
"Oh begitu ya Umi, Terima kasih banyak atas kesediaannya membantu saya," jawab Daus seolah menyanggupi semua syarat yang diperintahkan oleh Umi Erot. meski dia merasa takut kalau harus pergi tengah malam ke kuburan paling tua. Jangankan tengah malam, siang pun dia sudah sangat merinding ketika melewati tempat persemayaman terakhir umat manusia itu. Namun dia yang sudah membulatkan tekad ia akan melakukan apa yang diperintahkan oleh gurunya itu.
"Siap dan berani melaksanakan apa yang Umi perintahkan?"
"Berani Umi!" jawab Daus yang terlihat ragu-ragu.
"Syukur kalau berani, karena laki-laki itu harus pemberani. tidak boleh takut seperti perempuan. apalagi kalau memiliki keinginan apapun harus dikraj, Walaupun ada lautan api yang menghalangi, laki-laki itu harus berani menyeberang. Walau ada gunung yang menjulang tinggi, laki-laki harus berani mendaki. Karena laki-laki tidak boleh menyerah sampai apa yang dituju tercapai." nasehat Umi Erot.
"Oh iya umi, ada lagi selain itu, yang harus saya lakukan?"
"Tidak ada Jang, cukup itu aja."
Setelah mendengar penjelasan Umi Erot seperti itu, mereka pun mengobrol kesana kemari layaknya seorang guru dan murid, yang sedang membahas keilmuan keilmuan perpeletan. sehingga akhirnya malam pun semakin larut, Umi Erot yang tahu tamunya tidak bisa pulang karena terlalu larut malam. dia pun mempersilahkan Daus untuk tidur di kamar tamu. sedangkan dia masuk ke kamar yang dekat dengan dapur.
Tidak ada kejadian yang aneh malam itu, Daus yang kecapean sehabis mencari keberadaan Ranti. dia tidur dengan nyenyak sehingga matahari sudah keluar dia baru bangun dari tidurnya. umi Erot tidak pernah mengganggu orang yang menginap di rumah, dia lebih membiarkan tamunya untuk beristirahat dengan nyaman.
Setelah bangun Daus pun keluar dari kamar, lalu mencari keberadaan Umi Erot. ternyata dia sedang di dapur mungkin dia juga baru bangun, karena api yang dinyalakan ditungku. kayu bakarnya masih baru terlahap sebagian.
"Sana Cuci muka di ******! biar nggak bau iler." seru nenek-nenek berambut putih itu, sambil membenarkan posisi kayu bakar agar api itu tetap menyala.
Daus pun mengangguk, kemudian dia pergi ke air yang berada di samping rumah. terlihat airnya sangat jernih, karena air itu langsung dari pegunungan. tanpa pikir panjang Daus pun mencuci mukanya, lalu kembali lagi ke rumah umi Erot.
Setelah sampai di rumah terlihat satu gelas kopi yang masih mengepul, terhidang di atas tikar. melihat tamunya datang Umi erot mempersilahkan.
Setelah membasahi perut dengan air kopi panas, Daus pun menghampiri Umi yang masih berada di dapur.
"Umi, Saya bukan tidak betah tinggal di sini. namun saya masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan. Saya mohon pamit undur diri," ucap Daus setelah berada di dapur, Dia meminta izin untuk pulang ke rumahnya.
"Ya sudah, Ujang pulangnya hati-hati. Umi doakan agar semua cita-cita Ujang bisa terkabul, dan cepat-cepat bisa memiliki wanita yang bernama Ranti."
"Amin! ya sudah Daus pulang dulu mi, ini hatur lumayan buat membeli garam!" Ujar daus sambil menyelipkan beberapa lembar uang, ketika dia menyalami nenek itu.
Umi erot hanya tersenyum, sambil mengambil uang pemberian dari Daus. lalu memasukkan ke dalam branya, seperti kebiasaan nenek-nenek pada umumnya. setelah selesai berpamitan Daus pun keluar dari rumah umi Erot, pergi meninggalkan kampung Sukaraja dengan membawa pengharapan baru. bahwa Ranti akan menjadi miliknya Dan Galih tidak akan mengganggu percintaan yang belum diungkapkannya itu.
__ADS_1
Tak diceritakan lamanya di perjalanan, Daus pun sudah sampai ke pinggir Kampung Ciandam. karena sudah terlihat atap rumah warga yang berada di pinggir Kampung. Daus hanya menarik nafas dalam, membayangkan kembali kebersamaannya bersama Galih, yang sekarang sudah pasti akan renggang.
Dia tidak melanjutkan pencarian Ranti, karena dia ingin terfokus menjauhkan Galih terlebih dahulu. dia ingin melaksanakan perintah yang diutarakan oleh Umi Erot, sebagai guru peletnya.
"Dari mana Jang?" tanya salah seorang ketika Daus hendak memasuki Kampung Ciandam. Dia bertemu seseorang yang tidak asing.
"Eh mang Sarman, biasa Mang, pulang dari Berkelana." Jawab Daus yang terkaget karena dia sedang melamun.
"Huh! hebat bisa berkelana, kayak pendekar pendekar zaman dulu saja Jang."
"Si Mamang bisa aja, mau ke mana nih?"
"Biasa mau mencari kayu bakar, kebetulan kayu bakar Di rumah sudah habis," Jawab Sarman.
