kejadian masa-masa yang telah berlalu, kejadian di mana Dia pernah gagal dalam bidang usaha perbabian. karena babi yang dia pelihara dibunuh oleh pihak yang berwajib, soalnya hewan itu dianggap najis dan sangat berbahaya. hingga dari saat itu dia berjanji dia tidak akan sekali lagi memelihara babi di rumahnya, selain menambah beban pikiran, itu pun menjadi petaka bagi keluarganya.


Tapi setelah mendengar berita yang dibawa oleh Sujiman, hobi yang sudah mulai padam, mulai Menyala kembali. bak api yang sudah hampir mati yang disiram oleh minyak tanah, membuat api itu berkobar memenuhi dada Surya Jaya. Apalagi ditambah cerita sujiman yang sangat menggiurkan, di pelupuk matanya sudah terbayang ratusan ribu uang berjatuhan masuk ke dalam kantong bajunya.


"Kenapa Kang, malah melamun? sekarang begini aja Kang, Kalau Akang ragu dengan apa yang saya sampaikan. ya sudah tidak apa-apa, jangan dianggap terlebih dahulu. mending sekarang kita pergi ke kampung selakaso untuk melihat babi istimewa itu secara langsung. nanti silakan Akang buktikan sendiri apa benar dengan apa yang saya ucapkan. namun awas jangan sampai menanyakan hal ini ke orang lain, karena kejadian aneh ini hanya saya yang mengetahui. orang-orang lain tidak teliti seperti saya. mereka hanya sibuk menyiapkan gelanggang untuk pertunjukan adu babi. Tapi menurut Saran saya, alangkah baiknya akang pergi menonton dengan membawa uang, nanti ketika kalau babi itu dijual akang harus membelinya! bagaimana?" tanya sujiman sambil menatap ke arah Surya Jaya.


"Ya sudah..! ayo kita berangkat, kita lihat dulu saja babinya seperti apa..tapi, kalau dijual kira-kira di harga berapa ya Mas?"

__ADS_1


"Ya sediakan saja 15 Kang!"


"15 apa nih, 15 perak?"


"Bukan lah, Rp15.000, eh Rp150.000!"


"Lah kok mahal amat harganya, hampir di atas domba, bahkan sama dengan harga domba Akang!" Ujar Surya Jaya yang terlihat kaget, karena pada waktu itu harga babi hanya berkisar 30.000 sampai Rp50.000.


"Jelas Beda lah Kang kegunaannya. kalau domba buat disembelih, kalau babi untuk mendatangkan uang!"


"Bentar..! bentar saya mau berdiskusi dulu dengan istri saya. kalau dia setuju ya kita beli, kalau dia tidak setuju ya harus bagaimana lagi." Ujar Surya Jaya sambil melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. dia mulai kembali melanjutkan memotong bulu-bulu domba. namun meski begitu pikirannya sudah berjalan kemana-mana, sudah tidak sabar ingin segera Melihat babi yang dikatakan aneh oleh sujiman. karena kalau memang benar ada babi yang sangat aneh dan sangat istimewa, itu adalah Jalan uang yang sangat terbuka lebar.


"Kalau Ceu Hamidah, kasih keterangan saja yang sangat jelas! saya yakin istri Akang akan setuju." Tanggap sujiman


"Iya..! iya! siap...! siap! Sebentar Akang tanggung nih, sedikit lagi!"


Surya Jaya terlihat tergesa-gesa menggunting bulu-bulu domba, agar dia bisa cepat berdiskusi dengan istrinya, ditonton oleh sujiman sang pembawa kabar baik.


"Maaf kalau jamuannya kurang mengenakan,,karena ini kesalahan mas sendiri bertamu bukannya masuk ke rumah malah masuk ke kebun..!" ujar Hamidah yang terlihat begitu ramah, kemudian dia pun duduk di kursi jongkok yang terbuat dari kayu.


"Gak Apa-apa Ceu, soalnya saya bukan Tamu ini."


