
Sore hari di tengah hutan yang berdampingan dengan kampung Ciandam yang rimbun dengan pepohonan tumbuh subur di area itu. di tengah-tengah Hutan ada aliran sungai yang membelah, terlihat di tepian sungai itu, ada seekor babi yang sedang tengkurap meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. karena babi itu adalah seorang manusia yang berubah bentuk menjadi babi hutan. Ranti dalam bentuk wujud barunya, dia terus mengulang beberapa kali bercermin ke dalam bayangan air, Namun sayang wujudnya tidak berubah, merasa tidak ada gunanya dia pun terdiam lalu berpikir. Mata babi hutan itu terus basah dengan cairan bening yang mengalir melalui sudut matanya.
"Aku harus pulang! Aduh bagaimana ini, mana waktu sudah mulai terlihat gelap." gumam Ranti sambil bangkit dari tempat bersandarnya, kemudian dia meninggalkan tepian sungai itu lalu memindai area sekitar, mengingat-ingat tadi dia datangnya dari mana.
Meski hutan itu masih dekat dengan kampungnya, namun Ranti yang seorang perempuan, dia tidak pernah main ke hutan. berbeda dengan anak laki-laki yang suka bermain ke hutan untuk mencari kayu bakar. sehingga perjalanan Ranti bukan semakin mendekati Kampung Ciandam, melainkan semakin jauh dari kampung itu.
Matahari yang sudah sampai di ubun-ubun gunung, dengan perlahan dia pun bersembunyi dibaliknya, membuat suasana hutan yang begitu rimbun dengan pepohonan, terlihat cepat begitu gelap. membuat Ranti semakin merasa sedih dengan kejadian yang menimpanya. dia pun mempercepat langkahnya, ingin segera sampai ke Sisi kampung. namun begitulah Ranti yang sekarang berubah bentuk menjadi babi hutan. otaknya sedikit tidak bisa dipakai dengan sempurna, layaknya seorang manusia pada umumnya. ini semua gara-gara orang tua yang melakukan jalan sesat, untuk mengubah kehidupannya. Sehingga anak semata wayangnya harus menelan pil pahit menjadi korban atas keteledoran yang dilakukan oleh Mbah abun.
Kita tunda cerita Ranti yang sedang tersesat menuju ke arah Kampung Ciandam, kita mulai ceritakan keadaan Mbah Abun yang hendak menemui aki sobani, Kuncen Gunung Karang.
Mentari yang bulat sempurna memancarkan panas yang lebih dari biasanya, terlihat di Jalan Setapak menuju ke arah Gunung Karang, ada dua orang yang sedang berjalan satu orang laki-laki dan yang satunya lagi seorang perempuan. beruntung jalan yang mereka lalui ditumbuhi dengan pohon-pohon yang rimbun memayungi Area jalan, sehingga mereka tidak merasakan kepanasan yang begitu berarti, apalagi sesekali angin pegunungan menerpa tubuh mereka, bak kipas angin di perkotaan.
"Masih jauh Abah?" tanya seorang wanita yang terlihat kelelahan.
"Sebentar lagi Ambu! tuh lihat di tengah-tengah Gunung ada rumah gubuk." jawab laki-laki yang berjalan di depannya, yang tak lain Mereka berdua adalah pasangan suami istri dari Ciandam.
"Sebentar lagi dari mana Abah? itu kan masih jauh, rumahnya aja masih terlihat kecil." gerutu Ambu Yayah karena bertamu ke rumah aki kuncen baru pertama kali dia lakukan. Biasanya hanya Mbah Abun sendiri yang menemui gurunya itu.
"Sudah jangan banyak bicara! nanti Ambu semakin capek." jawab Mbah Abun yang terlihat wajahnya memerah karena kepanasan.
Akhirnya Ambu Yayah pun terdiam, mereka terus berjalan menapaki anak tangga menaiki Gunung Karang, yang kemiringannya 60 derajat bahkan sampai 75. Namun dengan perjuangan yang terus-menerus dan tekad yang begitu kuat. akhirnya pertengahan gunung yang terlihat menjulang tinggi itu, sekarang berada di bawah mata kaki mereka.
"Ini rumahnya abah?" tanya Ambu Yayah Yang menatap heran ketika sampai di halaman rumah aki sobani.
"Iya Ambu! sudah jangan banyak tanya." jawab Mbah Abun sambil mendekati pintu rumah itu.
"Punten......! permisi!" teriak Mbah Abun sambil mengetuk-ngetuk gubuk reot itu. tak lama menunggu terdengar Deru langkah yang menapaki papan dari dalam rumah.
Krrrrrrrttttttz!
Terdengar suara pintu yang terbuka, lalu muncullah kakek-kakek yang sudah bongkok, dengan rambut yang serba putih. "Eh, ada abah Abun! tumben-tumbenan Mbah mau bertamu ke rumah reot aki?" Sambut aki sobani sambil tersenyum
__ADS_1
"Yah, aki! maaf mengganggu."
"Nggak mengganggu, Silakan masuk!" ujar aki sobani sambil duluan masuk ke dalam. Bah Abun dan Abu Yayah saling menatap, Kemudian mereka pun masuk mengikuti yang punya rumah.