"Oh begitu! ya sudah saya pulang dulu ke rumah Mang! Saya doakan agar mencari kayu bakarnya dapat yang banyak dan kering." jawab Daus yang tidak mau memperpanjang pembicaraan, Karena dia sudah sangat lelah untuk mengobrol terlalu lama apalagi sifat Sarman yang sudah banyak diketahui oleh orang-orang.
Akhirnya kedua orang itu pun berpisah kembali, Daus masuk ke dalam Kampung Ciandam, lalu menuju ke rumahnya. sedangkan Sarman dia terus menepaki Jalan Setapak yang menghubungkan dengan kampung-kampung lain, namun ketika dia tiba di salah satu hutan, Dia membelokkan langkah masuk ke dalam.
Sesampainya di hutan, Dia pun terus berkeliling mencari kayu yang bisa dibakar dan kering. Sesekali Dia melihat ke atas, siapa tahu aja ada ranting yang sudah kering. Kalau ada maka dia akan mengaitnya dengan bambu yang dia buat. sesekali dia membacok kulit kayu untuk mengecek kekeringannya.
Grock!
Aduh!
Terdengar suara yang asing di telinga Sarman, sehingga dia yang sedang mencari kayu bakar terperanjat kaget, mencari arah datangnya suara itu.
"Suara apa tadi, masak di hutan dekat perkampungan seperti ini, ada babi?" ujar Sarman sambil memindai area sekitar.
Grock! grock!
Suara itu terdengar kembali, namun sekarang Sarman mendengar bukan dari satu arah tapi dari berbagai arah. membuat Sarman berhati-hati sambil memegang golok. matanya terus memindai area sekitar, mencari tempat untuk berlindung. Namun sayang pohon-pohon yang begitu besar, sehingga susah untuk melindungi dirinya
Terfokus mencari tempat berlindung dan mencari keberadaan suara tadi. tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara dari langkah hewan yang sedang berlari, membuat Sarman dengan cepat membalikkan tubuh. terlihat jelas babi ada hutan berbadan besar, berkulit hitam dengan cula seperti hendak menyatu, menerjang ke arahnya
__ADS_1
"Tolong......! ada babi.......!" teriak Sarman sambil menghindar dari serangan babi itu. beruntung dia dengan cepat meloncat ke sebelah kanan, sehingga serangan babi itu hanya menerjang angin.
"Tolong......! tolong ada babi hutan.......! tolong......! tolong......!" teriak Sarman sambil membalikkan tubuh lalu berlari meninggalkan tempat itu.
Babi yang tadi menerjangnya, terlihat matanya memerah. seolah Dia sedang marah karena tidak bisa menyerang orang yang dituju. dengan cepat babi itu membalikan tubuh lalu mengejar ke arah Sarman yang sudah ngacir duluan.
Grok......! grok.......!! grok.......!!
Suaranya yang mendengkur dengan sangat keras, membuat hati Sarman semakin menciut, namun dia tetap mempercepat langkah kakinya.
Bugh!
Terfokus melihat pijakan dan sesekali melihat kearah belakang, ke arah babi yang sedang mengajarnya. sehingga dia tidak memperhatikan. ternyata babi yang menyerang dan mengejarnya bukan hanya satu arah. Sehingga dia tidak sadar bahwa dari arah samping ada babi yang menyeruduk tubuhnya, sehingga tubuh Sarman yang sedang berlari dengan kecepatan tinggi, terpental ke samping dengan sangat jauh.
Hmmppppp!
Desis Sarman tertahan, setelah tubuhnya Terhempas ke tanah, dadanya terasa sesak, matanya mulai berkunang-kunang tak mampu bangkit kembali.
Tolong......! tolong.....! tolong.....!
Teriak Sarman meminta tolong, dengan menggunakan sisa-sisa tenaga untuk meminta pertolongan. namun berteriak seperti itu, membuat kepalanya terasa berat, pandangan matanya semakin kabur.
Bruk! Bruk! Bruk!
Suara langkah yang tadi terdengar Kembali, menuju ke arahnya. Sarman hanya bisa merapatkan mata dengan kuat, menunggu Apa yang hendak menimpanya. Karena ketika hendak mau berlari lagi dia tidak kuat.
Bugh! bugh! bughh!
Srettttt! Srrrrrttt!
Awwwwwwwww!
Teriak Sarman ketika merasa kakinya ada yang menyobek. punggungnya terasa ada yang menendang sehingga membuat tubuhnya yang dari tadi merasa pusing, semakin pusing. sehingga dia pun tak sadar kan diri.
__ADS_1
Orang-orang yang sedang berada di hutan, atau dekat dengan hutan. Mereka bergegas berlari menuju ke arah suara yang meminta tolong. Namun Betapa terkejutnya ketika datang ke tempat kejadian, karena terlihat jelas Sarman yang sudah tergeletak dengan pakaian yang sangat acak-acakan. dada Sarman terlihat membiru seperti baru saja terkena hantaman benda tumpul, kaki Sarman mengeluarkan darah seperti terkena sayatan golok.
Semakin lama orang-orang yang datang ke tempat itu, semakin banyak. karena orang yang datang duluan Mereka pun terus berteriak meminta tolong. Hingga akhirnya tempat itu ramai oleh orang yang mau menolong Sarman.