"Iya Mas....! kamu harus maklum karena sekarang Akang sedang tidak punya makanan yang aneh-aneh, tidak seperti dulu ketika waktu Jaya."


"Makanya jangan ngurus domba terus, sesekali harus diselingi dengan usaha." Timpal istrinya


"Iya usaha sih, usaha...! Siapa juga yang tidak mau memiliki usaha. tapi untuk sekarang, usahanya, Usaha apa? usaha jaman sekarang sangat sulit, tidak seperti zaman dulu," keluh Surya Jaya yang merasa ada jalan untuk menyampaikan niatnya, karena tidak harus bercerita istrinya sudah terpancing duluan.


"Gunakan pikiran....! jangan sampai kalah dengan anak ayam, Karena manusia diberi kelebihan yaitu akal sehat. Nah, sekarang gunakan akal itu untuk mencari jalan perusahaan! Jangan terpaku dengan kesusahan, kesulitan, harus terus bekerja, harus terus bergerak, karena kalau mengandalkan yang sekarang, itu tidak akan cukup."

__ADS_1


"Pikiran dan otak itu tidak cukup Mid! untuk memulai suatu perusahaan, tetap harus membutuhkan modal."


"Modalnya cukup dengan tenaga dan keinginan!"


"Hush, itu tidak cukup, itu masih ada yang kurang!"


"Kurang apalagi tuh?"


"Uang atau duit!"


"Duit.....?"


"Iya duit, itu adalah modal usaha yang terpenting. karena kalau tidak punya duit, kita akan sangat kesusahan untuk mewujudkan perusahaan."


"Ya duitnya nanti setelah bekerja, kalau nggak kerja ya nggak akan dapat duit!"


"Hei....! kamu malah ngelantur ke mana-mana, kamu seperti anak kecil yang tidak mengerti. yang harus kamu ketahui setiap pekerjaan, setiap usaha itu membutuhkan modal. dan modal yang paling utama itu adalah uang ataupun duit. karena kalau hanya mengandalkan tenaga, keinginan, kemauan itu tidak cukup. karena uang itu adalah modal yang paling utama. Soalnya untuk zaman sekarang, memancing uang itu harus menggunakan umpan uang, seperti memikat burung dengan burung lagi. Masa begitu saja kamu nggak ngerti!"


"Memang apa yang dikatakan oleh Kang Surya itu benar adanya, karena orang tua kita pun mengajarkan seperti itu. sebelum memulai sesuatu kita harus mempunyai modal yang sangat menunjang, di antaranya ilmu, kemauan, keinginan, harapan dan cita-cita, ditambah dengan uang yang menjadi pokok utama. kalau Setelah semuanya sudah komplit barulah kita giat berusaha, karena kita yakin kalau kita giat dan terus-menerus berusaha, suatu saat kita akan mendapatkan keuntungan."


"NAh, begitu! Ngerti kan dengan apa yang disampaikan oleh Akang? Akang juga seperti itu, kemauan sudah ada. cita-cita sudah setinggi langit, ilmu akang sedikit punya, cuman hanya satu yang belum ada, yaitu Sang uang!"


"Kalau Akang sudah memiliki keinginan. apa yang akan akan kerjakan?"


"Akang memiliki rencana untuk kembali menggeluti pekerjaan yang dulu?"


"Pekerjaan apa?" Tanya Hamidah yang menatap penuh penasaran karena pekerjaan suaminya dulu sangat banyak, maklum suaminya orang pintar orang yang sangat cerdas.


"Pekerjaan mengurus dan Merawat babi."

__ADS_1


"Alah....! kayak nggak ada pekerjaan yang lain lagi aja Kang! jangan itu terus saja yang digeluti, cari pekerjaan yang lain yang lebih menguntungkan.


"Bentar! bentar! jangan dulu mencibir tuh bibir. Sebelum berbicara Kamu Harus berpikir terlebih dahulu. sekarang Tolong dengarkan Akang ingin berbicara," ujar Surya Jaya sambil melepaskan domba yang sedang dicukur, membiarkannya agar memakan rerumputan yang tumbuh subur di belakang rumah.


__ADS_2