"Terima kasih aki!" ujar Bah Abun sambil duduk.
"Abah! kalau mau minum ambil sendiri, di sini jangan menjadi tamu, Anggap saja rumah sendiri. aki sudah tua jadi kurang Sigap dalam melayani tamu." ujar aki sobani yang sudah duduk duluan.
"Baik aki! Ambu haus?" tanya Mbak Abun sambil menatap ke arah istrinya.
"Hauslah Abah, apa lagi sehabis melewati tanjakan yang begitu curam." jawab Ambu Yayah.
Mendengar penuturan istrinya, Mbah Abun pun bangkit lalu menuju ke dapur. tak lama dia pun kembali sambil membawa teko yang terbuat dari bambu dan gelas yang terbuat dari batok kelapa, kemudian dia mengisi batok itu dengan air.
"Maaf Nyai! di sini begini adanya." jelas aki sobani sambil menatap ke arah Ambu Yayah.
"Nggak apa-apa aki! Terima kasih! saya minum yah!" jawab Ambu Yayah Yang tenggorokannya bergerak-gerak, setelah melihat air yang begitu bening. maklum air yang disuguhkan oleh aki sobani, adalah air pegunungan asli langsung dari sumber mata airnya.
Setelah berbincang sebentar, Mbah Abun pun mengajak istrinya untuk mandi terlebih dahulu di ****** yang ada di samping rumah aki sobani. ambu yayah yang merasa kegerahan dari tadi, dia sangat lama menyirami tubuhnya dengan air yang begitu segar, hingga membuat Mbah Abun yang menemaninya merasa kesal.
Selesai mandi Mereka pun makan bersama, makan nasi liwet yang selalu sedia di rumah aki sobani. selesai makan dilanjutkan dengan obrolan obrolan ringan hingga tak terasa waktu pun sudah mulai gelap.
"Ada keperluan apa, Abah datang ke sini?" tanya aki sobani membuka pembicaraan yang serius.
"Begini aki! semenjak Abah datang dengan Mang sarpu, seperti yang aki ketahui kehidupan Abah meningkat dengan begitu pesat. Namun sayang Ketika semakin tinggi pohon menjulang, semakin besar angin yang menerpa. begitulah kehidupan, ketika saya semakin sukses, semakin banyak yang iri. jadi Abah mendatangi Aki ke sini, ingin meminta solusi harus diapakan pengganggu itu?" jawab Mbah Abun menjelaskan kedatangannya menemui gurunya itu.
"Maksudnya bagaimana bah?"
"Iya Abah ingin usaha Abah tidak ada yang mengganggu. Abah ingin pengganggu itu tidak mengganggu Abah lagi."
"Caranya bagaimana?" Tanya aki sobani yang mengerutkan dahi, Masih belum paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Mbah Abun.
__ADS_1
"Ya terserah Aki! mau di Apakan orang itu. yang penting usaha Saya tidak ada yang mengganggu!"
"Aki Bingung kalau begitu Bah! Abah maun melakukan apa terhadap pengganggu itu?" sekarang aki sobani yang balik bertanya.
"Terserah aki!"
"Nggak bisa Bah! aki hanya bisa mengikuti apa yang dikehendaki oleh Abah. kalau harus menentukan, Maaf aki tidak sanggup. sekarang Abah Tentukan, mau digimanakan pengganggu itu?"
"Kalau dilenyapkan sekaligus nggak apa-apa aki?" tanya Mbah Abun yang terlihat ragu-ragu.
"Terserah Abah!"
"Jangan Bah! kasihan kalau dilenyapkan seperti itu." Timpal Abu Yayah yang masih memiliki rasa perikemanusiaan.
"Terus diapakan ambu?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah istrinya.
"Ya! yang terpenting jangan mengganggu kita." jawab Abu Yayah sama seperti Bah Abun.
"Ya sudah, kalau nggak punya solusi. nggak usah ikut ngomong!" dengus Bah Abun sambil menatap kesal ke arah istrinya.
"Jadi mau diapakan?" tanya aki sobani sambil membagi tatap ke arah tamunya.
"Kalau sakit yang tak bisa disembuhkan, bisa aki?"
"Bisa!"
"Ya sudah saya mau orang yang mengganggu hidup saya, dia sakit tapi tidak bisa sembuh selama-lamanya. bahkan kalau dia mati dengan cara mengenaskan." pinta Bah Abun menunjukkan Sisi lain dari dirinya.
"Ya sudah, sekarang Abah tenang tenang aja! biarkan semua urusan Itu Aki yang mengurus!" jawab aki sobani sambil membuang asap yang ada di mulutnya.
Kemudian mereka pun dilanjutkan dengan mengobrol seperti biasanya, namun obrolan itu tidak terlepas dari pembahasan Sarman yang hendak mereka celakai. hingga akhirnya aki sobani pun meminta izin untuk beristirahat, kemudian dia masuk ke kamarnya, meninggalkan Mbah Abun dan Abu Yayah yang ada di Tengah rumah.
__ADS_1